Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?

Medio 2016, saya diundang ke pernikahan seorang kawan, sama-sama kami dulu bekas kuli di Banten. Pernikahannya mewah, di hotel daerah Kuningan, Jakarta. Visual pernikahannya sama sekali tidak menyiratkan blio pernah jadi kuli dengan bayaran UMD dan hobi ngorok ngiler sama saya.

Saya coba memperhatikan dekorasi pernikahan. Megah. Dan banyak sekali lambang berbentuk Naga, dari mulai singgasana pengantin, pinggiran kue tart besar, bahkan susunan dim sum di dalam panci membentuk kepala naga.

Ketika salaman, saya tanya ke kawan saya, dan jawabannya mengejutkan. Ya, dia percaya bahwa Naga adalah simbol kesuksesan, dan usahanya melejit seperti sekarang salah satunya karena simbol naga. Naga dan dirinya adalah satu kesatuan.

Kalo sudah demikian, apa yang mau saya debat? Tidak ada, padahal kawan saya tadi sama sekali bukan keturunan Tiongkok, Jawa asli. Kepercayaan akan simbol seperti ini yang ada di sebagian masyarakat kita.

Lha wong ibu saya saja penganut paham pohon bambu kuning di depan rumah kok. Katanya untuk ngusir bala.

Jadi saya enggak heran ketika Masjid Al Safar di Cipularang hasil karya arsitektur Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, di protes karena menyerupai lambang iluminati karena bentuknya yang mayoritas segitiga.

Continue reading “Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?”
Advertisements