Silicon Bali

Melihat video di atas, saya jadi teringat gerakan gold, gospel, glory yang dulu disuarakan para penjajah eropa ketika memutuskan untuk menginvasi negara lain, termasuk Indonesia dan India. Alasan utama mereka dulu yaitu source alias sumber daya.

Ratusan tahun kemudian, alasan utama mereka sudah bergeser total kearah cost, mereka sudah mendapatkan sumber daya, utamanya energi: minyak, gas dan emas, dari energi mereka menciptakan beragam infrastruktur, dikembangkan menjadi komputer, internet. Ketika energi menjadi komoditas politik, para generasi mudanya bergerak lebih cepat, startup menjadi pilihan.

Dengan startup mereka menciptakan sumber daya sendiri, energynet. Dan saat ini ketika booming startup melanda, icon startup dunia: Silicon Valley mulai merasakan biaya yang sangat tinggi, ya iyalah, market cap mereka saja bisa mengalahkan raksasa kuliner Indonesia dengan jumlah masyarakat 200 juta: Indofood.

Gaji engineernya bahkan jauh lebih tinggi dari gaji seorang engineer drilling minyak dengan resiko yang jauh berbeda, gaya hidup yang hedon dan aktifitas bisnis yang simultan membuat segalanya menjadi mahal.

Dan kini saatnya mengulang apa yang buyut mereka lakukan dulu: Invasion (penjajahan). Tujuannya apalagi kalau bukan mencari harga murah.

So, kemana?

Masih sama dengan ratusan tahun lalu, pilihannya satu: Asia. Asia punya daya tarik tersendiri untuk di invasi: Sumber daya melimpah dan harga murah. Dan surprise saya ketika melihat video diatas, pilihan salah satunya adalah: Bali.

Bali memang hebat, dianggap punya daya saing kompetitif, infrastruktur yang cukup baik, vibes yang mendukung, harga murah dan tentunya pluralisme yang dijunjung tinggi. Sekilas ini membuat kita jumawa, Indonesia can be the next Silicon Valley: Silicon Bali.

Tapi mosok sih mas, enggak ada pilihan lain tho di Indonesia selain Bali?

Bali merupakan “persinggahan terakhir” dimana etos budaya Indonesia masih dijunjung tinggi. Ketika Jogja membebaskan dirinya dari hukum “tidak boleh ada gedung tinggi melebihi keraton” dan menghalalkan pembangunan ratusan hotel baru di Jogja, ketika itu juga saya melihat lunturnya Jogja sebagai kota pendidikan dan budaya. Jogja “mungkin” akan berubah menjadi kota bisnis.

Pun demikian Bali, bagi saya, dua kota itu dulunya adalah “pintu-pintu budaya ke-Indonesiaan”. Dua kota tersebut bukanlah kota bisnis. Boleh-boleh saja para bule Amerika mendeskripsikan Bali sebagai the next Silicon Valley, tapi apa jadinya Bali jika hal itu berhasil diterapkan?

Bali akan semakin hiruk pikuk, Bali bukan lagi menjadi kota wisata yang mengademkan hati yang gundah dan sebagai pelarian dari kegalauan. Iya sih, sekarang banyak orang beralih bisnisnya di Bali, tapi ya masih seputar budaya, seni, arsitektur dan tentunya properti untuk mendukung pariwisata, itu saja.

Jepang yang telah sangat modern pun masih menyisakan Kyoto sebagai kota budaya, tempat wisata, tempat leyeh-leyeh. Pun dengan China, masih menyisakan Zhejiang (kota Wuzhen) yang tetap dipertahankan ketradisionalannya hingga sekarang.

Bayangkan jika CEO Facebook si om Mark, CEO Amazon si om botak Jeff Benzos dan CEO Google Sundar Pichai saling ketemuan lalu membahas akuisisi aplikasi perikanan sambil makan sate lilit Be Paseh lalu setelahnya nge-bir di La Plancha, pastilah Bali tidak akan sama seperti sekarang. Dipastikan Bali tak ubahnya menjadi kota sok sibuk plagiat dari film Silicon Valley yang konyol itu. Mobil mewah sliweran, orang berjas dan berdasi sibuk bawa laptop yang isinya lebih dari sekedar film bo*ep.

Lalu kemana Bli Wayan dan Mbok Kadek? Masihkah mereka memakai udeng sambil membawa pahat untuk mematung? Atau selendang untuk menari nanti malam?

Jadi kalau memang ada niatan mau bangun the next Silicon Valley di Indonesia, saya mau gak mau ya harus mendukung, karena “invasion” ini bisa membawa multi-effect, Indonesia bisa menjadi the big Asia, kalau kata si “ono”, jadi Macan Asia. Salah satu pusat startup dunia.

Tapi selama lho yaa..selama sumber daya lokal di berdayakan secara keilmuan untuk mendukung startup. Bukan cuma wong bule yang ngurus startup lalu warga lokal cuma jualan es kelapa atau nasi warteg. Bukan itu, kalau cuma itu, silahkan angkat kaki dari Indonesia.

Tapi kalau boleh saran, masih banyak lho gaes kawasan di nusantara ini yang bisa di explore dan dijadikan pusat IT dunia. Eh tapi itu nanti saja saya tulis, sementara ini saya mau ngopi dulu.. Yuk..