Indonesia · Politik

12 Mei 1998, Dimanakah Saya?

salah-satu-keluarga-korban-tragedi-mei-tahun-1998-ruyati-_140512155659-428
Sumber: http://republika.co.id

12 Mei 1998

Ketika itu saya masih SMP kelas 2, pagi hari seperti biasa saya bersiap untuk sekolah, karena hari itu ujian sekolah sehingga sekolah tidak libur meskipun suasana sudah mencekam sejak hari-hari sebelumnya.

Ayah seperti tergopoh-gopoh hendak ke Continue reading “12 Mei 1998, Dimanakah Saya?”

Advertisements
Politik

Karena Ahok Bukan Orang Jawa

abdi-dalem3
https://gandhokkulon.wordpress.com

Mohon maaf sebelumnya karena tulisan ini tidak menyangkut soal SARA, apalagi Saras junior saya, eh..tapi ini rangkuman hasil rapat terbatas warung kopi setelah bersama-sama mengikuti seminar. Agar diketahui bahwa peserta rapat terbatas ini memang terbatas sekali, hanya tiga orang dan kami semua berbeda suku dan agama.

Kami bertiga ngobrol ngalor ngidul berbicara soal politik di negeri ini, politik lagi? Ya memang tak pernah habisnya politik itu, dan harus diakui Indonesia memang tak pernah kehabisan bahan untuk kongkow tema politik. Pembicaraan berlangsung biasa-biasa saja, sampai pada suatu detik, kawan saya yang bermarga Sitorus mengeluarkan pendapatnya.

“Ya apapun itu, kawan Ahok itu salahnya ya cuma satu..ada lagi memang, tapi yang satu ini yang justru tidak dia sadari”

“Apa itu bang”

“Ahok bukan orang Jawa!”

“Hah?..Hmm..lho apa hubungannya?”

“Ya, pasti ada hubungan lah, klo gak ada hubungan namanya jomblo, begok kau” Hahaha, kami tertawa.

“Gini pren, Ahok itu apalagi sih kurangnya? Dari sisi kerja ya pantaslah dia didaulat sebagai Gubernur yang kerja keras, jawaban dia pun selalu smart, jauh lah dari aku ini, apalagi kau dan kau..jauh..” Sambil menunjuk kami yang intens mengamati mimik wajahnya yang lucu.

“Sudahlah, Ahok itu pasti menang jika dia dan tim tidak polos-polos amat. Coba kau lihat teman Ahok itu, isinya bau kencur semua, anak-anak culun yang cuma mengandalkan slogan kerja nyata”

“Ya Ahok kan memang kerja, dan aku rasa pantaslah jika itu yang di tonjolkan” Kata kawan satunya lagi yang bermaga Chen, penggila kopi dan seorang Buddhist.

“Justru itu, di Indonesia ini gak bisa cuma kerja kerja kerja, kau kira kita kuli? hah? Di dunia manapun namanya orang mau naik kuasa itu ya pakai strategi, kalau polos namanya cah kangkung, bikin ngantuk”

“Lihat itu orang Jawa, heh kau kan orang Jawa, pasti paham kan apa yang ku maksud?”

“Lanjut dulu bang..” Kataku sambil menyeruput kopi.

“Lihat itu Jokowi, SBY, apalagi Soeharto ketika dulu mereka mau naik..semua memakai strategi, Jokowi memakai strategi senyap, SBY memakai strategi terzalimi di akhir 2003 pas dia seperti “dipecat” oleh Mega, padahal dia mengundurkan diri karena di cecar terus soal pencalonan Presiden, apalagi Soeharto..Kita jangan munafik lah kalau Ahok sekarang beda dengan jaman Foke dulu, Foke didukung hampir semua partai, nah Adang dulu cuma didukung PKS, gak ada greget, Foke is Demokrat. Nah pas Jokowi mencalonkan jadi Gubernur, habis lah Foke, strategi Jokowi merakyat melawan Foke yang kesannya borju, 2012 Foke tidak siap dengan strategi karena pede didukung Demokrat, Ahok? Ini baru perang strategi”

“Ya memang di Jawa ada falsafah Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha. Berjuang tanpa membawa massa. Menang tanpa merendahkan. Berwibawa tanpa kekuatan, kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa benda, ini memang yang membuat Jokowi menang, dia berstrategi secara alami” Kataku.

“Nah, kebalikan..Ahok sampai akhir 2016 masih saja berstrategi kerja kerja, padahal isu double minoritas sudah muncul sejak awal 2016, 2015 malah..”

“Nah, kalau itu saya setuju bang..”

“Ya, Ahok tidak bisa anteng, dia orang yang sangat straight to the point, sebagian orang suka gayanya, namun nyaris sebagian besarnya tidak, inilah kenapa ketika acara demo nomor cantik banyak sekali yang melawan dia” Kata pak Chen.

“Bedanya apa dengan Obama dulu?” Tanyaku

“Bedalah boi, sederhana, karena Obama adalah single minoritas, dan wacana apartheid soal kulit sudah dibahas pro dan kontra sejak 1960-an, udah basi, dan kita baru sekarang ketika dunia sedang hot-hotnya”

“Ya itulah, karena Ahok kurang bisa membaca situasi, tim suksesnya pun terlampau pede kalau menurutku untuk menang. Ya sudahlah fatal di pertama ketika di Pulau Seribu, eh fatal lagi yang kedua ketika ngomong password kafir. Nah, ini orang bisa baca sikon gak sih, gemes kali aku..” Sambung temanku.

“Yang dipulau seribu itu meskipun tak bermaksud, tapi serigala-serigala di luar sana siap menerkam bro, Ahok sudah di incar salahnya sejak dahulu kala, buktinya dia kalah di Belitung dan kalah lagi di Jakarta. Ahok memang orang baik, tulus tapi dua hal itu tidak cukup untuk menaklukan Indonesia”

“Wahh licik sekali kalau begitu..”

“Ya memang licik bro, ah kau ini..mana ada politik kayak tahu tempe, dibolak balik sama, enggak lah..ini juga yang menurutku akan menghadang Jokowi nanti, selip lidah”

“Tapi Jokowi orang yang lebih hati-hati bang..”

“Ya, itu kita percaya, itulah mengapa orang Jawa lebih jago soal-soal begini, bubarkan HTI saja harus via Wiranto dengan kalimat yang mungkin menyusunnya butuh tiga hari tiga malam ha ha ha..”

“Ya ini fair-fairan saja, memang faktanya begitu, lihat saja fitnah komunis, apa Jokowi pernah merespon? Tidak kan, dan memang tidak perlu karena fitnah memang tidak perlu di lawan, coba saya misal dituduh belum bayar rokok saja, sudah berkoar-koar mulut ini..hahaha, semakin runcing masalah…”

“Kalau begitu Anies kan juga bukan orang Jawa bang?”

“Lha, memang kau kira pilkada kemarin itu soal memilih Anies? Wah, gimanak kau ini..pilkada kemarin ini soal ngalahin Ahok, bukan soal Anies jadi Gubernur” Hahahaha..kami pun tertawa.

“Hanya saja saat ini, Jokowi harus punya sense of crisis yang tinggi, karena isu-isu itu akan semakin gawat”

“Harus ada strategi anti-komunis dari sisi Jokowi, karena apapun, fitnah ini yang akan menjadi senjata utama, lihat saja JK sudah bermain api dalam sekam”

“Ya, pilpres nanti juga buka soal siapa menang, tapi bagaimana menjungkalkan Jokowi dari Presiden, Prabowo sudah buat blunder saat pendukungnya foto-foto di depan tumpeng “selamat Ahok dipenjara” ini sikap arogan yang bisa berbalik arah. Jadi pasti isu-isu rasial yang akan prioritas menyerang Jokowi nanti”

“Ah, kalau soal JK, ini kita saja yang baper, tanpa JK ngomong gitu pun kita ngerti siapa orang-orang kaya di Indonesia, dan mereka merintis puluhan tahun, puluhan dekade sejak orde baru” Ujar Pak Chen

“Termasuk toko sepeda bapak saya” Sambungnya.

“Ya, tapi mulai dihembuskan saat ini, ini kan bahaya..bla..bla..bla..

Dan obrolan sok tahu kami pun berlanjut hingga selewatan malam, hingga jarum panjang berpagut mesra dengan jarum pendek di puncak asmara waktu..

Kopi ku pun semakin dingin…

Ekonomi · Politik

Alasan Bangkitnya Ideologi Konservatif

cropped-cityscapes-indonesia-cities-skyline-jakarta-3100x1300-wallpaper-13.jpg

Tulisan ini sebagai bagian jawaban saya di Selasar.com.

Bangkitnya ideologi konservatif bsia dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, ini tak lepas dari sejarah.

Ambil contoh di Inggris, kelas menengah kebawah adalah kelas yang paling banyak ambil bagian pada saat revolusi Industri yang menarik revolusi itu keseluruh dunia, yang mana sebelum itu mereka lah yang paling getol untuk meneriakkan “gold, gospel and glory” sebagai simbol Imperialis Eropa pada abad ke XIX, mereka teramat bangga menjadi The British, sang pionir.

Itupun terjadi pada Erdogan di Turki, dimana Turki yang dulunya sebagai pusat kebudayaan Islam, Turki sebagai simbol kemenangan Islam ketika Sultan Mehmet II, pemuda 21 tahun berhasil memimpin pasukan Turki menguasai Konstantinopel. Yang mana ini sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadi kebanggaan Turki yang menjadi latar belakang kenapa saat ini menginginkan Islam yang Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti Erdogan, tidak memiliki oposisi.

Para kelas menengah ini sadar, bahwa gerakan progresif dimana Eropa mulai mengendalikan Inggris dan juga Turki dimana negaranya dibagi dua sehingga budaya mereka pun tercampur antara Islam dan Non Islam ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan, gerakan demokratis yang dianggap sebagai simbol modernitas ternyata tidak bisa membawa negara mereka kepada kebanggaan dan kejayaan seperti masa lalu.

Di Inggris, ketika Margareth Tatcher berkuasa pernah berkata. “….we believe in a free Europe, not a standardized Europe,” ujarnya. Sudah jelas, Inggris tidak mau diatur.

Selengkapnya https://ryokusumo.com/2016/06/24/dag-dig-dug-brexit-sejarah-dan-efeknya-pada-dunia/

Pun dengan USA, Di sini Trump merupakan hasil didikan konservatif tulen. Dalam sistem konservatif, ayah adalah segalanya, tumbuh dalam kedisplinan. Sisi konservatif mengambil budaya Amerika yang tembak langsung, sama seperti olahraga populernya: American Football ataupun filmnya yang selalu mengandalkan gaya Silvester Stallone. Jika kalah, dipastikan dia tidak akan populer.

Disini Trump didukung kaum konservatif yang merindukan hegemoni kulit putih dan Amerika asli, tanpa campuran. Trumph menginginkan ekonomi eksklusif untuk Amerika, pokoknya Amerika untuk Amerika, Trumph tidak peduli soal imigran, Trumph tidak peduli siapa yang akan mengais sampah kalau sudah tidak ada imigran disana.

Selengkapnya : Donald Trump dan Ahok, Dua “Kegilaan” yang Fenomenal

Kedua, ini tidak lepas dari “kebosanan” para kelas menengah yang (menjadi pilar utama negara) terhadap gerakan progresif yang booming pada 20 tahun terakhir ini. Ideologi progresif terbukti tidak membawa kejayaan bagi negara mereka.

Di Inggris, kenapa Inggris tergabung di Euro adalah karena keterpaksaan akibat perang dunia II, Euro dalam banyak hal tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi Inggris. Inggris selalu berambisi menjadikan Poundsterling sebagai mata uang terkuat di dunia, terbukti Euro tidak memberikan keuntungan apapun terhadap Inggris.

Di Turki, pecahnya zona Islam dan Non Islam hanya menjadi bom waktu. Kaum menengah sadar bahwa Turki harus kembali ke awal, toh apa yang dilakukan sekarang tidak membuat Turki menjadi negara maju.

Dari sini, kaum konservatif pun bangkit, kaum progresif tidak bisa meyakinkan bahwa demokrasi menjadi jawaban untuk semua. Di USA, demokrasi tentang munculnya kulit berwarna menjadi pemimpin ternyata tidak menggembirakan kaum konservatif. Obama tetap punya musuh,

Di Indonesia sendiri? Era kejatuhan Soeharto, demokrasi begitu menggembirakan, tapi makin kesini, demokrasi yang diharapkan ternyata tidak juga membawa perubahan, justru korupsi semakin tampak ke permukaan, baru pada pemerintahan Joko Widodo ini saja aktifitas fisik infrastruktur menggeliat.

Tapi meskipun begitu, Indonesia tidak bisa dibilang kembali ke masa konservatif, karena saat ini Indonesia baru keluar dari masa konservatif dan baru menikmati alam demokrasi.

Start-up semakin berkembang, munculnya pengusaha semakin banyak, pola hidup life-good semakin digemari dan runtuhnya primordialisme, meskipun seimbang dengan irama konservatif yang mengejar karir dan berpedoman pada agama dan budaya. Indonesia masih bisa dibilang seimbang.

Tapi, gerakan konservatif sudah muncul ketika Pemilu 2014 lalu, dimana Prabowo meneriakkan skema dalam negeri, untuk negeri sendiri, konservatif nasionalis. Sedangkan Joko Widodo lebih realistis dengan menggandeng negara lain untuk berinvestasi di Indonesia, karena Indonesia sudah terlalu banyak hutang masa lalu padahal Infrastruktur harus digenjot. Dua-duanya sama-sama baik, tinggal ideologi mana yang lebih menarik rakyat.

Pertanyaan kemudian, mengapa gerakan konservatif ini muncul bersamaan?

Jawabannya adalah waktu, ideologi progresif pun munculnya nyaris bersamaan, sehingga apa yang dirasakan rakyat negara-negara tersebut pun nyaris bersamaan, apalagi terjadi gejolak politik global (munculnya ISIS, sentimen Korea Utara dan Selatan, gejolak Timur Tengah yang semakin membara, dsb) sehingga menjadi pemicu bangkitnya ideologi konservatif ini.

Ideologi pun seperti penyakit menular.

Humaniora · Politik

5 Hal Kenapa Saya Tidak Komentar Soal Pirsa Hots

anonymous

Pagi tadi saya di whatsapp oleh teman lama di Doha, kenapa saya tidak berkomentar atau menulis sesuatu di wall fesbuk perkara #baladacinta Rizieq Shihab atau Pirsa Hots, ini kan lagi hits menulis artikel soal ginian pasti ngeboom.

Coba saja lihat google, belum ada 24 jam isu beredar, meta search google soal Rizieq Shihab sudah berubah. Perhatikan.

rrizgoogle

Sangat luar biasa, 5 besar pencarian google berkaitan dengan perselingkuhan sang Habib. Lalu kenapa saya enggan membahas?

Simple saja, pertama karena seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan gitu? Buat saya, aib seks adalah aib yang sangat memalukan, sehingga tidak ada positifnya bagi saya untuk berkomentar atau sekedar share isu seperti itu.

Kedua, tentu berita itu belum tentu benar, sebelum ada klarifikasi dari pelakunya sendiri. Jika saya dan para kawan membahas berita itu, artinya kami sama saja dengan mereka yang hobi sebar berita tanpa dipikir lebih dulu.

Kalaupun isu benar, maka itulah cara Allah membuka aib bagi orang yang hobi buka aib. Jika hoax maka itupula cara Allah untuk mengingatkan, bahwa apapun bisa terjadi. Besok wajah di atas, hari ini wajah terbenam di dasar tanah.

Oya, jangan geer lantas disamakan dengan kisah Nabi Yusuf yang diberi cobaan fitnah. Beda. Nabi Yusuf tidak pernah berembel-embel pilih paslon nomor sekian ketika bernegara dan berdakwah.

Ketiga, meskipun saya tidak suka terhadap FPI, tapi muslim tetap agama saya. Yang saya tidak suka adalah kelakuannya, bukan agamanya. Bedakan. Jadi, apapun itu Rizieq tetaplah satu muslim dengan saya, dan tabayyun adalah jawabannya.

Keempat, kalau mau dirunut, mungkin hoax dan fitnah yang disebar oleh mereka jauh lebih keji daripada ini, termasuk fitnah palu arit. Jadi jika saya share atau komen, maka saya tidak ada bedanya dengan mereka. Buat apa?

Kelima, sebagai sarana saya menahan diri. Betul memang, kesulitan terbesar adalah melawan hawa nafsu, hawa nafsu bukan hanya soal manahan “si kecil”, tapi juga soal share dan komen berita heboh.

Salam

Anonymous is never wrong, they just come and play..

So, enjoy the game..