Cerita Mudik #1 – Ndesonya Naik Kereta Api

2igoric

Mudik itu sebetulnya bukan kebiasaan keluarga saya, tepatnya setelah saya menikah. Ya karena semua keluarga sudah berkumpul di Jakarta. Sedangkan dulu ketika kecil, ketika masih ada eyang di Solo dan Jogja, mudik adalah suatu perkara wajib fardu kifayah.

Mudik dulu tidak senikmat sekarang, dimana tol infrastruktur sudah banyak yang jadi, pom bensin dan tempat istirahat ada dimana-mana plus pengawalan polisi yang setia setiap saat. Dulu, jalur mudik begitu ekstrimis, bukan cuma berbahaya tapi juga kadang menyesatkan.

Apalagi jalur Alas Roban atau Nagrek yang dulu menjadi momok karena bercampurnya truk dan mobil jadi satu didalam satu jalur jalan raya yang menanjak, perasaan was was dan ngeri kalau ada truk yang mogok atau anjlok. Bukan cuma khawatir kalau truk itu mudur, tapi juga begal dan penjahat. Apalagi warung remang-remangnya, itu ndeso.

Tapi itu so yesterday, sekarang? Nikmat mudik manalagi yang kau dustakan?

Nah, mungkin karena sudah lama (hampir 5 tahun) saya dan keluarga tidak mudik, akhirnya diputuskan tahun ini kita mudik ke Jogja. Sebetulnya bukan mudik sungkem karena eyang semua sudah almarhum, tapi lebih tepatnya mudik plesiran.

Untuk armada mudik, kami putuskan untuk pesan tiket kereta api, tentu karena si kecil belum pernah naik KA dan selalu excited kalau lihat KA lewat. Jadi ya mending KA ketimbang mobil.

Toh kami dapat tiket dengan harga wajar secara online (ya iyalah, hari gini..), Eksekutif Tansaka pagi Gambir-Tugu harganya Rp 260,000,- per orang. Eits..Tapi jangan ditanya kereta yang lain atau Tansaka malam, harganya dua bahkan tiga kali lipat. Kami beruntung, Alhamdulillah hehe..

Aturan kereta api, sebelum masuk, tiket online harus ditukarkan dulu dengan tiket aslinya, istilahnya check in, sama dengan pesawat. Saya pun ke Gambir sehari sebelum keberangkatan dan ternyata saat ini PT KAI sudah menyediakan layanan check in counter di depan pintu masuk menuju ruang tunggu.

Saya sungguh ndeso, karena baru kali ini tahu, padahal sudah bertahun-tahun lamanya check in counter ini ada. Gak perlu capek antri.

20170627_133357

Check in counter nih..jangan ndeso!

Akhirnya, besok harinya kami pun mudik plesir ke Jogja dengan kereta api, fasilitasnya sungguh sudah ok punya. Saya pikir mungkin karena ini eksekutif tapi ternyata hingga kelas ekonominya pun sudah sangat layak, sudah memanusiakan manusia.

stasiun

Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin

Untuk itu, izinkan saya sedikit sharing tips untuk kamu semua ketika mudik naik kereta api nanti. Mungkin nanti lebaran kurban, lebaran tahun depan ataupun lebaran kuda.

  1. Jangan ngirit bawa barang-barang, ingat kamu naik kereta api, bukan naik delman. Tidak ada batasan kamu bawa barang berapa kilo pun, yang penting kamu kuat bawanya.
  2. Utamakan kebutuhan anak, jangan sampai popok ketinggalan, mahal. Kalau kebutuhan dewasa bisa kapan saja. Kamu gak pake pempers, cukup pakai kolor merek Indomart.
  3. Point 1 itu benar, tapi ingat kamu itu mudik dan plesir, bukan pindahan. Hindari membawa kompor, kulkas atau mesin cuci.
  4. Bawalah bekal makanan secukupnya, misal kamu bertiga ya cukup cheetos keju 2, chitato ayam panggang 3, mie gemez enak 5, tim tam 2, biskuit serena 3, ayam kremes kraton 4 dan tempe bacem 4.
  5. Jangan membawa bekal makanan seperti nasi pecel, sayur lodeh ataupun soto lamongan ke dalam gerbong restorasi, sudah ada aturannya kalau tidak boleh membawa makanan dari luar utamanya makanan basah. Hargai kereta api yang telah berbenah menjadi lebih bersih. Kalau kamu ngeyel, dasar ndeso!
2

Menunggu kereta datang

1

Suasana didalam kereta, sangat nyaman

3

Restorasi, gerbong favorit saya

4

Ceria di restorasi, bersih dan nyaman

Itu saja, cerita dan tips dari keluarga kami di mudik pertama kita ini. Prinsip kami satu: Tetap kenyang walau isi dompet berkurang.

Nantikan lanjutannya. Ciaobelaa..