Karena Ahok Bukan Orang Jawa

abdi-dalem3
https://gandhokkulon.wordpress.com

Mohon maaf sebelumnya karena tulisan ini tidak menyangkut soal SARA, apalagi Saras junior saya, eh..tapi ini rangkuman hasil rapat terbatas warung kopi setelah bersama-sama mengikuti seminar. Agar diketahui bahwa peserta rapat terbatas ini memang terbatas sekali, hanya tiga orang dan kami semua berbeda suku dan agama.

Kami bertiga ngobrol ngalor ngidul berbicara soal politik di negeri ini, politik lagi? Ya memang tak pernah habisnya politik itu, dan harus diakui Indonesia memang tak pernah kehabisan bahan untuk kongkow tema politik. Pembicaraan berlangsung biasa-biasa saja, sampai pada suatu detik, kawan saya yang bermarga Sitorus mengeluarkan pendapatnya.

“Ya apapun itu, kawan Ahok itu salahnya ya cuma satu..ada lagi memang, tapi yang satu ini yang justru tidak dia sadari”

“Apa itu bang”

“Ahok bukan orang Jawa!”

“Hah?..Hmm..lho apa hubungannya?”

“Ya, pasti ada hubungan lah, klo gak ada hubungan namanya jomblo, begok kau” Hahaha, kami tertawa.

“Gini pren, Ahok itu apalagi sih kurangnya? Dari sisi kerja ya pantaslah dia didaulat sebagai Gubernur yang kerja keras, jawaban dia pun selalu smart, jauh lah dari aku ini, apalagi kau dan kau..jauh..” Sambil menunjuk kami yang intens mengamati mimik wajahnya yang lucu.

“Sudahlah, Ahok itu pasti menang jika dia dan tim tidak polos-polos amat. Coba kau lihat teman Ahok itu, isinya bau kencur semua, anak-anak culun yang cuma mengandalkan slogan kerja nyata”

“Ya Ahok kan memang kerja, dan aku rasa pantaslah jika itu yang di tonjolkan” Kata kawan satunya lagi yang bermaga Chen, penggila kopi dan seorang Buddhist.

“Justru itu, di Indonesia ini gak bisa cuma kerja kerja kerja, kau kira kita kuli? hah? Di dunia manapun namanya orang mau naik kuasa itu ya pakai strategi, kalau polos namanya cah kangkung, bikin ngantuk”

“Lihat itu orang Jawa, heh kau kan orang Jawa, pasti paham kan apa yang ku maksud?”

“Lanjut dulu bang..” Kataku sambil menyeruput kopi.

“Lihat itu Jokowi, SBY, apalagi Soeharto ketika dulu mereka mau naik..semua memakai strategi, Jokowi memakai strategi senyap, SBY memakai strategi terzalimi di akhir 2003 pas dia seperti “dipecat” oleh Mega, padahal dia mengundurkan diri karena di cecar terus soal pencalonan Presiden, apalagi Soeharto..Kita jangan munafik lah kalau Ahok sekarang beda dengan jaman Foke dulu, Foke didukung hampir semua partai, nah Adang dulu cuma didukung PKS, gak ada greget, Foke is Demokrat. Nah pas Jokowi mencalonkan jadi Gubernur, habis lah Foke, strategi Jokowi merakyat melawan Foke yang kesannya borju, 2012 Foke tidak siap dengan strategi karena pede didukung Demokrat, Ahok? Ini baru perang strategi”

“Ya memang di Jawa ada falsafah Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha. Berjuang tanpa membawa massa. Menang tanpa merendahkan. Berwibawa tanpa kekuatan, kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa benda, ini memang yang membuat Jokowi menang, dia berstrategi secara alami” Kataku.

“Nah, kebalikan..Ahok sampai akhir 2016 masih saja berstrategi kerja kerja, padahal isu double minoritas sudah muncul sejak awal 2016, 2015 malah..”

“Nah, kalau itu saya setuju bang..”

“Ya, Ahok tidak bisa anteng, dia orang yang sangat straight to the point, sebagian orang suka gayanya, namun nyaris sebagian besarnya tidak, inilah kenapa ketika acara demo nomor cantik banyak sekali yang melawan dia” Kata pak Chen.

“Bedanya apa dengan Obama dulu?” Tanyaku

“Bedalah boi, sederhana, karena Obama adalah single minoritas, dan wacana apartheid soal kulit sudah dibahas pro dan kontra sejak 1960-an, udah basi, dan kita baru sekarang ketika dunia sedang hot-hotnya”

“Ya itulah, karena Ahok kurang bisa membaca situasi, tim suksesnya pun terlampau pede kalau menurutku untuk menang. Ya sudahlah fatal di pertama ketika di Pulau Seribu, eh fatal lagi yang kedua ketika ngomong password kafir. Nah, ini orang bisa baca sikon gak sih, gemes kali aku..” Sambung temanku.

“Yang dipulau seribu itu meskipun tak bermaksud, tapi serigala-serigala di luar sana siap menerkam bro, Ahok sudah di incar salahnya sejak dahulu kala, buktinya dia kalah di Belitung dan kalah lagi di Jakarta. Ahok memang orang baik, tulus tapi dua hal itu tidak cukup untuk menaklukan Indonesia”

“Wahh licik sekali kalau begitu..”

“Ya memang licik bro, ah kau ini..mana ada politik kayak tahu tempe, dibolak balik sama, enggak lah..ini juga yang menurutku akan menghadang Jokowi nanti, selip lidah”

“Tapi Jokowi orang yang lebih hati-hati bang..”

“Ya, itu kita percaya, itulah mengapa orang Jawa lebih jago soal-soal begini, bubarkan HTI saja harus via Wiranto dengan kalimat yang mungkin menyusunnya butuh tiga hari tiga malam ha ha ha..”

“Ya ini fair-fairan saja, memang faktanya begitu, lihat saja fitnah komunis, apa Jokowi pernah merespon? Tidak kan, dan memang tidak perlu karena fitnah memang tidak perlu di lawan, coba saya misal dituduh belum bayar rokok saja, sudah berkoar-koar mulut ini..hahaha, semakin runcing masalah…”

“Kalau begitu Anies kan juga bukan orang Jawa bang?”

“Lha, memang kau kira pilkada kemarin itu soal memilih Anies? Wah, gimanak kau ini..pilkada kemarin ini soal ngalahin Ahok, bukan soal Anies jadi Gubernur” Hahahaha..kami pun tertawa.

“Hanya saja saat ini, Jokowi harus punya sense of crisis yang tinggi, karena isu-isu itu akan semakin gawat”

“Harus ada strategi anti-komunis dari sisi Jokowi, karena apapun, fitnah ini yang akan menjadi senjata utama, lihat saja JK sudah bermain api dalam sekam”

“Ya, pilpres nanti juga buka soal siapa menang, tapi bagaimana menjungkalkan Jokowi dari Presiden, Prabowo sudah buat blunder saat pendukungnya foto-foto di depan tumpeng “selamat Ahok dipenjara” ini sikap arogan yang bisa berbalik arah. Jadi pasti isu-isu rasial yang akan prioritas menyerang Jokowi nanti”

“Ah, kalau soal JK, ini kita saja yang baper, tanpa JK ngomong gitu pun kita ngerti siapa orang-orang kaya di Indonesia, dan mereka merintis puluhan tahun, puluhan dekade sejak orde baru” Ujar Pak Chen

“Termasuk toko sepeda bapak saya” Sambungnya.

“Ya, tapi mulai dihembuskan saat ini, ini kan bahaya..bla..bla..bla..

Dan obrolan sok tahu kami pun berlanjut hingga selewatan malam, hingga jarum panjang berpagut mesra dengan jarum pendek di puncak asmara waktu..

Kopi ku pun semakin dingin…

Advertisements

5 Hal Kenapa Saya Tidak Komentar Soal Pirsa Hots

anonymous

Pagi tadi saya di whatsapp oleh teman lama di Doha, kenapa saya tidak berkomentar atau menulis sesuatu di wall fesbuk perkara #baladacinta Rizieq Shihab atau Pirsa Hots, ini kan lagi hits menulis artikel soal ginian pasti ngeboom.

Coba saja lihat google, belum ada 24 jam isu beredar, meta search google soal Rizieq Shihab sudah berubah. Perhatikan.

rrizgoogle

Sangat luar biasa, 5 besar pencarian google berkaitan dengan perselingkuhan sang Habib. Lalu kenapa saya enggan membahas?

Simple saja, pertama karena seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan gitu? Buat saya, aib seks adalah aib yang sangat memalukan, sehingga tidak ada positifnya bagi saya untuk berkomentar atau sekedar share isu seperti itu.

Kedua, tentu berita itu belum tentu benar, sebelum ada klarifikasi dari pelakunya sendiri. Jika saya dan para kawan membahas berita itu, artinya kami sama saja dengan mereka yang hobi sebar berita tanpa dipikir lebih dulu.

Kalaupun isu benar, maka itulah cara Allah membuka aib bagi orang yang hobi buka aib. Jika hoax maka itupula cara Allah untuk mengingatkan, bahwa apapun bisa terjadi. Besok wajah di atas, hari ini wajah terbenam di dasar tanah.

Oya, jangan geer lantas disamakan dengan kisah Nabi Yusuf yang diberi cobaan fitnah. Beda. Nabi Yusuf tidak pernah berembel-embel pilih paslon nomor sekian ketika bernegara dan berdakwah.

Ketiga, meskipun saya tidak suka terhadap FPI, tapi muslim tetap agama saya. Yang saya tidak suka adalah kelakuannya, bukan agamanya. Bedakan. Jadi, apapun itu Rizieq tetaplah satu muslim dengan saya, dan tabayyun adalah jawabannya.

Keempat, kalau mau dirunut, mungkin hoax dan fitnah yang disebar oleh mereka jauh lebih keji daripada ini, termasuk fitnah palu arit. Jadi jika saya share atau komen, maka saya tidak ada bedanya dengan mereka. Buat apa?

Kelima, sebagai sarana saya menahan diri. Betul memang, kesulitan terbesar adalah melawan hawa nafsu, hawa nafsu bukan hanya soal manahan “si kecil”, tapi juga soal share dan komen berita heboh.

Salam

Anonymous is never wrong, they just come and play..

So, enjoy the game..

8 Peristiwa Penting di 2016 Yang Patut Kita Syukuri

58237_77220_dimas-kanjeng-melamunTahun 2016 lalu sepertinya adalah tahun yang sangat unik, tahun yang bagi sebagian orang merupakan tahun yang berat, penuh perjuangan, sekaligus lucu.

Konstelasi politik lagi-lagi memecah belah kita, bangsa yang sedari awal berdiri sudah terpecah hanya karena ulah tukang bubur yang menaruh toppingnya di atas bubur putih. Kita pun terpecah antara bubur ayam diaduk dan tidak diaduk. Coba toppingnya di taruh piring lain, ya kan?

Di tahun itu toleransi keberagaman kita diuji. Tahun 2016 juga tercatat sebagai tahun yang menegangkan otot kepala, apalagi kalau bukan maraknya hoax di medsos, termasuk ajakan kepada intoleransi di whatsapp grup.

Ya alangkah lelahnya di tahun itu, tapi ah..kita sebagai manusia kan bisanya hanya menggerutu, padahal kodratnya disuruh bersyukur. Gerutu wajar, tapi syukur itu wajib, bukan begitu abi, umi, akhi dan ukhti?

Oke, inilah beberapa peristiwa penting yang masuk di “radar” sederhana saya sepanjang tahun 2016 lalu yang patut kita syukuri bersama.

1. Munculnya Artikel Fenomenal di awal tahun

Ini bukan main-main, artikel ini hanya dalam 3 hari sudah dibaca 600 ribu pembaca, menjadi headline dan sempat nangkring di number one trending topic selama 4 jam. Membuat sebagian besar pembacanya tersenyum namun tak jarang yang muak. Dan sebagian kecil lagi justru gagal paham pada artikel satir ini.

Kita patut bersyukur, karena artikel ini membuka mata kita soal sosok si anak presiden yang kerap kali dinilai penuh kolusi dan nepotisme seperti halnya penilaian terhadap anak pejabat lain.

Sayang, penulisnya ternyata pemalu, sudah di wawancara oleh MetroTV (suaranya masuk tipi) eh malah nolak waktu diajak mbak Najwa nemenim Kaesang di acaranya. Alasannya klasik, gak punya ongkos. Duh!

Andikan belio tampil, mungkin sekarang sudah setenar Jonru.

2. Munculnya Sosok Awkarin

Sudah bukan hal yang perlu di debatkan, awkarin jelas adalah spesies fenomenal yang muncul setiap 100 tahun sekali. Muncul dengan jargon “kalian suci, aku penuh dosa” ini seakan mendobrak kesombongan kaum semi-proletar ibukota yang menyembah kesucian, kebenaran dan tentunya iman, yang selalu diumbar di medsos.

Saya jadi teringat band punk Inggris yang muncul sebagai bentuk protes kepada kemapanan hidup kaum Inggris yang suka gaya borjuis, awkarin seakan menciptakan gerakan perlawanan itu tadi.

Tapi apapun, kita patut bersyukur, karena awkarin seakan menyentil kita semua. Doi ingin berkata bahwa tidak semua yang di status kalian itu benar, tidak semua lambang jilbab maupun kebaikan  dan kepinteran itu asli.

Awkarin yang dulunya murid pandai dan berjilbab berubah 187 derajat dengan satu dalil, anti kemapanan. Aku bebas, tidak mau dikekang, duitku cari sendiri..ya gitu-gitu lah.

Okelah saya sempat mencercanya sih, tapi ya kan tetap harus disyukuri. Kalau enggak ada awkarin, dunia hiburan tanah air kering lawakan satir.

3. Fahri Hamzah Mengaku Seperti Steve Jobs

bacaini_pks__fahri_h
Sumber: http://www.detik.com

Alhamdulillah Wa Syukurilah, ternyata ada..sekali lagi, ADA orang Indonesia yang bisa mengaku seperti Steve Jobs, sang pendiri Apple.

Bahkan ketika CEO Microsoft pun merendahkan dirinya ketika dibandingkan dengan Steve Jobs, dan Mark Zuckenberg sang pujaan itupun enggan disejajarkan dengan almarhum. Eh justru politikus dari Indonesia yang mensejajarkan dirinya sendiri dengan Steve Jobs.

Dengan alasan klasik, bahwa dipecatnya dirinya dari PKS sama seperti Steve Jobs yang dulu dipecat sendiri oleh Apple, lalu kemudian masuk lagi hingga membuat Apple semakin berkibar.

Betapa mengharukannya berita itu, bahwa amatlah pantas seorang Fahri Hamzah mensejajarkan dirinya dengan Steve Jobs, bahkan lebih hebat.

Karena Fahri Hamzah tidak perlu lagi PKS, melainkan mendirikan partai sendiri, PKS Perjuangan. (lengkap dengan mars ala Per**do).

4. Kasus Bom Sarinah

Jelas yang disyukuri bukan kejadiannya, karena jatuh korban dan sangat berbahaya. Yang patut disyukuri bahwa Tuhan masih sayang sama Indonesia. Untuk Indonesia, Tuhan menciptakan ciptaan khususnya: Polisi ganteng, dan Tukang Sate Pak Jamal.

Setidaknya dua ikon itu cukup menggetarkan bulu kuduk masyarakat Jakarta yang khusyuk dalam berhastag, dengan mempopulerkan hastag #KamiTidakTakut dan #PolisiGanteng #KamiNaksir.

Betulkah kami tidak takut? Yang betul adalah kami sudah lelah, perpecahan kami semenjak Piplres sudah mengantarkan kami di titik jenuh…hufft.

Ya Allah, hidupkanlah Dono dan Kasino, sehingga kami bisa tertawa lagi.

5. Zaskia Gotik, Duta Pancasila

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR Abdul Karding (kiri) menyerahkan piagam kepada Zaskia Gotik disela-sela Sosialisasi 4 Pilar di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta,

Holy Zaskia!

Itulah kalimat saya ketika mendengar Zaskia Gotik yang melecehkan lambang negara, justru diangkat menjadi duta pancasila. Ya kita tahu bahwa niat PKB mengangkat Zaskia adalah menjadikan si eneng agar lebih memahami Pancasila dan endesbray endesbray nya itu..Tapi..ah sudahlah, bukankah itu suatu rahmat Tuhan?

Zaskia, yang diberkahi adalah sosok antagonis yang berbalik menjadi protagonis dalam waktu sekejap, mana ada artis sehebat itu.

Bersyukurlah kita semua, karena sekarang Indonesia punya duta Pancasila. Untuk Indonesia yang lebih kece, bukan begitu neng?

6. Ahok dan Surat Al Maidah ayat 51

Kok perlu disyukuri? Lho iya, penyebutan Surat Al Maidah ayat 51 oleh Ahok justru membawa sebagian besar umat muslim membuka Al Quran nya kembali.

Al Quran yang sudah jarang dibuka, yang waktu membukanya hanya seimprit dibandingkan membuka grup whatsapp atau instagram, tiba-tiba rajin dibuka oleh kebanyakan masyarakat muslim. Apa sih isinya? Apa sih kandungannya? Kok jadi rame. Gitulah kira-kira.

Jika Al Quran diibaratkan blog, maka traffic per periode itu menghujam ke atas, bahkan mungkin over capacity dan lanjut ngehang, tapi karena Al Quran itu kitab suci, maka tak akan pernah habis kapasitasnya. Disitulah kita harus bersyukur.

Eh sayangnya, setelah tahu isi Surat Al Maidah 51 itu apa, mereka berbondong-bondong kembali menekuni whatsapp grup, melihat-lihat dengan khusyuk apa ucapan habib, apa ucapan politikus, apa ucapan Kapolri dsb. Beramai-ramai menghujat, beramai-ramai menyebarkan berita hoax..endesbray…endesbray..

Al Quran pun kembali meringkung di pojokan, sepi..

Yang ramai..Monas..

7. Padepokan Kanjeng Dimas

haha252c2bmeme2blucu2bdimas2bkanjeng2bini2bbakal2bmembuatmu2btertawa2bterpingkal-pingkal
Sumber: http://www.masterberita.com

Double it! Kata Will Smith di film Suicide Squad sebelum membunuh korbannya. perkataan tersebut sakti karena dalam sekejap rekening Will Smith pun bertambah 2x lipat.

Apakah kita tidak pantas bersyukur jika kita punya seorang ahli pengganda uang seperti Kanjeng Dimas, dimana kita tinggal bilang “double it!” atau “gandakan”, maka dalam sekejap uang kita bertambah berlipat-lipat.

Yah, begitulah seorang Kanjeng Dimas yang mewarnai berita di 2016 yang patut kita syukuri. Disyukuri karena Indonesia punya pengganda uang yang bahkan seorang doktor lulusan US sekelas Marwah Daud Ibrahim pun mati-matian membelanya, artinya kan ini istimewa.

Saya sih maunya bukan cuma uang yang digandakan, tapi juga logika dan otak kita, sehingga kita lebih mawas diri dalam menerima berita hoax.

Oya, dan satu lagi, menggandakan rasa malu. Rasa malu jika ingin menghujat, rasa malu ketika ingin mengemis proyek dan rasa malu ketika ingin korupsi.

Untung kita punya Kanjeng Dimas, bukan begitu Kanjeng?

8. Nassar dan Muzdalifah Sudah Move On

20150730-nassar-dan-muzdalifah_20150730_083511
Sumber: http://www.wartakota.tribunnews.com

Jika Eropa bangga memiliki Einstein, Amerika jaya bersama Zuckenberg dan Korut tergila-gila dengan Kim Jong Un, maka (alhamdulillah..) Indonesia punya Nassar dan Muzdalifah, duet maut yang menggetarkan fana.

Sebetulnya wahai kaum pecinta good-life, berita inilah berita pamungkas di 2016 yang patut kita syukuri, berita apik yang mengalahkan hebohnya berita Saiful Jamil dengan “hap” nya atau diperpanjangnya episode “Janji Suci Rafi-Gigi”.

Jika di 2015 batin kami terguncang dengan berita perceraian mereka, maka (sekali lagi..) kami bersyukur saat ini mereka sudah move on, Nassar sudah punya pacar lagi dan mbak Mus juga sudah bergandengan mesra dengan Ustadz Abie Tsabit.

Bukankah ini patut disyukuri karena bisa berdampak pada adek-adek kita yang selalu bilang gagal move on? Come’on gaes, Nassar aja bisa, masak kamu yang cowok enggak?

So, jangan ganggu mereka wahai netizen, jangan ganggu mereka!…Karena Indonesia, butuh lebih dari sekedar hiburan.