Fanatisme itu bernama Kopi Sachet

Sudah lama tidak update blog, terus terang saya lagi miskin kreasi nulis, ide sana sini tapi selalu terbentur yang namanya politik. Ya musim politik, tahun politik, idenya tercurah nulis di kanal politik dulu yang lebih menghasilkan huehehe..

Tapi lama-lama bosan juga, jenuh. Ya bagaimana tidak, sebaik-baik saya nulis politik, tetap saja yang namanya kampret ya jadi kampret dan cebong ya tetap cebong. Sehingga saya ambil kesimpulan, fanatisme politik itu sama seperti milih kopi.

Saya punya kawan, namanya Daru. Daru ini sekost dengan saya sewaktu kami sama-sama bekerja di daerah Serang, Banten. Kami berdua sama-sama penggila kopi. Tapi anehnya, seenak-enaknya kopi racikan dari barista, tetap saja Daru ini kembali ke kopi sachetan (sebut saja kopi Kapal Api).

Biasanya seorang penggila kopi hampir pasti memilih kopi giling single origin dengan tipe tertentu. Bahkan saya biasanya bisa langsung menentukan ini kategori Robusta atau Arabica, kategori acid tinggi atau rendah, matang atau setengah matang dsb.

Daru pun seperti itu, dia bahkan lebih jago. Tapi anehnya setiap kami ngobrol di sela-sela kerja atau cakruk di kost, dia selalu menuang kopi sachet yang tersohor itu. Sedang saya, selalu meracik kopi (tubruk) dari kopi non sachet (biasanya kopi Bandung yang moka arabika itu lho).

Suatu hari, Daru saya sodorkan kopi Dampit Sridoretno Malang hasil budidaya warga yang diramu khusus, enaknya setengah mati. Saya berharap Daru bisa berpaling dari kopi sachet-nya itu.

Ketika pertama nyerutup, matanya langsung berbinar, saya berdoa mudah-mudahan dia di beri hidayah untuk berpaling dari kopi sachet. Tapi ternyata besoknya dia kembali menyeduh kopi sachetan.

Begitulah Pilpres berlangsung kawan, fanatisme kepada ketokohan sulit dirubah hanya dalam waktu bulanan. Ibarat lidah, kalo sudah cocok ya sudah.

Yang dilarang itu kalo teman saya lantas menjelekkan dan memfitnah kopi racikan saya, hanya demi mempertahankan fanatisme kopi sachetnya.

Soal fanatisme kopi sachetnya, Daru pernah berkata gini;

“Mas, kalo aku berpaling dari kopi sachet karena kopi-mu, sama saja aku membohongi diriku, kebohongan yang sama seperti orang awam yang ngomong ke Majelis pengajian kalo dia rindu Ramadhan dan bersedih ketika Ramadhan pergi, taek! padahal orang itu habis ngudut sama aku di warung jam 2 siang!”

Saya pun ngakak..

Advertisements

Inilah Hasil Survey Online Shop Terbaik 2018

Hi gaes, selamat tahun baru 2019 bagi kawan-kawan pembaca blog semoga di tahun 2019 kalian semua mendapat berkah barokah dan kesuksesan yang amat sangat luar biasa, tidak bosan dengan blog ini dan bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas pula.

Seperti biasa di awal tahun 2019, kita akan flash back kembali ke tahun 2018. Tiada hal paling menarik di tahun-tahun milenial ini selain gairah online shop atau e-commerce yang semakin merajalela.

Daya turun kita turun? Daya beli kita rendah? Kata siapa, Tokopedia justru meraup 1 trilyun rupiah setiap bulan, dan mendapat kucuran dana 2 trilyun dari Horizon Ventures, dan 1,1 milyar USD atau setara 14 trilyun rupiah dari raksasa e-commerce, Alibaba.

Berapa valuasi Bukalapak? Tak kurang dari 13 trilyun saat ini. Dan begitupula Shopee yang mencatat angka fantastis, meraup 59 trilyun rupiah hanya dalam waktu satu semester (6 bulan) di 2018. Per bulan artinya mencatat 9,8 trilyun rupiah ! Omaigot..

Nah, dari semua bisnis e-commerce itu, seperti di 2017 lalu, saya coba melakukan survey kecil-kecilan ke handai taulan dan rekan-rekan baik di sosial media maupun di dunia nyata.

Kali ini terbagi tiga segmen saja. Pertama online shop terbanyak dipilih responden, kedua, online shop terbanyak dikunjungi dan terakhir, online shop yang akan bersinar di 2019 ini.

Continue reading “Inilah Hasil Survey Online Shop Terbaik 2018”

Shanghai, Struk Taksi, dan Hamdalah

Pengalaman yang nyaris pahit saya rasakan ketika bertugas ke Tiongkok, hari terakhir saya mampir di kota metropolitan, Shanghai. Pergi ke sana selama 3 hari untuk urusan pekerjaan. Segalanya lancar jaya dari keberangkatan hingga pagi hari menjelang kepulangan saya kembali ke Jakarta.

Minggu pagi, jam 6 waktu Shanghai. Selepas sarapan di Cental Hotel dengan menu halal (setelah semalam saya order halal food via restoran Hong Changxing di Guangxi Road, satu dari banyaknya restoran halal di Shanghai), saya pun memanggil taksi yang sepertinya selalu standby di depan Hotel.

Oya, Central Hotel ini dekat sekali dengan Nanjing Road dan Wu Jiang Road, jalanan tempat utama orang membeli oleh-oleh atau berfoto karena tempatnya yang instagramable

View this post on Instagram

Walking..

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

Hal sepertinya baik-baik saja ketika saya naik taksi, sang supir sudah cukup berumur, sekitar 50 tahunan. Orangnya baik, suka tersenyum meskipun tentunya, tak bisa bahasa Inggris. Perjalanan dan Hotel ke Bandara Pu Dong sekitar 70 menit. Jalanan tol disana sangat lancar, lebar layaknya di Eropa.

Flight saya jam 9.00 pagi waktu Shanghai dengan Garuda Indonesia, saya tiba di bandara pukul 7 pagi. Masih cukup waktu untuk saya keliling bandara dan membeli oleh-oleh, pikir saya.

Ketika tiba, saya turun dari taksi seperti biasa. Pintu taksi pun saya tutup dan si supir tua tersebut melajukan taksinya menjauh. Persis ketika taksi tersebut hilang dari pandangan, saya refleks merogoh saku kiri jaket dimana saya meletakkan passport.

Dan…tidak ada!. Ya passport saya mendadak hilang, saya pun panik dan mencari di seluruh kantong dan tas saya, tidak ada!

Continue reading “Shanghai, Struk Taksi, dan Hamdalah”