Memang Ilmu Kalian Setinggi Apa Sih?

“Belajar agama lagi sana”, beberapa kali saya temukan di media sosial di tengah perdebatan yang tiada hentinya ini dan salah satunya di medsos keluarga, kaget saya, tiba-tiba merasa eneg, memang hanya karena berbeda pandangan, terus harus belajar agama lagi?

Memang yang nyuruh gitu agamanya sempurna?

Gini mas dan mbak, dahulu kala di awal abad ke 12, dua pemikir (filsuf) Islam yang paling top, Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd pernah berdebat tentang dua hal yang sangat esensial dan berpengaruh kepada pemikiran Islam kedepan. Pertama yaitu tentang pengetahuan Tuhan dan kedua tentang permulaan (keazalian) alam.

Kita bahas yang pertama saja, mumet kalau bahas dua-duanya.

Dalam point pertama, seorang  Ibnu Rusyd yang mendukung Aristoteles membantah pemikiran Imam Al Ghazali di dalam bukunya Tahafut At-Tahafut, bahwa Tuhan tidaklah mengetahui persoalan juziyat atau hal-hal partikular yang rinci (remeh-temeh).

Menurut pendapat Ibnu Rusyd, Tuhan adalah Zat yang Maha Tinggi, otomatis Tuhan adalah setinggi-tingginya ilmu dan akal, sehingga Tuhan memiliki pengetahuan yang tanpa cela. Jadi, Tuhan sudah mengetahui yang awal dan yang akhir dengan segala perincian. Gak perlu ngurusin remeh-temeh.

Bingung?

Misalnya, kamu sedang makan nasi gudeg di Janturan, Jogja. Karena ngantuk, tanpa sengaja si mbok menyendok DUA telur pindang ke piringmu, tapi kamu bayarnya tetap SATU, pura-pura gak tahu model anak kos.

Nah, kasus ini menurut Ibnu Rusyd sudah bukan urusan Tuhan, karena ini ranah manusia, sudah ada malaikat Raqib dan Atid yang mencatat amalan kita, dan akan dibuka nanti.

Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu, sehingga jika Tuhan mengurusi hal-hal yang kecil justru mengurangi Maha Kesempurnaan-Nya karena hal-hal kecil tadi adalah suatu proses dari “tidak tahu menjadi tahu”, ini ranahnya remah-remah manusia, bukan ranah Tuhan.

Sedangkan menurut Imam Al Ghazali, Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu sehingga tidak ada satu bendapun, satu gerakan pun dan satu sifatpun yang luput dari ke-Maha-Tahuannya termasuk hal-hal remeh tadi.

Bagi Imam Al Ghazali, Tuhan mengurusi urusan korupsi dana haji hingga telor pindang gudeg Janturan.

Dari hal di atas, setidaknya ada dua point. Pertama, kita bisa bayangkan sebuah perang wacana dengan kadar keilmuan yang sangat tinggi, berbobot dan sangat jauh dari diskusi “kita di warung kopi”, namun tidak diakhiri dengan “pembunuhan karakter” antar keduanya.

Tidak pernah Ibnu Rusyd berkata “Duh, kamu belajar agama lagi sana…”. Tidak pernah, pun demikian dengan Imam Al Ghazali dan pengikut mahzabnya pada masa itu (karena Imam Al Ghazali sendiri sudah meninggal).

Tidak pernah terjadi antara dua filsuf yang meskipun bertentangan tapi saling menghina, apalagi menjatuhkan.

Dalam sebuah perbedaan wacana, adalah sebuah niscaya jika saling adu argumen, adu tulisan, bolak balik ide dan godok pemikiran, dalam diskusi ataupun debat, tidak dicari siapa kalah atau menang. Toh dua pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd keduanya tetap dipakai oleh dunia Islam masa kini.

Contoh lain, coba bayangkan jika Bung Karno tidak sering berdebat dengan Kartosuwiryo atau Semaun di kos-kosan HOS Tjokroaminoto, mungkin Bung Karno tidak akan pernah menemukan esensi Pancasila yang berbasis pada keragaman.

Jika pada debat itu lantas Kartosuwiryo berkata “Karno..kamu itu belajar lagi sana”, bisa dipastikan pula Bung Karno malas melayani diskusi lebih lanjut, mending ngopi.

Lalu apa pointnya? Kerendahan hati adalah KOENTJI. Tidak ada satu pihak pun yang merasa lebih benar dari yang lain. Apalagi berani mengkafirkan.

Ini juga bisa kita ambil contoh, ada point kedua yang diambil dari debat antara Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd, yaitu kehati-hatian. Al Ghazali merubah istilah kufarat yang dipakai sebelumnya menjadi bid’ah atau tidak sesuai dalam bukunya Al Maqasid Al filasifah yang disusul dengan buku keduanya Tahafutul Falasifa.

Al Ghazali, dengan ilmunya yang tinggi, memilih dengan hati-hati pemakaian kalimat didalam buku dan literaturnya, karena kufarat mengandung arti kafir atau keluar dari Islam, itu tuduhan berat.

Tidak ada istilah kafir mengkafirkan, itu tuduhan yang sangat berat! Berat sekali.

Siapa dari kita yang merasa ilmu agamanya sudah setinggi Imam Al Ghazali? Yang ada, mereka jadi ahli agama dadakan, berani mengkafirkan hanya bermodal whatsapp grup.

Duh Gusti paringono kopi…

Advertisements

Quo Vadis, Suara Jokowi 2019

Bisa dibilang, ranah politik di Indonesia itu adalah ranah politik paling menarik dan paling seru di dunia, paling dinamis dan paling panas. Tidak ada yang pernah ketebak kemana arah politik seseorang/partai sampai hari H.

Seperti yang kita tahu, poling dimanapun juga, dari tukang kopi pinggiran hingga restoran sekelas Duck King saat ini nyaris semua mengungulkan Joko Widodo untuk melanjutkan tugasnya sebagai Presiden ke-8 pas Pemilu 2019 nanti.

Memang tidak mengherankan karena gebrakan populis nan politis Jokowi mampu menjawab keluh kesah rakyat.

Tidak ada tindakan Presiden dimanapun di dunia yang tidak politis, itu yang pertama. Yang penting, apakah tindakan itu bisa memajukan bangsa di tahun-tahun mendatang, dan apakah menjawab keinginan sebagian besar rakyat? Itu yang terpenting.

Dan kalau melihat peta suara Jokowi, Jokowi mampu dengan gigih menjawab hal-hal itu semua, meskipun tidak sempurna, dengan ‘darah’ disana-sini.

Kepopuleran Joko Widodo sayangnya tidak didukung dengan baik oleh partai pengusungnya, PDIP. PDIP terlihat terseok-seok mengikuti konstelasi Pilkada 2018 serentak. Entah kalkulasi apa yang di pakai oleh ahli strategi PDIP.

Contoh pertama di Jawa Barat. Dari poling-poling yang sudah dilakukan dari 6 bulan hingga setahun belakangan, suara Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan Sudrahat-Syaikhu selalu menempati 3 besar, dan calon dari PDIP, TB Hasanuddin-Anton Charliyan selalu nomor buncit. Disini PDIP terkesan memaksakan TB Hasanuddin-Anton Charliyan untuk tetap bertarung.

Padahal Anton Charliyan adalah orang ‘bermasalah’ ketika menjabat Polda Jabar, lagi-lagi karena kasus SARA dengan kelompok mayoritas Islam. Apakah strategi banteng hanyalah ketakutan bahwa Ridwan Kamil adalah susupan PKS? Ini yang menarik untuk dibahas nanti.

Hanya saja, Jika PDIP full suara ke Ridwan Kamil-UU dimana mayoritas pendukung pasangan ini adalah partai pendukung pemerintah, maka PDIP lebih terlihat wah, terlihat solid. Tapi tidak terjadi, ada apa ini?

Kedua, Continue reading “Quo Vadis, Suara Jokowi 2019”

Mengapa Hoax Tidak Bisa Hilang?

Mengapa Hoax tidak bisa hilang, atau bahkan jika diberantas?

Hoax, atau berita bohong adalah Qadrat Allah di dunia ini. Berita bohong sudah ada sejak zaman Nabi Adam A.S bahkan ketika Adam masih berada di Surga.

Berita bohong di bawa oleh Iblis yang merayu Siti Hawa bahwa buah Khuldi adalah buah yang sungguh lezat, dan kata Iblis, karena buah Khuldi itulah Adam dan Hawa justru tidak bisa kekal di Surga. Hawa pun lanjut merayu Adam dan Adam pun tergoda.

Bukankah berita bohong Iblis ini adalah hoax berantai yang sungguh mempesona? Dari situlah, Adam dan Hawa ‘diturunkan’ ke bumi. Jadi manusia saat ini berada di bumi yang bulat (atau datar?) ini karena HOAX. Jadi hoax adalah hal yang melekat pada manusia.

Jadi sangat hoax-lah perkataan anggota DPR-RI dari fraksi PKS bahwa hoax bisa hilang jika pemerintah bekerja benar. Pemerintah bekerja dalam koridor memberantas akun-akun hoax, bukan hoax itu sendiri.

Contoh: Ibu-ibu di pasar lagi ngerumpi nih, terus si B ngegosip hoax nih, trus nyebar nih, trus si C posting di facebook nih..di share, trus nyebar lebih dahsyat..lha itu apa salah Pemerintah? Anggota DPR-RI yang ini pasti belum minum Es Kopi Susu.

Dan parahnya, hoax di masyarakat di prediksi akan semakin dahsyat. Bukan karena Pilpres lho ya, kamu itu jangan dikit-dikit dikaitkan sama Pilpres, stress nanti..

Lha, terus, kenapa?

Jawabannya adalah Attention Span masyarakat di dunia semakin rendah. Apa itu Attention Span?

Attention Span adalah jumlah waktu dimana manusia bisa berkonsentrasi penuh tanpa ter-distraksi atau teralihkan oleh hal lain.

Di era 90’an atau 2000an awal ketika majalah dan koran masih merajai media, attention span manusia terhadap satu berita rata-rata adalah 12 menit, berkurang menjadi 5 menit di tahun 2006 ketika facebook muncul, dan sekarang tinggal 8 detik!!

Ya kawan, waktu kita dapat berkonsentrasi penuh di satu berita rata-rata hanya 8 detik, bahkan ada yang 5 detik!!. Sumber.

Artinya, kita tidak punya waktu untuk berkonsentrasi, atau bahkan tabayun terhadap suatu berita. Channel TV dulu hanya 5, konsentrasi kita hanya di 5 itu saja. Sekarang ada 200 channel tv plus netflix, iflix, youtube, Amazon Prime, dll. Konsentrasi kita terpecah hanya untuk nonton tv.

Media cetak. Dulu, kita punya 2 koran; mainstream nya satu Kompas satu lagi Bisnis Indonesia. Sayang jika kita tidak tuntaskan membaca berita dari 2 koran itu yang kita sudah beli, dan beritanya memang dibuat per segmen, sehingga kita teratur di dalam membaca. Kita duduk, membaca, berpikir sambil ngopi. Sangat mbois.

Sekarang? Kita punya ribuan portal berita dengan berita yang berbeda-beda. Plus twitter dengan short article. Kita tergoda untuk selalu meloncat kesana kemari karena semua berita itu menarik. Dari situ, kita semakin lama semakin ‘terlatih’ untuk membaca cepat.

Andikan saja kita membuka webnews yang di share via twitter itu butuh waktu 1 menit, di rentang loading 1 menit itu tangan kita sudah loncat ke portal yang lain lagi, ke twit-twit lainnya lagi, berkomentar dan share twit yang kita suka, akhirnya tujuan awal kita membuka webnews pertama tadi hilang. Kita lupa tadi di awal mau ngapain.

Dalam waktu 8 detik, otak kita tak mampu untuk mencerna secara jelas apa yang kita baca. Paling minimal otak kita butuh waktu 2 menit untuk mencerna, mengolah dan memutuskan, apakah berita ini valid atau tidak. Bahkan sering berita koran kita baca ulang.

Nah, sekarang cuma 8 detik gaes! Semakin tertawalah Iblis di dunia ini..

untitled-infogr_6940802
Infografis by Ryo Kusumo