Bermain Gitar Lagi

dscf0621

Akhirnya, saya bermain gitar lagi setelah sekian lama (mungkin hampir tiga tahun) tidak menyentuh gitar. Setelah tercapai kesepakatan dua belah pihak antara saya dan istri bahwa weekend ini kita dirumah saja, membuat saya punya waktu (selain menulis dan membaca) untuk membuka youtube. Continue reading

Sri, Lepaskan Anak Panahmu..

Sri, Lepaskan Anak Panahmu..

Angin padang berhembus kencang, debu-debu berterbangan mengoyak kulit dan teriknya matahari menambah panjang daftar pilu derita para kesatria hingga para babu di medan tempur Kurusetra. Teriakan demi teriakan terdengar bagai detak suara jam dinding kematian yang jarumnya sudah putus namun terus berputar mencari mangsa.

Di ujung dekat perkemahan sana, para Pandawa sibuk berdiskusi dengan khidmat, mereka tengah dilanda kesedihan. Raden Arya Seta, panglima mereka terakhir di hari itu, putra Prabu Salya, harus gugur di tangan Resi Bisma setelah melalui pertempuran yang dahsyat. Belum lagi kematian dua saudaranya yang lain, Raden Utara dan Raden Wratsangka, membuat suasana saat itu sangatlah pilu.

Bukan hanya soal kesedihan, namun saat itu, pihak Pandawa sudah tidak punya panglima lagi yang bisa mengalahkan Bisma. Sedangkan pihak Kurawa, Bisma masih menjadi momok utama, Resi yang sangat sakti itu seperti tak bisa dibunuh, bahkan tersentuhpun tidak! Walau ksatria di sekelilingnya mati satu demi satu, namun Bisma tetap berdiri tegak menggenggam senjata, siap bertempur. Kekalahan Pandawa ada didepan mata.

Tapi, bukan Kresna namanya kalau otaknya tidak seribu. Ditengah kepanikan, otak strategi Pandawa itupun lantas menyebut nama seorang wanita. Wanita yang tadinya dianggap lemah, pasrah dan tidak pantas berada di medan laga, kini justru disebut namanya oleh Sri Kresna.

Srikandi. Ya menurutnya hanya Srikandi lah yang mampu mengalahkan Bisma. Semua mata tertuju padanya, “apa anda yakin?”.

Maka di panggilah Srikandi, yang saat itu justru ada di dalam kemah, untuk kembali bertempur. Srikandi, seorang wanita berjiwa kesatria, pantang baginya untuk menolak perintah. Srikandi yang dikenal luas sebagai pemanah ulung, jauh lebih terhormat baginya untuk kembali ke medan laga demi negara ketimbang berada di balik kenyamanan dan pelayanan kerajaan.

Srikandi segera menaiki kudanya, dengan sekali lecut kuda berlari mantap berderap menuju medan laga, meninggalkan kepulan asap berisi harapan.

Sang kuda berlari terus, memotong barisan pertahanan Pandawa dan tanpa henti terus maju ke depan, maju dan maju. Srikandi mengangkat busurnya, melintasi prajurit diikuti sorak sorai riuh, dukungan dan doa dari para prajurit hingga ksatria, sorak sorai harapan yang nyaris pupus sebelumnya.

Gaung telah ditabuh, tanda telah berbunyi. Bisma melihat Srikandi mendekat, Resi tua nan sakti itu perlahan menurunkan busurnya, wajah yang sangar berubah menjadi lembut, hati yang keras berubah menjadi lunak.

“Oh Srikandi, lepaskan panah mu, untuk kejayaan negerimu. Duhai Amba, angkatlah aku ke Swargaloka..”

***

Di Indonesia, Sri yang lain dipanggil kembali ke medan laga, padang perang ekonomi demi bertahannya Indonesia dari terpaan krisis dunia. Demi kesejahteraan rakyatnya, baik yang mengehendaki maupun yang tidak menghendaki.

Sri kembali ke medan laga dengan segala elu elu, seakan hanya dia yang bisa mengembalikan kejayaan negeri ini. Berbekal kemampuan murni tanpa embel embel Dewi Amba di dalam tubuhnya, Sri bisa melepaskan anak panah secara bebas.

Kemana arah panah itu? Akankah masuk kedalam ekonomi rakyat kecil ataukah justru panah itu menarik diri dan negara ini kedalam ikatan kapitalis global?

Sri, aku hanya berharap bahwa nasionalismu tidak luntur sedikitpun, bahwa kepentinganmu adalah kepentingan negara ini. Tajamnya anak panahmu dan akuratnya bidikan busurmu tidak ada yang meragukan lagi, maka lesatkan anak panahmu kepada kebenaran.

Kami, para prajurit dan kesatria siap mendukungmu, majulah ke medan laga..Sri..lepaskan panah mu, untuk kejayaan negerimu.

#BaladaSri

Hentikan Paranoid, Rusunawa Masih Lebih Pelik dari Palu Arit

Sumber: http://www.bintang.com/

Sebuah negeri yang paranoid, ya Indonesia. Negeri yang secara demografi cocokologi berada dalam zona rentan bahaya laten “ke-baperan” dan “ke-sensitifan”, baru beberapa waktu yang lalu ketika tulisan soal cadar muncul akibat keresahan mengenai persoalan tutup aurat yang begitu sensitif, hingga menimbulkan polemik paranoia terorisme, lalu HTI, dan yang paling cetar membahana ya tentu paranoia terhadap WNI keturunan untuk calon Gubernur DKI.

Ke-sensitifan berikutnya muncul dari beberapa berita soal penangkapan pemakai dan penjual kaos berlogo Palu-Arit. Kenapa bermasalah? karena palu arit sangat identik dengan logo partai komunis indonesia (PKI) sehingga logo palu arit langsung dikaitkan dengan kebangkitan PKI, lebih jauh lagi adalah adanya kebangkitan ideologi komunis.

Luar biasa, PKI yang telah “mati” itu di tengarai hidup lagi, bangkit bagai zombie dan akan mengigit setiap anak manusia di bumi indonesia yang bahkan Ratu Belanda pun kesengsem saking manis darahnya. Alangkah mengerikan. Ya alangkah mengerikan pola pikir absurd tersebut.

PKI adalah partai yang kuat akan ideologi. Bahkan dari nama partainya sendiripun sudah mencirikan itu. PKI bukan partai yang asal dibuat untuk kepentingan politik praktis, partai terheboh yang menggoyang Indonesia tahun 1965 itu membutuhkan pondasi awal sebagai pijakan. PKI membutuhkan pondasi ideologi komunis untuk tumbuh lebih dahulu. Lalu apakah pondasi itu ada dan sudah kokoh?

Tolong sebutkan negara yang masih menjunjung tinggi komunis di dunia? Tiongkok, sudahlah tak perlu di bahas kemana sosialis komunisme Tiongkok setelah Alibaba launching ke gadget anda dan beberapa orangnya masuk majalah Forbes. Russia, ini juga tak perlu dibahas setelah Roman Abramovich menggelontorkan uang na’udzubillah jumlahnya ke kas Chelsea, atau foto Tuanku Vladimir Putin sedang berkuda ataupun santai di Yacht. Tak perlu diributkan kemana suara The Motorcycle Diaries-nya kakanda Che Guevara yang ganteng selain sebagai simbol pin-pin jaket dan sablonan di Blok-M. Korea Utara? Lebih baik anda  tonton dulu film “the Interview” yang menggambarkan kegelian kaum kapitalis terhadap sosok Kim yang dibunuh dengan rudalnya sendiri.

Bayangkan, jika di negara yang adidaya seperti di atas saja komunisme-nya sendiri sudah luntur, lalu kita ber-lelah lelah gitu mau meributkan kebangkitan komunisme di Indonesia? Apalagi pernyataan menteri pertahanan yang entah bisikan darimana seakan ingin meng-eksiskan dirinya untuk ikut berkolaborasi dalam komedi absurd ini, komedi satire yang tidak lebih lucu dari stand-up.

Justru yang perlu dikritisi dengan munculnya kaos palu arit oleh para dedek gemes dan mas rambut poni itu ialah terancamnya kebebasan warga negara untuk melakukan diskusi, bedah pemikiran dan bahkan pembelajaran. Diskusi bukan cuma bolak balik soal feminisme dan gender, bukan melulu soal Sigmund Freud atau ketidak-efektifan hukum ala Eugen Ehrlich, tapi juga soal Fashl al-Maqaal Ibnu Rusyd hingga Marxisme.

Maka terperangahlah ketika terjadi Insiden Pembubaran ‘World Press Freedom Day 2016’ AJI Yogyakarta, yang secara kronologis dibubarkan oleh ormas yang kenyang dengan nasi bungkus. Bahkan hakul yakin, mereka pun tidak tahu seujung kuku soal apa itu World Press Freedom Day dan hubungannnya dengan komunisme.

World Presss Freedom Day (mohon klik), adalah hari perayaan fundamental kebebasan pers dunia. Jelas? Disitu termasuk menghormati para insan pers yang mendapat tekanan, ancaman bahkan kehilangan nyawa dalam tugas jurnalistik. Siapa penyelenggaranya? Unesco. Siapa Unesco? Lembaga murah hati bentukan Negeri barat yang notabenenya bertentangan dengan komunis. Wahai para pasukan nasi bungkus, apakah setelah penyetelan film “Pulau Buru Tanah Air Beta” lantas para wartawan itu berdiri sambil bersorak “hidup negara komunis!”. Gitu? Ayo sana raup dulu, nyeruput kopi sambil ngemil cilok.

Disinilah sangat disayangkan para dedek gemes dan mas berponi tadi belum mampu sedikit bersabar untuk menyimpan kaos, pin ataupun topi palu arit. Okelah, atas nama mode memang apalah kita. Tapi pliss, berpikirlah walau sejenak, tindakan kalian itu hanya membangun paranoia yang amat sangat tidak perlu di negeri ini, ujung-ujungnya kebebasan untuk berdiskusi dan berdialog lintas wawasan akan semakin sempit, marxisme akan dianggap lebay seperti serial The Walking Dead.

Pun demikian untuk bapak menteri pertahanan, simpan pula paranoia-mu, kecuali memang dirimu sengaja menyebarkan virus paranoia komunis ke masyarakat. Tidak semudah itu komunisme tumbuh, percayalah, bahwa menyebarkan virus hantek-aseng dan negara Khilafah masih jauh lebih absolut mengkhawatirkannya, sudah ada benderanya, sudah ada organisasinya. Justru disinilah penulis akan berteriak lantang..hidup NKRI!

Percayalah, segenggam nasi masih lebih penting dari ideologi, pun bagaimana caranya membangun beratus-ratus rusunawa untuk relokasi warga, membersihkan selokan atau membangun tanggul raksasa agar ibukota ini tidak lagi kebanjiran.

Dan untuk para dedek gemes dan mas berponi, teruslah bermain COC ketimbang ikutan pakai kaos palu arit. Kaos bergambar miki mouse masih lebih lucu ketimbang itu. Percayalah.