Humaniora · Sosial

Si Penyelamat Dunia!

Beberapa waktu lalu sehabis lari pagi, saya sempat bertemu Fikar, bocah tukang sampah komplek perumahan yg umurnya mungkin sekitar 10 tahunan.

Sambil ngos-ngosan iseng ku tanya:

“Boy, apa cita-citamu nanti klo besar?”
“Jadi menejer pak!” Jawabnya mantap dengan mata berbinar.
“Luar biasa! Menejer apa klo ku boleh tau?”
“Menejer tukang sampah, pak!” Jawabnya tak kalah mantap.
“Mantab betul!”

Masygul saya mendengar jawabannya, seorang anak tukang sampah, yang juga berprofesi sebagai tukang sampah, tidak malu sedikitpun dengan profesinya, baginya profesi tukang sampah adalah profesi yang bisa merubah dunia.

Betul juga kalau dipikir, tanpa sampah yang berserakan tentu dunia lebih indah, bersih dan sehat, generasi yang sehat adalah generasi yang hebat, masa depan harus berubah dengan lebih baik dan Fikar terlihat bangga menjadi bagian dari perubahan itu. Seorang tukang sampah, lebih hebat dari Ultraman!

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada berada disekitar orang yg punya mimpi besar, meskipun itu mimpi seorang calon Manajer Tukang Sampah, bukan main.

Advertisements
Sosial

[Cerita Qatar #1] Masjid, Oase Di Tengah Terik

mosque-in-doha-qatar
https://islamicmosque.wordpress.com

Dua tahun yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk mencicipi tinggal di salah satu negeri padang pasir, Qatar. Selama setahun kami tinggal disana karena kebetulan saya mendapatkan pekerjaan yang menantang, menjadi planning engineer di salah satu perusahaan minyak dan gas di negeri tersebut. Ya, Qatar merupakan penghasil gas alam nomor 8 dunia dengan 23,9 miliar barel cadangan minyak dan 885,1 trilyun kaki kubik cadangan gas. Untuk pekerjaan ini akan saya share di lain waktu.

Kebetulan pada saat itu, saya datang 4 bulan lebih dulu dari anak dan istri, status jadi “jomblo” di negera lain membuat saya berkesempatan untuk explore lebih dalam tentang kehidupan di negeri Monarki kaya para Emir tersebut.

Qatar adalah negera kecil di semenanjung teluk Persia, berbatasan dengan teluk Persia di sebelah utara dan Arab Saudi di sebelah selatan, sehingga Umrah pun bisa dilakukan via jalur darat asalkan kuat berbagi mobil dengan warga pekerja kasar yang mayoritas berbangsa India dan Bangladesh.

Negara Qatar berada di timur tengah, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa Qatar menganut sistem hukum Islam dan Qatar sendiri adalah negara Islam Sunni, meskipun tidak 100%, dikarenakan sebagian besar masyarakat di Qatar ini adalah expatriat. Penduduk asli negara Qatar (disebut Qatari) hanya sekitar 200 ribu saja dan sisanya dari negara lain, dimana mayoritas adalah India.

Meskipun expatriat adalah mayoritas disana tetapi hukum yang ditetapkan negara Qatar sangat tegas dan disiplin, sehingga expatriat disana hanya berpikir soal kerja, tidak sempat berpikir soal ekonomi apalagi politik, termasuk India.

Saya datang sekitar bulan Agustus, atau disaat Qatar masih panas-panasnya, itu saya rasakan ketika turun dari taksi dan masuk ke apartemen, suhu pengap menyapa dan saya cek di accu weather, suhu kota Doha (ibukota Qatar) adalah sekitar 31º C, tidak masalah jika itu siang, tapi ini malam, sekitar jam 1 dini hari. Wow..bagaimana siang besok hahaha… Maklum dari pintu pesawat (saya memakai Qatar Airways) hingga naik taksi penjemput, kita kita sudah disuguhi suhu ac yang dingin, termasuk di garbantara.

Hal kedua yang saya pikirkan ketika menginjak negara timur tengah (setelah provider handphone tentunya) adalah masjidnya, bukan apa-apa, tapi saya jadi membandingkan Masjid di Indonesia yang bisa ditemui di sepanjang jalan dan sudut kota, juga Masjidil Haram di Mekkah yang luar biasa nikmat. Apakah di Doha, Qatar ini juga sedemikian mudah dan nikmat?

Ternyata hampir seperti di Indonesia, Masjid di Qatar bisa di temui di setiap sudut negara ini, bahkan jauh lebih mudah. Mungkin setiap 50 meter kita bisa menemukan Masjid. Saya pertama kali merasakan Masjid di lingkungan Apartemen di daerah Mushereib, daerah pemukiman kaum expat asia timur alias India, Bangladesh, Filipina, Malaysia dan sebagian Indonesia, tapi teteup, mayoritas ya Indiahe.

Subuh, saya turun dari Apartemen, keluar dari lift langsung disambut angin panas bersuhu 33º C, Masyallah, di Indonesia, jam segini (4.30) suhu udara sedang sejuk-sejuknya, disini..huff..panas bro. Saya menemukan masjid berbentuk mungil yang jika di Indonesia disebutnya Musholla atau kalau di desa disebut Langgar, di Qatar sebutannya sama saja, Masjid.

Jamaahnya sudah terkumpul lumayan banyak, tapi yang paling nikmat adalah, hawa sejuk ketika masuk pintu masjid..rasanya nyussss. Ya, “Musholla” ini pun ber-AC, 2 AC split kapasitas 2 pk tergantung di dinding. Dinginnya makyus..sejuk. Terasa sangat sejuk karena kontradiktif dengan udara luarnya yang panas.

“Musholla” tersebut juga dilengkapi dengan mesin penghisap debu, tentu ini karena Qatar adalah negara padang pasir sehingga debu setiap saat menerjang, tak heran jika di dinding Apartemen pun yang terlihat adalah warna hijau kumpulan debu tebal. Di ujung belakang pun tersedia galon air mineral yang bebas diminum siapa saja, belum lagi Al Qur’an yang ada disetiap sisi masjid, pokoknya terawat dan sangat nyaman.

Masjid terbesar di Qatar adalah masjid Imam Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, masjid yang terletak di daerah Jubailat, Doha menghadap ke Qatar Sports Club ini diresmikan pada 16 Desember 2011. Masjid dinamakan sesuai dengan nama reformis Islam yang hidup pada tahun 1700an di daerah Saudi, dari sini kita bisa menebak, kemana pandangan politik dan agama dari Qatar. Saya sendiri pun masuk kesana di waktu-waktu akhir sebelum pulang ke Indonesia.

Masjid yang paling nyaman menurut saya adalah masjid tempat saya biasa Sholat Jumat, yaitu Masjid Bin Mahmoud di daerah Ibn Mahmoud. Masjid itu besar, luas, dan kedap suara. Terbagi dua lantai, lantai pertama terbagi dua bagian, bagian yang lebih kecil untuk suhu yang tak terlalu dingin, dan bagian utamanya bersuhu sangat sejuk cenderung dingin, mungkin sekitar 20-22ºC, ber-AC split dengan lampu kristal menggantung.

masjid4
Masjid Bin Mahmoud di foto dari bagian yang lebih kecil, karpetnya itu lhoo..hmm..

Masjid ini istimewa bagi saya, karena setiap waktu sholat Jumat, saya harus jalan kaki sekitar 500 meter dari Apartemen ke Masjid ini. Bukan masalah jika berjalannya di Jakarta, apalagi di Bandung, lha ini..di Qatar, 500 meter di siang hari di bawah suhu 40-45ºC (maklum tidak ada mobil). Kepala terasa pening karena belum terbiasa. Tapi begitu kita masuk Masjid Bin Mahmoud ini, Subhanallah..nikmat sekali rasanya. Maknyus.

masjid3

Tempat wudhunya luas dan banyak, ciri khas tempat wudhu di Qatar adalah selalu tersedia sabun cuci tangan dan juga tissue gulung, orang arab biasa mengeringkan tubuhnya setelah berwudhu, tidak seperti bangsa kita yang kotos-kotos basah dari tempat wudhu terus langsung Sholat. Di Qatar, mereka biasa “berdandan” sebelum masuk Masjid, entah mengeringkan air wudhu, bersabun, bersiwak atau memakai minyak wangi.

Disetiap sudut Masjid terdapat berkardus-kardus air mineral botol hasil sumbangan para warga disekitar Masjid, kita bebas mau ambil berapapun, tapi yang paling nikmat adalah karpetnya, sungguh empuk dan tidak bikin jidat perih karena bahannya halus seperti beludru. Dan karena hari Jumat adalah hari libur, maka saya terbiasa masuk Masjid 45 menit sebelum adzan, tentunya untuk menikmati suasana Masjid yang menyenangkan, termasuk mengaji.

Nikmatnya Masjid membuat orang betah berlama-lama di dalamnya, termasuk setelah Jumatan, banyak warga yang membentuk kumpulan kecil-kecil, biasanya mereka saling menguji hapalan Qur’annya, atau masyarakat India dan Bangladesh yang membentuk koloni sendiri untuk mendengarkan “ceramah” lanjutan, belakangan saya tahu ternyata itu bukan ceramah, tapi terjemahan atau translate dari ceramah pak ustad yang di mimbar Jumatan tadi.

masjid 1
Nuansa nikmat Masjid Bin Mahmoud, the comfort Mosque when I was here..

Ya karena ceramah pak ustad memang memakai bahasa arab, saya sendiri pun gak ngerti (baru ngerti setelah akhir-akhir saya belajar bahasa arab), ada memang yang memakai bahasa inggris di daerah Villagio, tapi ya mau bagaimana lagi, ini Masjid besar yang terdekat dan ternyaman di daerah saya.

Disini saya melihat banyak etnis berkumpul membentuk koloni mereka sendiri, ada Mesir, dengan hapalannya yang cepat, ada Afrika yang lebih banyak mengkaji hadist ketimbang baca Qur’an, ada Bahrain, Oman ataupun muslim barat yang didominasi oleh Inggris dan mereka pun betah berlama-lama membaca Al Qur’an, ada pula golongan pojokan yang didominasi oleh Malaysia, Indonesia dan muslim Filipina yang lebih banyak ngobrol dan haha hihi, hehehe..ini fakta.

Disinilah saya melihat toleransi beragama yang kuat, jika di cermati ada pelbagai aliran Islam yang ada di Masjid ini, tentu saja minus Syiah yang punya Masjid sendiri. Gerakan mereka banyak yang berbeda meskipun major gerakan Sholatnya sama, terutama yang dari Afrika dan Eropa Timur. Tapi belum pernah saya dengar ada perselisihan tentang hal ini. Ketika Sholat Subuh di Masjid pun kadangkala imam memakai doa qunut, kadang tidak, tapi tak pernah menjadi soal.

Satu hal lagi, tidak pernah ada ceramah Masjid menggunakan loud speaker hingga radius 100 meter keluar Masjid, speaker di desain apik sehingga jelas terdengar di dalam Masjid namun tak berisik hingga keluar. Itulah mengapa Masjid didesain kedap suara, sehingga ceramah pun terdengar nikmat, desain akustiknya diperhitungkan.

Selama di Qatar saya pun banyak berbincang dengan warga non muslim soal hal toleransi, dan mereka pun menyatakan salut, tidak pernah mereka “keberisikan” karena aktifitas Masjid, padahal aktifitas Masjid seperti Masjid Bin Mahmoud ini tergolong tinggi, tapi semua di desain santun.

Baju gamis putih panjang bagi non Qatari adalah pakaian untuk Sholat saja, bukan pakaian ketika beli makanan di warung atau unjuk kekuatan, sampai dirumah pun mereka berganti kaus biasa dan bergaul seperti layaknya warga biasa. Ketika di kantor pun mereka memakai kemeja atau jas.

Bagi Qatari pakaian gamis merupakan baju nasional disebut Thoub atau Thobe untuk pria dan Abaya untuk wanita, dan mereka diwajibkan memakai ini dimanapun mereka sepanjang keluar rumah. Tapi untuk non-Qatari, ya bebas-bebas saja. Pemuka agama pun jika bukan Qatari ya bebas-bebas saja memakai baju apapun selama itu sopan.

Pemerintah Qatar pun menerapkan hukum yang tegas baik soal ibadah maupun soal sosial, sehingga tidak pernah ada keluhan berarti dari non muslim maupun muslim sendiri. Inilah wujud Islam yang mengayomi semua pihak, Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

masjid2
Sudah hampir dua jam dari habis Jumatan, tapi masih betah juga. Oya, sinyal di Masjid ini kuat.
Sosial

Apa Esensi Debat?

Secara bahasa, debat dapat diartikan sebagai kegiatan adu argumentasi antar dua kelompok yang berseberangan secara pemikiran, data dan kepentingan. Jika di wikipedia definisi debat termasuk didalamnya adalah memutuskan sesuatu, maka bagi saya justru tidak ada yang diputuskan dalam debat.

Saya mengikuti kegiatan debat semenjak SMA ketika ada kegiatan bahasa, topiknya ringan, hanya masalah mengalokasikan kegiatan anak muda dari budaya nongkrong. Debat berikutnya lebih berat topiknya, tentang tata kota kotamadya. Debat berikutnya malah tentang persoalan tata keuangan yang akhirnya saya di diskualifikasi karena menyinggung tata keuangan sekolah yang cenderung korup.

Pun begitu ketika kuliah, saya tergabung di SKI (Sie Kerohaniawan Islam) yang salah satu “mentor” saya kala itu ikut bertarung dalam pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan juga mentor satunya lagi yang bertarung juga di tingkat fakultas. Keduanya dari PKS, dari situ saya baru menyadari target dari PKS itu apa.

debat-72dpi

Saya dan tim bertugas merancang strategi jawaban debat, dan point apa saja yang kira-kira di keluarkan. Tingkat kesulitan jangan ditanya, kami berbenturan dengan kepentingan kampus atau yang lain yang mendukung calon oposisi kami.

Saya pun bertanya-tanya, mengapa harus ada debat, segitu pentingkah debat? Jawabannya adalah penting! Debat menjadi penting ketika para yang bertarung adalah sosok yang memiliki kepentingan, kepentingan apa? Kepentingan untuk menang.

Debat sama sekali tidak memberikan suatu solusi apapun untuk diputuskan. Jika saling memberi solusi dan mengoreksi namanya bukan debat, tapi diskusi, meeting atau musyawarah. Saya tidak mau membawa-bawa teori komunikasi atau kutipan filsuf disini, lebih enak apa aktual di lapangan saja.

Jika arti penting debat seperti itu saja, lalu apa esensinya? Apa perlunya ada debat? Begini, debat itu adalah adu argumen, siapa yang lebih baik argumennya dialah yang menang, dan yang jelek argumennya dialah pecundang. Jadi debat hanya soal mengukuhkan posisi terkuat saat itu. Itulah esensi debat.

Esensi berikutnya, apakah hasil debat bisa mempengaruhi pemirsanya? Jawabannya adalah bisa, tapi tidak banyak. Yang bakal terpengaruh menjadi swing voters adalah para abg galau, putus cinta dan habis ditolak. Lho iya, karena mayoritas para voters sudah memiliki jagoan masing-masing, punya alasan sendiri kenapa pilih si A atau si B. Sudah memiliki kekuatan yang bisa dibaca petanya.

Debat akan menjadi seru apabila lawan yang bertarung sama-sama baru didunianya, contohnya debat capres 2014 antara Joko Widodo dengan Prabowo. Itu luar biasa karena keduanya memiliki massa yang fanatik, keduanya memiliki program yang sama-sama belum terbukti.

So, keduanya sama-sama berkhayal. Tapi apakah debat itu merupakan titik balik Joko Widodo menjadi Presiden? Ternyata bukan. Hanya sekian persen swing voters yang balik arah, sisanya sudah menentukan pilihan sebelum debat berlangsung.

Contoh debat tak seru adalah debat Barack Obama dengan Mitt Romney, tentu karena Obama banyak menyinggung tentang hasil kerjanya, sedangkan Romney masih berkutat pada ide. Itu pula yang terjadi pada debat Pilkada DKI kemarin, live reportnya bisa ditebak, tidak seru. Petahana berbicara soal apa yang sudah dikerjakan dan oposisi berkutat pada “akan”.

Jadi jika ada yang berkata bahwa debat menentukan hasil, kok ya saya kurang setuju, karena pemilih yang tidak galau pasti sudah memiliki jagoan sendiri, “iman” pendiriannya sudah teguh, debat hanya ajang untuk menjatuhkan pihak lawan.

Kata siapa debat itu pertanyaannya random, lalu untuk apa ada tim sukses, memangnya mereka kerjaannya pijet? Mereka itu gerilya boi, untuk tingkat mahasiswa saja gerilya minta ampun, apalagi tingkat nasional gini.

Jadi jangan baper dengan hasil debat, itu ada skenarionya, yang perlu di cermati dari debat justru adalah hal-hal non teknis, seperti gesture, tata bahasa, cara menyerang lawan, cara bertahan taktis, cara beraudiensi dan tentunya pandangan mata para calon. Mata tidak pernah menipu.

Jadi debat itu perlu, supaya semarak.

Ekonomi · Sosial

Komisi, Komisioner dan Komisioning

cropped-82a90-tulipmania.jpgBagi kita yang sering terlibat di bidang engineering dan hukum, pasti sering menghadapi tiga kata ini: Komisi, Komisioner dan Komisioning. Tidak aneh memang, tapi bagi saya ini menarik. Kenapa? Tiga kata itu punya kata induk yang satu, yaitu komisi atau comission dalam bahasa Inggris, tetapi punya makna yang berbeda jauh.

Mengapa harus memakai kata induk yang sama? Apa memang punya makna orisinil yang sama?

Coba bedakan arti kata komisi pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan komisi penjualan?

Komisi didalam kata KPK, menurut KKBI adalah /ko·mi·si/ n 1 sekelompok orang yang ditunjuk (diberi wewenang) oleh pemerintah, rapat, dan sebagainya untuk menjalankan fungsi (tugas) tertentu. Dan Komisioner adalah pimpinan dari Komisi tersebut.

Kata ketiga, ialah Komisioning yang berarti tahap penyelesaian proyek/pengetesan. Ketiga kata tersebut memakai kata induk yang sama, yaitu komisi yang jika merujuk pada wikipedia dan juga istilah umum, komisi bisa berarti upah/pembayaran/uang.

Nah, Jika Komisioning dilakukan untuk mendapatkan pembayaran dari klien, Komisioner juga dibayar oleh badan usaha, lalu apakah komisi di dalam KPK dan juga lembaga lain di negara ini juga mengejar “pembayaran”, seperti makna kata induk yang disematkan?

Ah, semoga saja tidak, terus berjuang KPK.

 

Sosial

Budaya Resiko dan Komitmen

win875-040-0002-620x350Ada tiga parameter primer yang harus diperhatikan sebelum menjalankan sebuah project yaitu Model, Budget dan Risk.

Kriteria Model; bisa dilihat, bisa di hitung, bisa di design, bisa di tolak ataupun di terima. Budget; bisa dihitung, bisa di ukur, bisa dimanipulasi (dengan hutang) bahkan bisa dihilangkan sama sekali (angel investor).

Sedangkan terakhir, yaitu Risk atau resiko adalah unik, tidak ada kriteria spesifik yang bisa di raba ataupun dihitung. Hanya bisa dimitigasi dan direncanakan. Jika pun sudah dilakukan mitigasi, apakah resiko tersebut hilang? Tidak. Karena bicara resiko adalah bicara probabilitas. Itulah guna manajemen resiko.

400px-risk_management_elements

Pendekatan semodern Montecarlo yang menggantikan model AHP pun hanya bisa sebatas melihat mana item yang paling beresiko dengan variable frekuensi. Sederhananya, jika kita mau membuat nasi goreng, maka hal yang paling beresiko adalah; nasinya gosong, kurang garam, kurang bumbu atau kompor mbleduk.

Setelah dilakukan simulasi Montecarlo, kita mendapat bahwa item paling beresiko adalah nasinya gosong, mitigasi penyebab adalah pada saat memasak, nasi goreng sering kita tinggal nonton Uttaran.

Lalu apa cara meminimalkan resiko selanjutnya? Mudah, matikan televisi ketika memasak. Tapi apa betul action itu sudah kita lakukan? Tidak juga.

Nah sama seperti masak nasi goreng, hampir 80% perusahaan yang pernah saya singgahi jarang melakukan action terhadap resiko.

Kenapa? Alasan klise, karena “dari dulu sudah begitu, atau tidak ada cost”, alias budaya. Resiko hanya dianggap sebagai “yah, semua kan ada resikonya mas”. Gitu.

Misal adanya resiko telat bayar vendor, apakah akan terus lanjut diperbaiki sistem keuangan? Kan gak juga, karena terkait aturan perusahaan dalam hal pembayaran alias budaya akutansi perusahaan.

Lho, terus bagaimana? Ya tim proyek berusaha saja semaksimal mungkin supaya vendor mau kirim barang. Tim proyek lagi-lagi harus babak belur.

Belum ada monitoring resiko yang terintegrasi seperti SAP, dimana setiap pihak yang terkait risk, wajib diberi notifikasi di dalam sistem itu, di beri target tanggal. Jika tanggal sudah terlewat dan belum ada action, maka pihak yang dituju akan di reminder dari sistem dan mau gak mau harus membuka filenya.

Jika masih berlarut-larut dan mengakibatkan resiko tadi menjadi fakta, maka pihak yang bersangkutan di beri surat peringatan.

Nah, kalau sudah ada sistem kayak di atas sih enak, kalau belum ada? Artinya bergantung lagi pada action dan komitmen top management.

Sama seperti Jakarta, sudah terbaca resiko APBD adalah pejabat yang korup, susahnya pembahasan rancangan APBD dengan DPRD dan juga masyarakat non KTP yang tidak mau di relokasi sehingga timbul konflik.

Sehingga, di Jakarta yang paling ditekankan untuk meminimalkan resiko adalah komitmen dan kesungguhan kinerja para pemegang kebijakan, termasuk pemerintah.

Begitu pentingnya manajemen resiko. So, jangan salah pilih.

Kopi · Sosial

7 Alasan Peminum Kopi Hitam Layak Jadi Menantu

kopi-hitam

Ini sebagai jawaban bagi para calon mertua yang belakangan marak mendeskripsikan cowok penggemar kopi hitam tidak pantas untuk dijadikan mantu. Apa pasal? Karena mereka lebih suka cowok yang classy dengan latte atau cappucino, lengkap dengan hiasan lope-lope, sambil tak lupa foto kopinya dengan angle dari atas sebelum diseruput.

Ah..mainstream sekali..

Padahal, di balik kopi hitam itulah tersimpan beribu jawaban, mengapa mereka sangat layak disandingkan oleh anak anda. Oh Gusti, mohon cerahkanlah pemikiran para calon mertua itu, sebelum  Engkau timpakan azab Ya Allah..

Check it out gaes..

1. Si Pekerja Keras dan Ulet

Tak dipungkiri lagi, kadar kafein yang tinggi dan murni di dalam kopi hitam  tanpa campuran susu, terbukti klinis bisa menstimulasi otak dan mood untuk bekerja atau konsentrasi lebih tahan lama.

Berita no hoaxnya adalah, berdasarkan penelitian, pria penyuka kopi hitam rata-rata punya pekerjaan tambahan di luar jam kerja biasanya, atau sering lembur. Masak sih?

Sudah jangan dihitung para karyawan yang nyambi jadi supir ojek online atau sekedar calo tiket konser dangdut. Termasuk juga para mahasiswa yang nyambi jadi hacker atau buzzer pilkada. Pacaran atau schedule demo BBM non subsidi yang super padat tak menyurutkan niat mereka. Ini menunjukkan keuletan dan determinasi.

Ini semua demi cita-cita yang ingin direngkuh dengan anak anda nantinya, mereka rela pulang larut demi keberhasilan. Biarpun mereka kadang tak terurus, tapi lihatlah kedalam hatinya. Anak anda sangatlah beruntung.

dscf2403

2. Si Kreatif, Detail dan Pemikir yang Kritis

Lebih dari 50% para pemikir dunia, novelis, pemimpin negara dan budayawan ternyata penyuka kopi hitam, ah masak sih? Jangan khawatir, angka ini bukan dari Cak Lontong, ini penelitian lho. Kenyataannya kopi hitam yang murni, bisa menghasilkan pemikiran yang cemerlang, tajam dan sistematis.

Bisa saja suatu saat nanti anda (para calon mertua) akan menerima broadcast messange dari grup arisan, bahwa ternyata hukum gravitasi ditemukan bukan karena Newton ketimpa buah apel, tapi karena Newton ditimpuk biji kopi sama emaknya.

Sesuai filosofi kopi hitam, pemikiran mereka bukan sebuah pemikiran pura-pura, bukanlah pemikiran copy paste. Pemikiran mereka adalah murni, inovatif, kreatif dan tajam. Contohnya banyak sekali, dari mulai Roosevelt hingga Bung Karno yang setiap pagi terbiasa kopi tubruk hitam dengan rokok 555 kesukaannya.

Stop untuk menjudge cowok yang hobi mencorat-coret dinding sambil ngopi hitam sebagai cowok yang tak punya masa depan. Lihatlah, mereka sedang berkreasi, mereka punya mimpi bahwa suatu saat nanti, mural dinding mereka akan dipamerkan di Musée du Louvre, Prancis.

Bukankah motivator mainstream selalu ngomong kalau kesuksesan adalah hasil dari mimpi?

Juga para pelancong warnet yang khusyuk sampai pagi mengotak-atik algoritma biner untuk meretas password haters sambil ngopi hitam. Suatu saat mereka akan menjadi ahli IT terkemuka, menggantikan ahli IT Indonesia saat ini yang lebih hobi ngembat sofa rumah dinas ketimbang membahas teknologi.

Detail identik dengan kopi hitam, karena membuat kopi hitam selalu ada rumusnya, ada yang suka satu sendok teh plus satu setengah gula, sebaliknya atau dua sendok teh plus setengah gula, atau tanpa gula.

Nah, kalau yang begitu saja detailnya minta ampun, apalagi sama anak anda.

Percayalah.

3. Si Seksi dan Romantis

Apa anda pikir anak anda yang cantik, putih dan berambut panjang itu cuek bebek saja begitu melewati tempat tongkrongan cowok-cowok ora adus mambu wedus yang lagi nyeruput kopi hitam? Jika anda berpikir begitu, anda salah total.

Anak anda itu diam-diam mengamati dan sesekali melirik kami lho. Dimata mereka, justru para cowok peminum kopi hitam itu seksi, manly dan tentunya romantis. Karena efek kafein murni bisa menstimulasi hormon keseksian lelaki.

Lihat saja buktinya, dalam pengaruh kopi hitam yang intens, saya bisa menghasilkan setidaknya tiga draft tulisan dan satu puisi/cerpen dalam waktu 4 jam. Dan tentunya puisi super romantis yang bisa membuat anak perempuan anda klepek-klepek gak karuan.

Memang mereka tidak suka memberi sekuntum bunga, tapi mereka siap memberi segenggam berlian….(Katakan amiin yang kenceng dan klik share!)

4. Si Pemilik Impian dan Cita-Cita Luhur

Buktinya tentu saja Beethoven, Benjamin Franklin, Roosvelt, Bung Karno hingga penulis blog ini yang selalu menemukan inspirasi apa yang dilakukan di waktu pagi hari sambil nyeruput kopi hitam.

Inspirasi yang berujung pada cita-cita, walapun sekedar bercita-cita rubah template blog atau menjadi tim sukses kampanye anak mantan presiden, itu tetaplah cita-cita. Puncak cita-cita itu ialah merajut kehidupan dengan anak perempuan anda.

Jangan kubur cita-cita kami wahai ibu calon mertua. Niscaya kami tidak akan menyerah hingga titik darah penghasilan!

5. Si Penyayang Keluarga

Entah kenapa beberapa dari si peminum kopi hitam ini selalu mengajak keluarganya di Sabtu / Minggu apapun acaranya. Sepertinya keluarganya adalah hidupnya. Dan ini yang saya lihat dari beberapa teman saya, dan juga saya sendiri.

Mereka seperti ingin membayar waktu lembur dan kerja keras di workdays dengan full time keluarga di waktu weekend. Mengikuti perkembangan anak atau sekedar mengantar anak ke rumah temannya sudah bikin mereka puas. Sangat manis bukan?

Lho, banyak tuh yang suka petualang atau touring sana sini, minumnya kopi hitam, gimana tuh?

Jangan khawatir, touring gak menghabiskan waktu 7×24 kok. Maksimal 2×24, itupun dua-tiga bulan sekali. Itu demi komunitas perkawanan dan kadang bisnis, dari situ sering lho malah dapat orderan kaos atau info tender.

Nah, diluar itu harap lapor yang berwajib.

dscf2418
Menghabiskan waktu dengan keluarga sambil tetep ngopi

6. Si Sosok yang Apa Adanya

Itulah filosofi kopi hitam, kopi yang jujur dan apa adanya. Tapi menyimpan kekuatan yang besar dibaliknya.

Pahit, panas namun nikmat pada akhirnya.

7. Si Pengelola Keuangan yang Cerdas

Tidak perlu dibahas panjang x lebar lagi, cukup anda lihat di semua tempat ngopi, kopi apa yang harganya paling murah?

Begitu pedulinya mereka dengan keuangan kan?

Kurang apa lagi coba!