Kota Itu Bernama Surabaya

20180719_055653_resized_1Bukan Jogja, bukan Solo, bukan Denpasar, bukan pula Jakarta, Balikpapan ataupun Bandung, tapi Surabaya yang mencuri hati saya di tahun ini. Ya Surabaya, kota yang mainstream dengan perubahan yang anti mainstream.

Sudah lama saya tidak ke Surabaya, terakhir mungkin 10 tahun yang lalu, dan mulai minggu lalu, saya resmi menjadi penduduk tak tetap Kota Pahlawan ini, untuk tepatnya 2 minggu ini.

Saya masih membayangkan, Surabaya adalah kota yang panas dan gersang, meskipun pemberitaan dan foto dimana-mana bersliweran tentang hijaunya Surabaya, tapi otak saya masih merekam suasana 10 tahun yang lalu itu.

Dan akhirnya saya terkejut, lebih tepatnya terkesima begitu keluar dari Bandara Djuanda. Surabaya betul-betul hijau. Hijau beneran, bukan hijau karena di cat, tapi ini hijau sungguhan, taman, rindang dan alami.

Di sepanjang jalan Dharmo, kami disuguhi pemandangan hijau disisi kiri, kanan dan tengah jalan. Tidak ada sudut kota yang tidak dibuat taman.

Gabungan pohon tinggi dan rendah, lalu kombinasi tanaman pembawa keberuntungan dari mulai Keladi, Sri Rejeki, Kuping Gajah, beberapa Palem, Pohon Glodokan Tiang, Bintaro, Kersen, Akasia, Bungur yang indah hingga yang paling sering terlihat; Bougenville.

Saya jadi mengira-ngira, mungkin si empunya kota ini jatuh cinta sama tumbuhan “kertas” ini, bunga yang berasal dari Amerika Latin namun diberi nama dari nama penemunya yang asal Prancis, Sir Louis Antoine de Bougainville.

Mungkin karena sinar matahari kota pinggir pelabuhan ini membuat Bougenville tumbuh subur, karena Bougenville justru tumbuh paling subur di daerah Khatulistiwa.

Selain karena perawatannya yang intensif, konon, si empunya kota ini (walikota) punya deretan monitor di ruang kerjanya khusus untuk memonitor sudut-sudut taman di Kota Surabaya. Lecet dikit, kelar hidup lo!

 

20180719_060231_resized_1
Jembatan penyebrangan yang sangat bersih

Rindangnya kota ini membuat aktifitas lari pagi saya jadi begitu indah, jarak 5 km tidak terasa karena udara segar yang berebut masuk ke paru-paru. Surabaya yang gersang berubah rindang.

Trotar dibuat lebar-lebar dengan tiang balok di setiap ujung untuk menghalau motor naik ke trotoar.

Masyarakatnya tertib, ada tombol pejalan kaki untuk menyebrang dan mobil/motor yang lewat sangat patuh mengikuti aturan.

Dan satu yang saya batin, saya gak ngeliat angkot dari tadi, tidak ada angkot sliweran dan berhenti seenaknya. Jumlahnya ada, tapi sangat sedikit.

Dan ternyata, akibat online transportasi, supir angkot banyak yang beralih profesi. Angkot berkurang, jalanan menjadi lebih tertib. Satu fakta lagi, online merubah peradaban.

Dan akhirnya beberapa hari yang lalu saya pun berkesempatan bertemu langsung dengan si empunya kota ini di sebuah acara seminar. Walikota wanita yang terkenal galak dan tentu tak punya waktu untuk berbincang dengan saya, ya iyalah.

Tapi di kesempatan sempit itu, saya sempat ‘ngobrol’ dengannnya. Naluri blogger (baca:jurnalis) saya muncul. Saya pun bertanya sejak terakhir 10 tahun yang lalu saya ke Surabaya, yang tadinya gersang, jadi rindang, basa-basi saya bertanya: Rahasianya apa?

Tak disangka, beliau kaget mendengar pertanyaan sepele saya, lalu kemudian tertawa, tawa khas Suroboyoan.

Kata beliau, rahasianya sederhana.

“Anda mau kerja apa enggak? Saya (Bu Wali) dan kawan-kawan adalah pengurus kota. Kota nya mau di urus atau enggak ya tergantung pengurusnya. Saya bukan pejabat, kami ini adalah pengurus, mbantu masyarakat. Mau bantu, mau ngurus, mau kerja apa enggak? Itu saja mas” katanya.

Efek dari kemauan mengurus itu menular ke masyarakatnya. Masyarakat Surabaya terlihat tertib, dan semua masyarakat yang saya temui mereka segan dengan ketegasan bu wali. Kalau melanggar, mereka malu.

Saya jadi ngelamun, buka dompet dan melihat KTP kota tempat tinggal saya. Ibukota Republik yang masih belum berubah, saya jadi curiga, kota saya ada pengurusnya gak ya?

Advertisements

Si Penyelamat Dunia!

Beberapa waktu lalu sehabis lari pagi, saya sempat bertemu Fikar, bocah tukang sampah komplek perumahan yg umurnya mungkin sekitar 10 tahunan.

Sambil ngos-ngosan iseng ku tanya:

“Boy, apa cita-citamu nanti klo besar?”
“Jadi menejer pak!” Jawabnya mantap dengan mata berbinar.
“Luar biasa! Menejer apa klo ku boleh tau?”
“Menejer tukang sampah, pak!” Jawabnya tak kalah mantap.
“Mantab betul!”

Masygul saya mendengar jawabannya, seorang anak tukang sampah, yang juga berprofesi sebagai tukang sampah, tidak malu sedikitpun dengan profesinya, baginya profesi tukang sampah adalah profesi yang bisa merubah dunia.

Betul juga kalau dipikir, tanpa sampah yang berserakan tentu dunia lebih indah, bersih dan sehat, generasi yang sehat adalah generasi yang hebat, masa depan harus berubah dengan lebih baik dan Fikar terlihat bangga menjadi bagian dari perubahan itu. Seorang tukang sampah, lebih hebat dari Ultraman!

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada berada disekitar orang yg punya mimpi besar, meskipun itu mimpi seorang calon Manajer Tukang Sampah, bukan main.

[Cerita Qatar #1] Masjid, Oase Di Tengah Terik

mosque-in-doha-qatar
https://islamicmosque.wordpress.com

Dua tahun yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk mencicipi tinggal di salah satu negeri padang pasir, Qatar. Selama setahun kami tinggal disana karena kebetulan saya mendapatkan pekerjaan yang menantang, menjadi planning engineer di salah satu perusahaan minyak dan gas di negeri tersebut. Ya, Qatar merupakan penghasil gas alam nomor 8 dunia dengan 23,9 miliar barel cadangan minyak dan 885,1 trilyun kaki kubik cadangan gas. Untuk pekerjaan ini akan saya share di lain waktu.

Kebetulan pada saat itu, saya datang 4 bulan lebih dulu dari anak dan istri, status jadi “jomblo” di negera lain membuat saya berkesempatan untuk explore lebih dalam tentang kehidupan di negeri Monarki kaya para Emir tersebut.

Qatar adalah negera kecil di semenanjung teluk Persia, berbatasan dengan teluk Persia di sebelah utara dan Arab Saudi di sebelah selatan, sehingga Umrah pun bisa dilakukan via jalur darat asalkan kuat berbagi mobil dengan warga pekerja kasar yang mayoritas berbangsa India dan Bangladesh.

Negara Qatar berada di timur tengah, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa Qatar menganut sistem hukum Islam dan Qatar sendiri adalah negara Islam Sunni, meskipun tidak 100%, dikarenakan sebagian besar masyarakat di Qatar ini adalah expatriat. Penduduk asli negara Qatar (disebut Qatari) hanya sekitar 200 ribu saja dan sisanya dari negara lain, dimana mayoritas adalah India.

Meskipun expatriat adalah mayoritas disana tetapi hukum yang ditetapkan negara Qatar sangat tegas dan disiplin, sehingga expatriat disana hanya berpikir soal kerja, tidak sempat berpikir soal ekonomi apalagi politik, termasuk India.

Saya datang sekitar bulan Agustus, atau disaat Qatar masih panas-panasnya, itu saya rasakan ketika turun dari taksi dan masuk ke apartemen, suhu pengap menyapa dan saya cek di accu weather, suhu kota Doha (ibukota Qatar) adalah sekitar 31º C, tidak masalah jika itu siang, tapi ini malam, sekitar jam 1 dini hari. Wow..bagaimana siang besok hahaha… Maklum dari pintu pesawat (saya memakai Qatar Airways) hingga naik taksi penjemput, kita kita sudah disuguhi suhu ac yang dingin, termasuk di garbantara.

Hal kedua yang saya pikirkan ketika menginjak negara timur tengah (setelah provider handphone tentunya) adalah masjidnya, bukan apa-apa, tapi saya jadi membandingkan Masjid di Indonesia yang bisa ditemui di sepanjang jalan dan sudut kota, juga Masjidil Haram di Mekkah yang luar biasa nikmat. Apakah di Doha, Qatar ini juga sedemikian mudah dan nikmat?

Ternyata hampir seperti di Indonesia, Masjid di Qatar bisa di temui di setiap sudut negara ini, bahkan jauh lebih mudah. Mungkin setiap 50 meter kita bisa menemukan Masjid. Saya pertama kali merasakan Masjid di lingkungan Apartemen di daerah Mushereib, daerah pemukiman kaum expat asia timur alias India, Bangladesh, Filipina, Malaysia dan sebagian Indonesia, tapi teteup, mayoritas ya Indiahe.

Subuh, saya turun dari Apartemen, keluar dari lift langsung disambut angin panas bersuhu 33º C, Masyallah, di Indonesia, jam segini (4.30) suhu udara sedang sejuk-sejuknya, disini..huff..panas bro. Saya menemukan masjid berbentuk mungil yang jika di Indonesia disebutnya Musholla atau kalau di desa disebut Langgar, di Qatar sebutannya sama saja, Masjid.

Jamaahnya sudah terkumpul lumayan banyak, tapi yang paling nikmat adalah, hawa sejuk ketika masuk pintu masjid..rasanya nyussss. Ya, “Musholla” ini pun ber-AC, 2 AC split kapasitas 2 pk tergantung di dinding. Dinginnya makyus..sejuk. Terasa sangat sejuk karena kontradiktif dengan udara luarnya yang panas.

“Musholla” tersebut juga dilengkapi dengan mesin penghisap debu, tentu ini karena Qatar adalah negara padang pasir sehingga debu setiap saat menerjang, tak heran jika di dinding Apartemen pun yang terlihat adalah warna hijau kumpulan debu tebal. Di ujung belakang pun tersedia galon air mineral yang bebas diminum siapa saja, belum lagi Al Qur’an yang ada disetiap sisi masjid, pokoknya terawat dan sangat nyaman.

Masjid terbesar di Qatar adalah masjid Imam Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, masjid yang terletak di daerah Jubailat, Doha menghadap ke Qatar Sports Club ini diresmikan pada 16 Desember 2011. Masjid dinamakan sesuai dengan nama reformis Islam yang hidup pada tahun 1700an di daerah Saudi, dari sini kita bisa menebak, kemana pandangan politik dan agama dari Qatar. Saya sendiri pun masuk kesana di waktu-waktu akhir sebelum pulang ke Indonesia.

Masjid yang paling nyaman menurut saya adalah masjid tempat saya biasa Sholat Jumat, yaitu Masjid Bin Mahmoud di daerah Ibn Mahmoud. Masjid itu besar, luas, dan kedap suara. Terbagi dua lantai, lantai pertama terbagi dua bagian, bagian yang lebih kecil untuk suhu yang tak terlalu dingin, dan bagian utamanya bersuhu sangat sejuk cenderung dingin, mungkin sekitar 20-22ºC, ber-AC split dengan lampu kristal menggantung.

masjid4
Masjid Bin Mahmoud di foto dari bagian yang lebih kecil, karpetnya itu lhoo..hmm..

Masjid ini istimewa bagi saya, karena setiap waktu sholat Jumat, saya harus jalan kaki sekitar 500 meter dari Apartemen ke Masjid ini. Bukan masalah jika berjalannya di Jakarta, apalagi di Bandung, lha ini..di Qatar, 500 meter di siang hari di bawah suhu 40-45ºC (maklum tidak ada mobil). Kepala terasa pening karena belum terbiasa. Tapi begitu kita masuk Masjid Bin Mahmoud ini, Subhanallah..nikmat sekali rasanya. Maknyus.

masjid3

Tempat wudhunya luas dan banyak, ciri khas tempat wudhu di Qatar adalah selalu tersedia sabun cuci tangan dan juga tissue gulung, orang arab biasa mengeringkan tubuhnya setelah berwudhu, tidak seperti bangsa kita yang kotos-kotos basah dari tempat wudhu terus langsung Sholat. Di Qatar, mereka biasa “berdandan” sebelum masuk Masjid, entah mengeringkan air wudhu, bersabun, bersiwak atau memakai minyak wangi.

Disetiap sudut Masjid terdapat berkardus-kardus air mineral botol hasil sumbangan para warga disekitar Masjid, kita bebas mau ambil berapapun, tapi yang paling nikmat adalah karpetnya, sungguh empuk dan tidak bikin jidat perih karena bahannya halus seperti beludru. Dan karena hari Jumat adalah hari libur, maka saya terbiasa masuk Masjid 45 menit sebelum adzan, tentunya untuk menikmati suasana Masjid yang menyenangkan, termasuk mengaji.

Nikmatnya Masjid membuat orang betah berlama-lama di dalamnya, termasuk setelah Jumatan, banyak warga yang membentuk kumpulan kecil-kecil, biasanya mereka saling menguji hapalan Qur’annya, atau masyarakat India dan Bangladesh yang membentuk koloni sendiri untuk mendengarkan “ceramah” lanjutan, belakangan saya tahu ternyata itu bukan ceramah, tapi terjemahan atau translate dari ceramah pak ustad yang di mimbar Jumatan tadi.

masjid 1
Nuansa nikmat Masjid Bin Mahmoud, the comfort Mosque when I was here..

Ya karena ceramah pak ustad memang memakai bahasa arab, saya sendiri pun gak ngerti (baru ngerti setelah akhir-akhir saya belajar bahasa arab), ada memang yang memakai bahasa inggris di daerah Villagio, tapi ya mau bagaimana lagi, ini Masjid besar yang terdekat dan ternyaman di daerah saya.

Disini saya melihat banyak etnis berkumpul membentuk koloni mereka sendiri, ada Mesir, dengan hapalannya yang cepat, ada Afrika yang lebih banyak mengkaji hadist ketimbang baca Qur’an, ada Bahrain, Oman ataupun muslim barat yang didominasi oleh Inggris dan mereka pun betah berlama-lama membaca Al Qur’an, ada pula golongan pojokan yang didominasi oleh Malaysia, Indonesia dan muslim Filipina yang lebih banyak ngobrol dan haha hihi, hehehe..ini fakta.

Disinilah saya melihat toleransi beragama yang kuat, jika di cermati ada pelbagai aliran Islam yang ada di Masjid ini, tentu saja minus Syiah yang punya Masjid sendiri. Gerakan mereka banyak yang berbeda meskipun major gerakan Sholatnya sama, terutama yang dari Afrika dan Eropa Timur. Tapi belum pernah saya dengar ada perselisihan tentang hal ini. Ketika Sholat Subuh di Masjid pun kadangkala imam memakai doa qunut, kadang tidak, tapi tak pernah menjadi soal.

Satu hal lagi, tidak pernah ada ceramah Masjid menggunakan loud speaker hingga radius 100 meter keluar Masjid, speaker di desain apik sehingga jelas terdengar di dalam Masjid namun tak berisik hingga keluar. Itulah mengapa Masjid didesain kedap suara, sehingga ceramah pun terdengar nikmat, desain akustiknya diperhitungkan.

Selama di Qatar saya pun banyak berbincang dengan warga non muslim soal hal toleransi, dan mereka pun menyatakan salut, tidak pernah mereka “keberisikan” karena aktifitas Masjid, padahal aktifitas Masjid seperti Masjid Bin Mahmoud ini tergolong tinggi, tapi semua di desain santun.

Baju gamis putih panjang bagi non Qatari adalah pakaian untuk Sholat saja, bukan pakaian ketika beli makanan di warung atau unjuk kekuatan, sampai dirumah pun mereka berganti kaus biasa dan bergaul seperti layaknya warga biasa. Ketika di kantor pun mereka memakai kemeja atau jas.

Bagi Qatari pakaian gamis merupakan baju nasional disebut Thoub atau Thobe untuk pria dan Abaya untuk wanita, dan mereka diwajibkan memakai ini dimanapun mereka sepanjang keluar rumah. Tapi untuk non-Qatari, ya bebas-bebas saja. Pemuka agama pun jika bukan Qatari ya bebas-bebas saja memakai baju apapun selama itu sopan.

Pemerintah Qatar pun menerapkan hukum yang tegas baik soal ibadah maupun soal sosial, sehingga tidak pernah ada keluhan berarti dari non muslim maupun muslim sendiri. Inilah wujud Islam yang mengayomi semua pihak, Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

masjid2
Sudah hampir dua jam dari habis Jumatan, tapi masih betah juga. Oya, sinyal di Masjid ini kuat.