Membahas Penyebar Hate Speech? Duh Entar Dulu Deh..

Ada yang DM di facebook, kenapa kok saya tidak ikut membahas fenomena Jonr* yang sedang hits (lagi) ini. Saya bingung, kenapa pertanyaan ini bisa muncul? Lebih bingung lagi, emang penting ya saya jawab.

Sepenting itukah membahas fenomena kebencian? Saya jawab bahwa memang saya tidak ingin membahas fenomena hate speech yang jelas-jelas berenergi negatif, negatif bagi si pembahas dan juga bagi yang membaca.

Jika saya membahas hal itu, otomatis yang keluar dari tulisan saya nanti adalah kebencian kepada si pembenci. Kebencian melahirkan kebencian, bagi pembaca yang kontra kepada saya nanti akan tercipta kebencian pula.

Solusinya satu, polisi cepat tangkap si penyebar kebencian, tapi toh kan yang di benci (Presiden) santai-santai aja kan, maknanya jelas, don’t make sick or stupid people famous..

Kebencian beranak pinak, apa yang di harapkan?

Sementara di lain pihak, masih jutaan hal yang bisa dibagi, meskipun sekedar informasi mana yang lebih enak, kopi Flores ataukah Toraja Dark Roasted. Oya saya baru saja “dapat” dari seorang kawan, sebungkus (100 gr) Toraja Dark Roasted giling halus, tentu saja karena kawan tahu betul saya suka kopi yang masih ada ampasnya sedikit. Hehe

Saya juga suka menulis politik dan ekonomi, dan beberapa hal menyindir para haters dengan hate speech-nya yang tak kenal lelah.

Ya kami pun tak kenal lelah untuk menyebarkan positive speech..tapi untuk bahas yang diatas..duh entar dulu deh…

Advertisements

HTI, PKI dan Upil

Tersebutlah seorang kawan saya, tinggal saat ini di daerah pingiran Jakarta (ehm..Bekasi), sebetulnya tidak bisa dibilang kawan karena umur bliau jauh di atas umur saya, tapi kalau soal bercanda, kami seperti listrik. Bliau asli Lamongan, Jawa Timur, logatnya pun cespleng tak tis tak pandang bulu, menandakan dia origin Jawa Timuran, jadi layak saya sematkan gelar Cak, so, ladies..sebut saja dia dengan Cak Kismin.

Satu dari banyak kelebihannya, dia dikaruniai otak yang cerdas, salah satu lulusan terbaik pondok pesantren Tebuireng, Jombang, dan juga pernah mondok di Ponpes Langitan, Tuban. Seorang Hafidz Al Qur’an yang mendapat beasiswa fakultas perminyakan, sempat bekerja di perusahaan minyak timur tengah tapi sekarang lebih senang jadi guru ngaji, angon wedus, koleksi burung kenari dan berdebat apa esensi dari sinteron anak jalanan.

Siang hari sebelum puasa di hari minggu saya sengaja silaturahmi ke kediamannya, cuma untuk ngecek, bliau masih waras atau tidak. Sampai dirumahnya seperti biasa pembicaraan selalu menghangat, sehangat kopi dan teh panas yang disajikan. Dan pada akhirnya pembicaraan kami pun menyerempet hal yang futuristik. Pembubaran HTI.

“Cak, kok ada yang menyamakan antara HTI sekarang dengan isu komunis itu sendiri, piye jal?”

“Hehe, HTI, DI/TII dan komunis tahun 1940 hingga kehancurannya adalah sama, sama-sama ingin mendirikan negara atau ideologi diluar dari tubuh negara itu sendiri”

“Mereka bertiga itu sama saja dengan upil” Tegasnya.

“Lho, kok upil cak, apa ndak ada umpama yang lebih manusiawi?”

“Ya, tidak ada..” Sembari tangannya mulai mengorek lubang hidung yang tak seberapa besar.

“Nih..” Katanya sambil menunjukan hasil galian. “Ngupil itu enak, padahal kita tahu bahwa upil itu adalah jenis kotoran yang selalu hinggap di dalam hidungmu selama kamu bernafas”

“Begitu juga negara, selama negara ini bergerak, yang namanya “upil-upil” ini ya akan selalu muncul, tubuh kita ibarat negara itu sendiri, bagaimana tubuh kita diciptakan itulah ideologi bangsa, sedangkan upil adalah hal asing yang mengganggu isi hidung kita, hidung ku jadi gatal, ada benda diluar horizon tubuh yang masuk”

“Bayangkan jika upil tidak kita korek, mau kamu seluruh hidung kamu akan penuh upil lalu kamu tidak bisa nafas dan akhirnya ditemukan tewas mengenaskan dengan upil memenuhi hidung, masuk koran lampu merah?”

Saya pun terkekeh..

“Tapi anehnya, ngupil itu rasanya enak je, jadi saya penasaran tho, apa memang mengorek “upil-upil” penganggu ini juga rasanya enak ya?” Sambungnya.

“Atau jangan-jangan..memang sengaja ada upilnya ya, biar negara punya kenikmatan tersendiri, kenikmatan mengorek seperti saya lantas TNI punya kesibukan…ah, mbok ya kita ngopi dulu sebelum ngupil..”

“ssrrruuupppuutt…ahh…”

Dan, kopi ku pun seakan menguning..

Karena Ahok Bukan Orang Jawa

Mohon maaf sebelumnya karena tulisan ini tidak menyangkut soal SARA, apalagi Saras junior saya, eh..tapi ini rangkuman hasil rapat terbatas warung kopi setelah bersama-sama mengikuti seminar. Agar diketahui bahwa peserta rapat terbatas ini memang terbatas sekali, hanya tiga orang dan kami semua berbeda suku dan agama.

Kami bertiga ngobrol ngalor ngidul berbicara soal politik di negeri ini, politik lagi? Ya memang tak pernah habisnya politik itu, dan harus diakui Indonesia memang tak pernah kehabisan bahan untuk kongkow tema politik. Pembicaraan berlangsung biasa-biasa saja, sampai pada suatu detik, kawan saya yang bermarga Sitorus mengeluarkan pendapatnya.

“Ya apapun itu, kawan Ahok itu salahnya ya cuma satu..ada lagi memang, tapi yang satu ini yang justru tidak dia sadari”

“Apa itu bang”

“Ahok bukan orang Jawa!”

“Hah?..Hmm..lho apa hubungannya?”

“Ya, pasti ada hubungan lah, klo gak ada hubungan namanya jomblo, begok kau” Hahaha, kami tertawa.

“Gini pren, Ahok itu apalagi sih kurangnya? Dari sisi kerja ya pantaslah dia didaulat sebagai Gubernur yang kerja keras, jawaban dia pun selalu smart, jauh lah dari aku ini, apalagi kau dan kau..jauh..” Sambil menunjuk kami yang intens mengamati mimik wajahnya yang lucu.

“Sudahlah, Ahok itu pasti menang jika dia dan tim tidak polos-polos amat. Coba kau lihat teman Ahok itu, isinya bau kencur semua, anak-anak culun yang cuma mengandalkan slogan kerja nyata”

“Ya Ahok kan memang kerja, dan aku rasa pantaslah jika itu yang di tonjolkan” Kata kawan satunya lagi yang bermaga Chen, penggila kopi dan seorang Buddhist.

“Justru itu, di Indonesia ini gak bisa cuma kerja kerja kerja, kau kira kita kuli? hah? Di dunia manapun namanya orang mau naik kuasa itu ya pakai strategi, kalau polos namanya cah kangkung, bikin ngantuk”

“Lihat itu orang Jawa, heh kau kan orang Jawa, pasti paham kan apa yang ku maksud?”

“Lanjut dulu bang..” Kataku sambil menyeruput kopi.

“Lihat itu Jokowi, SBY, apalagi Soeharto ketika dulu mereka mau naik..semua memakai strategi, Jokowi memakai strategi senyap, SBY memakai strategi terzalimi di akhir 2003 pas dia seperti “dipecat” oleh Mega, padahal dia mengundurkan diri karena di cecar terus soal pencalonan Presiden, apalagi Soeharto..Kita jangan munafik lah kalau Ahok sekarang beda dengan jaman Foke dulu, Foke didukung hampir semua partai, nah Adang dulu cuma didukung PKS, gak ada greget, Foke is Demokrat. Nah pas Jokowi mencalonkan jadi Gubernur, habis lah Foke, strategi Jokowi merakyat melawan Foke yang kesannya borju, 2012 Foke tidak siap dengan strategi karena pede didukung Demokrat, Ahok? Ini baru perang strategi”

“Ya memang di Jawa ada falsafah Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha. Berjuang tanpa membawa massa. Menang tanpa merendahkan. Berwibawa tanpa kekuatan, kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa benda, ini memang yang membuat Jokowi menang, dia berstrategi secara alami” Kataku.

“Nah, kebalikan..Ahok sampai akhir 2016 masih saja berstrategi kerja kerja, padahal isu double minoritas sudah muncul sejak awal 2016, 2015 malah..”

“Nah, kalau itu saya setuju bang..”

“Ya, Ahok tidak bisa anteng, dia orang yang sangat straight to the point, sebagian orang suka gayanya, namun nyaris sebagian besarnya tidak, inilah kenapa ketika acara demo nomor cantik banyak sekali yang melawan dia” Kata pak Chen.

“Bedanya apa dengan Obama dulu?” Tanyaku

“Bedalah boi, sederhana, karena Obama adalah single minoritas, dan wacana apartheid soal kulit sudah dibahas pro dan kontra sejak 1960-an, udah basi, dan kita baru sekarang ketika dunia sedang hot-hotnya”

“Ya itulah, karena Ahok kurang bisa membaca situasi, tim suksesnya pun terlampau pede kalau menurutku untuk menang. Ya sudahlah fatal di pertama ketika di Pulau Seribu, eh fatal lagi yang kedua ketika ngomong password kafir. Nah, ini orang bisa baca sikon gak sih, gemes kali aku..” Sambung temanku.

“Yang dipulau seribu itu meskipun tak bermaksud, tapi serigala-serigala di luar sana siap menerkam bro, Ahok sudah di incar salahnya sejak dahulu kala, buktinya dia kalah di Belitung dan kalah lagi di Jakarta. Ahok memang orang baik, tulus tapi dua hal itu tidak cukup untuk menaklukan Indonesia”

“Wahh licik sekali kalau begitu..”

“Ya memang licik bro, ah kau ini..mana ada politik kayak tahu tempe, dibolak balik sama, enggak lah..ini juga yang menurutku akan menghadang Jokowi nanti, selip lidah”

“Tapi Jokowi orang yang lebih hati-hati bang..”

“Ya, itu kita percaya, itulah mengapa orang Jawa lebih jago soal-soal begini, bubarkan HTI saja harus via Wiranto dengan kalimat yang mungkin menyusunnya butuh tiga hari tiga malam ha ha ha..”

“Ya ini fair-fairan saja, memang faktanya begitu, lihat saja fitnah komunis, apa Jokowi pernah merespon? Tidak kan, dan memang tidak perlu karena fitnah memang tidak perlu di lawan, coba saya misal dituduh belum bayar rokok saja, sudah berkoar-koar mulut ini..hahaha, semakin runcing masalah…”

“Kalau begitu Anies kan juga bukan orang Jawa bang?”

“Lha, memang kau kira pilkada kemarin itu soal memilih Anies? Wah, gimanak kau ini..pilkada kemarin ini soal ngalahin Ahok, bukan soal Anies jadi Gubernur” Hahahaha..kami pun tertawa.

“Hanya saja saat ini, Jokowi harus punya sense of crisis yang tinggi, karena isu-isu itu akan semakin gawat”

“Harus ada strategi anti-komunis dari sisi Jokowi, karena apapun, fitnah ini yang akan menjadi senjata utama, lihat saja JK sudah bermain api dalam sekam”

“Ya, pilpres nanti juga buka soal siapa menang, tapi bagaimana menjungkalkan Jokowi dari Presiden, Prabowo sudah buat blunder saat pendukungnya foto-foto di depan tumpeng “selamat Ahok dipenjara” ini sikap arogan yang bisa berbalik arah. Jadi pasti isu-isu rasial yang akan prioritas menyerang Jokowi nanti”

“Ah, kalau soal JK, ini kita saja yang baper, tanpa JK ngomong gitu pun kita ngerti siapa orang-orang kaya di Indonesia, dan mereka merintis puluhan tahun, puluhan dekade sejak orde baru” Ujar Pak Chen

“Termasuk toko sepeda bapak saya” Sambungnya.

“Ya, tapi mulai dihembuskan saat ini, ini kan bahaya..bla..bla..bla..

Dan obrolan sok tahu kami pun berlanjut hingga selewatan malam, hingga jarum panjang berpagut mesra dengan jarum pendek di puncak asmara waktu..

Kopi ku pun semakin dingin…