Pendulum Nusantara, Proyek Prestisius Harus Becus

Pendulum Nusantara, Proyek Prestisius Harus Becus

Pendulum Nusantara

Pendulum Nusantara ialah konsep sistem transportasi barang melalui lautan dengan menggunakan kapal besar berkapasitas 3000-4000 TEU yang melewati sebuah jalur utama dari Belawan (Medan, Sumatera Utara) berlanjut ke Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua) dimana lima pelabuhan ini akan menjadi simpul penghubung regional ke daerah daerah sekitarnya (loop) dengan menggunakan kapal yang lebih kecil.
Konsep Pendulum Nusantara   

Konsep ini adalah konsep yang dibawa oleh yang dibawa RJ Lino selaku Direktur Pelindo II sebagai originator dan menjadi salah satu konsep andalan Presiden Joko Widodo untuk membenahi dunia maritim Indonesia dengan slogan “Tol Laut”. Dua nama tersebut yang penulis harap dapat menggarisbawahi pembenahan di sektor pelayaran dengan sistem pelayaran terpadu.

Latar Belakang

Penulis tidak perlu googling untuk tahu latar belakang munculnya konsep ini karena penulis mengalaminya sendiri. Terjadi ketika muncul pemesanan kontainer dari Ambon, Maluku (2389 Km) dalam jumlah yang tidak terlalu besar, bukan masalah pengirimannya tapi masalah biaya yang timbul ternyata lebih besar dari ketika penulis mengirim barang yang sama ke Kyoto, Jepang (6200 Km).
Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagaimana sebenarnya sistem perdagangan pelayaran kita.
Untuk coba menjawab nya, mari perhatikan gambar di bawah ini:
Trade-Flow
Terlihat timpang? betul sekali, ketimpangan terjadi antara volume perdagangan di Indonesia bagian barat dengan volume perdagngan di Indonesia timur, inilah yang menyebabkan mahal nya biaya pengiriman ke daerah-daerah tertentu di Indonesia.
Biaya pengiriman ke Padang lebih mahal daripada ke Hamburg
 Analoginya bagaimana? Begini, dari pengalaman penulis sendiri pernah alami sewaktu kuliah, ketika itu ada undangan seminar di Bandung pada hari sabtu pagi sehingga harus berangkat ke Bandung pada Jumat sore. Berhubung penulis membawa mobil ternyata banyak teman-teman penulis yang berkampung halaman di Bandung ingin ikut menumpang dengan kompensasi patungan bensin dan tol. Ternyata uang terkumpul dan biaya perjalanan menjadi murah, demikian juga ketika kembali ke Jakarta.

Biaya travel ke Bandung yang biasanya 120 ribu per orang menjadi hanya 50 ribu saja (ber-5 orang). Bolak balik menjadi 100 ribu saja, sudah hemat 50% nya!

Analogi ini yang diterapkan ke sistem Pendulum Nusantara, jika saat ini biaya pengiriman ke Maluku mahal dikarenakan jumlah volume transaksinya sedikit dan lebih sedikit lagi yang diangkut oleh kapal dari arah sebaliknya (Maluku ke Jakarta) sehingga solusinya agar kapal tidak rugi adalah menaikkan ongkos.
Inilah yang menyebabkan tingginya biaya logistik, bahkan Kementrian Perhubungan menulis angka bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 1.082 trilyun atau setara 25% dari PDB sendiri, bandingkan dengan Malaysia yang hanya 15% serta AS dan Jepang yang masing-masing sebesar 10%.

Efisiensi dan Pemerataan Ekonomi

Dengan analogi sederhana tentang pengalaman penulis, logika yang masuk akal ketika Presiden Joko Widodo dan RJ Lino berbicara tentang biaya logistik yang bisa dipangkas 50%. Karena itulah tujuan dari konsep Pendulum Nusantara atau “Tol Laut” ini yang sejatinya menekan biaya logistik nasional dan kemudian meningkatkan daya saing dan produksi di daerah-daerah lain khususnya Indonesia timur sehingga pemerataan ekonomi bisa terealisasi.

Teknisnya begini, barang yang akan dikirim dari pelabuhan tujuan disiapkan di kota masing-masing, lalu kapal besar yang sudah disiapkan mulai menjemput (pick-up) barang ke masing-masing pelabuhan besar tersebut dimulai dari Pelabuhan Belawan, Medan dan seterusnya hingga Sorong Papua.

Kemudian kapal mulai berlayar dengan membawa muatan tetap sesuai jalur yang ditentukan. Jika ada barang yang harus di kirim ke kota yang tidak dilewati kapal besar tersebut maka harus melalui transhipment , istilah seperti “nyambung angkot” ke kota tujuan.

Kapal tersebut akan berlayar sebaliknya dari Papua menuju kota-kota yang sebelumnya, persis seperti Pendulum.

Biaya yang lebih murah dampak dari Pendulum Nusantara

Bagimana sebaliknya, jika kapal besar tersebut akan kembali dari Sorong, apa yang mau dibawa? bukankah itu pemicu mahalnya biaya pengiriman? Ya, jika kapal yang ditunjuk hanya khusus melayani pengangkutan dari dan ke Papua.

Tapi ini beda, karena kapal yang ditunjuk setelah dari Papua akan singgah dulu di Kendari, Makassar dan Surabaya mengambil barang lain, sehingga biaya yang timbul dari Papua akan “di subsidi” dari kota lain, sehingga biayanya bisa ditekan rendah sekaligus juga sebagai pemicu meningkatnya pembangunan . Di sinilah kunci konsep Pendulum Nusantara ini.

Volume perdagangan melalui sistem “subsidi”

Kendala

Kendalanya cukup banyak. Pertama, kapal besar berkapasitas 3000-4000 TEU hanya masuk pada pelabuhan tertentu dan tidak setiap pelabuhan memiliki kapasitas ini, karena syarat yang dibutuhkan adalah Jetty atau tempat sandar Pelabuhan harus cukup dalam , ditambah dengan kapasitas pelabuhan yang harus mencukupi.

Sehingga mutlak dibutuhkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pelayaran diantaranya Pembangunan Pelabuhan skala besar dan pengadaan Kapal-kapal dengan kapasitas 3000-4000 TEU.

Menurut RJ Lino biaya pembangunan infrastruktur kelautan sebesar 5 – 6 milyar dollar AS atau setara 72 trilyun (dengan 1 USD  = Rp 12.000), biaya yang cukup besar namun ternyata ide ini di dukung oleh semua komponen usaha terkait termasuk kementrian perhubungan laut. Ditambah bahwa konsep ini menjadi proyek prestisius di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla nanti.

Kendala kedua adalah barang perdagangan yang akan dijual. Sistem Pendulum Nusantara adalah sistem yang mengutamakan waktu sebagai acuan, sehingga kapal yang akan berangkat dan singgah sudah ditentukan, kendala muncul ketika pada waktu keberangkatan atau kedatangan ternyata barang yang ajan dijual sedikit atau bahkan tidak ada.

Disini kuncinya adalah koordinasi dari pemerintah pusat dengan departemen dan dinas terkait, seperti dinas pertanian, pangan, dinas perikanan, BULOG, kehutanan dan lainnya, ini adalah kendala yang cukup sulit,karena setiap dinas harus mampu berkoordinasi dengan para produsen (petani, nelayam dsb) agar mereka bersedia mengirim hasil panen mereka melalui tol laut, tentunya dengan harga yang disepakati.

Suara Miring

Satu-satunya suara sumbang adalah mengatakan bahwa dana sebesar itu lebih baik di alokasikan ke perhubungan darat, pembenahan jalan dsb. Tahukah anda bahwa Indonesia dihubungkan oleh 13.000 pulau dan laut merupakan titik pertama dihubungkannya perdagangan antar pulau?

Jika anda mengerti pastilah anda paham mengapa biaya aktifitas laut yang perlu di efisiensi pertama disamping angka nya memang terlalu besar.

Bagaimana dengan darat? ya darat aktifitas kedua setelah laut dalam rantai logistik Indonesia, sehingga diharapkan setelah konsep Pendulum Nusantara bisa direalisasi. Yang kedua adalah pembenahan sistem transportasi darat kita dengan membuat jalur toll khusus logistik misalnya.

Semoga

Efisiensi Biaya Logistik

Data diatas menunjukkan grafik volume perdagangan aktif yang selalu meningkat dari tahun ke tahun Dari mulai komoditas, trading, ritel, transportasi hingga perbankan, sehingga jelas efisiensi terhadap biaya logistik pengiriman akibat dari konsep Pendulum Nusantara ini akan menurunkan beban biaya langsung dan akan mendongkrak nilai perdagangan.
Semoga saja konsep ini dapat betul-betul di garap serius dan becus oleh pemerintah dan BUMN sehingga laut yang sebelumnya menjadi “pemisah” dapat menjadi “penghubung” Indonesia yang sebenarnya.

Salam

Sumber:

 

Advertisements