Stop Blame, Just Perform

Stop Blame, Just Perform

hires

Sepuluh tahun lalu, saya bertiga dengan kawan saya saling berdebat soal karir, saat itu kami masih kuliah, hampir lulus, jadi topik karir dan pekerjaan adalah topik yang hits.

Teman saya, sebutlah si A sangat mengidolakan pamannya yang merintis karir dari bawah, ketika krisis ekonomi 98, pamannya itu di pecat tapi beliau tidak putus asa hingga mendapatkan kembali karirnya yang hampir hangus. Continue reading

Indonesia 2016: Banyak Masalah, Banyak Kesempatan!

Indonesia 2016: Banyak Masalah, Banyak Kesempatan!
Kira-kira setahun yang lalu, pagi-pagi sekali penulis ditelepon oleh seorang teman kuliah yang saat ini sukses dalam bidang kuliner a.k.a rumah makan Padang. Masih jam empat pagi kayaknya dulu.
 
“Hei bangun lah bro, mau nawarin nih buat iseng-iseng”
 
“Nawarin apa lo pagi buta begini, jangan aneh-aneh”
 
“Serius, lo suka foto kan? Nah kebetulan minggu depan gue mau buka cabang rumah makan padang di Thailand nih, lo foto ya”
 
Amboi kawan, buka cabang rumah makan di luar negeri! Tapi, lagi-lagi ini soal mimpi.
 
“Ini mimpi gue, gue gak tinggal di Thailand lalu buka restoran disana, gue buka cabang!”
 
Penulis justru kurang tertarik pada tawaran memotretnya, tapi jauh lebih tertarik kepada lika-likunya dan informasi yang dia dapat sehingga bisa masuk ke pasar luar negeri. 
 
Hingga akhirnya siang itu penulis sempatkan menuju kantornya untuk bertemu langsung. Ya teman penulis adalah orang kantoran tapi juga punya RM Padang peninggalan keluarga.

Jago Kandang

Dia bercerita tentang seluk beluk dan kesulitan yang dihadapi, dari mulai merubah rasa rendang yang katanya terlalu pedas, mengencerkan kuah gulai hingga pelarangan otak sapi karena dianggap berbahaya buat kesehatan. 
 
Bagaimana dengan regulasi? Regulasi menurutnya tidak seribet yang dibayangkan, yang penting kita sudah terdaftar di BPOM dan juga mengikuti serangkaian test dan juga pelatihan dari balai pelatihan makanan internasional.
 
Oh, ternyata tidak terlalu sulit? Ya karena tahun 2015 adalah tahun MEA, menurutnya dari 2014 sebetulnya MEA sudah diberlakukan dengan nama AFTA, hanya kita yang tidak pernah disosialisasi. 
 
Negara lain bukan cuma bersiap, tapi sudah melakukan. Salah satunya dengan mempermudah beragam regulasi dan bekerja sama dengan balai internasional untuk sertifikasi.
 
Melihat teman penulis yang bahkan sudah membaca kesempatan di dalam perdagangan bebas sejak 2014 itu, penulis jadi bertanya-tanya. Indonesia yang lain bagaimana?
 
Menurut teman penulis tadi, kendala kita ada dua: Kemauan dan bahasa. Indonesia, tidak bisa dipungkiri adalah negara dengan jargon “Jago Kandang”. Kita terlalu suka yang namanya leyeh-leyeh, mojok sambil ngopi, ngudut apalagi ditambah ngeblog dan bikin tulisan..Waduhh itu mertua lewat bisa dicuekin.
 
Kita terlalu hapal dengan bait lagu Koes Plus “bukan lautan hanya kolam susu..tiada hujan tiada badai kau temui..”. Nikmat betul kan. Lautan kita adalah lautan surga, kita tidak perlu membuat kapal canggih, kita cukup membuat perahu kecil untuk menjala ikan. 
 
Kita tak perlu berpikir teknologi untuk sekedar menanam benih padi, kopi dan teh. Tinggal cari daerah suhu yang pas, tancep benih, jadi deh.
 
Apalagi berpikir sistem keuangan ala Dinasti Rothschild, kejauhan. Ya sudah, terus maksud penulis apa? 
 
Secara tidak langsung pikiran kita dijebak dalam hegemoni, yang menurut Antonio Gramsci adalah hegemoni persuasi/tanpa paksaan atau diterjemahkan bebas oleh penulis sebagai hegemoni manja.
 
Kita terlalu sering mendengar istilah negeri kita kaya, sumber daya alam yang tidak akan habis sampai anak cucu.
 
Ya betul, tidak akan habis jika yang mengambil hanya bangsa kita sendiri. Kalau semua bangsa yang ambil bagaimana? Ya habis tidak sampai anak cucu. Saatnya kita berhadapan dengan bangsa lain.

Lintas Generasi

1945 kita merdeka, 1965 peralihan orde. 20 tahun kita merdeka belum bisa dibilang ada kemajuan, generasi baby boomers Indonesia masih sibuk urusan agresi militer dan masalah internal.
 
1966-1998, 32 tahun menciptakan generasi X (Gen X) yang bermental birokrat dan priyayi, yang hobinya leyeh-leyeh. Parahnya ditambah dengan mental sogok dan korupsi. 
 
Indonesia yang selama 32 tahun itu membangun pondasi harus menghadapi kenyataan kopi pahit; semerbak di fisik, pahit di mental.
 
1980-2000 adalah masa generasi harapan, generasi Y (Gen Y). Generasi yang dinamis, cepat menyerap informasi dan terbuka. Tapi, Gen Y adalah sosok yang dilahirkan dari Gen X, dimana di negara kita, Gen X memiliki pengaruh wibawa yang luar biasa, setidaknya di prediksi hingga 2020 banyak perusahaan BUMN yang masih di pimpin oleh Gen X.
 
Bersyukurlah Singapura memiliki Lee Kwan Yew, seorang Gen X visioner yang alih-alih memikirkan dirinya, dirinya justru sibuk berpikir Singapura 50 tahun dari sekarang.
 
Jadi kalau Indonesia sibuk menghadapi MEA di tahun 2014, Singapura sudah sibuk 30 tahun lebih dulu, dan MEA bagi mereka bukan hanya ASEAN, tapi DUNIA.
 
Penulis cukup terkejut membaca ulasan Dahlan Iskan yang menyatakan bahwa potensi kita 50 persen lebih besar dari Thailand, hey bos..jangan-jangan you belum bisa move on dari lagu Koes Plus ya?. Apanya yang siap, bukan masalah potensi, tapi kesiapan pada SDM, manusianya. 
 
Berapa persen sih orang Indonesia yang berpikir seperti teman saya diatas tadi? Tidak sampai 5 persen mungkin, atau malah lebih sedikit.

“Kekinian”, apakah produktif?

‘Kekinian’, penulis suka sekali menggunakan kata itu dalam beberapa tulisan. Memang unik, kekinian menonjolkan ‘masa kini banget‘, yang tentu saja di dominasi oleh Gen Y. Citra muda dan enerjik mengalir.
 
Kita banyak melihat postingan makanan dan pakaian kekinian, pola kesehatan, traveling, hobi dan segala macam yang berbau kekinian. Tapi apakah itu tahan lama dan berdaya saing?
 
Sayang sekali belum, fenomena tersebut masih masuk dalam kategori come and go, sesuai tipe Gen Y yang masih mencoba-coba, suka eksperimen, mengadopsi gaya negara luar, foya-foya. Ini sah-sah saja dan memang membuat Indonesia jadi berwarna. Tapi, kok ya sepertinya masih sekedar ikut-ikutan dan remeh-temeh. 
 
Menurut penulis, ada dua ‘kekinian’ saat ini yang produktif. Pertama; Ojek Online, kedua; Online Shop.
 
Mengapa demikian? Tentu saja karena sistem ekonomi kita belum mendayagunakan Gen Y. Industri kreatif kita masih terpatron pada pola-pola lama, buktinya Ojek Online sempat di tentang meskipun akhirnya lolos. Artinya kita belum siap melihat perubahan.
 
Kita masih mengandalkan barang-barang murni tradisional kita untuk dijual keluar, dan lucunya masih mengandalkan gedung SMESCO untuk memajang barang industri kreatif dan UKM.
 
Hmm, boleh sih, tapi ayolah, perlu imajinatif lebih untuk sekedar pemasaran biasa.
 
Coba kita tengok, sudah akhir 2015 tapi hampir tidak ada etalase mentereng di mall-mall yang menjual produk anak negeri, padahal mbak Dian Pelangi sudah terbang keliling dunia memasarkan hijab Indonesia, yang lain? pasti banyak. Jangan-jangan kita minder? Bisa jadi.
 
2016 adalah tahun kesempatan anak negeri untuk menjual produknya di dalam dan diluar negeri. Lalu, dimana Menteri Ekonomi Kreatif? Enggak tahu, coba aja diketok pintunya, siapa tahu kebablasan tidurnya.
 
Lalu DPR yang katanya banyak diwakili artis untuk industri kreatif? Halah nanya mulu, DPR lagi yang ditanya.
 
Eh tapi sebentar deh, penulis rasa perlu DPR kunjungan kerja ke Korsel. Karena disana pola kekinian yang muncul langsung disambut pemerintah dan dewan untuk menggodok undang-undang yang menjadikan ‘kekinian’ tadi langsung jadi hits dan disebar secara sistematis ke seluruh dunia, pemasukan ke negara? So pasti.
 
Boleh KunKer, asal ajak para blogger jadi kerjanya enggak asal-asalan. Ngasal dikit, tulis!.
 
Penulis tentu tidak tahu sistemnya seperti apa, karena penulis bukanlah pelaku melainkan hanya obral tulisan. Tapi penulis akan mendukung 100 persen apabila Nadiem Makarim menjadi Menteri Ekonomi Kreatif atau setidaknya penasehat kementerian. Untuk sektor ini, kita butuh pemimpin dari Gen Y, yang kreatif, imajinatif dan berdaya juang.
 
So, masih ngeributin jatah Menteri dari Parpol? Ke laut aja.

Persaingan Tenaga

Beberapa waktu lalu kita membaca berita ‘serbuan tenaga asing’ masuk ke Indonesia. Apa yang kita lakukan? Kita menghujat, kita mendesak pemerintah dan dewan membuat undang-undang agar membatasi tenaga asing masuk ke negara kita, kalau perlu usir. 
 
Dan sayangnya hujatan di sosial media dilakukan oleh mayoritas Gen Y, Gen yang melek teknologi.
 
Amit-amit jika generasi kita ternyata generasi pecundang yang takut menghadapi asing. Mereka tidak akan membunuh kita kok, mereka tidak bawa senjata. Apa ini buntut trauma dijajah 350 tahun lebih?
 
Lupakan bahwa kita kaya, lupakan leyeh-leyeh. Ya betul kita akan dijajah, kita akan dijajah oleh penjajahan intelektual. Mau tidak mau, karena kaset Koes Plus tidak bisa di rewind lagi, sudah kusut. Zaman berubah, generasi berubah. Kita harus hadapi, bukan dengan kekuatan, tapi dengan intelektual.
 
Curi dengar dari sini, bahwa India sudah melancarkan ‘serangan’ diaspora intelektual. Di 2016, pemerintah India mewajibkan setiap lulusan baru dari tingkat STM hingga sarjana untuk bersertifikat profesional
 
Dengan sertifikat mereka memiliki nilai lebih untuk menjadi tenaga kerja profesional di luar negeri. Jika terkendala biaya maka pemerintah akan memfasilitasi. Dan mereka sangat fokus.
 
Penulis tertarik dengan Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid yang mewajibkan TKI harus mendapat pelatihan dan bersertifikat. Dan memang sudah ada kemajuan. 
 
Gaji perawat asal Indonesia di negara penulis bekerja bisa 2000 USD per bulan, gaji pelayan di mall 1000 USD per bulan, apalagi yang bersertifikat teknisi, TKI kita bisa dapat lebih dari 2000 USD per bulan. Bangga jika taraf hidupnya meningkat.
 
Masalahnya, jumlah ini masih sangat sedikit jika dibandingkan jumlah umur produktif di Indonesia, baru 5 persennya tenaga kerja kita di dalam dan diluar negeri yang bersertifikat. Jadi jangan heran kalau negara lain merasa lebih baik memakai tenaga kerja dari negaranya sendiri ketimbang pakai tenaga kerja kita untuk bangun proyek di Indonesia.
 
Ngomong yo gampang cak!..
 
Ada kok contohnya, para pekerja konstruksi di Cilegon, Banten yang ramai-ramai ambil sertifikasi welder ketika banyak proyek migas dan infrastruktur disana. Ada yang biaya sendiri dengan menabung, ada yang meminta bantuan tokoh warga dan lain-lain.
 
Jadi nanti ketika banyak pekerja negara asia lain datang, mereka bisa tetap survive bahkan mungkin mengusir mereka tanpa perlu undang-undang yang ribet.
 
Serikat Buruh? ah sudahlah..stay productive!. Omong-omong, sudah pernah baca tentang Elba Esther Gordillo Morales? Nah perlu dibaca dulu catatan dari Dahlan Iskan disini atau di Wiki sini. Jangan sampai serikat buruh menjadi seperti itu.
 
So, tergantung pemerintah akan melakukan aksi apa ke arah sana.
Welcome 2016!! Ini kesempatan kita, bukan ancaman. Kesempatan kita bukan di dalam Asean saja tapi Dunia. 
 
Jangan terbayang kita hanya menghadapi Malaysia, Laos, Kamboja dan Vietnam. Hellooo…memangnya Piala Tiger.
 
Di depan tak sesederhana tulisan ini, banyak masalah, banyak juga kesempatan.
 
 

Beberapa sumber data:

Pekerja Konstruksi Bersertifikat

TKI Musti Bersertifikat

Liputan 6

Manufacturing Hope: Dahlan Iskan

Masyarakat Ekonomi Asean 2015