Why I Run?

Sebetulnya tulisan ini bisa menjadi panjang dan mendetail mirip seperti novel Haruki Murakami, Why I run? Mengapa saya berlari? Pertanyaan yang bagi saya sangat penting, pertanyaan yang juga ditujukan untuk anda sebelum memulai berlari. Mengapa anda berlari?

running-quotes-7

Bagi saya, jujur awalnya saya berlari karena saya merasa tidak berbakat untuk gabung di olahraga tim yang saling berhadapan seperti sepakbola, basket atau  badminton, dan sialnya, di Indonesia jenis olahraga itulah yang populer. Bisa ditebak, dimasa SD dulu saya sering di bully dengan tidak diajak main. Hampir frustasi, akhirnya saya pun beralih ke olahraga individual dan ternyata cocok.

Tuhan memang menciptakan manusia dengan ciri khas dan kemampuan masing-masing. Berbeda dengan olahraga tim, olahraga individual segalanya berasal dari diri sendiri, seperti lari, bersepeda atau berenang.

Kita menggunakan kaki kita, tangan kita dan seluruh tubuh kita sendiri untuk mencapai tujuan olahraga, tapi bukan berarti bahwa seorang yang bisa dalam olahraga individual berarti dia tipe individual lho, buktinya banyak pelari pun punya komunitas yang ramai.

Pertama kali saya lari adalah ketika SMA, ketika itu di dekat rumah sedang dibangun jalan tol yang sekarang menjadi sangat terkenal, JORR. JORR yang ketika itu masih dalam tahap penyambungan dan memiliki bagian-bagian yang sudah semi siap pakai, setiap hari minggu dijadikan warga sebagai sarana Car Free Day dadakan.

Saya mencoba berlari iseng, hanya karena ingin lihat  banyak orang yang berolahraga. Coba-coba, awalnya 500 meter, lalu lanjut 1 km, hingga akhirnya nyaris setiap hari minggu saya berlari 1-3 km. Awalnya ngos-ngosan sampai akhirnya terbiasa.

Ketika lari, ada “sesuatu” yang keluar dari tubuh bersama keringat, tubuh saya terasa segar, pikiran menjadi enteng dan mungkin karena lari itu olahraga yang konstan maka tubuh saya menjadi betul-betul merasakan efeknya.

Kemudian berlanjut ke race, jika dulu lari ya tinggal lari, tapi tidak untuk race. Saya melakukan persiapan untuk race pertama saya di 10 km, dari mulai persiapan, berlatih nafas, kecepatan dan tentunya daya tahan (endurance).

Pertama kali ikut race rasanya luar biasa, saya nyaris “mati” di Km 6, tapi..that’s why I am run, di tengah berlari saya sadar, bahwa saya harus sampai finish. Saya pun sadar, bahwa tujuan saya berlari adalah mencapai garis finish.

I don’t stop when i’m tired, I stop when I’m done.

Di Km 8, saya merasa nyawa saya melambung meninggalkan raga, tapi di tengah kepayahan itu muncul di benak, I stop when I’am done adalah filosofi hidup itu sendiri. Saya harus mencapai finish, apapun itu.

Ketika kita melangkah untuk berlari, disitulah titik awal perjuangan. Di tengah jalan pilihanmu tinggal dua: Menyerah dan kalah, atau tetap melaju meskipun dengan arah dan cara yang berbeda.

Saya memilih yang kedua, saya gunakan cara race with your own. Saya tidak lagi memaksa pace dan harus masuk 30 besar, saya pelankan lari senyaman saya biasa lari dan mulai mengatur nafas, hasilnya saya bisa finish meskipun di peringkat 127.

“Ya, itulah lari, segalanya bukan soal hasil akhir, segalanya tentang bagaimana perjuangan dan daya tahan kita untuk bisa mencapai garis finish. That’s why I run”. – Ryo Kusumo

“Pain is inevitable. Suffering is optional.”
Haruki Murakami

Advertisements

Road To 21K #KRB200 Bogor Marathon (Part 1)

Saya merasa berada di roller coaster ketika mendapati diri saya berkutat pada kantor, rumah dan kantor lagi. Meskipun masih bisa menyisihkan sedikitnya 30% dari 24 jam sebagai waktu untuk keluarga per hari, tapi apa yang ada di tubuh saya ini sepertinya ingin loncat keluar, . Hampir dua tahun lalu ketika berhasil finish 10K di Doha Marathon, dan sudah seharusnya jika pencapaian itu berlanjut. Terkesan ambisius memang, haha..

Awalnya saya diajak seorang kawan dimana kami tergabung di klub lari IE Running Club, klub lari yang anggotanya terdiri dari teman kuliah satu jurusan. Targetnya ultra marathon 50K di event Bogor Marathon atau #KRB200. Dimana ini adalah event long marathon untuk memperingati 200 tahun Kebun Raya Bogor. Event yang cukup jarang diadakan di Indonesia dimana target utamanya adalah pelari 200 km yang jalurnya semua mengitari Kebun Raya Bogor.

krb200

Terus terang saya tipe yang “tahu diri” dan mengukur kinerja diri sendiri, terutama endurance tubuh untuk berkompetisi atau mengikuti event olahraga, terutama lari yang mutlak diperlukan kinerja tubuh yang prima, berstamina dan terbiasa, bukan hanya teknik. Dan bagi saya pencapaian yang paling masuk akal saat ini ialah mengikuti half marathon dengan jarak tempuh 21 Km.

Persiapan half marathon saya termasuk simple, tidak memakai coach ataupun event training khusus, cukup bermodalkan gadget dengan aplikasi Nike+ Run, bukan bermaksud iklan, tapi kenapa saya memakai Nike+ Run? Karena tampilannya yang simple, lengkap dan paling mudah digunakan.

Di Nike+ Run, kita bisa setting program apa yang mau kita ikuti, apakah 5K, 10K, Half Marathon atau Full Marathon, aplikasi langsung mengatur kebutuhan training kita secara cepat, bahkan bisa kita edit schedulenya. So, saya coba rekap hasil training pada minggu pertama dan kedua.

Di minggu pertama, karena saya create di hari Jumat maka 1st training adalah di hari Sabtu. Training yang disarankan adalah warming up dengan easy pace dalam waktu 10 menit, hasilnya saya warming up di 19:14 menit.

Di hari kedua, disarankan rehat tapi justru saya pakai untuk berlatih tempo. Berlari 2.69 km pace saya masih payah, masih diatas 7′. Target saya minimal bisa konsisten di pace 6’5″ saja.

Hari ketiga atau minggu ke 2, adalah saatnya benchmark. Benchmark dibutuhkan untuk melihat pola beban training yang cocok untuk kita, apakah kita cukup cepat sehingga traning di tingkatkan, atau masih payah sehingga perlu bertahap.

Benchmark terdiri dari 7 menit warming up, bisa lari di pace sekitar 7′-7’5″, masih bisa ngobrol lah. Lalu setelah itu, lari ditingkatkan hingga pace maksimum yang kita bisa selama 3 menit dan dilanjutkan dengan 5 menit pendinginan dengan slow run/nyaris jalan. Schedule latihan saya atur menyesuaikan dengan kondisi tubuh saya, kalau lagi capek ya jangan dipaksakan. Akhir minggu pagi, time to long run!

Dari benchmark, akan terlihat berapa rata-rata pace kita, dari situ maka aplikasi akan mengkalkulasi pola beban latihan kita selanjutnya, benchmark ini akan dilakukan setiap dua minggu sekali, sehingga bisa dijadikan acuan, sampai sejauh mana kita sudah berkembang.

Oya, jam berapa saja seharusnya kita lari? Tidak ada yang baku, inilah enaknya lari, kita bisa lari kapanpun, semaumu, yang penting kita siap dan enggak kekenyangan. Saya sendiri biasa training ini di pagi hari selepas Subuh, jadi langsung mandi dan berangkat ke kantor. Kalau malam biasanya badan sudah capek dan segera pengen ketemu anak.

Salam sehat!