Begini Bedanya Rumah DP Nol Rupiah, DP Satu Persen, dan Rumah Tanpa Riba

Rumah-KartunBaru-baru ini Presiden Jokowi meresmikan rumah DP 1% di Balikpapan Utara, Kalimantan Timur, yang sebelumnya juga dilakukan di daerah Cikarang dan juga Depok. Rumah ukuran rata-rata 25/60 (luas bangunan 25 m2 dan luas tanah 60 m2) seharga 141 juta hingga 150 juta dengan cicilan ringan, sekitar 800 ribu hingga satu juta rupiah per bulan.

Saya posting di facebook status diatas, dan seperti biasa, komentar dan pertanyaan hingga direct massage masuk ke saya, rata-rata bertanya “Apa bedanya dengan DP nol rupiah program Anies-Sandi, kenapa saya mengkritik Anies-Sandi tapi setuju skema ini?”

Saya jawab “Beda banget, pertama yang ini 1% dan yang itu 0 rupiah, angka satu dengan angka nol itu membedakan adanya bumi dan langit. Kedua, ini yang disasar jelas, yang itu yang disasar tidak jelas”. Cukup? Oke saya jelaskan.

Saya mulai dari pertanyaan: “Apa syarat program rumah murah?” Jawabannya:

  1. Harga dan cicilan terjangkau
  2. Kembali ke point 1

Dua syarat tersebut mutlak harus dipenuhi oleh pengembang perumahan murah, sebelum menentukan berapa uang muka atau DPnya. Ini yang saya kritik dari program Anies-Sandi, berapa rata-rata harga rumah ukuran mini di Jakarta?

Saya sempat keliling Jakarta untuk cari rumah dengan ukuran sekitar 25/60, dan sulit untuk menemukan rumah jadi ukuran segitu dengan harga dibawah 200 juta, rata-rata sudah mencapai 300 juta bahkan lebih.

Coba anda search di internet, niscaya harga segitu akan Anda temukan di Sukabumi, bukan Jakarta.

Saya pernah menulis tentang Subprime Mortgage Crisis di blog ini, dan menjelaskan bagaimana harga properti yang tinggi, ditunjang dengan kemudahan kepemilikan dan skema tanpa DP akan menjadi potensi resiko bagi gagal bayar di kemudian hari, dan akan menghancurkan sistem perbankan seperti runtuhnya Lehmann Brothers.

Ada tiga point di tulisan saya itu yang bisa menjadi kesimpulan:

  1. DP nol rupiah berdampak pada naiknya biaya cicilan per bulan dengan suku bunga yang sama. Jika dengan DP 15% cicilannya 700 ribu, maka tanpa DP cicilan bisa diatas 1 juta.
  2. DP nol rupiah berdampak pada lamanya jangka waktu kredit. Untuk rumah seharga 300 juta plus bunga flat 8.75% untuk menghasilkan cicilan dibawah 1 juta rupiah, maka perlu jangka waktu cicilan selama 30 tahun! Itu bunga flat lho ya, mana ada bunga flat 30 tahun. Lagipula 30 tahun gitu lho..
  3. Skema DP nol rupiah tujuan awalnya membuat masyarakat penghasilan rendah bisa beli rumah, padahal golongan penghasilan rendah adalah golongan rentan risiko, apalagi untuk rumah seharga 300 jutaan, cicilan 3 jutaan selama 15 tahun, yang mana penghasilan harus 7 jutaan keatas. Sedangkan niat awalnya untuk golongan penghasilan 2-3 jutaan per bulan. Sasaran abu-abu.

Kenapa program Jokowi lebih masuk akal? Simple, karena harganya terjangkau. Pemerintah tidak muluk-muluk untuk membuat mimpi.

Rumah seharga 140 jutaan masih mampu dibeli masyarakat penghasilan menengah bawah  (income 2-3 juta perbulan) dengan cicilan 800 ribu hingga sejuta dalam jangka waktu 15 tahun. Sedangkan DP 1% adalah syarat bank untuk menjamin Non Performing Loan alias kredit macet tetap di bawah 5%. Sasarannya jelas.

Nah, sudah jelaskan sedikit review status diatas?  Jadi kalau Anies-Sandi merevisi angka penghasilan penerima DP nol rupiah adalah golongan penghasilan 7 juta keatas, ya wajar, tapi yaitu tadi, sasaran menjadi tidak jelas.

Oke, sekarang kita ke Rumah Tanpa Riba (RTR). Mengapa RTR ini masih lebih jelas dan masuk akal ketimbang rumah DP nol rupiah?

Riba bisa dijelaskan karena adanya ketidakpastian suku bunga bank yang fluktuatif selama masa cicilan, sehingga hasil akhir harga penjualan bisa berbeda dengan akad di awal, dan dalam Islam ini di haramkan.

Intinya, RTR menghilangkan sistem bunga. Gini skemanya, dalam posisi saya sebagai penjual.

  1. Menetapkan harga jual rumah plus keuntungan. Misal harga rumah 300 juta, ditambah keuntungan dan fee marketing menjadi 380 juta.
  2. Angka 380 juta tadi adalah angka yang diajukan ke calon pembeli. Dimana ketika terjadi negosiasi harga, perubahan harga (diskon, promosi dsb) berdasarkan angka 380 juta tadi. Misal setelah negosiasi harga 380 juta menjadi 360 juta, ya 360 juta yang di sepakati antara penjual dan pembeli, tidak ada campur tangan Bank disitu, oke? Nah, selanjutnya negosiasi simulasi cicilan.
  3. Angka DP dan cicilan mengikuti jangka waktu cicilan yang disepakati. Misal 15 tahun, dengan DP disepakati 18 juta, maka angka cicilan perbulan = (360 juta – 18 juta) : (15 tahun x 12) = 1.9 juta per bulan. Angka 1.9 juta itu flat hingga pelunasan. Tidak ada fluktuatif harga seperti perbankan konvensional akibat bunga.
  4. Jika terdapat gagal bayar, maka dicarikan solusi dengan musyawarah, dengan cara dibeli kembali oleh penjual atau di jual kembali dengan harga terkini.
  5. Jika ada biaya-biaya lain harus dijelaskan sebelum kontrak supaya angka pada waktu akad sama dengan angka kumulatif pada saat pelunasan nanti. Simple dan bisa diterapkan.

Nah, sudah agak jelas kan? Itu review singkat atas pertanyaan kawan-kawan di facebook, mana yang “hanya” sebagai pemanis dan mana yang bisa diterapkan.

So, lets be smart.

***

Di posting pertama di headline Kompasiana, klik disini.

Advertisements

Tebar Buku, Selamatkan Indonesia Dari Darurat Baca!

2017_0326_08291200“Aku rela dipenjara asal bersama BUKU” – Bung Hatta

Tercengang saya ketika pertama kali menyimak kalimat Bung Hatta di atas, begitu cintanya beliau dengan buku, bahkan rela di penjara asalkan bersama buku. Tak sedikit ulasan unik soal Hatta dan buku, bahkan jika membaca lagi sejarah itu, Hatta sudah menganggap buku seperti istri pertamanya. Siapa dari kita yang pernah kasih maskawin seperangkat alat buku? Di jamin pasti tidak ada, kecuali Bung Hatta yang memberikan buku tulisannya sebagai maskawin pernikahannya dengan Rahmi Hatta, istrinya.

Buku terlampau istimewa untuk dibahas, bagi saya pribadi tidak ada satu alatpun yang bisa menambah ilmu pengetahuan tentang segala hal seluas buku. Dulu, ketika ingin masuk kuliah teknik, beragam buku teknik saya baca, dari mulai permesinan, listrik hingga manajemen industri, apalagi ketika kuliah.

Selepas kuliah, saya mulai membaca buku “cara cepat diterima kerja”, hehe. Ketika ingin menikah saya diberi buku bagaimana menjalin rumah tangga yang baik dsb. Lalu untuk pengembangan diri, saya pun membaca “Master Key System” dari Charles F. Haanel dan “Rahasia Inovasi Steve Jobs” karangan Carmine Gallo dan ketika saya tertarik investasi, saya pun banyak membaca tentang Warren Buffet dan Benjamin Graham dalam hal analisa fundamental.

Plus buku-buku lainnya yang nyaris tidak ada yang percuma. Ya, tidak ada yang percuma, trust me!. Buku tidak pernah ada yang percuma, bahkan buku yang tampak tidak laku pun pernah memberikan inspirasi kepada saya tentang keluarga. Tidak pernah percuma. Buku bisa membentuk karakter dan pola pikir.

Lalu ketika sebulan lalu saya melewati sebuah sekolah di daerah Serpong, saya hampir terkejut karena nyaris tidak ada satupun buku di rak ruang kelasnya. Saya menuju keruang perpustakaan yang tampak kumuh, sama saja, buku yang tersedia hanya lima hingga tujuh buku saja dalam kondisi kumal.

Saya pun bergegas menemui guru yang kebetulan ada disitu dan saya bertanya kenapa sekolah ini miskin buku, dijawab dengan enteng “Yah, sekolahnya aja miskin, apalagi mikirin buku”. Jleb, ngena banget jawaban bu guru itu, jawaban yang terkesan cuek dan abal-abal, tapi ya itu dia, apa adanya. Sekolahnya aja miskin, apalagi mikirin buku, apalagi mikirin minat baca. Coba.

Saya sendiri pernah mengikuti kegiatan Gerakan Indonesia Gemar Membaca, dan beberapa aktifitas perpustakaan terbuka di beberapa daerah di Banten. Jujur, cukup sulit untuk mengajak anak-anak dan bahkan orang dewasa untuk terlibat dalam aktifitas membaca. Tak heran jika survey menyatakan 90% lebih warga Indonesia hobinya nonton, terbanyak adalah nonton sinetron, dan sisanya kurang dari 20% adalah membaca.

Lho memang apa salahnya? Ya cukup saya tanyakan saja ke anda, berapa persen pelajaran yang bisa anda ambil dari aktifitas menonton? Hanya 10%, selebihnya adalah hiburan. Sedangkan membaca, hingga titik komanya bisa anda serap sebagai ilmu. Bahkan Andrea Hirata sangat sukses meramu hiburan dan pelajaran dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Apakah minat baca yang tidak ada? Tidak juga, buktinya novel-novel Andrea Hirata sukses ludes di pasar, tulisan Pramoedya Ananta Toer masih laris hingga saat ini, juga Dewi Lestari. Lalu apa? Masalahnya, larisnya buku tersebut hanya di daerah perkotaan dan justru sangat sedikit di pedesaan.

Kenapa? Masalah pertama apalagi kalau bukan harga buku yang cenderung mahal. Untuk buku berkualitas (best seller, favorit dsb) satu buku harganya dalam range 50 ribu hingga 150 ribu, untuk kalangan menengah bawah, itu adalah harga yang mahal.

Kedua, adalah budaya (maaf) dangdut dan sinetron yang lebih menguasai pasar daerah, meskipun mereka kaum berada sekalipun, sehingga orangtua cenderung cuek soal buku dan membaca. Pola pikir mereka, “halah buku kan bisa disekolah”. Ketika orangtua nonton sinetron, ya ikutlah anak-anak tadi, termasuk saya..dulu.

Jadi wajar saja jika beberapa rekan didaerah mengeluhkan informasi dan pola pikir anak-anak itu yang lebih condong dengan budaya “sinetron”, ya jelas karena informasi pendidikan semacam buku tidak pernah sampai ke mereka.

Lebih miris lagi jika melihat beberapa artikel hoax dan menghasut dengan mudahnya di share dari artikel di sosial media. Satu penyebabnya, masyarakat tidak mampu lagi untuk membaca dengan jernih isi/konten beritanya. Sosial media yang serba cepat telah merubah fungsi kognitif otak kita. Kita tidak lagi mendalami isi dari bacaan, itu salah satu akibat dari menurunnya budaya baca dari diri kita. Indonesia darurat baca gaes!

Untuk itu, saya excited sekali ketika menghadiri acara #BukuUntukIndonesia yang diinisiasi oleh PT Bank Central Asia (BCA), apalagi acara itu tepat sekali diadakan pada hari Minggu 26 Maret 2017 lalu dimana sedang diadakan Car Free Day (CFD) di depan Menara BCA. Tepat karena disana tentu banyak keluarga dari beragam umur yang bisa menikmati perpustakaan gratis yang disediakan oleh BCA sendiri.

2017_0326_08295200

Masyarakat sedang memilih buku di Perpustakaan Keliling, Gratis

Dari pihak BCA ada Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono dan Direktur BCA Santoso dan hadir pula Andy F Noya sebagai duta baca, Giring “Nidji” Ganesha sebagai perwakilan pemuda yang hobi membaca dan juga Sandra Dewi.

Giring sendiri, kurang lebih sama dengan saya, menyatakan kalau dari membacalah dia bisa seperti sekarang, banyak lagu-lagunya yang terinspirasi dari membaca. Tak heran kan kalau musik Nidji banyak bercerita soal semangat menuju cita-cita, mirip novel-novel Tetralogi Laskar Pelangi.

Acara ini sangat positif karena mengajak kita untuk bisa berdonasi buku sebesar 100 ribu rupiah yang bisa kalian akses di BukuUntukIndonesia. Dan ternyata enggak cuma donasi, kita juga bisa mendapatkan kaos olahraga keren dari BCA. Saya sendiri dapat kaos keren (kaos lari) dan juga voucher SOGO 50 ribu rupiah plus buah pisang. Lumayan untuk dipakai acara lari kece nanti. Keren banget lah pokoknya.

2017_0326_07485700

Giring “Nidji”, Sandra Dewi, Armand W. Hartono, Santoso, MC dan Andy F Noya

 

“Buku adalah sumber pengetahuan dan inspirasi. Dengan berbagi buku berarti membuka lebih besar kesempatan bagi anak Indonesia untuk memiliki pengetahuan yang #LebihBaik lagi. Bersama BCA, mari ciptakan perubahan yang lebih baik dengan menjadi bagian dari gerakan #BukuUntukIndonesia,” Ujar Armand W. Hartono, Wakil Presiden Direktur BCA yang tampil sangat enerjik.

Setuju banget, sudah saatnya kita berkontribusi untuk memperkaya buku di Indonesia, agar sekolah-sekolah seperti yang saya temui diatas sudah tidak ada lagi. Buku bisa hadir disetiap elemen masyarakat, elemen pendidikan, elemen hiburan dan bahkan elemen rohani kita semua. Perkenalkan dan perkaya anak-anak kita di seluruh Indonesia dengan buku, mari berdonasi, untuk buku.

2017_0326_08050700

Bpk Santoso, Direktur BCA dengan Andy F Noya, live di MetroTV

2017_0326_07381100

Sandra Dewi, sengaja saya close up. Special hihi

“Membacalah, supaya kamu tidak bersumbu pendek” – Penulis

Salam Aksara!