8 Peristiwa Penting di 2016 Yang Patut Kita Syukuri

58237_77220_dimas-kanjeng-melamunTahun 2016 lalu sepertinya adalah tahun yang sangat unik, tahun yang bagi sebagian orang merupakan tahun yang berat, penuh perjuangan, sekaligus lucu.

Konstelasi politik lagi-lagi memecah belah kita, bangsa yang sedari awal berdiri sudah terpecah hanya karena ulah tukang bubur yang menaruh toppingnya di atas bubur putih. Kita pun terpecah antara bubur ayam diaduk dan tidak diaduk. Coba toppingnya di taruh piring lain, ya kan?

Di tahun itu toleransi keberagaman kita diuji. Tahun 2016 juga tercatat sebagai tahun yang menegangkan otot kepala, apalagi kalau bukan maraknya hoax di medsos, termasuk ajakan kepada intoleransi di whatsapp grup.

Ya alangkah lelahnya di tahun itu, tapi ah..kita sebagai manusia kan bisanya hanya menggerutu, padahal kodratnya disuruh bersyukur. Gerutu wajar, tapi syukur itu wajib, bukan begitu abi, umi, akhi dan ukhti?

Oke, inilah beberapa peristiwa penting yang masuk di “radar” sederhana saya sepanjang tahun 2016 lalu yang patut kita syukuri bersama.

1. Munculnya Artikel Fenomenal di awal tahun

Ini bukan main-main, artikel ini hanya dalam 3 hari sudah dibaca 600 ribu pembaca, menjadi headline dan sempat nangkring di number one trending topic selama 4 jam. Membuat sebagian besar pembacanya tersenyum namun tak jarang yang muak. Dan sebagian kecil lagi justru gagal paham pada artikel satir ini.

Kita patut bersyukur, karena artikel ini membuka mata kita soal sosok si anak presiden yang kerap kali dinilai penuh kolusi dan nepotisme seperti halnya penilaian terhadap anak pejabat lain.

Sayang, penulisnya ternyata pemalu, sudah di wawancara oleh MetroTV (suaranya masuk tipi) eh malah nolak waktu diajak mbak Najwa nemenim Kaesang di acaranya. Alasannya klasik, gak punya ongkos. Duh!

Andikan belio tampil, mungkin sekarang sudah setenar Jonru.

2. Munculnya Sosok Awkarin

Sudah bukan hal yang perlu di debatkan, awkarin jelas adalah spesies fenomenal yang muncul setiap 100 tahun sekali. Muncul dengan jargon “kalian suci, aku penuh dosa” ini seakan mendobrak kesombongan kaum semi-proletar ibukota yang menyembah kesucian, kebenaran dan tentunya iman, yang selalu diumbar di medsos.

Saya jadi teringat band punk Inggris yang muncul sebagai bentuk protes kepada kemapanan hidup kaum Inggris yang suka gaya borjuis, awkarin seakan menciptakan gerakan perlawanan itu tadi.

Tapi apapun, kita patut bersyukur, karena awkarin seakan menyentil kita semua. Doi ingin berkata bahwa tidak semua yang di status kalian itu benar, tidak semua lambang jilbab maupun kebaikan  dan kepinteran itu asli.

Awkarin yang dulunya murid pandai dan berjilbab berubah 187 derajat dengan satu dalil, anti kemapanan. Aku bebas, tidak mau dikekang, duitku cari sendiri..ya gitu-gitu lah.

Okelah saya sempat mencercanya sih, tapi ya kan tetap harus disyukuri. Kalau enggak ada awkarin, dunia hiburan tanah air kering lawakan satir.

3. Fahri Hamzah Mengaku Seperti Steve Jobs

Alhamdulillah Wa Syukurilah, ternyata ada..sekali lagi, ADA orang Indonesia yang bisa mengaku seperti Steve Jobs, sang pendiri Apple.

Bahkan ketika CEO Microsoft pun merendahkan dirinya ketika dibandingkan dengan Steve Jobs, dan Mark Zuckenberg sang pujaan itupun enggan disejajarkan dengan almarhum. Eh justru politikus dari Indonesia yang mensejajarkan dirinya sendiri dengan Steve Jobs.

Dengan alasan klasik, bahwa dipecatnya dirinya dari PKS sama seperti Steve Jobs yang dulu dipecat sendiri oleh Apple, lalu kemudian masuk lagi hingga membuat Apple semakin berkibar.

Betapa mengharukannya berita itu, bahwa amatlah pantas seorang Fahri Hamzah mensejajarkan dirinya dengan Steve Jobs, bahkan lebih hebat.

Karena Fahri Hamzah tidak perlu lagi PKS, melainkan mendirikan partai sendiri, PKS Perjuangan. (lengkap dengan mars ala Per**do).

4. Kasus Bom Sarinah

Jelas yang disyukuri bukan kejadiannya, karena jatuh korban dan sangat berbahaya. Yang patut disyukuri bahwa Tuhan masih sayang sama Indonesia. Untuk Indonesia, Tuhan menciptakan ciptaan khususnya: Polisi ganteng, dan Tukang Sate Pak Jamal.

Setidaknya dua ikon itu cukup menggetarkan bulu kuduk masyarakat Jakarta yang khusyuk dalam berhastag, dengan mempopulerkan hastag #KamiTidakTakut dan #PolisiGanteng #KamiNaksir.

Betulkah kami tidak takut? Yang betul adalah kami sudah lelah, perpecahan kami semenjak Piplres sudah mengantarkan kami di titik jenuh…hufft.

Ya Allah, hidupkanlah Dono dan Kasino, sehingga kami bisa tertawa lagi.

5. Zaskia Gotik, Duta Pancasila

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR Abdul Karding (kiri) menyerahkan piagam kepada Zaskia Gotik disela-sela Sosialisasi 4 Pilar di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta,

Holy Zaskia!

Itulah kalimat saya ketika mendengar Zaskia Gotik yang melecehkan lambang negara, justru diangkat menjadi duta pancasila. Ya kita tahu bahwa niat PKB mengangkat Zaskia adalah menjadikan si eneng agar lebih memahami Pancasila dan endesbray endesbray nya itu..Tapi..ah sudahlah, bukankah itu suatu rahmat Tuhan?

Zaskia, yang diberkahi adalah sosok antagonis yang berbalik menjadi protagonis dalam waktu sekejap, mana ada artis sehebat itu.

Bersyukurlah kita semua, karena sekarang Indonesia punya duta Pancasila. Untuk Indonesia yang lebih kece, bukan begitu neng?

6. Ahok dan Surat Al Maidah ayat 51

Kok perlu disyukuri? Lho iya, penyebutan Surat Al Maidah ayat 51 oleh Ahok justru membawa sebagian besar umat muslim membuka Al Quran nya kembali.

Al Quran yang sudah jarang dibuka, yang waktu membukanya hanya seimprit dibandingkan membuka grup whatsapp atau instagram, tiba-tiba rajin dibuka oleh kebanyakan masyarakat muslim. Apa sih isinya? Apa sih kandungannya? Kok jadi rame. Gitulah kira-kira.

Jika Al Quran diibaratkan blog, maka traffic per periode itu menghujam ke atas, bahkan mungkin over capacity dan lanjut ngehang, tapi karena Al Quran itu kitab suci, maka tak akan pernah habis kapasitasnya. Disitulah kita harus bersyukur.

Eh sayangnya, setelah tahu isi Surat Al Maidah 51 itu apa, mereka berbondong-bondong kembali menekuni whatsapp grup, melihat-lihat dengan khusyuk apa ucapan habib, apa ucapan politikus, apa ucapan Kapolri dsb. Beramai-ramai menghujat, beramai-ramai menyebarkan berita hoax..endesbray…endesbray..

Al Quran pun kembali meringkung di pojokan, sepi..

Yang ramai..Monas..

7. Padepokan Kanjeng Dimas

Double it! Kata Will Smith di film Suicide Squad sebelum membunuh korbannya. perkataan tersebut sakti karena dalam sekejap rekening Will Smith pun bertambah 2x lipat.

Apakah kita tidak pantas bersyukur jika kita punya seorang ahli pengganda uang seperti Kanjeng Dimas, dimana kita tinggal bilang “double it!” atau “gandakan”, maka dalam sekejap uang kita bertambah berlipat-lipat.

Yah, begitulah seorang Kanjeng Dimas yang mewarnai berita di 2016 yang patut kita syukuri. Disyukuri karena Indonesia punya pengganda uang yang bahkan seorang doktor lulusan US sekelas Marwah Daud Ibrahim pun mati-matian membelanya, artinya kan ini istimewa.

Saya sih maunya bukan cuma uang yang digandakan, tapi juga logika dan otak kita, sehingga kita lebih mawas diri dalam menerima berita hoax.

Oya, dan satu lagi, menggandakan rasa malu. Rasa malu jika ingin menghujat, rasa malu ketika ingin mengemis proyek dan rasa malu ketika ingin korupsi.

Untung kita punya Kanjeng Dimas, bukan begitu Kanjeng?

8. Nassar dan Muzdalifah Sudah Move On

Jika Eropa bangga memiliki Einstein, Amerika jaya bersama Zuckenberg dan Korut tergila-gila dengan Kim Jong Un, maka (alhamdulillah..) Indonesia punya Nassar dan Muzdalifah, duet maut yang menggetarkan fana.

Sebetulnya wahai kaum pecinta good-life, berita inilah berita pamungkas di 2016 yang patut kita syukuri, berita apik yang mengalahkan hebohnya berita Saiful Jamil dengan “hap” nya atau diperpanjangnya episode “Janji Suci Rafi-Gigi”.

Jika di 2015 batin kami terguncang dengan berita perceraian mereka, maka (sekali lagi..) kami bersyukur saat ini mereka sudah move on, Nassar sudah punya pacar lagi dan mbak Mus juga sudah bergandengan mesra dengan Ustadz Abie Tsabit.

Bukankah ini patut disyukuri karena bisa berdampak pada adek-adek kita yang selalu bilang gagal move on? Come’on gaes, Nassar aja bisa, masak kamu yang cowok enggak?

So, jangan ganggu mereka wahai netizen, jangan ganggu mereka!…Karena Indonesia, butuh lebih dari sekedar hiburan.

Ojek Online? Ya Iyalah!

Ojek Online? Ya Iyalah!

ojek2bonline

Dahulu kala, ayah saya pernah disibukkan dengan kunci rumah. Jadi ceritanya kunci rumah yang seharusnya beliau pegang tertinggal di rumah saudara, karena saat itu sudah larut malam, meminta saudara mengantar juga segan karena jaraknya jauh.

Ketika itu, ayah saya mendatangi ojek yang masih mangkal di depan dan meminta ambilkan kunci, tapi apa jawaban si tukang ojek?

“Sudah malam pak, jauh, orderan sudah tutup, kalau mau ya segini” (menyebut angka hampir 5x lipat dari tarif biasa)

Akhirnya ayah saya pergi kerumah tetangga, membangunkan tetangga yang sudah tertidur untuk meminta tolong menjebol pintu rumah, kebetulan tetangga ini di kenal jago dalam hal ginian. Pintu pun terbuka.

Berselang 10 tahun kemudian, sekitar setahun yang lalu mulai semaraknya ojek online. Saya dan ibu saya “berdebat” soal memakai ojek, ibu saya ternyata pengikut aliran ojek konvensional, saya selalu di marahi jika ketahuan memesan ojek online,

“Kamu itu, mbok ya pake ojek biasa, kasian mereka harus ngetem, nunggu, belum tentu dapet order”

Karena seorang ibu yang bicara, ya otomatis di iya-in dulu.

Tapi tadi malam, plot berubah. Berawal dari saya dan keluarga yang sudah berbeda rumah dengan ibu, ceritanya kami baru saja pulang dari rumah ibu di malam hari, dan kemarin itu hujan.

Sampai dirumah, saya cek kantong saya, tidak ada bunyi kerincing, lho kunci tidak ada! Saya cek ke kolong mobil, tas istri, tetap tidak ada. Saya lalu menelpon adik dan ndilalah kok ya kunci kamar saya ketinggalan di rumah ibu.

Padahal rumah kami ada di Pondok Bambu, Duren Sawit sedangkan rumah ibu ada di Ciputat, kebayangkan jauh dan macetnya, apalagi semalam itu hujan. Harus kreatif nih, pikir saya.

Dengan sok tahu saya lalu ikutin semua yang ada di youtube soal tutorial bongkar kunci kamar, tapi ya nihil wong saya tidak bakat dalam hal congkel mencongkel hehe, saya pun menyerah dan menelpon kerumah ibu, minta tolong adik untuk pesankan ojek online.

Jarak sudah lebih dari 25 Km batas terjauhnya, sudah jam 11 malam lagipula hujan juga, ah sudahlah, pasrah saja tidak mungkin order diterima. Paling malam ini cek in hotel murah sampai besok Minggu pagi.

Eh ternyata adik saya whatsapp kalau si driver ojek online sudah otw ke rumah ibu, 10 menit kemudian di whatsapp lagi kalau si ojek online sudah otw kerumah saya di Pondok Bambu. Surprise!

Cukup waktu satu jam saja kunci kamar sudah saya terima dengan baik, tidak ada omongan lain dari driver ojek seperti,

“Tambahin lah bang, hujan, jauh lagi”. Tidak ada seperti itu, driver sopan, ongkos sesuai yang tertera di aplikasi. Saya yang akhirnya tambahin, karena jika memakai tukang ojek pangkalan pasti ongkosnya bisa 3 kali lipat.

Saya kemudian berkontak whatsapp dengan ibu saya, mengabari, seperti deja vu kejadian ayah saya dulu, tapi dari situ ibu mulai berubah pola pikirnya atas ojek online, bedanya 180 derajat.

“Wah, hebat ya ojek online itu, malem malem gini masih mau nganter, jauh lagi, dapetnya gede itu pasti, berapa ya per bulan?”

“Wah bisa 10 juta itu”

“Kenapa kamu gak sampingan ngojek aja mas?”

Eaalaaah…..

**

Cerita ini tidak pakai bumbu sponsor apalagi komersial, rekomendasi ojek online muncul dari hati :))

Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan

Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan

Ini bulan puasa, bulan yang penuh berkah, penuh pengharapan, ampunan dan kasih sayang. Banyak yang ditunggu di bulan yang penuh rahmat ini, bukan cuma soal dua tiga butir kurma plus es teh manis atau sop kaki kambing yang nikmatnya di ubun-ubun pas buka puasa, tapi jauh lebih dari itu. Allah memberikan nikmat lain yang tak terkira, silaturahmi.

Silaturahmi, yang menurut mbah google terdiri dari dua kata: Shilah dan Ar-Rahim, shilah yang berarti hubungan dan Ar-Rahim yang berarti kasih sayang atau kerabat. Sehingga silaturahmi bisa diartikan bebas adanya hubungan kekerabatan, kekerabatan dalam keluarga, rekan kerja dan juga teman sekolah atau kuliah.

Nikmat inilah yang Allah turunkan pada hambanya yang rajin bersosialiasasi dan tak pernah luput dari update grup whatsapp, nikmat silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama. Hayo, sudah berapa undangan buka puasa bersama yang masuk di minggu ini? Jika anda dulu pernah populer atau minimal pernah bikin kasus sekali dalam tiga tahun, pasti anda ada dalam list undangan massal di FB, pasti itu.

Coba cek, lho masih belum ada juga? Coba ingat-ingat, jangan-jangan dulu anda penganut homescholling yang lagi hits itu? Yo pantes.

Bagi sebagian orang, menghadiri acara buka puasa bersama alumni itu bukan cuma ajang temu kangen, tetapi juga ajang show off, pamer dari mulai mobil, gadget, style hingga keluarga. Keluarga saja di pameri?

Ketuk dalam hati diri masing-masing, terutama bapak-bapak yang beristri tak kurang cantik dari Cathy Sharon atau Inneke Koesherawati, pasti rela berbetah-betah menunggui istrinya berdandan lama, bahkan tak jarang ikut berkomentar “Mah, lipstiknya kurang cetar ah” atau “Eh, eye shadownya ketebelan tuh”. Hal yang mustahil dilakukan sehari-hari, bahkan kalau lagi mau kondangan.

Bertemu alumni, itu soal lain, ada pride yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata, bukan cuma yang sudah berkeluarga, yang belum berkeluarga pun tidak lantas kaku, mereka justru saling show off, saling pamer, dari mulai soal cinta hingga tentunya soal karir yang lagi menjulang, apalagi kalau disitu ada..mantan.

Mantan, kata yang tak pernah lekang oleh waktu, selalu menyisakan kegetiran, tak lain, hanya kegetiran. Seseorang yang selalu membuat hati kita menclos setiap kali berkaca di kamar mandi, seakan pomade sebotol tak mampu untuk membuat kita tampil kece, lebih kece dari yang dulu.

Ya, inilah kenikmatan Ramadhan kawan, selain silaturahmi adalah kenikmatan bertemu mantan yang tidak setiap bulan bisa terjadi.

Maka tak heran, ketika para pria (tentunya) dengan status jomblo awet tanpa pengawet akan saling berbisik, bergosip dengan khusyuk dipojokan restoran yang sudah di booking full menjelang bedug magrib.

“Eh liat deh si Nita, sumpah cakep banget sekarang, karirnya sukses lagi jadi pengacara, gak nyesel dulu diputusin?”

“Ya nyesel lah, eh tapi kalo bukan aku dulu yang maksa nganterin dia masuk ke fakultas hukum, gak mungkin dia kayak gini sekarang”

Nah lho, terjadilah percakapan yang sebetulnya harus dihindari. Mengapa? Karena mengungkit segala sesuatu seakan-akan kita (sang mantan) adalah pahlawannya, sesunggunya itu hanyalah membawa luka yang lebih dalam. Toh, jika bukan kita yang mengantarkan Nita masuk fakultas hukum dulu mungkin akan ada cowok lain yang bermobil wah yang dengan suka rela mengantarkan Nita. Kita hanyalah perantara.

Ya tapi itulah, wajar saja jika silaturahmi buka puasa bersama tadi berdampak pada terlecutnya hati kita demi melihat mantan yang menjadi jauh lebih cantik, lebih sukses, lebih berisi dan banyak dipuji khalayak. Itupula yang terjadi dengan Bapak SBY ketika berkata dengan syahdu;

“Dulu Tito itu saya lho yang angkat 3 kali dengan akselerasi”

Iya pak, kami warga negara Indonesia yang terhormat ini tahu, dan mengamini bahwa bapaklah yang dahulu berjasa menaikkan pangkat Tito Karnavian, tapi seperti dalam kasus Nita, kita semua hanyalah perantara pak. Memang sudah jalannya Nita jadi pengacara, memang sudah kodratnya Tito Karnavian jadi Kapolri, dan Joko Widodo sebagai Presiden pun hanya sebagai perantara pelantikan. Tak lebih.

Jadi, sekali lagi kita harus lebih berhati-hati ketika menghadapi undangan buka puasa bersama, apalagi jika di status grup FB sang mantan berkata

“aku dateng ya….bawa suami dan anakku”

Sudah lah jomblowan, jangan langsung mundur seribu langkah, hadirilah forum buka puasa bersama itu dengan jantan sebagai ajang silaturahmi yang di rahmatkan pada kita di bulan Ramadhan.

Toh, mantan-mantan lain..eh, teman-teman lain masih ada.

 

***

Happy wiken, dan

Happy bukber yang bukan wacana