Si Penyelamat Dunia!

Beberapa waktu lalu sehabis lari pagi, saya sempat bertemu Fikar, bocah tukang sampah komplek perumahan yg umurnya mungkin sekitar 10 tahunan.

Sambil ngos-ngosan iseng ku tanya:

“Boy, apa cita-citamu nanti klo besar?”
“Jadi menejer pak!” Jawabnya mantap dengan mata berbinar.
“Luar biasa! Menejer apa klo ku boleh tau?”
“Menejer tukang sampah, pak!” Jawabnya tak kalah mantap.
“Mantab betul!”

Masygul saya mendengar jawabannya, seorang anak tukang sampah, yang juga berprofesi sebagai tukang sampah, tidak malu sedikitpun dengan profesinya, baginya profesi tukang sampah adalah profesi yang bisa merubah dunia.

Betul juga kalau dipikir, tanpa sampah yang berserakan tentu dunia lebih indah, bersih dan sehat, generasi yang sehat adalah generasi yang hebat, masa depan harus berubah dengan lebih baik dan Fikar terlihat bangga menjadi bagian dari perubahan itu. Seorang tukang sampah, lebih hebat dari Ultraman!

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada berada disekitar orang yg punya mimpi besar, meskipun itu mimpi seorang calon Manajer Tukang Sampah, bukan main.

Advertisements

Memang Ilmu Agama Kalian Setinggi Apa Sih?

149724812463162

“Belajar agama lagi sana”, hayo siapa di antara klean yang pernah digituin di medsos sama temannya? Ngaku saja..tenang, disini klean aman, tidak ada celah untuk di dholimi atau di persekusi, nah banyak kan yang tunjuk tangan..ckck..

Gini gaes, dahulu kala di awal abad ke 12, dua pemikir (filsuf) Islam yang paling top, Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd pernah berdebat tentang dua hal yang sangat esensial dan berpengaruh kepada pemikiran Islam kedepan. Pertama yaitu tentang pengetahuan Tuhan dan kedua tentang permulaan (keazalian) alam.

Kita bahas yang pertama saja, karena kita akan langsung laper kalau bahas dua-duanya.

Dalam point pertama, seorang  Ibnu Rusyd yang mendukung Aristoteles membantah pemikiran Imam Al Ghazali di dalam bukunya Tahafut At-Tahafut, bahwa Tuhan tidaklah mengetahui persoalan juziyat atau hal-hal partikular yang rinci.

Menurut pendapat Ibnu Rusyd, Tuhan adalah Zat yang Maha Tinggi, otomatis Tuhan adalah setinggi-tingginya ilmu dan akal, sehingga Tuhan memiliki pengetahuan yang tanpa cela. Jadi, Tuhan sudah mengetahui yang awal dan yang akhir dengan segala perincian. Bingung?

Misalnya, kamu sedang makan nasi gudeg Pawon di Janturan, Jogja. Karena ngantuk, tanpa sengaja si mbok menyendok dua telur pindang ke piringmu, padahal jatahmu ya cuma satu, tapi kamu cuek, tetap menyantap nikmat. Nah, kasus ini menurut Ibnu Rusyd sudah bukan urusan Tuhan, karena ini ranah partikular, sudah ada malaikat Raqib dan Atid yang mencatat amalan kita, dan akan dibuka nanti.

Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu, sehingga jika Tuhan mengetahui hal-hal yang partikular justru mengurangi Maha Kesempurnaan-Nya karena hal-hal partikular adalah suatu proses dari “tidak tahu menjadi tahu”, ini ranahnya remah-remah manusia, bukan ranah Tuhan.

Sedangkan menurut Imam Al Ghazali, Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu sehingga tidak ada satu bendapun, satu gerakan pun dan satu sifatpun yang luput dari ke-MahaTahuannya termasuk hal-hal partikular (detail), dan berpedoman pada ayat Al Quran: “Tiada yang luput bagi pengetahuan Ilahi”. Tuhan mengurusi urusan telor pindang sampai lidah kamu ngomong janc*k.

Yang menarik, awalnya Al Ghazali dalam bukunya Al Maqasid Al filasifah yang disusul dengan buku keduanya Tahafutul Falasifa, menyebut hal-hal yang tidak sesuai (subsersiv) dengan iman Islam disebutnya sebagai kufarat (kufur-kafir), tetapi kemudian diralatnya sebagai bid’ah dan tidak sesuai, bukan lagi kafir. Nanti kita bahas yang ini.

Dari diskusi di atas, setidaknya ada dua point. Pertama, kita bisa bayangkan sebuah perang wacana yang dikemukakan dua filsuf Islam dengan kadar keilmuan yang sangat tinggi hingga membawa pemikiran tersebut kedalam peradaban, diskusi yang berbobot dan sangat jauh dari diskusi “Apakah perginya RS ke Saudi itu sama dengan Hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah”?

Disini saya ingin ngakak..

Perang wacana antara dua filsuf besar tidak diakhiri dengan kalimat “pembunuhan karakter” antar keduanya. Bayangkan jika dalam keadaan terpojok, lalu Ibnu Rusyd berkata “Duh le.. hambok ya kamu belajar agama lagi sana…”. Dipastikan detik itu juga para filsuf pendukung Imam Al Ghazali (karena Imam Al Ghazali sendiri sudah meninggal) akan lepas celana dan pulang kampung saking malunya, malu sama Ibnu Rusyd yang jauh dari sifat intelektual yang terbuka. Tapi Alhamdulillah, mereka memang kalangan intelektual agama yang tulen.

Dalam sebuah perbedaan wacana, adalah sebuah keniscayaan jika saling beradu argumen, beradu tulisan, bolak balik ide dan menggodok pemikiran, dalam diskusi ataupun debat, tidak dicari sebuah pembenaran dari kalah atau menang. Toh dua pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd keduanya tetap dipakai oleh filsuf Islam masa kini.

Contoh lain, coba bayangkan jika Bung Karno tidak sering berdebat panjang dengan Kartosuwiryo atau Semaun di hostel kos-kosan HOS Tjokroaminoto, mungkin Bung Karno tidak akan pernah menemukan esensi Pancasila yang berbasis pada keragaman.

Jika pada debat itu lantas Kartosuwiryo berkata “No, Karno..kamu belajar lagi sana”, bisa dipastikan pula Bung Karno malas melayani diskusi lebih lanjut, lebih baik ngopi atau cabut pacaran.

Lalu apa pointnya? Kerendahan hati adalah KOENTJI. Tidak ada satu pihak pun yang merasa lebih benar dari yang lain. Apalagi berani mengkafirkan. Nah ini..belum selesai disitu, ada point kedua yang diambil dari debat antara Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd, yaitu kehati-hatian. Al Ghazali merubah istilah kufarat yang dipakai sebelumnya menjadi bid’ah atau tidak sesuai.

Al Ghazali, dengan ilmunya yang mumpuni, memilih dengan hati-hati pemakaian kalimat didalam buku dan literaturnya, karena kufarat mengandung arti kafir atau keluar dari Islam, itu berat. Dan apabila itu ditujukan kepada para filsuf yang juga pemikir Islam malah akan menjadi masalah panjang, dianggap tuduhan.

Dan disaat ini, mungkin apa yang dipelajari para jamaah reliji itu benar, namun mungkin (mungkin lho yaa..) karena demo nomor cantik yang sukses besar, menjadikan mereka merasa ilmu agamanya sudah setinggi menara Burj Khalifa, mereka jadi ahli agama dadakan, dan “Belajar agama lagi sana” menjadi kalimat hits yang siap menerkam saudaranya dengan arti yang kira-kira…yaah….”Kamu goblok banget sih”.

Jogja, di sepertiga lintingan rokok.

 

*Artikel dimuat di Ngawursiana.com

Perang Gettysburg dan Seberapa Penting Menahan Diri?

Perang Saudara Gettysburg, yang terjadi pada bulan Juli 1863 di Amerika Serikat menyisakan sebuah cerita tentang pentingnya menahan diri, utamanya soal nulis status. Mari saya ceritakan.

Tersebutlah Jenderal Robert E. Lee, Jenderal dari kalangan Federasi yang memberontak dari Pemerintah Amerika Serikat, yang saat itu dipimpin oleh Presiden kharismatik, Abraham Lincoln dengan tentaranya, Union Army.

Pada saat itu perang Gettysburg hampir mencapai titik akhir. Tanggal 5 Juli 1863, Jenderal Robert E. Lee dan pasukannya yang sudah kalah mulai terdesak mundur ke selatan, mundur terus hingga sampai di Potomac, mereka pun terjebak di sebuah sungai yang airnya sedang pasang, hingga tak bisa dilalui. Sedangkan di belakangnya tentara Union Army terus merengsek maju, siap menghantam.

Lee terjebak, dan dengan keyakinan penuh, Lincoln pun memerintahkan Jenderal Union Army saat itu, Jenderal George Meade untuk langsung segera menyerang Lee tanpa melalui Dewan Perang. Tapi bukannya menuruti Lincoln, Meade malah menghubungi Dewan Perang, Henry Wager Halleck untuk meminta pertimbangan, yang kemudian mulai berdiskusi, curhat dan menghasilkan keragu-raguan dalam mengambil tindakan.

Akhirnya, air sungai pun surut dan Jenderal Robert E. Lee beserta pasukannya berhasil menyeberangi sungai dan melarikan diri.  Betapa marahnya Lincoln mendengar berita tersebut dan saat itu ia langsung membuat surat kemarahan yang ditujukan kepada Jenderal George Meade. Suratnya bisa dilihat DISINI.

Surat yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan, “Your golden opportunity is gone, and I am distressed immeasurably because of it”

Surat yang sangat pantas untuk dikirimkan kepada Meade, tetapi Lincoln tak pernah mengirimkan suratnya. Lincoln berpikir, jika surat itu dikirimkan, dirinya memang merasa puas, dan menjadi pembelajaran bagi Meade, tetapi itu akan menimbulkan perasaan benci dari Meade (dan pasukannya) terhadap dirinya kedepan.

Bagaimanapun Meade bukan Jenderal kemarin sore, pasti begitu banyak pertimbangan seorang Jenderal di lapangan mengenai keamanan pasukannya. Perang bukan hanya soal menyerang musuh, tetapi juga bagaimana melindungi pasukan seaman mungkin.

Lincoln pasti akan menang dalam perang kata-kata, tetapi dia akan kalah dalam perang pengaruh. Meade dan pasukannya akan membenci dia, dan itu akan buruk untuk Pemerintah kedepannya, terutama untuk Philadelphia. Lincoln paham, tidak seorangpun yang suka menjadi objek yang di cela. Semua orang ingin dihormati. Lincoln pada akhirnya tetap mengkritik Meade, tetapi dalam level yang terhormat, dan tanpa emosi.

Itulah Lincoln, seorang yang bisa dipelajari kapan harus diam, kapan harus menulis status dan kapan menyampaikan kritik. Di situasi perang zaman dahulu, menulis surat dengan emosi sama mudahnya dengan menulis status kritik dan kebencian di zaman ini.

Hanya saat ini jauh lebih sadis karena jauh lebih cepat dan mudah viral, tanpa melihat isi dari status atau berita tersebut.

Banyak sekali sudah oknum yang tercyduk oleh aparat karena hinaan terhadap Presiden, belum lagi yang malu ketika berdebat karena salah berstatement atau pejabat yang mengeluarkan statement dan ide bodoh dan direvisi kemudian, belum lagi ratusan orang yang akhirnya dibully oleh masyarakat luas baik dunia maya maupun nyata.

So, tahan 1 menit untuk statement dan komentarmu di medsos, 1 menit saja. Tarik nafas, dan pikirkan apabila komentarmu di posting, apa reaksi kawanmu? Apakah kamu siap jika di kritik balik? Bahkan yang mungkin akan menghancurkan reputasimu?

Sudah siapkah kamu untuk kembali di cela?

Teknologi bisa membuat reputasi hancur dengan lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan sebelumnya – Guy Kawasaki