Catatan Kaum Sapi Untuk FOURTWNTY, Sebuah Pledoi

sapi_lucu_by_esctatica

Sumber: https://esctatica.deviantart.com/art/sapi-lucu-30817457

Duhai para punggawa Fourtwnty yang di rahmati Tuhan pemilik bumi bulat dan bumi datar, semoga selalu dalam lindunganNya.

Begini mas-mas, mungkin semua netijen di republik ini sudah cukup familiar dengan musik Indie yang mas-mas bawakan, bukan saja lagu yang berjudul “Zona Nyaman” itu jadi soundtrack film “Filosofi Kopi 2”, tapi juga menjadi inspirasi para abege labil yang sedang mencari jati diri untuk tidak menjadi sapi. Lho? Ada apa dengan sapi? Apa sapi ini ada hubungan dengan politik? Oh tentu saja bukan, kita tidak sedang bicara politik disini. Continue reading

Advertisements

Si Penyelamat Dunia!

Beberapa waktu lalu sehabis lari pagi, saya sempat bertemu Fikar, bocah tukang sampah komplek perumahan yg umurnya mungkin sekitar 10 tahunan.

Sambil ngos-ngosan iseng ku tanya:

“Boy, apa cita-citamu nanti klo besar?”
“Jadi menejer pak!” Jawabnya mantap dengan mata berbinar.
“Luar biasa! Menejer apa klo ku boleh tau?”
“Menejer tukang sampah, pak!” Jawabnya tak kalah mantap.
“Mantab betul!”

Masygul saya mendengar jawabannya, seorang anak tukang sampah, yang juga berprofesi sebagai tukang sampah, tidak malu sedikitpun dengan profesinya, baginya profesi tukang sampah adalah profesi yang bisa merubah dunia.

Betul juga kalau dipikir, tanpa sampah yang berserakan tentu dunia lebih indah, bersih dan sehat, generasi yang sehat adalah generasi yang hebat, masa depan harus berubah dengan lebih baik dan Fikar terlihat bangga menjadi bagian dari perubahan itu. Seorang tukang sampah, lebih hebat dari Ultraman!

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada berada disekitar orang yg punya mimpi besar, meskipun itu mimpi seorang calon Manajer Tukang Sampah, bukan main.

Memang Ilmu Agama Kalian Setinggi Apa Sih?

149724812463162

“Belajar agama lagi sana”, hayo siapa di antara klean yang pernah digituin di medsos sama temannya? Ngaku saja..tenang, disini klean aman, tidak ada celah untuk di dholimi atau di persekusi, nah banyak kan yang tunjuk tangan..ckck..

Gini gaes, dahulu kala di awal abad ke 12, dua pemikir (filsuf) Islam yang paling top, Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd pernah berdebat tentang dua hal yang sangat esensial dan berpengaruh kepada pemikiran Islam kedepan. Pertama yaitu tentang pengetahuan Tuhan dan kedua tentang permulaan (keazalian) alam.

Kita bahas yang pertama saja, karena kita akan langsung laper kalau bahas dua-duanya.

Dalam point pertama, seorang  Ibnu Rusyd yang mendukung Aristoteles membantah pemikiran Imam Al Ghazali di dalam bukunya Tahafut At-Tahafut, bahwa Tuhan tidaklah mengetahui persoalan juziyat atau hal-hal partikular yang rinci. Continue reading

Perang Gettysburg dan Seberapa Penting Menahan Diri?

Perang Saudara Gettysburg, yang terjadi pada bulan Juli 1863 di Amerika Serikat menyisakan sebuah cerita tentang pentingnya menahan diri, utamanya soal nulis status. Mari saya ceritakan.

Tersebutlah Jenderal Robert E. Lee, Jenderal dari kalangan Federasi yang memberontak dari Pemerintah Amerika Serikat, yang saat itu dipimpin oleh Presiden kharismatik, Abraham Lincoln dengan tentaranya, Union Army.

Pada saat itu perang Gettysburg hampir mencapai titik akhir. Continue reading

Dialog Bersama Bapak

030132400_1446811214-Hiroshi_Nohara__3_

Pagi itu di hari minggu, saya menguping pembicaraan antara ayah dan adik. Bukan kebiasaan untuk menguping pembicaraan orang lain, tapi karena tidak disengaja kok ya kuping ini nempel saja gitu lho di pinggir pintu, yasudah, diteruskan saja ngupingnya, gak bayar ini..

Bapak saya itu pendiam, tapi kok di pembicaraan ini beliau tampak agresif dengan adik saya, pembicaraannya menyangkut aspirasi politik di negeri ini yang enggak pernah selesai.

Bapak saya yang gak seberapa terkenal itu mendadak jadi demikian bijak menyikapi adik saya, yang nyata-nyata seorang anti-pemerintah, tepatnya anti-jokowi, dan bapak saya -yang ketika pemilu kemarin juga tidak memilih Jokowi-.

Bapak (+): “Bapak dengar kamu mulai dapat masalah ya dengan teman kantor mu dan atasan karena sering posting menghina pemerintah?”

Adik (-): “Ya, tapi ya sah-sah saja lah kalau aku kontra pemerintah pak, toh pemerintah gak becus kok, semua jadi sulit”

+ : “Semua jadi sulit yang mana maksudmu? Yang menghina kan kamu”

– : “Lho, mosok bapak gak ngeh sih, rakyat itu sekarang sulit”

+ :”Memang dari dulu gak sulit?”

– :”Ya, sulit juga”

+ :”Lha terus bedanya apa? rakyat kecil dari zaman Majapahit ya hidup sulit, hidup sederhana, apalagi taun 98 keatas, lha kamunya sendiri sulit ndak sekarang?”

– :”Ya, tapi sekarang lebih sulit”

+ :”Bapak ulangi, kamunya hidup sulit ndak? Masih minta bensin bapak ibu ndak? Istri anakmu busung lapar ndak?”

– :”Ya kalau itu enggak pak, maksud saya rakyat ini lho”

+ :”Bapak nanya kamu, kamu bilang kamu baik-baik saja tho?”

– : “Iya pak”

+ :”Lha yasudah, artinya kamu tidak berhak untuk menghina pemerintah apapun itu, sejelek apapun dan seperti apa kinerjanya, silahkan mengkritik, tapi kalau sampai menghina kepala negara di sosial media, itu kamu sendiri yang hina nak!”

– :”Maksud bapak gimana?”

+ :”Gini, kepala negara itu adalah simbol negara, dia adalah ulil amri di negara ini, berdaulat, resmi, sah. Lagipula bapak tidak melihat apapun yang ingin menghancurkan negara ini, mudik kemarin pun kita sudah nikmati tol baru-nya, meskipun kritik kamu itu boleh karena ndak ada yang sempurna, tapi kalau sampai menghina, kamu enggak ada bedanya sama serigala. Sudah nikmati daging, tapi masih gigit juga”

+ :”Makanya bapak nanya sama kamu, apa kamu dan keluargamu dirugikan sama pemerintah? ndak toh..apa ada hartamu yang disita, digusur, hak mu di ambil lalu kamu jadi pengangguran? Nggak juga toh. Gajimu itu buesar lho le, untuk seumuran kamu, itu sudah lebih dari cukup, bisa nyicil mobil, rumah, anak mu sekolah tentrem, dan yang pasti sholat subuh kita dalam keadaan tenang”

– :”Hmm..tapi pak..”

+ :”Hussh..jangan tapi-tapi, aku ini bapakmu. Dulu eyangmu itu kurang sakit hati apa sama orde baru, apa beliau lantas menghina pak Harto? Tidak le! Tidak! Bahkan ketika 98 pun beliau cuma ngomong, yo iku wis wayahe (ya itu sudah saatnya). Tapi harga diri beliau sebagai orang yang terpelajar tetap dijunjung. Pun demikian dengan ibu bapakmu”

– :”Hmm..iya pak”

+ :”Mengkritiklah, tapi tidak dengan menghina, apapun kekurangan pemimpinmu, dia tetaplah pemimpinmu, foto kodok yang apa tuh…eeeh…dikasih tulisan-tulisan hinaan ke Presiden ya kau pasang itu, asal kau tahu, itu melukai bapak. Bapak menyekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan untuk pasang foto kodok, bukan untuk menghina, apalagi ini negaramu sendiri”

+ :”Soal rakyat, jadikan dan berdoa saja dirimu nanti yang memakmurkan mereka, tapi catatan yo le, tidak ada pemimpin dan orang sukses yang lahir dari mulut yang kotor, pikiran yang kotor dan dari media yang kotor. Semua lahir dari wibawa yang utuh”

Saya pun beringsut kembali ke kamar, menuntaskan hajat buang kopi yang sedari tadi belum selesai, sambil sayup-sayup terdengar kata-kata:

“Maaf yo pak”