Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?

Medio 2016, saya diundang ke pernikahan seorang kawan, sama-sama kami dulu bekas kuli di Banten. Pernikahannya mewah, di hotel daerah Kuningan, Jakarta. Visual pernikahannya sama sekali tidak menyiratkan blio pernah jadi kuli dengan bayaran UMD dan hobi ngorok ngiler sama saya.

Saya coba memperhatikan dekorasi pernikahan. Megah. Dan banyak sekali lambang berbentuk Naga, dari mulai singgasana pengantin, pinggiran kue tart besar, bahkan susunan dim sum di dalam panci membentuk kepala naga.

Ketika salaman, saya tanya ke kawan saya, dan jawabannya mengejutkan. Ya, dia percaya bahwa Naga adalah simbol kesuksesan, dan usahanya melejit seperti sekarang salah satunya karena simbol naga. Naga dan dirinya adalah satu kesatuan.

Kalo sudah demikian, apa yang mau saya debat? Tidak ada, padahal kawan saya tadi sama sekali bukan keturunan Tiongkok, Jawa asli. Kepercayaan akan simbol seperti ini yang ada di sebagian masyarakat kita.

Lha wong ibu saya saja penganut paham pohon bambu kuning di depan rumah kok. Katanya untuk ngusir bala.

Jadi saya enggak heran ketika Masjid Al Safar di Cipularang hasil karya arsitektur Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, di protes karena menyerupai lambang iluminati karena bentuknya yang mayoritas segitiga.

Continue reading “Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?”
Advertisements

Minat Baca Kita Rendah? Itu Hoaks!

Baru-baru ini saya di bombardir oleh rekan-rekan di grup whatsapp keluarga dan juga media sosial, menampilkan peringkat negara paling “rakus” dengan buku.

Negara “pemakan” buku terbanyak. Indonesia “tentu saja” berada di posisi buncit, posisi 60 dari 61 negara.

Sedih ya kita?

Ya sedih, kalau kita telan mentah informasi itu seperti kebiasaan kita. Padahal kita peringkat 60 dari 196 negara yang diakui dunia. Untuk peringkat FIFA, posisi 60 dunia itu posisi lumayan.

Kita ndak culun-culun amat. Kita masih lebih baik dari tetangga kita Filipina, Laos, Brunei, Kuba, Afghanistan, India bahkan sohib kita yang kaya raya, Arab Saudi.

Tapi ya dasar kita, plonga-plongo dijejali informasi yang “cuma” setengah matang, hasilnya heboh.

Lagipula, apa iya peringkat itu didasarkan dari jumlah buku yang di baca?

Peringkat itu dilansir dari studi PISA dan CCSU. Apa itu PISA dan CCSU? Silahkan anda googling.

Yang pasti peringkat itu berdasarkan 5 kategori, yaitu; Newspaper (koran), Libraries (Perpustakaan), Education System (input), Education System (output), dan komputer.

Jadi bukan cuma karena jumlah buku yang dibaca. Biar gak kelamaan, kita bahas aja yuk…

Continue reading “Minat Baca Kita Rendah? Itu Hoaks!”

Fanatisme itu bernama Kopi Sachet

Sudah lama tidak update blog, terus terang saya lagi miskin kreasi nulis, ide sana sini tapi selalu terbentur yang namanya politik. Ya musim politik, tahun politik, idenya tercurah nulis di kanal politik dulu yang lebih menghasilkan huehehe..

Tapi lama-lama bosan juga, jenuh. Ya bagaimana tidak, sebaik-baik saya nulis politik, tetap saja yang namanya kampret ya jadi kampret dan cebong ya tetap cebong. Sehingga saya ambil kesimpulan, fanatisme politik itu sama seperti milih kopi.

Saya punya kawan, namanya Daru. Daru ini sekost dengan saya sewaktu kami sama-sama bekerja di daerah Serang, Banten. Kami berdua sama-sama penggila kopi. Tapi anehnya, seenak-enaknya kopi racikan dari barista, tetap saja Daru ini kembali ke kopi sachetan (sebut saja kopi Kapal Api).

Biasanya seorang penggila kopi hampir pasti memilih kopi giling single origin dengan tipe tertentu. Bahkan saya biasanya bisa langsung menentukan ini kategori Robusta atau Arabica, kategori acid tinggi atau rendah, matang atau setengah matang dsb.

Daru pun seperti itu, dia bahkan lebih jago. Tapi anehnya setiap kami ngobrol di sela-sela kerja atau cakruk di kost, dia selalu menuang kopi sachet yang tersohor itu. Sedang saya, selalu meracik kopi (tubruk) dari kopi non sachet (biasanya kopi Bandung yang moka arabika itu lho).

Suatu hari, Daru saya sodorkan kopi Dampit Sridoretno Malang hasil budidaya warga yang diramu khusus, enaknya setengah mati. Saya berharap Daru bisa berpaling dari kopi sachet-nya itu.

Ketika pertama nyerutup, matanya langsung berbinar, saya berdoa mudah-mudahan dia di beri hidayah untuk berpaling dari kopi sachet. Tapi ternyata besoknya dia kembali menyeduh kopi sachetan.

Begitulah Pilpres berlangsung kawan, fanatisme kepada ketokohan sulit dirubah hanya dalam waktu bulanan. Ibarat lidah, kalo sudah cocok ya sudah.

Yang dilarang itu kalo teman saya lantas menjelekkan dan memfitnah kopi racikan saya, hanya demi mempertahankan fanatisme kopi sachetnya.

Soal fanatisme kopi sachetnya, Daru pernah berkata gini;

“Mas, kalo aku berpaling dari kopi sachet karena kopi-mu, sama saja aku membohongi diriku, kebohongan yang sama seperti orang awam yang ngomong ke Majelis pengajian kalo dia rindu Ramadhan dan bersedih ketika Ramadhan pergi, taek! padahal orang itu habis ngudut sama aku di warung jam 2 siang!”

Saya pun ngakak..