Menuju Senjakala Photoshop

Menuju Senjakala Photoshop

photoshopDari judulnya sudah bisa di terka kemana arah tulisan ini, ancaman senjalaka photoshop. Seperti media cetak dan foto cetak yang lambat laun menuju senjakalanya, kali ini giliran photoshop, software edit foto terbaik hingga saat ini pun, ternyata harus mengakui “keunggulan” dari consumer needs.

Mengapa saya tulis ini? Karena baru saja di weekend lalu, sore hari selepas ngopi, saya dan seorang kawan bertemu dengan pasangan konsumen prewedding. Seperti prewedding pada umumnya, setelah hari H pemotretan, hampir semua fotografer meminta waktu beberapa hari hingga foto betul-betul jadi hingga cetak, baru kemudian diberikan ke konsumen…Tapi..

Tapi ternyata kami harus menghadapi kenyataan baru. Sang konsumen meminta foto hari itu juga harus jadi, meskipun kami jelaskan bahwa untuk editan foto harus menunggu beberapa hari, bahkan setidaknya satu hari full untuk bekerja, itu tidak mereka terima.

Bahkan pertanyaan dasar mereka yang kami jawab, bisa begitu saja dimentahkan oleh mereka. Apa software yang kami pakai? Kami jawab tentu saja photoshop seri terbaru, dan turunannya seperti adobe lightroom.

Sang calon mempelai wanita lantas bertanya, apa kami ini tidak tahu ada aplikasi di smartphone yang bisa mengedit foto dengan sangat cepat dengan hasil yang bagu? Rata-rata mereka memakai vscocam, snapseed ataupun pixlr.

Well, tentu saja kami tahu, tapi bukan itu urusannya, foto itu harus di cetak. Jika foto (Raw diubah ke JPEG) masuk ke aplikasi smartphone, pastilah ada reduksi resolusi, byte dan tentunya reduksi kualitas. Tak akan sama hasilnya editan smartphone dengan editan photoshop jika di print dan di pajang di depan pintu masuk ruang resepsi.

Tapi ternyata alasan kami tidak juga bisa meyakinkan klien, dan saat itu juga salah satu foto kami diminta dengan sedikit paksaan oleh klien wanita.

Setelah foto masuk ke smartphone sang wanita, secara cepat (tak ada 3 menit), wanita itu sudah menampakkan wajah puas dan mempertontonkan hasilnya pada kita.

Terus terang, meskipun tone yang dipakai termasuk mainstream ala artis instagram, hasilnya memang apik, tonal lembut nan vintage mendominasi. Setelah editing, wanita itu kemudian mengklik tombol share, dan taarrraaa…ribuan followernya pastinya sedang mengagumi foto hasil kami dan hasil editan si wanita itu.

Terus terang, kami harus mengakui klien kali ini, dan kami segera berpikir, evolusi photo telah terjadi.

Lalu bagaimana dengan hasil print nantinya? Sebenarnya itu bisa diakali, sebelum masuk instagram atau facebook kita sebaiknya terlebih dahulu mengedit foto yang kita suka dengan aplikasi diluar sosial media, seperti vscocam, snapseed, pixlr, pics art dsb.

Dengan aplikasi semacam itu, ketika kita ingin melakukan save image, akan muncul option penyimpanan ukuran, apakah keep original image / actual size atau disesuaikan. Nah, jika ingin di print nantinya, sebaiknya tetap save di actual size.

Sebagai perbandingan, dengan kamera mirrorless saja (saya gunakan F*jif*lm x*2) jika tidak dilakukan cropping, ukuran asli foto setelah dimasukkan ke smartphone adalah 4896 x 3264 pixel, ukuran yang cukup untuk diprint hingga 10-12R, atau sepanjang 30 cm. Cukup untuk dipajang di depan pintu masuk pelaminan. Asalkan ditransfer dengan kabel data, bukan dengan nirkabel (wifi) supaya ukuran pixel tetap terjaga.

Jikapun tereduksi akibat transfer foto dengan wifi kamera, ukurannya masih berkisar di angka 1700 pixel, masih cukup bagus untuk di print ukuran 4R atau sepanjang 10,16 x 15,24 cm. Ukuran yang cocok untuk pajangan ruang tamu.

Nah, post processing yang cepat menjadi tuntutan fotografer saat ini, apalagi tone yang kekinian sangat mudah di pakai di aplikasi, style magz hingga kartun pun ada, bahkan efek manusia terbakar pun bisa dibuat dengan picsart.

Konsumen tidak lagi menjadikan final process sebagai patokan, sekarang yang penting bisa di share cepat, tone harus bagus, kekinian dan tetap bisa di print. Nah, aplikasi smartphone sudah menyediakan itu semua.

Photoshop, jika tidak bisa berevolusi, di kemudian hari hanya menjadi andalan pembuatan spanduk pilkada. Editing di komputer dianggap sudah lawas, modul penghilangan object dan ganti background yang jadi key power dari photoshop pun sudah ada aplikasinya.

Ada sih aplikasi photoshop express dan lightroom untuk ios atau android, tapi tonenya dianggap masih ketinggalan dengan dua aplikasi di atas yang lebih kaya dan lebih consumer minded. Toh, ketika kita googling kalimat “tone / edit foto andalan di smartphone”, photoshop tidak masuk lima besar.

Pun ketika photoshop mengklaim masih memiliki keunggulan paripurna, yaitu masalah file raw, ternyata pun dipecahkan oleh snapseed dan RawVision. Nah lho..

Evolution is a must, jika tidak siap maka bersiaplah menuju senjakala.

Advertisements

Kereta, Anagram Sebuah Ibukota

Kereta, Anagram Sebuah Ibukota

Kereta api, lebih dari dua tahun lalu semenjak dirinya berkata tidak, yang mengubur impian ku dan aku lari padamu. Ada rasa rindu yang menggebu, ada kisah yang tidak bisa di ceritakan dan di sampaikan kecuali di rasakan.

Di sepanjang rel itu, kau bercerita tentang dirimu yang menjadi aset masyarakat Jakarta. Kau sebagai solusi kemacetan Jakarta yang epic, bukan asal mainstream. Continue reading