Sinopsis The Intern; Feminisme dan Good Life

share

Weekend is a movie time. Jenuh melihat debat pilkada DKI yang grafik para aktornya gitu-gitu aja, membuat Jumat malam lalu saya habiskan waktu sore sepulang kerja untuk nonton film bersama istri.

Filmnya keren: The Intern, film produksi tahun 2015. Bintangnya eyang Robert de Niro dan mbak cantik Anne Hathaway.

Ceritanya simple namun unik, Ben Whittaker (Robert de Niro) kakek berusia 70 tahun yang enerjik dan suka tantangan, menghabiskan waktu untuk traveling demi melupakan rasa sepi setelah ditinggal istri. Nah pas ada lowongan karyawan magang senior di perusahaan ecommerce, langsung lah dia daftar, eh keterima.

Ecommerce AboutTheFit, yang isinya 99% anak muda ternyata malah bikin Ben jadi daya tarik, sebentar saja Ben sudah menjadi perhatian, style necis old school, rajin, pintar dan berwibawa. Kebetulan bosnya Ben langsung adalah Jules Ostin (Anne Hathaway), founder dari AboutTheFit, she’s totally workaholic, smart, super-multitasking dan modern.

Yang berkesan banget adalah pribadi Ben yang selalu bekerja baik, berbuat baik, beretika baik dan berbicara baik di lingkungan, dengan siapapun.

Gak heran lah jika Jules dalam beberapa minggu saja sudah merasakan kebaikan dari sikap Ben, termasuk teman-temannya yang pantas menjadi cucunya. Satu pelajaran: Ben gak takut untuk beradaptasi, termasuk membuat facebook  hihihi..

the-intern-4

Ben mampu beradaptasi dengan anak muda yang enerjik

Pelajaran lain di The Intern, Ben yang pensiunan Wakil Direktur Dex One, tidak canggung untuk menjadi supir, membersihkan meja yang bukan mejanya tanpa disuruh, bahkan menbawa baju direkturnya ke laundry. Jadi ingat tulisan saya soal engineer jadi operator, Ben adalah panutan.

So, yang menarik lainnya adalah sisi feminisme di film The Intern ini. Jules yang sangat sukses, ternyata punya masalah keluarga. Suaminya, Matt yang dulunya adalah bisnisman handal “rela” mundur dari pekerjaannya untuk menjadi full dad setelah Jules mendirikan AboutTheFit yang sukses.

Apa sih kerjaan full dad? Ya seperti ibu rumah tangga, cuci baju, siapain sarapan, anter anak sekolah , boboin anak dll. Namanya juga bapak rumah tangga..hehe

Terus terang, saya pun mungkin tidak akan siap jika harus berganti peran 100% seperti itu, tapi itu realita sekarang lho, cukup banyak beberapa teman wanita yang berprofesi as founder ecommerce pun punya masalah yang sama.

Nah, di film ini, wanita full karir di anggap masih menjadi kritik di sosial, dan ya! Hingga akhirnya Matt pun berselingkuh dengan sesama orangtua murid anak mereka. Gak tahan istrinya sibuk melulu.

Kritik yang klasik tapi akan selalu seperti itu, kenapa? Ya karena dasar penciptaannya berbeda. hehe..Ego pria kuat, ingin bersaing dan dihormati, itu nature, menurut saya lho ya..

Anyway, Robert de Niro berakting dengan sangat natural dan wajar, tanpa ada hal yang dilebih-lebihkan,  kebaikan Ben terasa begitu hidup. Pun kisah asmara Ben dengan Fiona (Rene Russo), asmara gaek yang bikin kita senyum-senyum sendiri.

Film yang enak dilihat, meskipun grafik konfliknya cukup datar tapi justru itu yang bikin film ini asyik diikuti sampai akhir, banyak pelajaran yang bisa menginspirasi.

Experiences Never Gets Old. Be Good and Do Good.