Kisah Tentang Otak

Dua jam sudah
Aku bolak-balik keluar-masuk bilik hijau
Mamak bertanya
Sedang apa dirimu

Aku sedang bingung, aku ingin menulis
Tulislah… tulislah apa yang ingin kau tulis
Tak bisa Mamak
Menulis butuh otak

Otakku sudah tidak ada, kubuang dahulu kala
Bodohnya kau
Mengapa kau buang benda kesayangan Tuhan
Sedari kukecil, aku selalu diledek oleh teman-teman sekolah

Katanya aku tak berotak
Bahkan untuk menjawab hitungan pun aku tak sanggup
Lebih baik buang otakmu di tong sampah, itu kata temanku dahulu Mamak
Carilah otakmu, carilah di tong sampah belakang rumah

Siapa tahu masih ada

Ah mamak, otakku masih ada
Angkat perlahan, pakai sajadah untuk angkat benda kesayangan Tuhan
Baik mamak, sudah kuangkat dan kumasukkan lagi di dalam kepalaku
Bagus, menulislah, bekerjalah

Kenapa kau menangis, bukankah otakmu sudah kau temukan
Sudah Mamak
Lalu mengapa menangis
Teman-teman kerjaku Mamak, mereka menghinaku

Mereka menghinaku, buat apa pakai otak
Otak tak dibutuhkan lagi
Jika kau bekerja, pakailah lidah
Jika kau menulis, tak usah pakai apa-apa

Hah, berani benar menghina
Itu ciptaan Tuhan paling rumit dan paling mulia
Di mana kau kerja sebenarnya bodat
Ingin kutempeleng dan kugosok lidah mereka

Di Senayan, Mamak

-RK 2017-

Advertisements

Sang Perempuan Penjaga Bintang

Sang Perempuan Penjaga Bintang

menabur_bintang_by_petite_sonyeo-d6xg8a2

Pria itu membungkukkan badannya yang jangkung, tanpa melepas kacamata hitamnya, pria itu menatap lurus tepat di kedua mata gadis kecil di depannya.

“Apa yang kau sedihkan puan?”

“Aku tidak menangis, mengapa engkau tahu tuan?” Continue reading

Beredar “Transkrip Asli”, Inilah Kenapa AADC2 Layak Di Bully

Beredar “Transkrip Asli”, Inilah Kenapa AADC2 Layak Di Bully
 “Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi” – M. Aan Mansyur –

Apakah Rangga benar telah membohongi cinta untuk satu purnama, yang kenyataannya adalah 168 purnama? Tanpa meninggalkan pesan apapun?

Mbak Mira plis wake up, Rangga pergi ke Amrik itu di tahun 2002, tahun itu udah ada Friendster, udah ada henpon dan udah ada email, memang sih fesbuk belum ada, Zuckenberg masih unyu2 ngedekem di kamar kos uprak aprik calon fesbuk, tapi ya mbok jangan senaif itu.

Continue reading

Hujan di Victoria Park

https://thekusumo.blogspot.com

Dengan berwajah datar, wanita itu masuk ke sebuah café di pojok kota yang tampak lelah, di sore selepas bercinta dengan nasib. 7th Avenue St Manhattan, terpampang jelas di depan café. Hanya dengan melihat wajahnya, sang barista dengan sigap langsung tahu apa yang harus dia lakukan, secangkir Flat White.

“With two pieces brown sugar, right?”

“Yes, please”

Flat White, kopi yang puitis, jenis kopi yang selalu menggelegak dalam penatnya, kadang membuatnya tertawa, kadang membuatnya beraroma penguk dalam hilir mudik kota, kadang membuatnya hanya ingin muntah, ya hanya ingin muntah. 
Wajar saja, historis kota ini sudah dihapalnya dengan baik, dan itu tidak ada yang membuatnya merasa normal, kadang memang harus gila mungkin. Tapi toh aku hidup, begitu pikirnya, jadi lebih baik di muntahkan saja.
Tapi kali ini, dia tak lagi berwajah datar, sahut teman sang barista. Lihatlah, ketika tadi masuk, dia berwajah datar, sedatar nama kopinya, tapi lihatlah sekarang, dia bagai awan kelabu tercoreng garis pelangi, seperti mendung tersirap surya.
Ah, pikir sang barista. Eh, tapi benar juga.
Flat White?” Tanya sang lelaki yang dihadapnya.
“Ya, betul, darimana kau tahu?” ujar Kenanga.
“Kau cemburu ya?”
“Hah, aku mati rasa!”
“Tak, kau cemburu, karena aku tahu nama kopimu padahal aku belum tahu namamu”
Setan!, lebih baik kuhirup cocktail bersama temanku tadi daripada aku berhadapan dengan dia, lelaki itu, pikirnya. Sudah tiga hari Kenanga bersamanya di setiap sore. 
Kemarin lusa, lelaki itu hanya berbicara soal indahnya Victoria Park, kemarin, giliran Kenanga yang bercerita soal masa lalunya di pengasingan, dan juga cerita yang sama dari lelaki berambut ikal itu.
Tiga hari, tanpa pernah memperkenalkan diri satu sama lain, entahlah mungkin esensi dunia modern yang rumit sehingga apalah arti nama jika masih bisa bercerita dan tentunya bercinta.
Lelaki itu menyuruput kopinya yang entah mengapa berbau anyir.
“Kau tahu, aku ingin..”
“Aku tahu, kau ingin ke Victoria Park kan?” Potong Kenanga.
Namun sedetik kemudian, Kenanga tiba-tiba merasa kikuk, dia merasa tak enak telah memotong ucapan lelaki itu, karena lelaki itu mengucap “Victoria” bagai mantra dukun minta hujan, diucapkan perlahan, khusyuk, dengan kecupan bibir dan mata terpejam.
Dua hari, tak ada kalimat lain selain Victoria Park. Lelaki yang absurd, tapi mengasyikkan, selama tiga hari ini dia merasa mendapat teman untuk mengarungi keabsurdan imajinya.
“Sudah tiga hari kita bertemu, tapi kau selalu berucap demikian” ujar Kenanga.
“Apakah kau pernah ke Victoria Park?”
“Belum, aku hanya melihatnya di tumpukan email-email kosong di kandang kecoa” jawab sang lelaki.
“Ah, taman yang begitu apik, begitu rindang, luas, bahkan jiwaku rela oncat dari raga untuk menyusuri setiap lekukannnya”
“Tapi.. ketahuilah, aku bahkan sudah mencium baunya!, aku rasakan rintihan anginnya, semerbak wanginya, aku kalbukan pikiranku..”
“Dan mungkin, disana bersemayam arwahku yang sekarang ini. Mungkin” ujar lelaki itu lirih.
Bicaralah terus, bicaralah. Kau membuatku melayang wahai Dermaga. Lihatlah, aku bahkan tahu namamu sebelum aku tahu nama kopimu yang anyir.
Bicaralah, kau betul-betul membuatku basah. Pikir Kenanga sambil menggeliat.
“Karena itu, aku ingin ke Victoria Park”
“Pergilah Dermaga, apa yang sulit bagimu jika hanya ke Victoria Park, bahkan ke ujung dunia pun kau sanggup. Victoria Park hanya masalah kecil buatmu”
Cangkir kopi itu tiba-tiba miring, tangannya mengepal, lelaki itu seperti kehilangan kendali. Pemandangan yang tak biasanya karena selama dua hari yang lalu lelaki ini begitu tenang.
“Hanya?..hanya?..Kau pikir “hanya”?! itukah hasil pendidikan modern mu selama ini, mencetak pemikiran instant, tanpa perasaan. Pertemuan sejak kemarin, ceritaku soal Victoria Park, lalu kau anggap dengan “Hanya”?” spontan lelaki bernama Dermaga itu seperti tersihir, matanya bagaikan api neraka menjilat tubuh orang munafik.
Kenanga menatap tajam, dia tidak merasa takut sedikitpun, justru dia merasa aneh. Entah apa yang dilihatnya, dia melihat bayangan setengah, agak kabur namun jelas terasa dalam kuduknya. 
Bayangan yang selalu ada di samping lelaki tersebut selama tiga hari pertemuannya, bayangan yang tak pernah disadarinya, namun sekarang dia melihatnya.
Namun, Kenanga tak berani berkata-kata. Dermaga, lelaki tiga hari itu, dia hanya tertunduk namun tidak menangis. Dia lamat menatap kopinya yang mengendap, lamat-lamat kedalam kopi, yang entah mengapa semakin berbau anyir.
Lelaki itu pun pergi, tanpa berucap pada Kenanga yang kembali berwajah datar. Yah datar, namun setidaknya dia akhirnya tahu nama kopi itu, sama.

Victoria Park

“Cepatlah!! Letakkan diujung pohon itu”.
“Apa yang telah aku lakukan!”
“Sudah jangan pikirkan, nanti saja. Sekarang urusan kita belum selesai, kau tidak akan bisa pulang ke negerimu sendiri jika kau macam-macam denganku!”
“Kau disini kerja, dasar babu!. Sekarang letakkan diujung pohon sana, atau aku akan berbuat nekat”
Ketakutan dihinggapi oleh seorang wanita berparas ayu berkulit kecoklatan, tangannya kasar seperti pejuang gerilya jaman Jendral Sudirman, dia membawa kotak berwarna coklat, tangisnya sudah tak berasa dan tak terlihat akibat tersapu hujan yang tak pernah berhenti.
Oh, lelaki berkulit putih itu masih terus berteriak-teriak, memaki-maki dan kali ini bersiap menjambak rambut. Namun wanita itu masih terus bertahan.
“Cepat letakkan, nanti pasti ada yang akan mengambil. Sudahlah ayo kita pergi!, cepat”
“Sebentar!!, aku hanya ingin ini!” ujar wanita itu dengan terisak.
Dibukanya kotak coklat itu dengan tangannya yang kasar dan basah, dengan tergesa wanita itu menulis sesuatu di selembar kertas putih yang sudah ia siapkan dari rumah tadi. 
Tulisan yang akan berarti bagi bayi mungil yang sedang tertidur lelap.
“Dermaga, ini namaku”
——————————————————–
Bagi para diaspora Indonesia, teruslah berjuang.
*Dimuat di Kompasiana, disini

[Di]alog

[Di]alog

Kopi hitam di meja itu tinggal tersisa setengahnya, di kiri kanannya sudah penuh terpapar butiran ampas hasil kecupan bibirku. Sonia masih saja telanjang di depanku dengan sebatang rokok cap ‘merah’ yang entah sudah batang keberapa dihisapnya.

“Akuilah, kamu sudah tidak muda lagi Jon, tidak ada rasanya”

Aku terdiam, sambil meraba kemaluanku yang sudah malu-malu kucing untuk muncul, memang benar apa katanya jadi sebaiknya aku diam.

“Huh, omongmu saja yang kuat, seakan dunia ini milikmu. Bahkan untuk mengakui kekuranganmu saja kau enggan!”

Aku berjalan ke arah jendela, kubuka lebar jendela itu, angin musim dingin segera menyeruak diantara kehangatan yang baru lima belas menit yang lalu kurasakan.

Ku hembuskan kretek ke luar jendela. Suara tokek sudah tidak ada, ah mungkin sudah tidur.
“Sepi sekali, bahkan binatang malam pun enggan bersuara karena melihat mukamu!

“Diamlah Sonia!, tugasmu hanyalah menurutiku, entah aku menipumu atau jujur padamu itu sama sekali bukan urusanmu!”

Aku berbalik mengambil scotch dengan es, entah walapun angin berhembus sangat dingin tapi tidak untuk kami berdua, bahkan Sonia masih saja belum berpakaian.

Namun tiba-tiba wajahnya memerah.

“Dasar pecundang, dulu kau campakkan bulan langsat itu dengan kolormu yang amis. lalu dengan cacing abal-abal kau dekati aku, lalu sekarang? Mana pedulimu, dasar cacing bangsat!. Apa kau tidak pernah belajar bagaimana cara menghargai manusia, hah?” matanya berair.

Aku masih terdiam, gerahamku naik turun. Sonia tahu itu tandaku jika sedang marah.

“Sudahlah akui saja kekalahanmu Jon, kau kalah dari aku, kau kalah dari si kurus itu, bahkan kau tak berani menatapku sekarang, kau..kau kalah Jon!!”

“Diam Sonia!” bentak aku.

“Kau tak tahu sudah berapa banyak yang aku keluarkan untuk di posisiku sekarang, berapa banyak hah?!”

“Oh ya, mana pernah kau tahu, karena kau hanya menerima uang ku, kau berdansa bersamaku, mabuk bersamaku, kemudian bercinta bersamaku dan ketika aku payah, kau menghujatku seakan aku bangsat pecundang!..Bahkan kau posting semua kebencianmu kepada teman-temanmu yang merasa tahu segalanya ketika persidanganku!!” Aku terus membetaknya.

“Memang kau pecundang, tak ada kata yang pantas lagi untukmu..!”

Aku kembali terdiam, gelas scotch ditanganku serasa batu panas yang siap ku lempar.

I don’t know how someone controlled you..

“Cuma satu hal yang bisa membuatku percaya kepadamu Jon” Sonia melembutkan ucapannya.
“Apa itu?”

“Nikahilah aku, cintailah aku seperti kau mencintai bulan langsat itu. Cintailah aku!, orang yang memilihmu Jon, tak peduli berapa uang yang kau keluarkan, aku hanya ingin kau pedu..”

“Kurang ajar!!..jangan bawa-bawa bulan langsat, kau hanya peduli uang ku, dan sekarang kau berkata begitu, haahh!!” Aku hilang kendali.

Seketika ku lempar gelas scotch kewajahnya, wajah yang mulus bagai keramik Cina. Tubuhnya terpelanting kebelakang, dahi sebelah kirinya mengucurkan darah segar berwarna ungu. Sonia terkapar, dia mati. Telanjang.

Gelas pecah berantakan.

I don’t know how you were diverted..

Aku mengatur nafas dan kembali terdiam. Ajaib, suara tokek kembali terdengar, kunang-kunang datang menggerayangi plafon luar jendela. Tiba-tiba aku merasa pusing, pusing sekali seperti diserang vertigo.

Sedetik kemudian aku teringat ucapan ibuku dahulu setiap ku merasa pusing seperti ini.

“Pergilah ke cermin, bicaralah”

Maka aku pun berlari kearah cermin besar di kamar ku yang luas, berharap mendapat jawaban.

“Siapa ak..”

Aku tercekat tak sempat bicara. Aku terpaku menatap cermin.

Tanpa sadar pelan-pelan tanganku meraih dahi sebelah kiri. Terasa basah, ku lihat tanganku.

Tanganku penuh darah..

Ya..Darah..

Darah berwarna ungu.

*Italic: “While My Guitar Gently Weeps” – The Beatles
_untuk para skizofrenia di senayan_