Ending “Avengers: Infinity War” yang Inspiratif

Terus terang saja, saya baru nonton film “Avengers: Infinity War” itu baru dua hari yang lalu. Memang terlambat, tapi seperti kata pepatah, “terlambat tak apa, asal bertanggung jawab”.

Bagaimana penilaian saya? Film itu biasa saja. Film yang konon di biayai hingga US$ 300 juta atau Rp 4,1 triliun dari awal hingga nyaris akhir film tak menampilkan hal yang berbeda. Film Avengers itu ya gitu-gitu aja. Jangan berharap kamu bakal menemukan plot twist atau kamu bakal mikir disitu.

Adegan baku hantam, tembak-tembakan hingga konspirasi batu akik pun menjadi adegan yang sangat mudah di tebak, tipikal film superhero. Tak menyesal saya nonton terlambat, bener deh.

Tapi ternyata saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Saya salah hingga di detik akhir film. Film ini ternyata mempunyai ending yang sangat inspiratif.

Bayangkan saja, Thanos yang begitu perkasa, wira-wiri planet sana-sini kayak pergi ke Indomaret, mengunjungi Galaksi tetangga kayak mampir ke warung kopi, sanggup menghancurkan dan menguasai setiap planet yang dia kunjungi, sesukanya.

Bahkan separuh dunia bisa dia musnahkan, tapi ternyata tujuan akhirnya hanya memilih pedesaan sebagai tempat beristirahat, cakruk, menikmati hijaunya sawah dan matahari terbenam sebagai backgroundnya, jian..epic tenan.

Saya jadi curiga, bahwa film ini disusupi kritik sosial dari Kementrian Desa Tertinggal, film ini mengandung pesan, bahwa sekuat apapun kamu, sesukses apapun kamu, sehebat apapun dirimu, ingatlah desa. Ingatlah dimana kamu memulai.

Janganlah desa harus terus menanggung ketimpangan sosial yang selama ini melanda negeri kita, desa perlu dibangun, tapi jangan dirusak. Alaminya harus tetap ada. Di desa, tempat semua kembali, tempat asal nasi, makanan pokok Indonesia.

Bahkan, secara explisit Thanos menyarankan agar kamu menumbuhkan kembali klompencapir ketimbang main AOV.

Ya, Thanos ternyata sangat Indonesia, gaya Thanos di akhir film sungguh Indonesia sekali, mirip Cak Har yang hobinya ngelinting daun jagung kering untuk kemudian ditaburi tembakau Kudus, di bakar dan dihisap perlahan.

So, jika kamu mulai lupa pada kampung halamanmu, ingatlah Thanos.

Advertisements

Rebutan Yang Manis-Manis

Tempo bulan lalu, saya berkesempatan pergi ke India, tepatnya di Kanpur, distrik Uttar Pradesh, 6 jam dari Delhi via darat. Jadwal sebetulnya hanya visit satu pabrik yang menyediakan peralatan pabrik gula. Bayangkan pabrik gula pun kita harus jauh ke India.

Padahal tebu konon paling subur tumbuh di Indonesia, tepatnya di Lampung, disana tebu memiliki nilai rendemen 8,34%. Artinya setiap 100 kg tebu bisa menghasilkan 8,34 kg gula.

Tapi di India, nilai rendemen mencapai 11%, di Thailand lebih gila lagi, nilai rendemen gula bisa mencapai 14%. Bukan kualitas tebunya, tapi teknologinya lebih optimal.

Indonesia sangat punya sumber daya, tapi tidak punya teknologi. India dan Thailand, punya keduanya. Tapi saya lebih memilih India, lebih murah.

Teknologi apa memangnya? Sabar, nanti saya cerita.

Jadwal saya itu bertepatan dengan Thai Pongal, atau festival panen hasil tani di India, baik beras maupun tebu.

Saya sendiri disuguhi Pongal, nasi campur susu yang wajib ada, dimasak hingga berbuih-buih sebagai rasa wujus rasa syukur. Enak? Jujur, gak doyan.

Selepas makan siang, saya kembali ke Delhi, naik mobil sewaan, 6 jam. Sengaja karena saya ingin melihat suasana perbukitan India. Sepanjang perjalanan si supir banyak cerita soal swasembada gula yang sedang gencar gila-gilaan.

Sejak awal, Narendra Modi sang Perdana Menteri sudah menitahkan setiap pabrik gula di India menggunakan sistem Cogeneration. Sampah tebu harus bisa menghasilkan listrik yang besar, listriknya di jual ke PLN-nya India, tetesnya jadi ethanol, ethanol dijual ke pabrik, jadi sabun, mentega dll.

Pendapatan pabrik gula meningkat. Pabrik gak perlu lagi cari untung besar dari gula. Gula menjadi murah, harganya cuma 16.13 rupee/kg atau setara 3400 rupiah per kg, tanpa subsidi, tanpa impor. Di Indonesia? 14 ribu rupiah per kg.

Si supir terus bercerita, tujuan selanjutnya: ekspor. Kemana target ekspor? Indonesia. Saya yang sedang makan kebab, keselek.

Memori saya menerawang ke-8 bulan yang lalu.

2017 akhir, Presiden menitahkan beberapa pabrik gula Indonesia melakukan hal yang sama, Pabrik gula jangan cuma jualan gula, tapi juga jualan listrik dan turunan gula / bioethanol. Pabrik gula juga harus bisa mengolah produk setengah jadi menjadi gula.

Saya pun bersemangat, proyek revit pabrik gula di pulau Jawa di tunda, alasannya belum mendukung Bioethanol, hanya meningkatkan kapasitas.

Medio 2018, dengan konsep yang diperbarui, proyek pun di jalankan kembali, tapi dengan syarat tambahan: Harus didukung technology provider.

Menarik, technology provider adalah perusahaan penyedia teknologi yang bisa menjamin teknologi yang dipakai sesuai harapan. Perusahaan tersebut tentu harus canggih, Indonesia punya banyak perusahaan yang mumpuni, aman.

Tapi ternyata saya salah, technology provider di tetapkan ada 3. Dua dari Thailand dan satu dari India. Dan masing-masing membawa jagoannya untuk cawe-cawe di Indonesia, Tidak ada satupun dari negeri sendiri.

Dari situlah, berujung saya harus berbagi cerita dengan supir taksi Tamil yang ramah ini.

Ternyata, yang manis-manis tidak selalu berasa manis..

Ngadio Dan Freeport

Suatu pagi saya berbincang dengan kawan di Surabaya, yang kebetulan sudah sepuh, umurnya sekitar 68 tahun. Namanya Ngadio.

Pak Ngadio sambil ditemani teh panas bercerita tentang lahan miliknya yang dipakai kawan lamanya, Marsudi untuk berjualan bebek bakar tanpa membayar sewa, bebek bakar ini cukup terkenal di Surabaya, tapi tak perlu saya sebut namanya.

Marsudi ini sudah sangat lama berjualan bebek bakar di lahan milik Ngadio, akibat Ngadio selalu ditekan oleh Istrinya, rupanya Marsudi ini adik Istrinya.

Lagipula Ngadio ini selalu bekerja di proyek, bisa lama tidak pulang kampung, sehingga asetnya terbengkalai.

Karena sudah tidak tahan, akhirnya Ngadio meng-ultimatum Istrinya agar urusan lahan itu kembali ke Ngadio, jika Marsudi ingin pakai, ya sewa. Rupanya selama ini Marsudi sewa, hanya dalam rupiah yang sangat kecil, bayarnya ke Istri Ngadio.

Oleh Ngadio, jumlah uang sewa ini sangat tidak masuk akal, masak cuma satu juta per bulan, padahal omzet Marsudi ini sudah ratusan juta per bulan.

Akhirnya Ngadio memberanikan diri bicara ke Marsudi, dia ingin asetnya tidak dipakai begitu saja, naikkan uang sewa 5x lipat atau angkat kaki. Tapi rupanya Marsudi ini pedagang yang lihai.

Dia menawarkan, kenapa tidak beli saja sekalian dagangan bebeknya, sekalian aset jualan bebeknya? Kita bagi hasil. Ngadio berpikir, boleh juga, asal 90% adalah miliknya. Marsudi enggan, dan belum di dapat titik temu.

Saya bertanya ke Ngadio, apa motivasi dia hingga ngotot begitu? Padahal dengan ongkang-ongkang kaki pun dia bisa dapat pemasukan. Alasannya adalah harga diri.

Menggunakan lapak orang lain dan mendapat keuntungan dengan retribusi minim itu adalah zholim. Dan mencoreng harga dirinya karena Marsudi menurut dia mulai seenaknya. Bahkan ingin membuat surat hibah lahan. Keterlaluan.

Ngadio membuat statement, dia akan berusaha, hak-nya adalah hak-nya.

Soal harga diri, di pagi yang lain, saya berdebat dengan kawan saya yang lain di Jakarta, soal Freeport.

Saya diberondong soal persentasi Rio Tinto dan Inalum, dan segala tetek bengeknya. Bukan saya tak tahu semua arti persentase itu, alterego saya adalah analis. Tapi ini soal lain.

Saya ceritakan perlahan cerita Ngadio ke teman saya, jika Ngadio saja punya harga diri untuk mengambil hak-nya, dengan tertatih-tatih bahkan mungkin akan berurusan dengan pengadilan.

Lha kita selama puluhan tahun hanya bisa menerima sebagian kecil dari emas kita di sana, kita menonton, yang lain sibuk demo, masih untung warga kita bisa jadi buruh disana.

Mana harga diri kita? Apa hanya sebatas demo? Dan ketika ada Ngadio-Ngadio lain yang ingin Freeport setidaknya kembali ke Indonesia, malah di bombardir dengan ke-sok-tahuan soal persentase saham.

Ya, teman saya yang pandai itu saya tunjuk sebagai orang yang sok tahu, ikut pembahasan Freeport saja tidak, cuma copas tulisan whatsapp grup.

Andaikan Freeport diperpanjang tanpa ada usaha seperti ini, apa yang akan anda katakan? Toh MOU perpanjangan di tandatangani oleh Presiden sebelumnya, dan sebelumnya lagi, tanpa pernah bernego gono-gini.

Wajahnya merah, tapi saya cuek, toh saya hanya ingin cerita Ngadio, bukan yang lain. Semangatnya, semangat untuk mengambil hak-nya.

Sebuah kisah tidak akan pernah sempurna, tidak pernah menyenangkan dan mengenyangkan semua pihak, tapi setidaknya Ngadio saat ini bisa membuka mata saya.

Ah, saya ingin ngeteh lagi bersamanya, tapi kali ini kopi.