Cerpen

Mama, Izinkan Aku Berhijab

jilbab-dailylife-com

Di siang itu, Dini sedang mematut-matutkan wajah di cermin besar ruang tengah rumah, hanya ada dia dan ibunda yang ada dirumah saat itu. Tangannya sigap merapikan, membelit dan mengikat jilbab ungu yang baru dibelinya.

“Mamaa…aku cantik gaak?” Dini berputar dari cermin dengan wajah ceria, maklum baru beberapa hari ini dia mantap memakai hijab.

Sang mama hanya terdiam. Continue reading “Mama, Izinkan Aku Berhijab”

Advertisements
Cerpen

Kisah Sahabat dan Domba Gemuk

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang sahabat yang baik hatinya namun sangat lugu. Pada suatu hari sahabat tersebut berhasil mendapatkan hadiah seekor domba gemuk dari Bupati karena memenangkan sayembara, sahabat tersebut sangat senang menggendong domba tersebut kembali ke rumahnya.

Diperjalanan, sahabat yang baik hatinya tersebut bertemu dengan seorang kawan, dengan wajah cerah si sahabat memamerkan domba gemuknya.

sheperd

“Hey lihat lah domba gemuk ku ini, hadiah dari Bupati, kau pasti iri kan?..hehehe”

“Domba apanya wahai kawan ku yang lugu?, kau telah ditipu Bupati itu, lihatlah, kau membawa seekor anjing buduk” Ujar kawan tadi.

“Ah, kau, bilang saja kau iri..sudah lah aku ingin pulang dan memasak domba ini untuk makan malam” Balas si sahabat sambil berlalu menuju rumahnya.

Sampai di perempatan jalan, si sahabat bertemu lagi dengan tetangganya, si tetangga tiba-tiba berkata.

“Apa yang kau bawa itu kawan? Mengapa kau menggendong anjing, itu haram!”

Sahabat pun terkejut, dan membantah,

“Bukan, ini adalah domba pemberian Bupati, lihatlah bulu lebatnya ini”

“Ah, dasar mabok kau, percaya padaku, itu anjing, kau di bohongi” Ujar si tetangga sambil berlalu.

Sahabat pun bingung, dua orang sudah berkata hal yang sama. Jangan-jangan memang dia yang sedang mabuk. Ah, tapi dia merasa tidak meminum apapun tadi malam. Sambil bingung, sahabat tersebut melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

Hingga tinggal 10 langkah menuju rumahnya, sahabat tadi berpapasan dengan seorang tukang potong hewan. Dari jauh tukang hewan tersebut sudah menunjukkan wajah kaget, dan begitu berpapasan dia berteriak..

“Hey!! Untuk apa anjing buduk kau gendong seperti itu, ih aku saja jijik melihatnya, lihatlah itu anjing!”

“Hah, bukan! ini domba kawan, aku ingin memasa..”

“Domba dari mana? Kau gila ya, ah tentu kau sedang banyak pikiran, atau kau mabuk? Hey aku puluhan tahun bekerja dengan binatang, tak mungkin aku salah. Jelas kau sedang mabuk kawan ku yang baik”

“Aku hanya ingin mengingatkan, jika anjing itu kau masak, tentulah kau akan mendapat dosa, sudah ya, aku banyak urusan” Sambung si tukang potong hewan tadi sambil berlalu.

Mendapati tiga orang berkata bahwa binatang itu anjing, si sahabat mulai terasa sangat bimbang, dia pun berpikir.

“Ah mungkin saja aku memang mabuk, mana ada orang mabuk sadar bahwa dia mabuk dan ingat kapan ia minum? Tak mungkin seorang tukang potong hewan salah melihat hewan, apalagi antara domba dan anjing” Pikirnya.

Sang sahabat pun bingung dan melihat kembali domba yang digendongnya, domba..anjing…domba…anjing..dom…anjing, otaknya pun berputar dan akhirnya..

“Ya, tak mungkin tiga orang tadi mabuk semua, mereka tidak bersamaan dan aku bertemu di jalan..mungkin aku memang salah, bupati tadi yang menipuku”

Dengan lesu, dilepaslah domba tadi dari gendongannya, domba pun meloncat dengan lincah dan langsung berlari menjauh, masuk ke semak-semak dan menghilang dari pandangan si sahabat.

Sahabat pun berjalan lunglai ke rumahnya, sambil menahan emosi kepada sang Bupati yang dikira telah menipunya. Sampai dirumah si sahabat pun tertidur dengan perut lapar.

***

Dilain tempat,  tiga orang sedang tertidur kekenyangan di depan perapian, tepat di depannya tergantung tulang belulang domba gemuk yang habis di santap, domba bakar yang nikmat. Ketiga orang itu adalah si kawan, tetangga dan tukang potong hewan lengkap dengan pisau dagingnya..

***

Moral:

Kebohongan, konspirasi dan isu yang disampaikan berulang-ulang pada akhirnya menjadi kebenaran dan dipercaya. Begitulah cara hoax menyebar..dan menang..

“Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran.”

Joseph Goebbelz

Cerpen

Cerpen: Corong Hitam Di Halaman

“Istirahatlah sejenak, wajahmu lelah, perjuanganmu masih sangat panjang”

Corong hitam itu sudah disiapkan, di atas panggung kotak segiempat yang luas, bahkan cukup luas untuk memotong lima ekor sapi sebagai korban Idhul Adha yang dagingnya diobral cuma-cuma, kadang dapat, kadang malah ikut menjadi korban. Jauh lebih luas dari panggung dangdut mesum abal-abal di kampung yang biasa digunakan para tikus untuk berorasi norak. Posisinya tinggi, ditopang dengan besi kokoh ringan mengkilat di ujungnya dan ditutup kain hitam menjulang-julang di atas kepala, menutupi semburat teriknya matahari di siang itu.

Aku tak tahu lagi berapa butir peluh yang harus kularang keluar untuk sebuah pertemuan yang akan menggonjangkan imajiku ini. Jangankan peluh yang kularang keluar, bahkan oksigenku sebisa mungkin kutahan agar tidak menguap, karena mencarinya lagi sungguh sulit di tengah pasukan hedonis yang entah sudah berapa kali kulihat seperti tak pernah kehabisan energi mudanya.

Sungguh aku tak muda lagi, bahkan aku tak ingat kapan aku muda. Corong hitam itu, itulah pengingatku satu-satunya. Corong yang selalu menjadi sandera bagiku, kakak, adik dan tentunya ibuku, corong hitam yang selalu lihai menutup celah kotak pandora, kotak merah berlapis emas. Kotak yang dibuka berpuluh tahun yang lalu dan tak bisa ditutup kembali.

“Cang kacang panjang… yang panjang jagaaa… hayoo.”

“Hayoo Pras, kamu jaga,” kata Ulik, teman SD-ku. Ah, sial pikirku.

“Oke ya… satu… dua… tiga….” Kami bermain petak umpet, dan aku mendapat giliran jaga, pekerjaan paling sial di dunia menurutku.

Ah, sungguh malas aku mencari teman-temanku yang rata-rata berbadan ramping itu, sedangkan aku sendiri gemuk seperti babi panggang, ini membuat aku kesulitan mencari satu demi satu mereka yang raib lewat fantasinya. Ke sana kemari aku mencari namun tak juga kutemukan mereka.

Nah, kenyataan kan? Sekarang sudah hampir setengah jam bahkan tak ada nampak sedikit pun batang hidungnya. Ulik, Syam, Mina, Baqar… di mana mereka? Ah..Aku seperti dikerjai.

“Hoi… di mana kaliaaan?” teriakku dengan tidak sabar.

Aku menengok kiri dan kanan. Di depan sana, daun-daun tebu di depan sekolah kami nampak menari dan berdendang dengan alunan macapat yang lembut, disinden oleh angin yang paham ke mana tujuannya. Gemerisiknya menghibur negeri ini yang baru saja diterpa musibah. Seperti ingin berpesan, “Istirahatlah sejenak, wajahmu lelah, perjuanganmu masih sangat panjang”.

Seperti tersadar dari sirep sinden tebu, aku kembali mencari teman-temanku yang entah dimana. Namun tiba-tiba dari ujung ladang, terlihat seorang wanita muda berlari kencang ke arahku. Rambutnya digelung, kakinya jenjang. Sosok itu semakin lama semain mendekat, aku sangat familiar dengan wajahnya, Mbak Yum! Peluhnya terlihat mengucur dari dahinya yang kecoklatan.

“Pras, ayo kita pulang! Kita harus pulang Pras! Gawat kamu dicari Ibu,” teriak Mbak Yum.

“Ayo pulang, teman-temanmu sudah pulang semua!” kejarnya dengan wajah pasi seperti mumi yang baru jadi.

Hanya itu kata-kata yang bisa kuingat dari Mbak Yum, kakak pertamaku. Karena setelah itu Mbak Yum menarik lenganku dengan kuat untuk mengikutinya melewati pinggiran ladang tebu.

Jalan yang kulalui dengan Mbak Yum adalah jalan setapak yang berseberangan dengan jalan besar desa yang dipisah dengan ladang. Dari situ setiap berangkat sekolah aku bisa melihat dengan jelas orang yang berlalu lalang di jalan desa tersebut.

Namun kali ini tak biasa, bukan orang lalu lalang yang kulihat, namun aku melihat rentetan orang berduyun-duyun seperti habis lelayu, mereka ada yang bersarung, berpeci, bersinglet, berseragam dan banyak lagi. Mereka memang masing-masing berbeda, tapi yang kupahami kesamaannya ialah mereka berjalan seperti orang yang kesetanan. Mereka membawa celurit, parang, pedang, pisau masak, palu dan entah apalagi.

Aku dan Mbak Yum tentu saja kaget. Mbak Yum mempercepat langkahnya. Terseok-seok aku mengikutinya karena pandangan mataku tak bisa lepas dari mereka. Sekali aku sempat terjatuh dan itu ternyata tidak memperlambat langkah Mbak Yum. Mbak Yum jelas sedang berlomba dengan kerumunan itu.

Wajahnya panik dan semakin pasi membuat aku tak kuasa untuk berbicara. Hatiku berdebar dan semakin berdebar ketika tahu bahwa arah yang mereka tuju sama dengan arah tujuan kami. Rumah Bapak.

“Mana Kang Bahar? Bawa Kang Bahar ke sini!” teriak Man Kosim dengan corong hitam di depan rumah kami.

Aku dan Mbak Yum yang datang dari belakang berjalan mengendap. Degup jantungku semakin bertambah tak karuan mendengar teriakan Man Kosim. Setahuku dulu, Man Kosim adalah teman sepermainan Bapak dari kecil yang sudah mendarah daging di kampung ini. Jangankan sekedar tingwe, beras saja pernah minta ke rumah.

Tapi sekarang entah ada apa, apa salah Bapak sehingga dicari orang sekampung begini. Bahkan Man Kosim seakan jadi biang keladinya.

Seingatku baru kemarin Bik Jinem istri Man Kosim ke rumah meminjam beras karena mengeluh harga tebu hancur semenjak kejadian akbar di Ibu Kota sehingga hampir satu minggu tidak ada pemasukan. Ibuku yang berhati seteduh beringin di alun-alun, selalu membuka tangannya kepada siapa pun, apalagi Bik Jinem.

Aku dan Mbak Yum perlahan memasuki rumah yang mungil berlantai tanah. Bapak terlihat khusyuk di ruang tengah membaca doa-doa yang entah doa apa sudah tak terdengar karena rentetan teriakan saat ini bukan hanya dari Man Kosim, tapi juga beberapa pria kampung.

Aku sekilas menengok ke luar. Ternyata bukan hanya orang-orang bersarung dan berpeci, tapi juga ada beberapa pria berpakaian coklat. Namun para pria berpakaian coklat itu tak berteriak-teriak, mereka hanya menghisap kretek di belakang orang-orang kampung, seakan cuek tak peduli.

Bapak mencoba keluar rumah sambil terus merapal doa. Namun, sampai di ruang tengah Ibu tiba-tiba merunduk memegangi kaki Bapak dan menahan untuk tidak keluar rumah sambil menangis. Bapak tetap bersikeras untuk keluar dan menarik tangan ibu dari kakinya.

Ibu dengan terseret-seret terus menahan kaki Bapak, derai airmatanya sudah tak bisa dilukiskan, bahkan aku yakin Dewa Ra pun tak akan mampu membendung dengan cahayanya. Demikian juga Mbak Yum yang mengikuti Ibu. Namun Bapak dengan yakin berkata bahwa dia tidak terlibat apa pun. Entah apa maksudnya.

Melihat Bapak keluar, Man Kosim dengan ganas langsung menunjuk Bapak dengan parang yang dibawanya. Parang berukir bulan sabit yang aku tak akan pernah lupa.

“Ini dia, ini orangnya… ayo bawa dia, ikat, tali lehernya!” teriaknya kesurupan.

“Kosim, apa-apan kamu ini? Aku ndak pernah ikut-ikut begitu?” ucap Bapak kepada Man Kosim.

“Bohong Kang, kemarin saya lihat dia mengajari anak-anak surau lagu komunis” Teriak entah siapa dari belakang, diikuti oleh sorak warga lainnya..

“Pancung… pancung….pancung!”

“Lagu opo? ojo ngawur kowe kang!” ucap Bapak semakin berani. Di titik itu aku yakin bahwa Bapak tidak bersalah. Matanya mengisyaratkan itu, ya pasti.

Padha tuku nggawa welasah… itu yang aku dengar kemarin, sudah gak salah lagi” Ucap orang tadi, yang ternyata tak berpeci dan tak bersarung.

“Ndak usah mengelak kamu Kang, ayoo pancung!” Seru yang lain menghakimi. Teriakan demi teriakan terus bersautan bersaing dengan raung tangis Ibu memohon welas asih, entah welas asih manusia, iblis ataupun Tuhan.

Bapak tampak kebingungan, hingga satu gerakan tiba-tiba dari Man Kosim membuat kami kaget. Man Kosim berusaha memelinting tangan Bapak dan menjegal untuk membuat Bapak bertekuk lutut. Namun, Bapak dengan gesit masih bisa mengelak dan menjatuhkan balik tubuh Man Kosim.

Pemandangan itu membuat kami sedikit lega. Namun, sedetik kemudian keadaan berbalik, Man Kosim bangkit dengan cepat dan menyambar parang yang tercantol di pinggangnya, tangannya berkelebat menyabet secepat kilat ke arah leher Bapak.

Aku tercekat, Bapak tak sempat mengelak. Darah segar mengucur deras dari leher. Aku tak tahu lanjutannya karena Mbak Yum dengan kasar menutup mataku. Dia berteriak-teriak histeris seperti orang gila, sedangkan suara Ibu sudah tak terdengar lagi. Aku berontak, berusaha mengitip kejadian dari celah jemari Mbak Yum dan..aku begitu menyesal sudah berusaha mengintip, kepala bapak sudah tidak ada.

Diriku pun hilang, gelap ditelan sorakan para setan yang berpesta.

***

Yang aku ingat, aku terbangun dirumah pakde Sarkimun, kakak dari ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah kami. Pakde ini orang yang sangat baik namun juga tak bisa berbuat banyak lantaran takut, ya semua orang tampak ketakutan, ketakutan yang berkepanjangan, bahkan hingga aku lulus sekolah kejuruan.

Tak kuat dengan tekanan, setelah kejadian itu akhirnya kami sekeluarga pindah ke Tulungagung, ditampung di rumah paman yang berbaik hati. Ibu yang berhati teduh kini tak pernah berbicara lagi, beringin itu sudah tumbang dan tak bisa tumbuh kembali, pandangan matanya kosong bahkan hingga akhir hayatnya tak lama setelah Mbak Yum menikah.

Sebulan sebelum kepergian kami ke Tulungagung, aku baru tahu kalau tanah perkebunan Bapak sudah diambil alih, entah oleh siapa. Tanpa negosiasi. Kejadian yang menenggelamkan bahtera kehidupan kami, semua habis tak berbekas. Habis, kecuali sebuah corong hitam yang tertinggal di halaman. Milik Man Kosim.

Sekarang, 47 tahun kemudian, aku di sini, berkeringat dan bernafas di tengah kerumunan para manusia pendamba perubahan. Kerumunan manusia yang kecil, lemah namun sesak bergairah, mirip sperma.

Kami menunggu sebuah sosok yang kami bahkan belum tahu apakah dia bisa menggunakan corong hitam di atas panggung tersebut. Apakah corong hitam tersebut akan digunakan sebagai abdi kebaikan atau sebaliknya, abdi setan yang dulu pernah kurasakan.

“Pak Prasodjo?” ujar seorang anak muda berkacamata gaul masa kini, menyapaku di tengah riuhnya suasana.

“Ya”

“Alhamdulillah, sudah lama saya mencari Bapak dan pagi tadi saya mencari Bapak ke rumah, tapi kata Ibu, Bapak sedang di sini. Kebetulan saya memang ingin kesini bergabung dan rupanya bertemu Bapak. Saya beruntung sekali”.

“Oh ya, ada apa ya?”

“Begini pak  Prasodjo, saya cuma mau kasih ini.”

Pemuda itu memberikan amplop ukuran cukup besar dengan tersenyum getir. Aku acuh sambil kembali mengamati kerumunan anak muda yang siap berpesta demokrasi. Tapi, anak muda ini masih juga berdiri disini..Ah..rupanya dia menungguku untuk membukanya. Sadar diperhatikan, anak muda itu mengalihkan pandangannya.

Perlahan kubuka amplop berwarna coklat tersebut sambil jantung tiba-tiba berdebar entah mengapa.

“Hah? Sertifikat tanah? Bahar Pranowo?” Ujarku sambil melongo.

“Iya, pak”

“Siapa kamu?”

“Saya Drajat, cucu mbah Kosim”

***

 

Dimuat di headline Kompasiana, disini

Cerpen · Fiksi

Hujan di Victoria Park

https://thekusumo.blogspot.com

Dengan berwajah datar, wanita itu masuk ke sebuah café di pojok kota yang tampak lelah, di sore selepas bercinta dengan nasib. 7th Avenue St Manhattan, terpampang jelas di depan café. Hanya dengan melihat wajahnya, sang barista dengan sigap langsung tahu apa yang harus dia lakukan, secangkir Flat White.

“With two pieces brown sugar, right?”

“Yes, please”

Flat White, kopi yang puitis, jenis kopi yang selalu menggelegak dalam penatnya, kadang membuatnya tertawa, kadang membuatnya beraroma penguk dalam hilir mudik kota, kadang membuatnya hanya ingin muntah, ya hanya ingin muntah. 
Wajar saja, historis kota ini sudah dihapalnya dengan baik, dan itu tidak ada yang membuatnya merasa normal, kadang memang harus gila mungkin. Tapi toh aku hidup, begitu pikirnya, jadi lebih baik di muntahkan saja.
Tapi kali ini, dia tak lagi berwajah datar, sahut teman sang barista. Lihatlah, ketika tadi masuk, dia berwajah datar, sedatar nama kopinya, tapi lihatlah sekarang, dia bagai awan kelabu tercoreng garis pelangi, seperti mendung tersirap surya.
Ah, pikir sang barista. Eh, tapi benar juga.
Flat White?” Tanya sang lelaki yang dihadapnya.
“Ya, betul, darimana kau tahu?” ujar Kenanga.
“Kau cemburu ya?”
“Hah, aku mati rasa!”
“Tak, kau cemburu, karena aku tahu nama kopimu padahal aku belum tahu namamu”
Setan!, lebih baik kuhirup cocktail bersama temanku tadi daripada aku berhadapan dengan dia, lelaki itu, pikirnya. Sudah tiga hari Kenanga bersamanya di setiap sore. 
Kemarin lusa, lelaki itu hanya berbicara soal indahnya Victoria Park, kemarin, giliran Kenanga yang bercerita soal masa lalunya di pengasingan, dan juga cerita yang sama dari lelaki berambut ikal itu.
Tiga hari, tanpa pernah memperkenalkan diri satu sama lain, entahlah mungkin esensi dunia modern yang rumit sehingga apalah arti nama jika masih bisa bercerita dan tentunya bercinta.
Lelaki itu menyuruput kopinya yang entah mengapa berbau anyir.
“Kau tahu, aku ingin..”
“Aku tahu, kau ingin ke Victoria Park kan?” Potong Kenanga.
Namun sedetik kemudian, Kenanga tiba-tiba merasa kikuk, dia merasa tak enak telah memotong ucapan lelaki itu, karena lelaki itu mengucap “Victoria” bagai mantra dukun minta hujan, diucapkan perlahan, khusyuk, dengan kecupan bibir dan mata terpejam.
Dua hari, tak ada kalimat lain selain Victoria Park. Lelaki yang absurd, tapi mengasyikkan, selama tiga hari ini dia merasa mendapat teman untuk mengarungi keabsurdan imajinya.
“Sudah tiga hari kita bertemu, tapi kau selalu berucap demikian” ujar Kenanga.
“Apakah kau pernah ke Victoria Park?”
“Belum, aku hanya melihatnya di tumpukan email-email kosong di kandang kecoa” jawab sang lelaki.
“Ah, taman yang begitu apik, begitu rindang, luas, bahkan jiwaku rela oncat dari raga untuk menyusuri setiap lekukannnya”
“Tapi.. ketahuilah, aku bahkan sudah mencium baunya!, aku rasakan rintihan anginnya, semerbak wanginya, aku kalbukan pikiranku..”
“Dan mungkin, disana bersemayam arwahku yang sekarang ini. Mungkin” ujar lelaki itu lirih.
Bicaralah terus, bicaralah. Kau membuatku melayang wahai Dermaga. Lihatlah, aku bahkan tahu namamu sebelum aku tahu nama kopimu yang anyir.
Bicaralah, kau betul-betul membuatku basah. Pikir Kenanga sambil menggeliat.
“Karena itu, aku ingin ke Victoria Park”
“Pergilah Dermaga, apa yang sulit bagimu jika hanya ke Victoria Park, bahkan ke ujung dunia pun kau sanggup. Victoria Park hanya masalah kecil buatmu”
Cangkir kopi itu tiba-tiba miring, tangannya mengepal, lelaki itu seperti kehilangan kendali. Pemandangan yang tak biasanya karena selama dua hari yang lalu lelaki ini begitu tenang.
“Hanya?..hanya?..Kau pikir “hanya”?! itukah hasil pendidikan modern mu selama ini, mencetak pemikiran instant, tanpa perasaan. Pertemuan sejak kemarin, ceritaku soal Victoria Park, lalu kau anggap dengan “Hanya”?” spontan lelaki bernama Dermaga itu seperti tersihir, matanya bagaikan api neraka menjilat tubuh orang munafik.
Kenanga menatap tajam, dia tidak merasa takut sedikitpun, justru dia merasa aneh. Entah apa yang dilihatnya, dia melihat bayangan setengah, agak kabur namun jelas terasa dalam kuduknya. 
Bayangan yang selalu ada di samping lelaki tersebut selama tiga hari pertemuannya, bayangan yang tak pernah disadarinya, namun sekarang dia melihatnya.
Namun, Kenanga tak berani berkata-kata. Dermaga, lelaki tiga hari itu, dia hanya tertunduk namun tidak menangis. Dia lamat menatap kopinya yang mengendap, lamat-lamat kedalam kopi, yang entah mengapa semakin berbau anyir.
Lelaki itu pun pergi, tanpa berucap pada Kenanga yang kembali berwajah datar. Yah datar, namun setidaknya dia akhirnya tahu nama kopi itu, sama.

Victoria Park

“Cepatlah!! Letakkan diujung pohon itu”.
“Apa yang telah aku lakukan!”
“Sudah jangan pikirkan, nanti saja. Sekarang urusan kita belum selesai, kau tidak akan bisa pulang ke negerimu sendiri jika kau macam-macam denganku!”
“Kau disini kerja, dasar babu!. Sekarang letakkan diujung pohon sana, atau aku akan berbuat nekat”
Ketakutan dihinggapi oleh seorang wanita berparas ayu berkulit kecoklatan, tangannya kasar seperti pejuang gerilya jaman Jendral Sudirman, dia membawa kotak berwarna coklat, tangisnya sudah tak berasa dan tak terlihat akibat tersapu hujan yang tak pernah berhenti.
Oh, lelaki berkulit putih itu masih terus berteriak-teriak, memaki-maki dan kali ini bersiap menjambak rambut. Namun wanita itu masih terus bertahan.
“Cepat letakkan, nanti pasti ada yang akan mengambil. Sudahlah ayo kita pergi!, cepat”
“Sebentar!!, aku hanya ingin ini!” ujar wanita itu dengan terisak.
Dibukanya kotak coklat itu dengan tangannya yang kasar dan basah, dengan tergesa wanita itu menulis sesuatu di selembar kertas putih yang sudah ia siapkan dari rumah tadi. 
Tulisan yang akan berarti bagi bayi mungil yang sedang tertidur lelap.
“Dermaga, ini namaku”
——————————————————–
Bagi para diaspora Indonesia, teruslah berjuang.
*Dimuat di Kompasiana, disini
Cerpen

Jejak Sang Panglima: Tawang Gapuraning Ngesti Tunggal

Awan kelabu gelap nampak menggelayut di cakrawala, sudah seminggu belakangan matahari seakan sudah lupa bersinar, berganti dengan hujan yang silih berganti dengan mendung.
 
Udara dingin memberangus siapa pun untuk menggigil. Jika begini, bisa apes nasib padi-padi yang baru satu minggu di tanam, begitu pikir seorang lelaki tua sederhana dengan cangkul di pundaknya.
 
Ia pun duduk di bilik bale-bale yang dibangun bersama temannya sesama petani, teman petaninya yang memiliki perawakan lebih tua dan berjenggot putih sudah duduk menunggunya dari tadi dengan raut wajah yang seperti mengisyaratkan sesuatu. 
 
Kadiman, si teman petani tadi mulai mengambil serpihan daun tembakau dan menaburkannya pada selembar daun jagung, kemudian membakarnya dengan korek api merek Wang Khuang yang cukup melegenda.
 
Kepulan asap tipis dari tingwe yang dihisapnya betul-betul mengundang selera dan biasanya, setelah hati dan pikiran sudah cukup tenang mereka akan mulai berbicara dan tertawa tentang apa saja, terutama masa muda mereka. Namun kali ini sepertinya tidak.
 
“Kau tahu dua hari lagi kita akan berganti tahun?”
 
“Ya, aku tahu itu, tapi apa artinya buat kita man. Sama saja, yang paling kupikirkan sekarang adalah tidak adanya matahari muncul dari langit, sudah tujuh hari sejak kita menanam benih. Bisa hancur panen kita nanti”
 
Setelah berkata demikian, detik itu juga bulu kuduk mereka tiba-tiba berdesir disirep udara dingin, udara yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Kedua petani tua itu termasuk golongan tua waskita, yang selalu tanggap terhadap perubahan udara, angin dan tanda langit, seperti itu juga yang terjadi pada saat itu.
 
“Apa kau merasakannya?”
 
“Ya, aku merasakan..dingin sekali..seperti ada yang ingin menyabut nyawa”
 
“Aku bukan hanya merasakan angin, tapi juga langit, perhatikan..dari semua gerundelanmu tentang matahari, mungkin ini pertanda, itu seperti wangsit. Mereka berbicara Kedah..”
 
Yang diajak bicara hanya diam, Kedah memejamkan mata, tekun dalam aktifitasnya membaca tanda alam.
 
Awan semakin gelap, padahal hari belum juga teramat sore, sebetulnya masih waktunya bagi mereka untuk kembali bekerja. Tapi hati mereka terasa lain di hari itu, hari dimana banyak sekali burung gagak pemakan bangkai terbang melintas desa Bajulan. 
 
Desa yang tentram dan damai, desa yang terletak di lereng Gunung Wilis 15 kilometer ke arah selatan kota Nganjuk, Jawa Timur. Desa dengan pemandangan indah yang sangat jarang terjamah oleh pertanda buruk.
 
Kadiman ingat kapan terakhir dia sowan ke Roro Kuning, air terjun yang merupakan gabungan dari tiga air terjun yang bersumber dari Gunung Wilis.
 
Disitu Kadiman setiap sebulan sekali laku tapa demi menjaga desa Bajulan dari hal-hal buruk, namun sudah dua bulan belakangan dia melewatkan laku tapa tersebut karena sakit. Apa jangan-jangan karena itu sehingga roh Dewi Sekartaji marah?
 
Kadiman pun melonjak ketika mengingatnya dan bersiap segera menuju air terjun tersebut sebelum dicegah oleh Kedah, Kedah menarik lengan Kadiman.
 
“Tunggu dulu, lihat itu!” kata Kedah sambil menunjuk ke timur pematang sawah.
 
Dari ujung timur, dua pesawat tempur B-25 Mitchell dan P-15 Mustang seketika melesat dengan cepat diangkasa, sulit diikuti kecepatannya dengan kecepatan mata, seakan berlomba mana yang paling cepat. 
 
Dengan riuh dua pesawat tempur itu bergerak ke arah barat meninggalkan asap berekor panjang yang indah di langit Bajulan. Kadiman dan Kedah dengan gerakan cepat langsung berlindung di bawah bale-bale sawah, takut jika tiba-tiba pesawat menabrak mereka.
 
“Apa itu tadi Dah?” tanya Kadiman dengan wajah ketakutan.
 
“Aku juga tidak tahu, kalau aku tahu aku tidak ketakutan begini, ayo lekas kita pulang!” seru Kedah.
 
Kedah dan Kadiman lantas berlari pulang kerumahnya masing-masing, masih dengan wajah penuh tanda tanya dan ketakutan mereka berlari menyusuri pematang. Kadiman sudah lupa dengan rencana mandinya namun Kedah justru teringat dengan…
 
Det..det..det..det…suara seperti petasan yang suka di pasang oleh anak-anak desa sepulang mengaji tiba-tiba terdengar berentet dibelakang mereka membelah langit sore yang gelap, bersamaan dengan deru gemuruh suara dua pesawat, deru tersebut agak jauh tapi suara tembakannya terdengar hingga masuk ke otak. 
 
Kedah dan Kadiman segera menambah kecepatan berlari sambil mencium bau asap terbakar, hingga akhirnya deru pesawat hilang sepenuhnya dari telinga mereka.
 
Sambil terengah-engah, Kedah memeriksa kondisi keadaan, kondisinya yang sudah tua membuat dirinya tak kuat lagi berlari. Setelah dipastikan aman, mereka meneruskan pulang ke rumahnya yang terletak di dataran yang lebih tinggi sambil tetap waspada.
 
Sampai dirumah, Kedah langsung mencari anak angkatnya, Jirah. Jirah sedang memasak ketika melihat bapaknya masuk sambil terengah-engah, buru-buru dia membuatkan teh hangat dengan daun jeruk. Namun, belum sempat Kedah bercerita tentang apa yang terjadi, pintu rumah mereka diketuk dengan lembut.
 
Kedah tak sempat pula menyeruput tehnya dan langsung membuka pintu. Di balik pintu terlihat sosok pemuda kurus berpakaian coklat dengan topi sedikit miring, di lengannya tergantung satu buah bedil yang siap sedia jika ada perampok atau musuh. Namun orang tersebut tersenyum kepadanya.
 
Panjenengan siapa ya?” tanya Kedah.
 
“Saya Parjo, Suparjo..kami ingin menumpang dirumah ini”.
 
****
 
“Aduh, tahun baru kita ngenes bon” ujar Cipto sambil melilitkan rotan di kursi coklat tua.
 
“Tentara tidak mengenal tahun baru, kalau wanita baru mungkin iya ha ha ha” ujar seorang yang dipanggil Babon lantaran badannya yang besar.
 
“Aku juga tahu bon, tapi sebelum aku berangkat, anak perempuanku, Galuh merengek minta dibelikan mainan nanti pas tahun baru, entah darimana dia kenal istilah tahun baru sedangkan aku saja, setua ini baru ini mengenal tahun baru”
 
“Tapi tak mungkin rasanya aku pulang, perjuangan masih sangat jauh kan Bon” sambung Cipto sambil mulai mengikat kain tandu diatas kursi. Babon pun mengangguk takzim.
 
Tak biasanya, kali ini Sanusi yang bertugas sebagai medis diperintahkan berkunjung kerumah warga satu demi satu untuk mengabarkan bahwa panglima akan meninggalkan Karangnongko sebentar lagi, termasuk juga ke Kepala Adat untuk meminta doa. 
 
Serta-merta warga yang takjub dan tak menyangka seorang panglima berada di desanya pun berduyun-duyun kerumah Mustajab, ada yang membawa pisang tanduk, nangka matang, ubi dan beberapa singkong sebagai perbekalan pasukan.
 
Mustajab Gombloh si pemilik rumah pun kegirangan, beberapa makanan pasti akan ditinggal dirumahnya sehingga Mustajab berpikir mungkin seminggu tidak usah belanja dan bekerja karena makanan sudah ada.
 
Namun, dibalik itu, Mustajab sungguh tidak menyadari adanya sepasang mata yang terus mengawasi rumahnya semenjak berkumpulnya para warga akibat pengumuman Sanusi, begitupula para warga dan juga para pasukan.
 
Pagi itu hujan gerimis, rombongan pun berangkat serentak menuju utara, sekitar lima orang prajurit membawa tandu bergaris dua, sebagian besar prajurit berjalan di depan iringan tandu dan menyisakan sedikit di belakang. 
 
Suparjo dan Nolly berjalan beriringan di kiri dan kanan tandu, mata mereka awas, telinga mereka sudah dikorek sehingga mampu mendengar bunyi apapun yang mencurigakan, tangan mereka seakan ada magnet dengan pistol dan senapan.
 
Hingga tengah hari akhirnya rombongan tersebut menemukan sebuah rumah mungil di pinggir hutan, mungil namun nyaman untuk sekedar melepas lelah, dinaungi oleh banyak pohon randu dan satu beringin. Suparjo yang berpangkat kapten, baru saja merebahkan punggungnya di tiang bambu ketika seorang telik sandi datang melapor.
 
“Apa yang kau bawa untukku?” tanya Suparjo.
 
“Mereka sudah tahu gerakan kita, kemungkinan dari warga, saat ini mereka sudah mengirim sinyal kepada yang lain untuk bergerak”
 
“Pasti bukan warga, tapi aku belum bisa memastikan siapa. Berapa lama waktu kita untuk bergerak?”
 
“Kalau sekarang, mereka akan curiga kita sudah tahu informasi lebih dahulu. Butuh waktu dua jam bagi pasukan mereka menuju kesini. Artinya satu jam lagi kita bergerak”
 
Informasi berguna tersebut langsung diteruskan kepada Nolly yang juga merawat Panglima di tengah sakitnya. Nolly pun menghentikan istirahatnya dan langsung mengadakan rapat kilat.
 
****
 
Satu jam bukanlah waktu yang lama, hujan sudah reda namun tak jua memunculkan matahari sehingga kondisi udara semakin dingin saja dan itu membuat batuk panglima semakin terdengar jelas. 
 
Namun waktu tak bisa kembali, mereka harus terus bergerak dan sudah diputuskan, mereka bergerak ke selatan, lima menit lebih awal.
 
Rombongan dalam jumlah besar bergerak keluar gubuk, setengah mengendap mereka menyusuri jalan setapak di pinggir hutan, jalanan yang licin habis hujan membuat perjalanan mereka tak leluasa. 
 
Mereka perlahan berjalan dengan formasi memanjang untuk menyesuaikan lebar tandu. Namun tepat ketika baris terakhir masuk ke daerah hutan, terdengar suara gemuruh dari langit, P-15 Mustang Cocor Merah menuju arah mereka.
 
“Cocor merah!! Merunduk!”
 
Seluruh pasukan merunduk ketika bunyi seperti sirine panjang mengalun membelah angkasa, alunan yang mengerikan sebelum akhirnya meledakkan rumah mungil yang baru saja mereka tempati. 
 
Rumah hancur lebur, asapnya membumbung di angkasa. Dan belum lagi mereka mengangkat kepala, sirine kembali terdengar dan kali ini meledakkan satu kandang sapi di dekat rumah tersebut.
 
Pesawat riuh rendah terbang di atas mereka, tapi ajaibnya tak ada satupun peluru pesawat yang mengarah ke mereka.
 
“Kita harus tetap bergerak, ayo maju terus”
 
Rombongan terus maju memasuki hutan, di belakang mereka suara derap langkah dan kendaraan mulai mengikuti. Cipto yang bertugas mengangkat tandu mulai mempercepat langkah diikuti oleh yang lain, misi mereka satu “menyelamatkan Panglima”.
 
Derap langkah semakin terdengar jelas diikuti mulai terlihatnya helm coklat dan kulit yang putih. Entah siapa yang memulai ketika satu buah peluru karabijn menembus helm coklat tersebut dan memuncratkan darah segar bercampur kelabu. Satu penjajah mati.
 
Sial bagi rombongan Panglima, matinya satu prajurit tadi membuat posisi mereka terdeteksi jelas oleh musuh, musuh mulai berduyun-duyun mendatangi rombongan dengan senapan terhunus.
 
“Menyebar, lakukan baris pendem!”
 
Rombongan mulai menyebar dan melakukan baris pendem, tubuh mereka segera menyatu dengan tanah dan oleh sebab itu musuh tak bisa langsung melihat posisi mereka. Tapi strategi ini cukup berbahaya, karena jika gagal, mereka tak punya waktu untuk bangun dan berlari.
 
Prajurit Belanda mulai menyadari posisi mereka lebih tinggi dari musuh, dan ini sangat berbahaya. Tapi terlambat, baku tembak mulai terjadi dengan tidak seimbang, posisi yang rendah menyebabkan prajurit Indonesia lebih cepat untuk mengukur akurasi tembakan, beberapa prajurit Belanda terluka terkena tembakan bahkan ada yang mati. 
 
Rombongan dengan cepat kembali bangkit dan berlari ke arah Selatan.
 
Pasukan Belanda terus mengejar dan menyerang, satu granat tangan dilemparkan ke arah prajurit Indonesia dan mengenai beberapa prajurit, namun tak seberapa parah, untungnya di depan ada kali yang melintang. 
 
Rombongan terus bergerak ke arah kali, sambil menembaki Belanda yang mengejar di belakang. Belanda terus membombardir dengan senjata bren, senjata dengan peluru yang sangat banyak dimuntahkan dalam satu waktu.
 
Cipto tetap gigih membawa tandu sambil terus menyebrangi sungai, dia sudah tak peduli apapun, ingatannya hanya kepada tugas dan anak perempuannya, Galuh. 
 
Bren Belanda terus menyerang tiada henti, beberapa prajurit berhasil melintasi kali dan sudah kembali memasuki hutan meskipun beberapa menjadi mayat di pinggiran kali. Dan beruntung, Belanda enggan memasuki hutan karena mengira mungkin ini jebakan.
 
“Istirahat dahulu, kita berhenti disini”. 
 
Rombongan pun menghentikan langkah mereka di pohon beringin yang lebat, sesaat mereka aman beristirahat di balik beringin yang menutupi segala pandangan dari arah kali tadi. 
 
Setelah suasana dirasa aman, Panglima mulai keluar dari tandu, ia ingin menghitung berapa sisa prajurit yang selamat dari pertempuran tadi. Sambil terbatuk, Panglima berjalan berkeliling dan melihat para prajurit yang terduduk kelelahan.
 
Namun dia tidak menyadari bahwa dibelakangnya ada satu jari sedang menarik pisau dari balik sabuk prajurit.
 
Dengan satu gerakan, prajurit tersebut trengginas menyerang dari belakang, tangan kirinya menelikung tangan dan tangan kanannya menodongkan pisau ke leher panglima.
 
“Menyerahlah panglima, maaf kalau aku sedikit kasar, tapi inilah tugasku”
 
“Cipto, apa yang kau lakukan?” teriak Babon demi melihat kawannya menjadi nekat menyerang panglima. Beberapa prajurit lain dengan sigap langsung mengambil senjata mereka.
 
“Aku muak dengan segala omong kosong perjuangan, tak ada yang bisa meninggikan derajat hidup kita! kau dengar itu? hah!” teriak Cipto seperti kesetanan.
 
“Ini sudah berakhir, aku muak dengan ini semua, aku mendapat jaminan dari negeri Belanda, kita bisa hidup enak disana Babon, ikutlah denganku!”
 
“Kau sinting”
 
Tapi Cipto sudah gelap mata, dia menyeret tubuh panglima yang kurus kembali menuju kali, berniat untuk diserahkan hidup-hidup kepada Belanda. Namun naas, ketika menyeret tubuh panglima, kaki panglima dengan sengaja menyangkutkan diri pada akar pohon beringin yang muncul di permukaan tanah. Cipto tak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh. 
 
Sedetik menyentuh tanah, Panglima dengan kesigapan ala tentara langsung bangkit berdiri lagi dengan posisi tubuh yang berbeda dari ketika keluar tandu.
 
Posisi tubuhnya lebih tegap, kakinya lebih kokoh tak seperti panglima yang Cipto kenal, Panglima kemudian melepas blangkonnya dan betapa kagetnya Cipto ketika tahu pria didepannya bukanlah Panglima yang ia maksud.
 
“Kau..Letnan Heru Kesser?”
 
“Dasar pengkhianat, pantas Belanda selalu tahu posisi Panglima walaupun di pelosok Gunung dan adanya pasukan liar di Kediri yang tahu banyak informasi, ternyata kau” ujar Heru Kesser yang menyamar menjadi Panglima Sudirman.
 
Letnan Heru Kesser melepas mantel khas Sudirman dan mengambil pistol kecil jarak pendek dari selipan pinggannya. Tanpa omongan lagi ditariknya pelatuk pistol tepat di pelipis kiri Cipto.
 
***
 
Malam tahun baru
 
Di tempat lain, 16 kilometer di sebelah utara desa Karangnongko, seorang pemuda termangu di depan pintu rumah sederhana. Dibelakangnya beberapa pasukan berwajah letih duduk mengaso dan diantaranya terdapat seorang bertubuh kurus memakai blangkon hitam dengan keris bergagang gading warna kuning diselipan celana, yang oleh yang lain dipanggil dengan Pak Kyai.
 
Pemuda tersebut membaca tulisan di atas pintu rumah
Tawang Gapuraning Ngesti Tunggal, yang berarti tangan Tuhan terbuka bagai langit mendengar doa kita.
 
Tertegun sejenak, pintu pun diketuk dengan perlahan, tak berapa lama terdengar suara kayu bergesekan dengan daun pintu. 
 
Pintu pun dibuka, seorang kakek tua dengan raut wajah ketakukan menyambut.
 
Panjenengan siapa ya?” tanya Kedah, pemilik rumah.
 
“Saya Parjo, Suparjo.. kami ingin menumpang dirumah ini”.