Mama, Izinkan Aku Berhijab

jilbab-dailylife-com

Di siang itu, Dini sedang mematut-matutkan wajah di cermin besar ruang tengah rumah, hanya ada dia dan ibunda yang ada dirumah saat itu. Tangannya sigap merapikan, membelit dan mengikat jilbab ungu yang baru dibelinya.

“Mamaa…aku cantik gaak?” Dini berputar dari cermin dengan wajah ceria, maklum baru beberapa hari ini dia mantap memakai hijab.

Sang mama hanya terdiam.

“Mamaa, aku kan nanya…aku cantik gak pake hijab? Kok mama malah bengong”

“….Nak..apa harus kamu memakai jilbab?” Tanya sang ibunda.

“Ya iya donk ma, jilbab atau hijab itu adalah syarat bagi muslimah, kenapa sih mah, mama nanya gitu lagi?”

“Lepas jilbab itu nak!”

“Apaan sih mah?! Jilbab itu hidayah bagi muslimah mah! Wajib!”

Sang ibunda pun terduduk, wajahnya merah antara menahan marah dan tangis..

“Udah deh mah, Mama gak usah ngurusin Dini. Selepas Papa gak ada Mama mulai reseh sama Dini..bukannya Mama juga dulu mantep nikahin Papa walau beda agama, dan Mama akan selalu menghormati Islam apapun dan dimanapun itu..tapi..jilbab Dini selalu mama buang dulu”

Tangis ibunda pun pecah..

“Mah, dari lahir Dini udah gak pake jilbab, di Australi juga Dini bebas mah, jangankan jilbab, sholat wajib pun Dini belum sanggup dulu, tapi sekarang Mah..ini hiday..”

“Cukup..Cukup!!” Teriak sang ibunda, sambil terisak beliau mengambil tissue di atas meja.

“Apa Mama fobia terhadap Islam Ma?” Tanya Dini melembut.

“Bukan nak..” Sang ibunda masih dengan tangisnya.

“Lalu apa Ma..apaaa?? Jelaskan ke Dini sekarang, kenapa Mama benci sekali dengan jilbab?!”

Sang ibunda perlahan mengambil tissue kembali, mengusap air matanya yang seakan tak terbendung.

“Karena…karena..” Ujar sang ibunda terbata.

“Karena apa mah??”

.

.

.

“Karena kamu laki-laki nak..kamu laki-laki.!!..”

 

Advertisements

Kisah Sahabat dan Domba Gemuk

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang sahabat yang baik hatinya namun sangat lugu. Pada suatu hari sahabat tersebut berhasil mendapatkan hadiah seekor domba gemuk dari Bupati karena memenangkan sayembara, sahabat tersebut sangat senang menggendong domba tersebut kembali ke rumahnya.

Diperjalanan, sahabat yang baik hatinya tersebut bertemu dengan seorang kawan, dengan wajah cerah si sahabat memamerkan domba gemuknya.

sheperd

“Hey lihat lah domba gemuk ku ini, hadiah dari Bupati, kau pasti iri kan?..hehehe”

“Domba apanya wahai kawan ku yang lugu?, kau telah ditipu Bupati itu, lihatlah, kau membawa seekor anjing buduk” Ujar kawan tadi.

“Ah, kau, bilang saja kau iri..sudah lah aku ingin pulang dan memasak domba ini untuk makan malam” Balas si sahabat sambil berlalu menuju rumahnya.

Sampai di perempatan jalan, si sahabat bertemu lagi dengan tetangganya, si tetangga tiba-tiba berkata.

“Apa yang kau bawa itu kawan? Mengapa kau menggendong anjing, itu haram!”

Sahabat pun terkejut, dan membantah,

“Bukan, ini adalah domba pemberian Bupati, lihatlah bulu lebatnya ini”

“Ah, dasar mabok kau, percaya padaku, itu anjing, kau di bohongi” Ujar si tetangga sambil berlalu.

Sahabat pun bingung, dua orang sudah berkata hal yang sama. Jangan-jangan memang dia yang sedang mabuk. Ah, tapi dia merasa tidak meminum apapun tadi malam. Sambil bingung, sahabat tersebut melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

Hingga tinggal 10 langkah menuju rumahnya, sahabat tadi berpapasan dengan seorang tukang potong hewan. Dari jauh tukang hewan tersebut sudah menunjukkan wajah kaget, dan begitu berpapasan dia berteriak..

“Hey!! Untuk apa anjing buduk kau gendong seperti itu, ih aku saja jijik melihatnya, lihatlah itu anjing!”

“Hah, bukan! ini domba kawan, aku ingin memasa..”

“Domba dari mana? Kau gila ya, ah tentu kau sedang banyak pikiran, atau kau mabuk? Hey aku puluhan tahun bekerja dengan binatang, tak mungkin aku salah. Jelas kau sedang mabuk kawan ku yang baik”

“Aku hanya ingin mengingatkan, jika anjing itu kau masak, tentulah kau akan mendapat dosa, sudah ya, aku banyak urusan” Sambung si tukang potong hewan tadi sambil berlalu.

Mendapati tiga orang berkata bahwa binatang itu anjing, si sahabat mulai terasa sangat bimbang, dia pun berpikir.

“Ah mungkin saja aku memang mabuk, mana ada orang mabuk sadar bahwa dia mabuk dan ingat kapan ia minum? Tak mungkin seorang tukang potong hewan salah melihat hewan, apalagi antara domba dan anjing” Pikirnya.

Sang sahabat pun bingung dan melihat kembali domba yang digendongnya, domba..anjing…domba…anjing..dom…anjing, otaknya pun berputar dan akhirnya..

“Ya, tak mungkin tiga orang tadi mabuk semua, mereka tidak bersamaan dan aku bertemu di jalan..mungkin aku memang salah, bupati tadi yang menipuku”

Dengan lesu, dilepaslah domba tadi dari gendongannya, domba pun meloncat dengan lincah dan langsung berlari menjauh, masuk ke semak-semak dan menghilang dari pandangan si sahabat.

Sahabat pun berjalan lunglai ke rumahnya, sambil menahan emosi kepada sang Bupati yang dikira telah menipunya. Sampai dirumah si sahabat pun tertidur dengan perut lapar.

***

Dilain tempat,  tiga orang sedang tertidur kekenyangan di depan perapian, tepat di depannya tergantung tulang belulang domba gemuk yang habis di santap, domba bakar yang nikmat. Ketiga orang itu adalah si kawan, tetangga dan tukang potong hewan lengkap dengan pisau dagingnya..

***

Moral:

Kebohongan, konspirasi dan isu yang disampaikan berulang-ulang pada akhirnya menjadi kebenaran dan dipercaya. Begitulah cara hoax menyebar..dan menang..

“Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran.”

Joseph Goebbelz

Sang Perempuan Penjaga Bintang

Sang Perempuan Penjaga Bintang

menabur_bintang_by_petite_sonyeo-d6xg8a2

Pria itu membungkukkan badannya yang jangkung, tanpa melepas kacamata hitamnya, pria itu menatap lurus tepat di kedua mata gadis kecil di depannya.

“Apa yang kau sedihkan puan?”

“Aku tidak menangis, mengapa engkau tahu tuan?” Continue reading