[Cerita Qatar #2] Qatar, Negeri Yang Bedebah

qatar1

Judul diatas memang bombastis saja, tapi menjadi kenyataan kalau anda tahu bagaimana kehidupan warga asli sana, Qatari. Sudah saya jelaskan di blog sebelumnya bahwa Qatar adalah negara penghasil minyak dan gas, dengan cadangan gas bumi yang besar nomor 8 dunia dengan penduduk asli yang sekitar 500 ribu saja. Bayangkan, angka 500 ribu saja itu masih kalah jauh dengan jumlah warga Bekasi.

Dengan jumlah warga asli yang sedikit, Pemerintah Qatar punya keleluasaan untuk memanjakan warga aslinya, inilah yang saya sebut bedebah. Bagaimana enggak bedebah jika anda mengamati apa yang akan saya ceritakan, simak.

Pertama. Qatari, siapapun dia, semenjak lahir sudah dijamin oleh Pemerintah untuk rumah dan asuransi, jadi pas brojol nih, langsung dapat rumah. Ini dipastikan sendiri oleh kawan sekantor saya yang orang Qatari, memang demikian adanya.

Disaat kamu cari hutangan untuk biaya bedah caesar, bayi mereka sudah bisa berkata pongah..”Hai gaes..pripun gaes, cicilanmu?

Kedua, sekolah. Pada saat usia sekolah, mereka boleh memilih ingin sekolah atau kuliah dimana, hingga ujung dunia pun boleh dan semua akan dibayari Pemerintah plus uang saku yang cukup untuk sewa satu Maserati sebulan. Cuk!

Ketiga, pernikahan. Saya pernah menghadiri pernikahan teman pria saya yang orang Qatari, di sebuah gedung mewah, dan ternyata itu pernikahan kedua. Ya, para pria Qatari bebas menikahi wanita hingga empat kali, asalkan pernikahan pertama harus sesama Qatari juga. Eits, gak berhenti sampai disitu, jika perkawinan sesama Qatari, maka Pemerintah menyediakan rumah plus pembantu, tukang cuci dan sopir. Disini istri saya merasa eewwwhh..

qatar2

Suasana pernikahan di Qatar, memang hanya untuk pria saja, wanita dipisah

Keempat. Para Qatari wanita, di balik burka yang mereka pakai, terselip pakaian wanita bermerek dunia. Saya sering mengintip jeans yang mereka pakai dibalik burka, jika kebetulan satu lift di kantor (karena sebagian Qatari tidak menutup rapat burka-nya). Tak ada merk yang abal-abal, yang sering saya lihat adalah merek Gucci, Louis Vuitton atau Roberto Cavalli. Demikian pula tas, gak ada merk tas yang nyantai. Gadis Qatari umur SMA aja udah nenteng Gucci. Jujur, Princess Syahrini disini tampak medioker.

Oya, untuk tas ada cerita khusus..hai ladies kremesan ayam kalasan, jangan shock ya kalau saya ceritakan tas mereka yang harganya puluhan hingga ratusan juta itu akan di “putih” kan oleh Pemerintah Qatardi akhir tahun. Tahu kan arti istilah di “putih” kan? Uang belanja barang mewah akan diganti oleh Pemerintah sist!!, alias gratis!!…Eits sudah, gak usah sirik..

Kelima, para pria Qatari hobinya olahraga dan barang mewah, khususnya mobil. Mobil pun demikian, untuk beberapa kalangan, mobil mewah akan dibayarkan oleh Pemerintah di akhir tahun..jadi gak heran kalau lihat Ferrari, Bugatti atau Camaro Bumblebee tipe terbaru sliweran disana. Avanza yang kau banggakan itu tak lebih remahan kulit kuaci di kaleng biskuit Julies Herseys.

Keenam, dunia kerja. Nah, ketika mereka masuk ke dunia kerja ini nih yang bedebah banget. Qatari, setelah tamat kuliah, akan di jamin oleh Pemerintah bisa bekerja dimana saja. Dibidang apapun yang mereka sukai. Hebat ya, bahkan seorang senior manajer di kantor saya yang belasan tahun di bidang oil & gas bisa-bisanya pindah jadi kepala departemen liga sepakbola Qatar, alasannya, karena dia suka sepakbola. lha kan bajinguk.

Mereka (Qatari) akan di monitor setiap bulannya oleh Pemerintah, apakah dia betah kerja disana, apa hal yang dia suka dan tidak suka. Termasuk jika mereka menginginkan satu jabatan tertentu di Perusahaan. Ada seorang Qatari di kantor saya yang merasa tidak puas karena dia beberapa tahun posisinya dibawah orang dunia ketiga, alias Indonesia.

Memang kawan Indonesia ini punya gelar yang mentereng plus sertifikat keahlian yang mumpuni, tak heran posisinya di kantor pun senior manager. Eh, ujug-ujug si Qatari yang track recordnya belum jelas, lulusan lokal dengan prestasi kerja selama tiga tahun yang biasa biasa saja, tiba-tiba di promosikan naik jabatan ke level senior manager. Rumornya, karena dia tidak terima posisinya di bawah orang Indonesia.

Alhasil, kawan Indonesia kita yang sudah 11 tahun disana akhirnya dipulangkan ke Indonesia, kontraknya diputus di tengah jalan, bahkan istrinya sempat shock karena ketiga anaknya sudah bersekolah disana semua. Kembali ke Indonesia dan mendapat sekolah yang setara tentu tak mudah, karena biaya sekolah di Qatar ditanggung oleh Perusahaan. Nah, yang begini ini, apa kurang bedebah?

Untuk menghibur diri, ya tidak usah sirik, karena memang Qatar negara yang kaya, industrinya padat modal dengan jumlah rakyat asli yang sedikit, pendapatan per kapita rakyatnya kalau di rupiahkan setara dengan 147 juta per bulan.

Dengan gaji segitu, sudah gak kepingin mereka demo, gak kepikir melipir di warung Indomie karena kehujanan, sudah gak kepikir nyari tambahan ojek online demi cicilan Mio. Karena ingat, kesempurnaan hanyalah milik Allah dan cicilan Mio, Jupiter dan juga Avanza hanyalah milik kita, kita bangsa Indonesia.

Syukurilah dan Hidup Indonesia!

Advertisements

[Cerita dari Qatar] – Jogging di Corniche

Jumat pagi hari, seperti yang direncanakan saya mencoba rute lari dari apartemen ke Corniche, dengan bantuan aplikasi waze aku sampai di track Corniche. Jaraknya sekitar 2.2 km dari Mushereib.

Track ini berada di pinggir Corniche street yang setiap hari saya lewati ke kantor. Kesan pertama adalah ini adalah track yang bersahabat bagi para olahragawan dan yang bermobil, namun tidak bagi yang kelaparan dan jalan kaki, karena kondisinya sangat bersih di sepanjang track, tak ada penjual minuman apalagi bubur ayam.

Disini orang bukan hanya berolahraga rupanya, tapi juga ada yang memancing. Disini diperbolehkan memancing asalkan memakai alat pancing sederhana dan bukan jaring ataupun alat penangkap ikan professional. Dengan latar belakang gedung perkantoran West Bay dengan Burj Qatar yang terkenal, Al Corniche layak untuk menjadi tujuan wisata kota Doha di pagi atau sore hari.

Lumayan juga saya masih bisa menempuh jarah 10,2 km dan beristirahat di café costa di ujung track. Banyak yang memanfaatkan café costa untuk beristirahat, ngopi, bersosialisasi dan tentunya browsing. Karena disekeliling cafe costa disediakan free wifi. Bukan hanya wifi rupanya, tapi juga charger HP.

Jogging di Al Corniche (1)
Memancing
Green spot di Al Bidda Street, jalan menuju Corniche di depan
Jogging di Al Corniche (2)
Ada fitness gratisnya
Burj Al Qatar
View depan cafe costa, berlatar belakang Burj Al Qatar, ada charger HP dan free wifi
My 1st 10K in Doha

Salam