Inilah Dua Manfaat Bertegur Sapa Ketika Saling Kencing Di Toilet

Jika ada hal di dunia yang paling sepele selain gugatan tim BPN ke MK tak lain dan tak bukan adalah soal kencing di toilet, tentu saja saya merujuk ke toilet pria, karena kalo toilet wanita mana bisa saling berinteraksi.

Ya toilet pria, pria tulen yang kalo kencing itu berdiri padahal di sunnah-kan untuk duduk, padahal kita tahu kalo kencing itu sambil duduk, kencingnya cuma 1 menit, 20 menit lainnya adalah main game.

Inilah yang membuat kaum yahudi membuatkan kita toilet berdiri, efisien.

Perkara kencing ini sedemikian menggelitik saya, ketika tempo hari di suatu siang yang pelik tiba-tiba saya di datangi oleh rekan kerja yang emmm….gak terlalu dekat, tapi jauh juga enggak.

So-so lah. Perkaranya so simple bin so yesterday banget. Kata dia tiba-tiba ngomong:

“Pak, apa tho pak salah saya?”

“Hah?? Salah sampeyan apa emangnya? kenapa?” Tanya saya bingung.

“Anu lho pak, tadi di toilet, pas kita lagi kencing bareng, kan bapak sama saya sebelahan, tapi kok saya di cuekin gitu lho?”

Omaigot demi meteor pegasus. Saya kaget.

“Masyaallah, tiada makhluk yang lebih baper di planet ini ketimbang makhluk yang kalo kencing sebelahan harus minta di tegur” Ujar saya.

“Oh, jadi bapak gak marah ya pak sama saya? Saya kira marah gitu..”

Sejak peristiwa ajaib itu, saya mulai memperhatikan “adab” di toilet. Ada aturan tak tertulis yang mengatakan bahwa menegur kawan pipis anda itu adalah pahala.

Itu sama saja memperpanjang silaturahmi meskipun hanya ucapan “Ya pak” atau “hehe” sambil saling senyum.

Perlahan saya membenarkan aturan masyarakat nomor 1214 itu. Bukankah agama juga menganjurkan kita agar saling bertegur sapa, tak peduli itu dimana?

Manfaat pertama dari menegur sapa ketika di toilet adalah dapat menghindarkan rekan anda dari perbuatan maksiat.

Coba bayangkan jika rekan anda lama sekali di toilet, atau sedang di urinoir tapi matanya terpejam lama ke atas, bisa dipastikan rekan anda sedang dalam tahap transisi ena-ena.

Dengan menegur pastilah rekan anda tersebut kikuk lantas membatalkan perbuatannya, syaitan pun kabur melihat anda. Mudah dan pastinya anda dapat pahala.

Manfaat kedua karena tegur sapa adalah bagian dari silaturahmi, dan silaturahmi adalah bagian dari memperlancar rezeki.

Bukan begitu Aliando?

Bagaimana jika ternyata kebetulan duet pipis anda adalah direktur anda di kantor? Apakah anda akan menyapanya? Ataukah justru anda menghindar dengan mencari toilet lain lantaran takut suasana kikuk terjadi?

Berbahagialah bagi anda, para pria jantan yang lebih memilih untuk menegur sapa direktur anda. Sapa lah dengan singkat, seperti;

“Siang pak direktur”

Siapa tahu dengan teguran anda, pak direktur lantas berkata;

“Siang, wah, saya belum pernah lihat anda nih, anda dari divisi mana ya?”

Nah, dari situlah anda bisa melanjutkan obrolan tentunya diselingi humor ringan, suasana toilet yang masam nan mesum bisa berubah menjadi ceria.

Anda juga bisa mempergunakan kesempatan ini untuk berjualan diri, gunakan ilmu hypnoselling ketika otak direktur anda kosong lantaran sedang mengeluarkan dorongan hasrat hajatnya. Disini anda berkesempatan untuk memasukkan kata-kata positif tentang diri anda.

Cukup dengan sedikit memuji diri sendiri, sedikit saja. Seperti;

“Saya Paijo dari divisi pemasaran pak, engg..kebetulan nganu lho pak, alhamdulillah kemarin kita menang tender di PT Suka Ria, nilainya lumayan pak”

“Wah bagus donk, siapa tim yang ikut?”

“Kebetulan saya ikut tim pak, pembentuk harga juga”.

Oya, suaranya dibuat pelan saja biar gak dikira pamer.

“Wah hebat kamu, coba habis ini kamu ke ruangan saya”

Nah, mantul gan!!

Inilah yang dinamakan rezeki memang tak akan kemana, tapi rezeki tak akan datang kalo kita gak kemana-mana, alias gak ngapa-ngapain. Usaha kita salah satunya adalah dengan memanfaatkan potensi toilet yang sering kita anggap sepele.

Maka mulai sekarang, jangan lagi menganggap remeh toilet, enyahkan pikiran bahwa toilet hanya sebagai wahana buang hajat. Toilet memiliki unsur metafisik tertentu yang tak kasat mata.

Sejak peristiwa “dicuekin ketika kencing” itu, sekarang saya merasa penting ketika masuk ke toilet, saya anggap toilet sebagai ruang meeting non-formal ketiga setelah pantry dan smoking area.

Ya, Karl Marx telah kalah satu langkah, di sini toilet telah mendapatkan kelas-nya.

Advertisements

Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?

Medio 2016, saya diundang ke pernikahan seorang kawan, sama-sama kami dulu bekas kuli di Banten. Pernikahannya mewah, di hotel daerah Kuningan, Jakarta. Visual pernikahannya sama sekali tidak menyiratkan blio pernah jadi kuli dengan bayaran UMD dan hobi ngorok ngiler sama saya.

Saya coba memperhatikan dekorasi pernikahan. Megah. Dan banyak sekali lambang berbentuk Naga, dari mulai singgasana pengantin, pinggiran kue tart besar, bahkan susunan dim sum di dalam panci membentuk kepala naga.

Ketika salaman, saya tanya ke kawan saya, dan jawabannya mengejutkan. Ya, dia percaya bahwa Naga adalah simbol kesuksesan, dan usahanya melejit seperti sekarang salah satunya karena simbol naga. Naga dan dirinya adalah satu kesatuan.

Kalo sudah demikian, apa yang mau saya debat? Tidak ada, padahal kawan saya tadi sama sekali bukan keturunan Tiongkok, Jawa asli. Kepercayaan akan simbol seperti ini yang ada di sebagian masyarakat kita.

Lha wong ibu saya saja penganut paham pohon bambu kuning di depan rumah kok. Katanya untuk ngusir bala.

Jadi saya enggak heran ketika Masjid Al Safar di Cipularang hasil karya arsitektur Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, di protes karena menyerupai lambang iluminati karena bentuknya yang mayoritas segitiga.

Continue reading “Kalo Segitiga dianggap Haram, Apa Kabar Celana Dalam?”

Minat Baca Kita Rendah? Itu Hoaks!

Baru-baru ini saya di bombardir oleh rekan-rekan di grup whatsapp keluarga dan juga media sosial, menampilkan peringkat negara paling “rakus” dengan buku.

Negara “pemakan” buku terbanyak. Indonesia “tentu saja” berada di posisi buncit, posisi 60 dari 61 negara.

Sedih ya kita?

Ya sedih, kalau kita telan mentah informasi itu seperti kebiasaan kita. Padahal kita peringkat 60 dari 196 negara yang diakui dunia. Untuk peringkat FIFA, posisi 60 dunia itu posisi lumayan.

Kita ndak culun-culun amat. Kita masih lebih baik dari tetangga kita Filipina, Laos, Brunei, Kuba, Afghanistan, India bahkan sohib kita yang kaya raya, Arab Saudi.

Tapi ya dasar kita, plonga-plongo dijejali informasi yang “cuma” setengah matang, hasilnya heboh.

Lagipula, apa iya peringkat itu didasarkan dari jumlah buku yang di baca?

Peringkat itu dilansir dari studi PISA dan CCSU. Apa itu PISA dan CCSU? Silahkan anda googling.

Yang pasti peringkat itu berdasarkan 5 kategori, yaitu; Newspaper (koran), Libraries (Perpustakaan), Education System (input), Education System (output), dan komputer.

Jadi bukan cuma karena jumlah buku yang dibaca. Biar gak kelamaan, kita bahas aja yuk…

Continue reading “Minat Baca Kita Rendah? Itu Hoaks!”