Resign Di Hari Pertama Kerja, Tabukah?

Baru saja saya membaca insta-story dari seorang blogger dan influencer media sosial, sebut saja namanya Pungky Prayitno.

Insta-story mbak Pungky ini menarik banget, dia bercerita soal seorang karyawan satu kantornya yang resign dalam waktu sehari. Ya, sehari!. Kemarin masuk kerja, siang hari ini resign.

Alasan, bahwa pekerjaannya ini jauh dari pendidikannya. Kebetulan pekerjaan ini berhubungan dengan perhotelan.

Si karyawan baru ini resign karena merasa tidak punya background perhotelan sehingga si karyawan baru ini di anggap “menyerah sebelum bertanding”.

Menarik, sungguh menarik. Memang iya ya setiap karyawan yang langsung resign dari kerjaan itu dianggap “menyerah sebelum bertanding”?

Toh bukan mbak Pungky saja yang punya anggapan demikian, banyak orang di dunia beranggapan yang sama. “Ah, cemen lo! Baru segitu aja resign! Gak punya jiwa survive, masih untung lo bisa kerja”

Begini, saya punya cerita. Dulu di awal-awal saya lulus kuliah, saya sibuk mencari-cari kerja di Jakarta. Cari kerja itu gak gampang! Betul banget!. Cari kerja itu susah.

Sampai akhirnya saya mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan agensi, tawaran dari ratusan lamaran kerja yang saya kirim. Saya pun bersyukur.

So, suatu Senin pagi, datanglah saya ke kantor agensi itu dibilangan SCBD Jakarta. Kantornya mentereng, bos nya bule, karyawannya necis, wangi, ceweknya cakep-cakep. Wah bisa sekalian cari jodoh lah ini.

Okesip, saya pun dengan antusias masuk ke area kantor tersebut, bertemu dengan ibu HRD yang cuantik banget, rambutnya kriwil, putih, tinggi, wangi dan pakai kacamata – yes, sure, setiap lelaki pasti ingat akan satu hal..

“Udah siap kerja mas? Gaji basic kita 5 jutaan, sama bonus dll sebulan bisa dapat 15 juta” Kata si ibu tanpa basa-basi.

Saya bengong, tahun 2007, gaji 5 juta itu udah gede. Sangat cukup. UMR aja masih di angka 1 jutaan.

“Oke, bu siap” Kata saya mantap.

“Sip kalau begitu, saya antarkan ke supervisor yang akan menemani anda bekerja ya, selamat bekerja” Kata si ibu dengan senyum yang cantik banget.

Akhirnya, saya dipertemukan dengan supervisor yang bertubuh subur. Oleh supervisor saya diajak untuk bertemu rekan kerja yang lain, kira-kira ada 8 orang diruangan itu. Setelah basa-basi kami di ajak naik bus mewah menuju “area praktik kerja”.

Sampailah kami di area Carrefour Cempaka Putih, kami turun lalu di briefing mendetail soal apa tugas kami hari itu. Tugas kami tak lain dan tak bukan adalah menawari orang untuk menyumbang ke organisasi WWF-Indonesia (Kalau yang gak tau apa, WWF ini gambarnya Panda).

WWF ini adalah organisasi konservasi terbesar di Indonesia, tugasnya mulia, untuk melestarikan ekosistem negeri ini. Dan saya ada di Carrefour untuk membujuk orang yang ada disitu agar mau menyumbang dana ke WWF tersebut. Ya, saya ibarat volunteer yang sungguh peduli dengan ekonsistem di negeri ini. Wah mulia sekali tugas saya, di gaji lagi.

Saya ada disitu dari jam 9.30 – 14.00 siang, saya mendatangi setiap orang, memberikan brosur, tentu saja dengan kata-kata “selamat pagi ibu, mohon maaf ibu saya ingin menjelaskan sebentar tentang konservasi..bla..bla..bla”

Ada yang menyumbang? Jangan ditanya. Ketika jam 14.30 kami di kumpulkan, dari 8 orang karyawan baru, hanya saya satu-satunya yang bisa mendapatkan uang dari puluhan brosur yang disebar. Ya, saya break-target, haha.

Supervisor puas dengan saya. Kami pun pamit pulang ke rumah, di bus yang membawa saya pulang, saya di telpon oleh ibu HRD yang cuakep tadi, beliau menawarkan kontrak permanen dengan tugas yang kurang lebih sama. Jawaban saya “maaf bu, saya resign”.

Ya, saya break-target, saya mendapat gaji yang cukup, tapi saya resign. Kenapa? Karena saya gak suka pekerjaan itu, saya gak suka harus head to head, eyes to eyes untuk meminta kedermawanan orang. Sekalian saja saya dagang, itu lebih baik ~ menurut saya.

Dulu, ketika kuliah, saya pernah turun ke jalan untuk meminta dana sumbangan demi membantu korban banjir. Dari 10 orang yang terjun ke jalan, saya mendapat hasil paling banyak, sekitar 300 ribu rupiah dalam 1.5 jam, lumayan kan?

Mungkin saya punya bakat socio-preneur (a.k.a memelas/ngemis) yang baik. Untuk membantu korban banjir, oke, tapi untuk menjadi pendapatan saya? Big No.

Jiwa saya menolak untuk bekerja di area yang seperti itu. Disitulah saya paten mengucapkan “saya resign”. Di hari pertama saya bekerja, hanya hitungan jam, bukan hari.

Saya lebih memilih terus berpeluh untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dan bisa menjadi basic penghidupan saya. Dibanding saya harus terima pekerjaan itu dulu dengan alasan “hey, cari kerjaan kan susah!”

Mbak Pungky dan kawan-kawan saya yang lain berhak untuk berpikiran bahwa orang-orang yang resign di hari pertama kerja adalah orang yang manja.

Tapi saya sebagai orang yang punya pengalaman demikian, boleh juga berkata bahwa kadang dorongan jiwa jauh lebih penting daripada sekedar uang.

Saya tidak kaya, tapi saya yakin dengan resign di hari itu bukan berarti saya tidak bisa makan. Rejeki Tuhan yang atur.

Kenapa gak di coba dulu? Kan banyak tuh orang yang tidak bekerja ada pekerjaannya sekarang tapi mereka sukses? Mereka struggle!

Well, saya pun pernah bekerja di tempat yang minim. Bekerja di pabrik, gaji 1,5 juta (sama dengan UMR), dengan title Engineer yang sangat layak untuk di gaji 10 juta sekalipun.

Tapi disitu saya bertahan 2 tahun, kenapa? Karena saya berpikir, i can get something in here, entah gaji, entah masa depan, entah ilmu atau sekedar mendapat mentor.

Semangat itupula yang membuat saya bertahan di sebuah perusahaan dimana bosnya lebih suka bilang ngehek ketimbang tolong. Dan lagi-lagi, bos yang super galak itu telah membentuk mental saya pribadi. Yes, I’ve got something from him.

Begitupula yang pasti mbak Pungky dan kawan-kawan rasakan ketika memutuskan untuk bertahan di sebuah titik.

Dan ketika kita memutuskan demikian, percayalah, manusia akan menjadi lebih mampu bertahan ketimbang singa sekalipun.

Lalu, apakah pekerjaan saya sekarang adalah passion saya? Enggak juga, passion saya di bidang pesawat terbang, aero-tech. Bukan di bidang Project Management. Tapi, fu*k your passion, orang yang bekerja di passionnya adalah orang yang beruntung, tapi berapa persen sih keberuntungan itu?

Saya hanya merasa bahwa pekerjaan saya sekarang ini adalah pekerjaan yang bisa saya geluti hingga masa tua nanti, pekerjaan yang bisa saya pertahankan at least hingga kedua anak saya menikah atau mereka bisa bersekolah tingkat lanjut. Sesederhana itu.

Dan benarlah kemudian, bahwa something yang saya dapat di tempat “petualangan”, telah mengantar saya di sebuah tempat saat ini, tempat yang layak untuk saya bersyukur setiap hari.

So, resign di hari pertama? Ikuti kata hatimu, bukan orang lain yang menentukan jalan hidupmu, tapi 1000% kau sendiri.

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with: ,
Posted in Humaniora
6 comments on “Resign Di Hari Pertama Kerja, Tabukah?
  1. daruma says:

    Saya juga setuju kalau ngerasa enggak cocok lebih baik chao.
    Tapi akan lebih baik kalau melamar pekerjaan dengan yang sesuai dengan passion kita. Banyak diluar sana yang melamar hanya dengan tujuan coba-coba padahal kalau digeluti dan dipelajari bisa jadi pekerjaan tersebut adalah passion kita.

    Like

  2. Kantorbos says:

    Jika ngikutin kehendak hati, saya juga sudah resign. Tapi ada tanggung jawab besar di luar sana (keluarga dan martabat laki-laki). So, tetap bertahan dan belajar

    Like

  3. Sabda Awal says:

    jadi ingat dulu sempet setahun jadi pendonasi di wwf n dikirimi baju n post card *ehh

    memang kalau kerja ga sesuai entah itu prinsip, tujuan, atau apalah itu, lebih baik mundur. ngejalani setengah2, malah bikin jd ga bergairah sama sekali

    Like

  4. Hastira says:

    ya banyak pilihan sesuai dengan hati ya, tak bisa dipaksakan

    Like

  5. Nice.
    Tulisan ini memberi pencerahan kepadaku. Aku juga dulu selalu punya pandangan “agak negatif” kepada orang-orang yang dengan gampang resign. Tetapi, semua punya alasan masing².

    Like

  6. iska says:

    wah iya juga sih
    kalo saya juga bakal resign kalo posisi harus nyari pendonasi, ga enak di hati
    saya juga termasuk yang pilih2 kerja, meski ada job blogger, kalo ga sesuai hati nurani, saya tolak, meski imbalannya cukup menggiurkan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories