Jokowi dilantik, Prabowo pun Hadir, Lantas Siapa Yang Masih Nyinyir?

“Pura babbara’ sompekku, Pura tangkisi golikku”. Sebuah bahasa bugis yang artinya: “Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang”.

Kalimat yang hadir di instagram Presiden Joko Widodo terbaru. Kalimat yang kuat dan memiliki kesan percaya diri. Ya, kemarin, 20 Oktober 2019, Presiden Jokowi telah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia yang kedua kalinya, periode jabatan 2019-2024.

Kalimat tersebut menegaskan, meski tertatih-tatih dan penuh luka cacian, Jokowi tidak terbendung. Dia adalah pemenang dari pemenang. Jokowi bukan saja mampu meyakinkan lebih dari 50% rakyat Indonesia, tapi yang terhebat adalah, mampu merangkul “musuh bebuyutan”.

Jokowi terlihat memainkan jurus pamungkasnya: Diplomasi. Setelah diplomasi MRT, diplomasi nasi goreng ala Megawati dan diplomasi meja makan dengan para ketua partai.

Menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji. Menang tanpa merendahkan pihak lain, kuat dengan apa adanya. Kira-kira itulah umpama yang pas.

Hasilnya Prabowo dan Sandiaga Uno hadir di acara pelantikan Presiden, langkah mereka cukup meyakinkan meskipun beberapa kali wajah tertunduk Sandi terlihat kamera. Wajar saja. Sedangkan Prabowo, wajahnya sumringah, tampak tidak dibuat-buat dan terkesan legowo.

Kehadiran mereka menegaskan dua hal: Pertama, tidak ada lagi kubu 01 atau 02, tidak ada kampret ataupun cebong.

Kedua, ini sekaligus semakin memperkecil kemungkinan siapa pihak-pihak yang ingin mengacau Indonesia. Prabowo dan Sandi membuktikan bahwa mereka adalah seorang ksatria. Mereka cinta NKRI.

Lalu kenapa masih banyak yang nyiyir di media sosial? Justru itulah yang perlu dipertanyakan.

Mereka yang masih nyinyir adalah haters abadi Jokowi. Mereka yang memiliki kepentingan lain selain tegaknya NKRI. Merekalah yang gemar berteriak Indonesia darurat khilafah.

Setelah Jokowi ditetapkan sebagai pemenang Pilpres 2019, demonstrasi besar adalah demonstrasi Mahasiswa menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP. Okelah Mahasiswa punya tujuan, tapi di antara kelompok pendemo sendiri ternyata pecah menjadi dua, yaitu:

Mereka yang asli mendukung Mahasiswa, dan mereka yang teriak Jokowi turun dari kursi Presiden! Padahal agenda kedua tidaklah ada di dalam aksi Mahasiswa.

Dan benar saja, beberapa hari setelah demo Mahasiswa, muncul aksi tambahan, yaitu aksi Mujahid 212, membawa embel-embel 212 aksi ini pasti di agendakan oleh tokoh alumni 212.

Aksi ini bolak-balik menyuarakan agar Jokowi turun. Dengan membawa banyak bendera Ar-Rayah –bendera yang selalu digunakan HTI dalam aksi– mereka justru tidak membahas secara substantif isi tuntutan Mahasiswa. Justru mereka kembali membawa misi pendirian khilafah.

Aksi ini aksi yang latah, ikut mendompleng aksi Mahasiswa. Begitupun beberapa oknum organisasi radikal yang beberapa kawan saya. Mereka memasang status di facebook dan whatsapp dengan penuh kebencian dan siap perang.

Ditambah lagi kasus penusukan Menkopolhukam Wiranto, dimana pelaku yang terindentifikasi sebagai anggota JAD.

Kilas balik JAD. JAD (Jamaah Ansharut Daulah) adalah kelompok radikal pecahan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. JAD terang-terangan menyatakan terafiliasi dengan ISIS.

Serangan mereka yang terkenal adalah bom Surabaya yang di dalangi oleh satu keluarga. JAD ini gerakannya sporadis, acak dan tiba-tiba. Penusukan Wiranto mudah dilacak karena polanya sama.

JAD, JAT, JI, HTI atapun Ikhwanul Muslimin tujuannya satu, yaitu mendirikan negara khilafah. Bedanya, HTI/IM bergerak lewat gerakan politik dan JAD/JAT/ISIS lewat gerakan terorisme.

Untuk lebih lengkap, silahkan baca tulisan saya sebelumnya: Menguak Arab-Spring Indonesia

Dari sini sudah terbuka semua, Prabowo seakan ingin melepaskan diri dari gerombolan yang selama ini “nebeng” tenar. Termasuk Front yang ketuanya masih tertahan di Saudi itu.

Mereka massanya sebetulnya tidak terlalu banyak, tapi militan. Aksi 212 untuk menjatuhkan Ahok adalah keberhasilan mereka, mereka mampu menggandeng massa dari kalangan biasa.

Tentu saja karena massa dari kalangan biasa ini tidak sadar sedang di bawa kemana oleh mereka. Tapi ketika aksi mujahid 212 yang menolak revisi KPK, aksi mereka lenyap begitu saja. Tidak ada aksi heroik dan massa yang bertumpuk. Selepas Dhuhur mereka sudah bubar.

Ini membuktikan jika masyarakat sudah paham siapa yang menunggangi setiap aksi demo. Pancasila sangat kuat. Meskipun butuh perkuatan dari sisi pendidikan dasar hingga saringan masuk abdi negara.

Wacana ASN harus bersumpah setia kepada Pancasila sudah mutlak harga mati. ASN yang nyinyir bahkan pro khilafah sama saja “buang kotoran di tempat makan sendiri”, kata pendiri Kompasiana dilaman status facebook.

Prabowo dan Sandi masih butuh panggung di 2024, terutama Sandi. Nekat sekarang sama saja bunuh diri. Lebih baik kalem sekarang sambil menyusun kekuatan yang solid.

Dan mereka berdua sudah membuktikan, mereka nasionalis sejati. Kelompok radikalisme bukanlah bagian dari mereka. Kelompok radikalis adalah sisa-sisa dari pertempuran Pilpres.

Hanya merekalah haters sejati Jokowi, tinggal keputusan Jokowi, tumpas atau tunda.

Karena sekecil apapun, mereka adalah riak yang selalu menunggu waktu untuk timbul kembali.

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories