“Joker” dan Realitas Kehidupan Kita

Ada yang aneh selepas saya menonton Joker, tawa yang terus terngiang, mimik wajah yang berubah-ubah dan kondisi sosial yang membentuknya.

Saya paham, jika anda teringat terus akan sebuah film dipastikan film tersebut adalah film yang bagus. Yup, secara teknis memang bagus, akting Joaquin Phoenix tidak perlu di ragukan, sangat totalitas, nilai 8/10, dan layak dapat Oscar. Mungkin inilah film villain superhero terbaik.

Tapi ada yang aneh, ada kondisi psikologis yang seperti mengancam saya dan para penonton selepas menonton film tersebut.

Setelah saya resapi, film ini bukanlah jenis film action superhero meskipun Joker adalah musuh “terkuat” Batman, hidup di kota Gotham dan dinaungi Oleh DC Comics. Film ini adalah film Thriller Psychology.

Kondisi psikologis acak yang di alami Arthur Fleck telah membangkitkan naluri terdalam dari saya sendiri, dan saya yakin begitupula yang terjadi pada para penonton di sekeliling saya.

Naluri itu adalah naluri jahat (dark triad), menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud, setiap orang memiliki apa yang di namakan id, yaitu sifat dasar manusia, termasuk insting, instring lapar dan haus, insting seksual, insting agresifitas dll.

Id ini bertujuan untuk menghadirkan kondisi yang menyenangkan bagi manusia, karena tidak ada manusia yang tidak ingin dalam kondisi menyenangkan bukan?

Kondisi menyenangkan itu adalah dengan terpenuhinya aspek kebutuhan hidup; punya harta, punya rumah, punya keluarga, dan di hargai orang sekitar.

Lantas bagaimana jika kondisi sebaliknya yang kita hadapi?

Kita akan berusaha untuk memenuhinya, dengan cara apapun. Kita punya yang namanya ego. Ego yang mengatur kita ini mau ngapain dengan cara apa. Bertujuan untuk memenuhi tuntutan id.

Lalu kita punya yang namanya superego, simplenya, superego ini berguna untuk mengerem sifat ego. Superego berisi norma aturan dan nilai-nilai.

Superego inilah yang mengatur kita untuk tetap berhenti di lampu merah. Lalu bagaimana dengan aksi pencurian?

Pencurian adalah manifestasi dari ego untuk memenuhi kebutuhan id. Kita (id) lapar, ego kita mengatakan kita harus cari makan, superego mengatakan kita harus punya duit untuk beli makanan. Sayangnya, kondisi realitas tidak mendukung, duit tidak punya, pekerjaan pun tidak ada.

Superego kewalahan dalam menghadapi realitas dunia luar, akhirnya ego bertindak, id yang lapar mengeluarkan sinyal bernama naluri, ego menerima naluri tersebut untuk melakukan apapun yang di kehendaki.

Munculah yang disebut dark triad (tiga kecenderungan paling jahat dari Manusia), yaitu psikopat (kurangnya empati dan pengendalian diri), narsisme (mencari perhatian ekstrim) dan machiavellianisme (keyakinan manipulatif, tidak berperasaan yang berujung menghalalkan cara).

Disinilah timbulnya kenekatan manusia untuk mencuri. Hal yang sama terjadi pada Arthur Fleck, sebelum menjadi Joker di ceritakan Arthur adalah orang yang gagal total sebagai manusia (human).

Dia dihina oleh masyarakat, dicampakkan oleh status sosial, ditertawai oleh nasib dan ditolak oleh asal usulnya yang tidak jelas. Bahkan ketika dia harus melawan penyakitnya (sering tertawa tiba-tiba) dengan obat subsidi dari Pemerintah, eh kok ya subsidi itu di cabut.

Arthur Fleck adalah manifestasi paripurna dari kegagalan sosial seorang manusia. Gagal dalam sosial, diri sendiri dan juga nasib.

Dan diperparah oleh kondisi urban kota Gotham yang sedang menuju titik dramatis terendah.

Kota yang krisis dimana Pemerintah tidak pro rakyat, orang kaya dan senator hanya bersandiwara di dalam oligarki demi citra baiknya seperti citra Thomas Wayne, ayah Bruce Wayne sang Batman. Kota yang menciptakan predator-predator liar antar rakyat jelata. Ekonomi yang buruk hingga di cabutnya subsidi pengobatan untuk Arthur.

Hal-hal yang semakin memperparah drama hidupnya, Arthur yang sebelumnya adalah “orang baik” akhirnya menjadi predator sempurna bagi ketidakadilan. Termasuk membunuh ibunya sendiri akibat rasa sakit yang teramat sangat hingga memunculkan sebuah delusi. Lalu lahirlah sosok Joker.

Disinilah saya melihat kekhawatiran. Joker disini diposisikan sebagai “korban” dari kebiadaban sosial, aksi pembunuhan oleh Joker terhadap tiga investor di Kereta di respon oleh masyarakat sebagai bentuk gerakan, ini seakan ingin membentuk narasi “kejahatan muncul akibat kegagalan Pemerintah”.

Oligarki dan kemapanan adalah hal yang harus dilawan. Sebuah narasi basi dari para penganut anti-kemapanan. Kejahatan seakan dibenarkan, superego manusia sudah tidak berguna, norma dianggap sampah.

Joker pun dijadikan pahlawan, demikian pula narasi yang ingin di hadirkan para penganut aksi anarkis di dalam demonstrasi.

Tidak ada yang kebetulan, kebengisan rakyat adalah hasil dari kegagalan Pemerintah. Narasi yang coba diangkat dan disamakan dengan kejadian di Indonesia akhir-akhir ini.

Quote Joker yang di share di banyak sosial media adalah “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti“. Mahasiswa dan anak STM dianggap jelmaan Joker dalam kehidupan nyata. Mereka dianggap sebagai produk gagal kelas sosial yang disakiti oleh Pemerintah.

Benarkah demikian?

Ini adalah wujud ego untuk mencari kambing hitam sebagai pihak yang terzolimi karena sudah tidak bisa mencari pembenaran di dalam kejahatan.

Di ranah inilah film ini bermain, sepanjang film penonton seakan di buat terpesona oleh derita-derita yang di alami Arthur lantas menciptakan ruang pikiran bahwa kejahatan Joker bisa dimaklumi.

Penonton dibuat percaya bahwa kejahatan di dalam diri kita bukanlah salah kita, kejahatan adalah produk olahan kegagalan sosial.

Hal yang absurd, karena bagi saya kejahatan ya kejahatan. Tidak ada ruang abu-abu atau ruang pemakluman.

Mahasiswa dan anak STM bukanlah produk gagal, bagaimana bisa disebut gagal jika untuk berusaha hidup mandiri saja mereka belum mampu? masih segelintir anak SMA/STM atau Mahasiswa yang nyambi bekerja, dan rata-rata mereka sudah malas untuk ikut berdemo.

Lagipula, SPP Mahasiswa itu tidak murah! Orang tua mereka banting tulang agar mereka tetap berkuliah, ada harapan disana.

Bagaimana dengan kondisi sosial yang telah menekan manusia ke titik terendah dalam hidupnya, mengubah psiko-moral, menghilangkan superego hingga mendorong ego ke area terkritis?

Pertanyaan itu saya balik, bagaimana jika ada orang yang pernah di titik terendah dalam hidupnya, lantas menggunakan itu untuk kemudian bangkit?

Ada contohnya? Ada. Banyak lagi. Hampir mayoritas orang sukses yang saya kenal dulunya punya masa lalu yang suram. Bahkan ada yang pernah di penjara karena mencuri susu untuk adiknya, sedemikian miskin mereka.

Salah satu direktur tempat saya bekerja dulunya berbagi satu potong ubi untuk bertiga dengan adik-adiknya. Ayahnya seorang buruh bangunan yang meninggal ketika dirinya berumur 5 tahun, di umur 7 tahun dia kerja sebagai tukang cuci piring di Warteg dan diusir karena kedapatan mencuri ikan lele satu potong.

Dia bersekolah SD mengandalkan hasil kerja sebagai tukang semir sepatu, hingga lulus SMA dia tetap bersekolah sambil bekerja apa saja. Ketika melamar kerja tak terhitung dia diusir oleh Satpam perusahaan, ditertawai teman karena sering berhutang, hingga ibunya meninggal dia pun belum bekerja, tanpa jaminan asuransi kesehatan apapun.

Ibunya sakit paru-paru tanpa pernah di rawat di Rumah Sakit manapun, karena dana memang tidak ada. BPJS boro-boro. Dan ketika krisis 98 dia hampir ikut-ikutan merusak negeri ini, kebenciannya pada negara juga telah sampai di ubun-ubun, tapi superego-nya berkata lain.

“Jika saya merusak, saya tak ubahnya binatang, dan saya tidak akan bisa jadi apa-apa” Itu ujarnya kepada saya.

Hingga akhirnya dia diterima kerja sebagai office boy, itupun perjuangannya sungguh luar biasa, gaji di tahan pemilik usaha hingga pernah tak gajian lima bulan karena uangnya di tilep.

Kondisi sosial sakit jiwa yang bisa saja membuat dirinya terpuruk dan gila. Tapi dirinya justru bertekad melawan nasib. Yang luar biasa, ketika menjadi office boy, dia sisihkan penghasilnya yang kecil itu untuk berkuliah sarjana. Dan keberhasilan pun bisa dia raih.

Jadi, kata siapa orang jahat adalah orang baik yang di sakiti? STOP mencari pembenaran. Itu hanyalah khayalan Arthur Fleck terhadap dirinya sendiri yang mana otaknya sudah rusak sejak kecil.

Berbeda dengan kita yang di anugerahi batang otak yang sehat, akal yang berjalan dan moral yang terdidik.

Tinggal mental kita, mental korban (pecundang) atau mental pemenang?

Kejahatan dan kebaikan bukanlah dua sisi mata uang yang bisa diputar balik. Mereka adalah pilihan, terus mengasah kebaikan atau larut di dalam kebencian yang tak berujung.

Bukan lingkungan sosial musuh sejatimu, tapi dirimu sendiri.

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Humaniora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories