Memaknai Filosofi Didi Kempot di Dalam Aksi Demonstrasi

~ Yha lord, jadikanlah orang-orang itu (DPR) termasuk golongan yang teraniaya, seperti tembang mu yha lord ~

Didi Kempot in action

“Huuuu…dasar jombloo!” Teriak rekan-rekan satu almamaternya.

Begitulah seuntai kalimat yang saya curi dengar ketika aksi demonstrasi Mahasiswa menuntut pembatalan revisi UU KPK dan RUU KUHP, mahasiswa tersebut lengkap memakai atribut almamater salah satu kampus, ikat kepala, toa di tangan dan tentunya membawa seuntai kejombloan yang tak kunjung sirna.

Mahasiswa tersebut turun dari mobil carry diselingi wajah yang sendu, terlihat raut wajah kesedihan yang mendalam, bukan hanya kepada republik ini, tapi kepada nasib.

Tentu ucapan Mahasiswa itu merujuk kepada the one and only, Lord Didi Kempot. Seorang maestro tembang patah hati, hingga dijuluki the godfather of broken heart..

Itu pula yang tampak pada aksi demonstrasi kemarin, aksi di Jogja dengan tagar #GejayanMemanggil menghadirkan nuansa yang berbeda, jika biasanya spanduk atau poster selalu bertuliskan hal yang sangar, kali ini beda, tampak beberapa tulisan yang santuy cenderung patah hati.

Kalimat-kalimat yang diambil dari lirik tembang Didi Kempot seperti “Rezim Cidro“, “Ojo mblenjani janji” (jangan ingkar janji) atau “Trimo mundur timbang loro ati” (Lebih baik mundur daripada sakit hati) menghiasi acara demonstrasi kemarin. Unik sekaligus terenyuh.

Disini jelas, pengaruh renaissance Didi Kempot telah merasuk kedalam relung hati para Mahasiswa dan (tentunya) Mahasiswi.

Filosofi seorang yang bernama asli Didi Prasetyo tersebut telah berhasil membuat sebuah era baru di zaman milenial ini. Era patah hati.

Didi Kempot secara sosiohistoris seakan mewakili perasaan Mahasiswa dan juga (beberapa) anak bangsa yang tidak rela jika KPK dilemahkan. Mahasiswa seakan telah patah hati dengan yang namanya DPR.

DPR “new era” yang di harapkan lebih baik dari DPR sebelumnya justru viral karena salah satu anggotanya berfoto dengan tiga istrinya lalu tertidur di dalam sidang, dengan alasan yang justru jadi lelucon; kecapekan, capek atau “capek”?

Lantas anggota DPR viral lagi karena ketidakhadiran 50,4% anggota di sidang perdana.

Gimana tidak ambyar hati rakyat, yha lord?

Anggota DPR yang cidro, tega membohongi rakyat padahal masih di awal-awal masa jabatannya. Bagaimana untuk 2-3 tahun mendatang?

Disinilah Didi Kempot hadir sebagai manifestasi paripurna kesedihan rakyat, keputusasaan rakyat kepada para wakilnya di DPR, seperti lirik dalam tembang Aku Dudu Rojo..

“Pupus godhong gedhang
Ajang pincuk saiki wis ra kelingan
Biting pringe garing
Mbok apusi awakku yo nganti gering”

Intinya, pupus sudah harapan, sudah tidak ada ingatan lagi (pada rakyat), kalian (Wakil Rakyat) bohongi aku sampai kering.

Betapa mendalamnya nestapa yang ditunjukkan lirik lagu itu, apalagi ketika kita melihat anggota DPR membuang-buang waktu hanya untuk memilih ketua MPR, seakan tidak peka terhadap kondisi bangsa, termasuk kondisi tanah Wamena yang sedang tercabik-cabik.

Bahkan beberapa dari anggota dewan yang terhormat justru tertawa ketika seorang anggota DPR perwakilan Papua menangis karena prihatin terhadap sense of crisis rekannya sendiri terhadap masalah Papua.

Ah, semakin ambyar hati ini sobat, ibu pertiwi seakan ikut bernyanyi bersama seorang Didi Kempot sambil terisak menyiksa zaman.

Ya, bukan keramaian mas Anang atau idealisme ala bro Jerix yang menjembatani antara seni dan politik, tapi cukup kesederhanaan dari seuntai lagu patah hati sang Bapak Patah Hati Nasional.

Jika seorang mengatakan bahwa Didi Kempot adalah semesta yang lain, maka saya pun berhak berkata bahwa Didi Kempot justru sebuah dimensi yang lain, yaitu dimensi jiwa.

Didi Kempot pernah berkata bahwa lagu-lagu yang patah hati, sedih dan sakit justru mengajarkan kita untuk tetap kuat dalam menjalani hidup.

Disini saya terhenyak, tersihir seperti juga ratusan kawula muda di Balai Kota Solo waktu sore itu.

Seakan beliau ingin berkata, bahwa biarlah DPR bertingkah tapi hidup kita harus tetap berjalan, ah sungguh kita disuguhkan kembali era romantisme ala Oliver Goldsmith versi patah hati lengkap dengan gaya heroic couplet.

Ketika dulu William Wordsworth (The Solitarity Reaper) bergaung dengan semangat revolusi Perancisnya, maka biarlah era Didi Kempot milenial ini membawa pesan perjuangan revolusi patah hati.

Patah hatinya sobat ambyar sambil menyerutup segelas es kopi susu ditemani remah-remah senja.

Ambyaar tenaan

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with: ,
Posted in Humaniora
One comment on “Memaknai Filosofi Didi Kempot di Dalam Aksi Demonstrasi
  1. aan widi says:

    Menarik bagaimana eksistensi seorang seniman bisa selalu relevan sampai dgn selera generasi hari ini, bahkan hingga menembus ekspresi politis lewat lirik lagu patah hati

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories