Betulkah Krisis Ekonomi Di Depan Mata?

Ini hadir dari keheranan saya saja, sepele memang. Heran ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) yang perkasa itu tiba-tiba mengkampanyekan gerakan Yuk Nabung Saham sejak 2015, dan baru kedengeran gaungnya di medio 2017 hingga sekarang.

Ditambah lagi hampir semua aktifis saham ikut berkampanye menabung saham. Padahal istilah “menabung” di saham itu salah kaprah.

Menabung adalah aktifitas menyimpan uang dengan jaminan keamanan dan kepastian keuntungan, meskipun sedikit (minimal sama dengan suku bunga deposito).

Sedangkan yang namanya saham, tanah, rumah adalah aktifitas murni investasi dengan potensi kerugian. Lho tanah kok rugi? Ya bisa donk, jika lokasinya jelek, tiba-tiba kebanjiran atau kena lumpur seperti di Lapindo (sukur-sukur dapat uang penggantian), tapi yang pasti resiko rugi itu ada.

Tapi kita gak akan bahas soal istilah. Yang di bahas adalah soal tujuan gerakan Yuk Menabung Saham.

Tujuan ya cuma satu: Menggaet sebanyak-banyaknya investor saham lokal. Biaya minimum beli sahamnya murah: Cukup seratus ribu!. Dengan seratus ribu sudah bisa beli sahamnya PT Total Bangun Persada Tbk sebanyak 2 lot (1 lot = 100 lembar) saham yang harganya 480 rupiah per lembar (data per 23 Sept 2019), masih kembalian 4 ribu rupiah. Lumayan.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang? padahal Indeks Saham itu sudah ada sejak 1982. Naik pada era 90an, jatuh di era 98 dan bangkit lagi di era 2000an dan melesat selepas 2008.

Hitung saja sejak 2008 hingga sekarang. 11 tahun sudah, tapi gaung Menabung Saham baru muncul. Dulu ngapain aja?

Apakah ada kaitannya dengan gencarnya Bu Sri Mulyani yang cerdas itu, yang superwomen itu, untuk mendapat income negara sebanyak-banyaknya?

Income negara sih gak ada hubungannya dengan duit kita yang masuk ke bursa saham, tapi kalo untuk memperbanyak jumlah uang lokal yang mengalir ke bursa saham, iya.

Di bursa saham, di kenal istilah “investor domestik” dan “investor asing”, investor asing ini yang sering kita dengar jika ada berita IHSG turun akibat aksi jual asing (foreign net sell) atau aksi beli asing (foreign net buy).

Investor asing itu ya sesuai judulnya, betul-betul orang asing, bukan WNI. Parahnya, hampir semua berita soal naik atau turunnya saham itu karena aksi jual beli asing. Asing sedemikian kuat mencengkram Indonesia.

Ada istilah kita sedang di jajah ekonomi, itu gak salah-salah amat. Selama ini investor lokal cuma bisa melihat. IHSG turun ya jual, IHSG naik ya beli.

Nah, dengan adanya tambahan investor lokal, di harap kita bisa mem-balance pihak asing yang sedemikian kuat.

Masalahnya, saat ini kita sedang menghadapi yang namanya anomali ekonomi. Anomali=Hal yang tidak biasa. Apa itu?

Ingat Michael Burry? Tokoh nyentrik di film The Big Short yang diperankan oleh Christian Bale. Disana Michael sudah memprediksi terjadinya krisis moneter 2008 yang berdampak pada jatuhnya harga saham akibat kegagalan bayar (default) di bidang properti, dikenal dengan subprime mortage crisis.

Saat itu, sejumlah lembaga keuangan memberikan keringanan pinjaman (hutang) properti kepada banyak orang yang sebenarnya tidak mampu bayar.

Ledakan pun terjadi, tahun 2008 raksasa keuangan Amerika Lehmann Brother bangkrut. Michael Burry yang sudah memprediksi ledakan itu, justru untung $2,7 Milyar. Dengan cara melakukan transaksi credit default swap dengan raksasa keuangan lainnya, Goldman Sachs sejak dari 2005.

Artinya, sejak 2005 Michael Burry sudah memprediksi jatuhnya pasar akibat kegagalan bayar tersebut. Dengan cara apa?

Salah satunya denga melihat Inverted Yield Curve (IYC). IYC menurut investopedia adalah “kurva imbal hasil terbalik”.

Gampangnya gini, jika kita ingin menabung deposito di bank, biasanya bunga deposito jangka panjang akan bernilai lebih besar dari bunga deposito jangka pendek, sehingga kita akan lebih tertarik untuk menaruh deposito untuk yang jangka panjang (lebih dari 10 tahun).

Nah, IYC ini menggambarkan kebalikan dari nilai bunga tersebut. Dimana bunga jangka pendek justru lebih besar dari bunga jangka panjang.

Di Amerika, bunga ini kita ganti namanya menjadi US Treasury Bond (Surat Utang Negara US). Dimana, nilai bunga obligasi jangka pendek nilainya lebih besar dari nilai bunga obligasi jangka panjang, disinilah telah terjadi sebuah anomali.

Di Amerika, mereka merilis suatu tingkat suku bunga harian Treasury Bond dari jangka waktu 1 bulan hingga 10-30 tahun yang berubah setiap harinya. Saya coba rangkum dari link ini, Let see!

Dari tabel di atas, perhatikan periode Juli-1 Oktober 2019, dimana tingkat suku bunga jangka pendek (di bawah 1 tahun) lebih besar dari tingkat suku bunga jangka panjang (3-10 tahun).

Mengapa demikian?

Seperti di jelaskan di atas, ini hal yang sangat jarang terjadi, dimana sejak 2015 tingkat suku bunga jangka pendek naik perlahan-lahan.

2015

2016

Dan tahun 2015 adalah tepat tahun pertama pemerintah merilis gerakan Yuk Menabung Saham.

Mirip dengan kasus Michael Burry yang telah melihat fenomena ini tiga tahun sebelum kejadian crash di 2008!

Mari kita lihat tabel selanjutnya, tabel US Treasury Spread dalam persen:

Mari kita fokus pada grafik yang jatuh di bawah 0%, era akhir 80’an ketika terjadi oil price shock, yaitu kejadian surplus minyak mentah akibat krisis energi pada tahun 1973 dan 1979. Lalu kemudian awal era 2000’an, yaitu ketika pecahnya dotcom bubble, disusul di 2008 ketika subprime mortage crisis terjadi.

Ini disebabkan investor melihat profil jangka pendek Amerika (dan dunia) tidaklah bagus, akan ada gejolak. Maka mereka pun beramai-ramai mulai menjual bond jangka pendek dan menukar dengan bond jangka panjang.

Akibatnya, tingkat suku bunga jangka pendek naik (permintaan turun), dan tingkat suku bunga jangka panjang pun turun (permintaan naik).

Alasannya? Banyak, salah satunya adalah perang dagang Amerika-China yang berlarut-larut. Selebihnya? Karena pasar Amerika dan dunia sudah naik banyak (diatas nilai normal).

Seperti hukum ekonomi, ketika di titik jenuh maka harga akan mencari titik kesetimbangannya sendiri (ekuilibrium), termasuk jika harus turun.

Lalu apa hubungan dengan Yuk Nabung Saham? Hubungannya ada pada keseimbangan antara investor asing dan lokal.

Gini, sepertinya, pemerintah sudah melihat outlook jangka pendek dua negara gajah ini (Amerika dan China) sudah enggak sehat lagi, dan akan berpengaruh ke ekonomi dunia, salah satunya adalah Indonesia.

Dan benar saja, sejak awal tahun 2019, Investor asing terus membukukan aksi jual bersih (net sell) yang lebih besar dibanding aksi beli nya (net buy) dan seharusnya IHSG sudah anjlok sejak jauh-jauh hari.

Lantas kenapa IHSG justru masih stabil?

Itu karena ditopang oleh para investor lokal yang sudah mulai banyak, sudah mulai marak dan didukung oleh para aktifis saham yang getol menyuarakan investasi saham/surat berharga.

Disitulah kejelian pemerintah dalam kampanye Yuk Nabung Saham, tapi justru disitulah kekhawatiran saya bahwa sebetulnya pemerintah sudah memprediksi bahwa dana asing akan keluar, ekonomi Amerika akan goyah dan tentunya ekonomi global akan mengalami guncangan.

Anomali bernama Inverted Yield Curve ini selalu hadir 2-3 tahun sebelum krisis terjadi, seperti pada krisis 2008 lalu dimana Michael Burry sudah memprediksi sejak 2005. Dan saat ini, Sri Mulyani pun (mungkin) sudah memprediksinya sejak 2015.

Dengan kata lain, investor lokal digunakan sebagai “bantalan” IHSG ketika investor asing pada kabur.

Lalu kapan krisis itu akan tiba? Tidak ada yang tahu pasti, bisa 2020, 2021 atau bahkan 2022, atau bisa jadi juga ekonomi baik-baik saja dimana ini cukup jarang terjadi jika anomali di atas sudah terbentuk.

Lalu apa pemicu selanjutnya?

Pemicu selanjutnya adalah kondisi dalam negeri. Meskipun Presiden sudah di tetapkan pemenang, tetapi gelombang politik belum juga reda, bahkan terkait revisi UU KPK yang masih jadi polemik dan berpotensi ditunggangi pihak yang “penasaran”.

Tiba-tiba pun Papua kembali bergejolak, sebuah runtutan fenomena yang seperti dibuat bahwa ekonomi Indonesia yang sedang membaik ini harus turun kembali.

So, jadi bersiaplah, winter is coming.

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Ekonomi
One comment on “Betulkah Krisis Ekonomi Di Depan Mata?
  1. Sabda Awal says:

    winter is coming mas, memang investor lokal yg selama ini menopang ihsg jumlahnya makin banyak sejak gencar mengkampanyekan yuk nabung sayang, karrna seperti yg udah dijelaskan, selama ini ihsg dipengaruhi sama trader asing.

    resesi mungkin akan terjadi, kita bersiap sebaik2nya, apapun bisa terjadi terkain US dan China ini

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories