Shanghai, Struk Taksi, dan Hamdalah

Pengalaman yang nyaris pahit saya rasakan ketika bertugas ke Tiongkok, hari terakhir saya mampir di kota metropolitan, Shanghai. Pergi ke sana selama 3 hari untuk urusan pekerjaan. Segalanya lancar jaya dari keberangkatan hingga pagi hari menjelang kepulangan saya kembali ke Jakarta.

Minggu pagi, jam 6 waktu Shanghai. Selepas sarapan di Cental Hotel dengan menu halal (setelah semalam saya order halal food via restoran Hong Changxing di Guangxi Road, satu dari banyaknya restoran halal di Shanghai), saya pun memanggil taksi yang sepertinya selalu standby di depan Hotel.

Oya, Central Hotel ini dekat sekali dengan Nanjing Road dan Wu Jiang Road, jalanan tempat utama orang membeli oleh-oleh atau berfoto karena tempatnya yang instagramable

View this post on Instagram

Walking..

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

Hal sepertinya baik-baik saja ketika saya naik taksi, sang supir sudah cukup berumur, sekitar 50 tahunan. Orangnya baik, suka tersenyum meskipun tentunya, tak bisa bahasa Inggris. Perjalanan dan Hotel ke Bandara Pu Dong sekitar 70 menit. Jalanan tol disana sangat lancar, lebar layaknya di Eropa.

Flight saya jam 9.00 pagi waktu Shanghai dengan Garuda Indonesia, saya tiba di bandara pukul 7 pagi. Masih cukup waktu untuk saya keliling bandara dan membeli oleh-oleh, pikir saya.

Ketika tiba, saya turun dari taksi seperti biasa. Pintu taksi pun saya tutup dan si supir tua tersebut melajukan taksinya menjauh. Persis ketika taksi tersebut hilang dari pandangan, saya refleks merogoh saku kiri jaket dimana saya meletakkan passport.

Dan…tidak ada!. Ya passport saya mendadak hilang, saya pun panik dan mencari di seluruh kantong dan tas saya, tidak ada!

Detik itupun saya sadar bahwa passport saya terjatuh di taksi. Panik dan pucat menggerayangi saya. Saya kemudian secepat kilat melapor ke petugas yang ada di dekat sana, dengan maksud agar mereka menyetop taksi tadi sebelum keluar bandara.

Dengan bahasa Inggris saya menjelaskan ke mereka, and you know what, tidak ada satupun dari mereka yang ngerti saya ngomong apa!!

Saya semakin panik namun tetap berusaha tenang. Saya masuk ke bandara dan melapor lagi ke petugas body screening di pintu depan bandara. Ternyata sama saja, mereka tak paham bahasa Inggris. Mati lah!!

Saya bingung dan akhirnya bertanya dimana kantor kepolisian. Edian, mereka bengong, padahal saya rasa kata-kata Police Station cukup untuk menjelaskan bahwa saya cari kantor polisi.

Pertolongan pun tiba, di belakang saya muncul wanita dengan bahasa Inggris faseh menjelaskan apa yang saya  maksud ke para petugas yang berjaga di sekitar body screening. Mereka pun tergopoh-gopoh menunjukkan letak kantor polisi di dalam bandara.

Alhamdulillah. Saya pun berlari ke arah yang dimaksud.

Jika dari pintu turun taksi, setelah body screening awal, langsung belok kiri, mentok ketemu lorong yang mengarah ke kiri, ikutin. Turun satu lantai, putar balik ke belakang, letaknya di sebelah kiri. Mudah kok. Jika anda berlari, tak sampai 5 menit sudah sampai.

Sampai di kantor polisi, saya menjelaskan (lagi-lagi) dengan susah payah bahwa passport saya ketinggalan di taksi. Lumayan makan waktu dan melelahkan, hampir 20 menit waktu habis untuk menjelaskan karena keterbatasan bahasa.

Mareka baru “ngeh” setelah saya translate bahasa Inggris ke bahasa China via google translate, omaigot thanks mbah!!

Saya minta diperlihatkan CCTV untuk melihat plat nomor taksi. Sialnya, CCTV baru dibuka pukul 9.00 pagi. Saya jelaskan bahwa pesawat saya jam 9.00 pagi, tak cukup waktu, tapi mereka sangat taat aturan.

Waktu menunjukkan pukul 7.50, dan saya masih coba ngotot minta jalan keluar, sambil saya menelpon istri dan staff kantor yang mengurus dinas saya. Jawaban keduanya sama, kantor kedutaan China di Jakarta, tutup. Begitupula kedutaan Indonesia di Shanghai, tutup.

Ya iyalah, hari minggu. Pihak maskapai tidak bisa membantu hingga ke ranah itu. Kebayang saya harus menginap lagi sehari disitu, kali ini bukan di hotel tapi di losmen, maklum duit dinas sudah ludes haha..

Sampai akhirnya saya teringat struk taksi yang saya simpan. Entah angin apa yang membuat saya menyimpan struk ini, padahal biasanya minta struk taksi aja gak pernah.

Mungkin inilah yang dinamakan Allah selalu menguji hambanya yang bodoh. Bodoh karena menganggap remeh selembar kertas penting ini.

Saya serahkan struk tadi ke petugas polisi yang sedari tadi mengurusi saya, dan dia kaget ternyata saya menyimpan struk tadi. Dari struk, mereka gerak cepat, mereka mendeteksi semuanya.

Tak sampai 5 menit, sang kepala opsir Polisi mendatangi saya dan mengatakan (via google translate, yaiyalah) bahwa supir taksi sudah di telpon dan segera kembali ke Bandara.

Ternyata semua alat komunikasi dan transportasi sudah terintegrasi di China, tidak ada satupun supir ilegal yang bisa seenaknya ngangkut penumpang.

Terutama di Shanghai, kota metropolis. Sampai urusan air minum pun bisa dilacak polisi. Selama ada data dan bukti yang kita pegang.

Di Shanghai, untuk rakyatnya sendiri semua sudah terintegrasi termasuk pembayaran, via WeChat. Termasuk bayar taksi. Untuk itu mereka tak perlu struk, cukup tunjukkan bukti di smartphone. Di Shanghai saya bagai orang udik, saya jadi satu-satunya manusia yang membayar KFC dengan cash.

Tak terkira leganya saya, antara kagum dengan kecanggihan sistem ala China sekaligus sebal karena sistem sudah secanggih itu tapi bahasa Inggris belum bisa. Andaikan mereka bisa bahasa Inggris pasti urusan lebih cepat lagi.

Tapi ya kembali semua memang salah saya. Pelajaran penting, jangan buang struk taksi anda di manapun, terutama di luar negeri, selalu simpan bukti-bukti pembayaran. Di negara maju, Polisi bisa dengan cepat melacak apapun yang anda keluhkan, semua sistem online.

Pukul 8.20 sang bapak supir tua terlihat di depan kantor polisi dengan membawa passport saya yang bersampul hitam. Saya ucapkan terima kasih dengan menunduk, plus 10 RMB untuk tanda lelah beliau balik lagi. Beliau menunduk balik ke saya sambil mengucap “Alhamdulillah”.

Kaget mendengar beliau mengucap Hamdalah, saya lantas mengeluarkan ponsel dan mengetik di google translate: “Sebagai muslim apakah anda bahagia disini?”

Beliau mengetik balik: “Sangat bahagia”

***

So, jangan sekali-kali remehkan struk taksi atau struk apapun. Karena disitu tertera segala macam informasi yang kamu perlu tahu. Bahkan jika selama ini saya remeh terhadap struk, sekarang tidak lagi. Struk akan saya buang setelah maksimal 7 hari.

Dan di era brutal seperti saat ini, menggunakan transportasi yang kredibel di Indonesia adalah hal mutlak. Jika tidak sempat memakai transport online, gunakan taksi yang baik dan jelas. Jangan sekali-kali anda coba taksi plus (biasanya pake Avanza/Xenia) yang ditawarkan orang asing yang mendatangi anda.

Taksi yang kredibel (Bluebird, Express, Gamya, Taxiku) biasanya selalu tersedia struk. Keamanan dan kemudahan itu bukan basa-basi, itu Koentji.

***

Ditulis di www.kompasiana.com

Anyway, silahkan menikmati foto-foto Shanghai ala saya di instagram @ryokusumo

View this post on Instagram

Line Up- The City 4

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

View this post on Instagram

Walk

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

View this post on Instagram

People

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

View this post on Instagram

Play the crossline

A post shared by Ryo Kusumo (@ryokusumo) on

 

 

 

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with: ,
Posted in Jelajah, Traveling
7 comments on “Shanghai, Struk Taksi, dan Hamdalah
  1. Menarik juga pengalamannya. Bisa jadi pelajaran buat yg suka bepergian terutama yg suka melancong ke luar negeri.

    Liked by 1 person

  2. Limuz Bee says:

    Di awal membaca ekspresi saya begini: 🙂
    Ekspresi saya berubah ketika kakak bercerita tentang pasport tertinggal, jadi seperti ini : 😲😲😲
    Ekpresi itu berubah kembali saat pasportnya kembali, jadi spt ini : 😥😏
    Tulisannya menarik sekali kak!

    Liked by 1 person

  3. Ibadah Mimpi says:

    wah pengalamannya menarik dan menegangkan nih. hihihihi

    Like

  4. Bang Dzul says:

    wah drama banget ya, diselamatkan gara-gara struk taksi, klo sejak awal tahu supir taksinya muslim bisa ngobrol banyak tuh selama 70 menit hehehe

    Liked by 1 person

  5. Beliau mengetik balik: “Sangat bahagia”

    tulisannya bagus.. halus tp mengena.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories