Filosofi Bubur Ayam Campur dan Pisah

Suatu hari saya sedang makan bubur ayam di pasar, namanya bubur ayam Cece’. Porsinya banyak, kuahnya kekuningan dengan irisan daging ayam yang besar, kulit ayam, emping, cakwe, kacang kedele dan krupuk. Buburnya sendiri bukan bubur biasa, tapi bubur yang sudah ada rasa gurihnya. Mirip bubur ayam oriental.

Disaat asyik menyantap bubur ayam tersebut, di seberang meja saya, seorang ibu memarahi putranya yang mengaduk bubur tersebut. Kata ibu tersebut, mengaduk bubur cuma membuat bubur tampak menjijikkan. Mbeleneg kalo kata orang Jerman.

Lebih jauh lagi ibu tersebut merendahkan kasta bubur ayam tadi, katanya: “Kayak bubur ayam kampung!”. Segera saya ingin mengingatkan bahwa ibu makan di pasar, bukan di mall, tapi saya urung.

Si Anak tetap ngeyel, dan terakhir karena sudah tidak sabar dengan ibunya, anak laki-laki umur 8 tahunan tersebut mendadak keluar nyalinya, sedikit berteriak si anak berkata lantang:

“Gak mau bu, ini prinsip!”

Persis Mandra di serial Si Doel Anak Sekolahan.

Si ibu diam, saya tersedak. Saya buru-buru ambil minum. Sambil minum saya berpikir, apa iya saya bisa se-filosofis anak itu.

Betulkah sebuah hal sepele sesepele cara memakan bubur ayam bisa menjadi prinsip hidup?

Pulang makan bubur ayam, saya lantas pergi ke seorang tokoh untuk menuntaskan hasrat ke-kepoan saya soal filosofi bubur ayam. Jawaban blio cukup nyambung.

Bubur Ayam Pisah

Bagi penggemar bubur ayam pisah, bubur ayam itu disusun sedemikian rupa oleh si penjual dengan konteks kasta masing-masing. Terinspirasi pada kelas kasta India.

Yang terbawah adalah bubur putih, jumlahnya banyak namun rapuh. Itu menandakan rakyat. Mudah dibodohi apalagi dengan hoaks. Tapi tanpa bubur, apalah namanya bubur ayam. Begitulah Negara, serapuh-rapuhnya rakyat, tanpa rakyat tidak akan ada Negara.

Kasta kedua adalah uba rampe kacang kedele, cakwe, bawang goreng dan tentunya ayam. Ini adalah kasta pengusaha. Ayam penting dalam mengelola rasa dan gizi. Dan diantara toping bubur, ayamlah yang harganya paling mahal.

Yang teratas adalah emping atau krupuk. Ini adalah kasta pemerintah termasuk legislatif. Nikmat, berisik, namun sebenarnya rapuh seperti krupuk.

Yang terakhir adalah kuah kaldu, kecap dan sambal. Ini ibarat undang-undang, menyerap kedalam bubur dan segala isinya. Menentukan rasa.

Bagi penikmat bubur ayam pisah, kasta harus dijaga, demi keseimbangan dan estetika. Mereka bersinergi masuk kedalam mulut namun tidak saling bercampur baur.

Maka, bisa disimpulkan, penikmat bubur ayam pisah adalah orang yang teratur, harmonis dalam keselarasan, metodis, suka dengan perencanaan.

Bubur Ayam Campur

Bubur ayam campur adalah tingkat tertinggi dalam filsafat. Bahkan sudah menyentuh ranah Ma’rifat. Ibarat Negara, bubur ayam campur adalah ketika Negara hadir ditengah rakyatnya.

Bercampur baur, saling merasakan satu sama lain, saling berinteraksi tanpa ada batas. Seperti kita yang sedang berdoa dan menghadirkan sosok “Tuhan” di hadapan kita. Kita merasa tengah berdialog dengan Tuhan. Ya, tanpa ada batas. Kita tidak lagi terbelenggu dalam rutinitas nir rasa.

Bubur ayam campur mencerminkan bagaimana manusia merasa dimanusiakan. Hadirnya Negara di tengah rakyatnya membuat rakyat merasa di ayomi, ada penguat. Tidak penting Presiden tidur di tenda asal bisa merasa jadi rakyat. Satu hal: Rasa.

Untuk bisa membaur dan merasa, kita perlu melepas segala atribut kepantasan, pangkat, jabatan, kekayaan dan gengsi. Asal bukan celana dan sarung.

Untuk itu diperlukan kenekatan berekspresi, ke-luarbiasaan kita dalam bertindak. Kemauan kita untuk melihat kedalam, tanpa hierarki.

Sehingga penikmat bubur ayam campur adalah manusia dengan keleluasaan berpikir dan bekerja, cuek, spontan sekaligus tegas. Karena bagi mereka, rasa adalah segalanya.

Sinergi

Setelah pada kesimpulan yang teramat filosofis ini, saya sampai pada pertanyaan, bisakah dua tipe manusia ini bisa bersinergi? Bisakah dari mereka masing-masing saling “bertukar tempat”?

“Kamu tahu kampret dan cebong?” Tanya blio.

Pertanyaan yang tak perlu saya jawab. Saya cukup merenung, mencerna jawaban.

“Kampret” dan “Cebong” dua istilah yang akan masuk kedalam kamus legenda bahasa, adalah dua hal yang musykil untuk saling bertukar posisi. Mereka memiliki prinsipnya sendiri. Berdiri atas dasar “sosok”.

Bahkan mereka saling klaim bahwa mereka punya “rasa” atas pilihannya, menjadi Kampret atau Cebong.

Seburuk-buruknya kampret, sekampret-kampretnya cebong, tidak akan bisa menukar posisi mereka. Setidaknya untuk saat ini. Tapi bukan berarti mustahil.

Karena toh saya sebagai pengikut mahzab bubur ayam campur pernah makan bubur ayam pisah meskipun rasanya aneh. Ada manisnya sendiri, ada rasa asin kaldu sendiri, ada pedas, ada gurih ayam sendiri, tidak kompak.

Mungkin, tapi dibutuhkan kerja yang extra keras. Kenapa demikian?

“Karena kalian melihat figur, Cebong suka dengan Jokowi, dan Kampret kagum dengan Prabowo, itu wajar, capek kalo cuma mengharap mereka pindah keyakinan” Ujar blio.

“Ada sosok, ada rasa”

“Tetapi manusia itu unik. Dalam teologi, selama 4 tahun ada saja Muslim jadi Kristen, dan Nasrani masuk Islam, Kristen masuk Hindu dan Islam masuk Budha. Ada saja kan?” Sambungnya.

“Betul, kenapa demikian?”

“Karena tidak ada sosok, selain keyakinan (iman) dalam diri. Apakah umat Kristen pernah bertemu Kristus secara langsung? Bertatap muka gitu? Apakah Muslim pun pernah melihat Tuhannya secara langsung? Belum ada kan?”

“Karena manusia hidup di alam realita, hanya dengan keimanan yang hakiki yang bisa meyakinkan mereka secara utuh. Otak, secara naluri akan cenderung “merasa” dari apa yang mereka lihat, entah Jokowi, Prabowo ataupun bubur ayam”

“Membangun realitas lebih mudah. Itulah kenapa dalam 4 tahun seorang cebong garis keras sulit pindah menjadi kampret, begitupula bubur ayam. Tapi dalam 4 tahun itu bisa jadi dia berpindah agama. Tapi ya tidak sesederhana itu, meski ada saja..” Ujar blio menutup perbincangan.

Saya kagum, dari seonggok bubur ayam yang remeh, ternyata dari cara makannya mengandung filosofi manusia yang kompleks.

Dan di pagi yang lain, saya kembali menyempatkan makan bubur disebuah rumah makan yang oriental, di Balikpapan. Saya memesan bubur ikan dan Joni memesan bubur ayam.

Datanglah bubur ayam Joni, berwarna putih bersih. Terlihat irisan cakwe mantul-mantul dari dalam bubur.

“Lho, ayamnya mana mbak” Tanya Joni ndeso.

“Di dalam mas, aduk saja” Ujar si mbak santai.

“Lhaaa…..Saya kan minta bubur ayam pisaaaah mbaak”

“Iiihhhh ngapain di pisah, truk aja gandengan”

Jleb, sakit.

Advertisements

5 thoughts on “Filosofi Bubur Ayam Campur dan Pisah

  1. Menginspirasi, buat saya cuma bisa tanya diri…berbanyak wawasan, jadi netral, semoga berujung pada logika dan realita. Moga cebong dan kampret akan pudar pamornya dan diawal 2020 kita menjadi populasi manusia kembali…..berharap bertukar menjadi populasi nabati…mungkin brokoli dan kiwi….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.