5 Tips Agar Anda Awet Dengan Mertua

Menjadi menantu memang adalah sebuah kebanggaan. Minimal anda sudah tidak ditanya lagi “kapan kawin” setiap lebaran ataupun setiap kumpul keluarga besar. Karena menjadi jomblo memang sebuah aib mylov.

Tapi tidak semua pasangan (pria pada khususnya), menjadi nyaman ketika sudah menikah. Contoh Gudel, kawan saya yang masih saja dituntut urusan duniawi oleh mertua, belum bayar listrik lah, harus ganti sofa mertua lah sampai urusan cicilan sepeda onthel.

Tapi bukan Gudel namanya jika menyerah begitu saja. Suatu hari, beliau membeberkan ajimat sakti yang mampu membuat dirinya selalu tampak rukun, kompak dan “mantul” alias mantab betul dengan mertua, selain modal mio matik tentunya.

Dan atas seizinnya, bolehlah jika saya ungkap beberapa:

1. Mertua yang “Ngurupi”

Ngurupi dalam bahasa jawa artinya menghidupi. Ya carilah mertua yang minimal, gak miskin-miskin amat alias cukup. Gitu kata Gudel.

Mencari mertua yang “gak miskin-miskin amat” bukan berarti lantas kita tidak bekerja. Justru dengan mertua yang cukup tadi, kita jadi semakin semangat untuk kerja,  lha wong kadang disindir: “eh bapak aja pagi-pagi sudah ngasih makan istri anakmu, mosok kamu belum?” gitu kira-kira. Kan malu.

Itu pertama. Yang kedua, mertua yang “cukup”, bisa diandalkan jika dalam perjalanan karirmu terhambat alias PHK. Dengan niat baik, kamu bisa coba buat proposal peminjaman dana untuk memulai usaha sendiri.

Paling kamu harus tahan dengan nyinyiran khasnya: “Lha, emang kamu bisa apa?” Sabar.

Di kampung, mertua Gudel sendiri adalah petani sekaligus pemilik lahan 5 hektar lahan tebu yang hasilnya dipasok ke pabrik gula. Hasil Perpres No 44 tahun 2016 Lampiran II no 135, dimana Presiden Jokowi memerintahkan Pabrik Gula PTPN, wajib bermitra dengan petani tebu.

“Wah maksudnya kamu nunggu warisannya gitu, emang kamu bisa tani? bisa nanem?” Tanyaku.

“Ya enggak mas?”

“Lha terus ngapain?”

“Kalo kepepet, ya nawarin tanahnya mas”

“Oalah, makelar!!”

2. Mertua yang “Ngayomi”

Ngayomi dalam bahasa jawa artinya melindungi, memayungi. Ini penting, karena mertua yang ngayomi biasanya punya pengaruh ke masyarakat atau adat. Dengan dihargainya mertua kita di lingkungan, otomatis nama kita pun ikut terangkat.

Misal kamu kena masalah hutang sama warga, biasanya warga lain akan membisiki si warga ini:

“Eh, si anu itu anaknya pak haji nganu lho, hati-hati”. Atau

“Eh, si anu itu anaknya pak ini lho, anggota DPRD, jangan macam-macam”

Dengan begitu, kamu dan keluarga biasanya punya posisi yang cukup aman, asal hutangmu tetap dibayar.

Atau yaa..kalo mertuamu baik, paling hutangmu di bayari…enak tenan.

3. Mertua yang “Mbetahi”

Mbetahi adalah mertua yang bikin kamu betah dirumah, kalaupun kamu sudah punya rumah sendiri setidaknya kamu tidak buru-buru ngacir dengan alasan kerja bakti kampung jika sedang bercengkrama dengan ibu atau bapak mertua.

Betah itu syaratnya ada dua, pertama mertua yang punya aura teduh, gak brangasan. Kalau kamu ketahuan abis nge-gaple, tidak serta merta diselepet sarung, tapi di komunikasikan kemudian diajak pengajian lalu di rukyah.

Syarat yang kedua tentu saja wajah. Untuk menantu (yang pria tentunya) punya mertua berwajah apik tentu ikut membuat senang. Jika mertuamu cantik, biasanya istrimu pun cantik. Betah dirumah, diajak kawan karaoke jawabanmu no way.

Dan lagi, jika mertuamu sudah cantik, biasanya blio gak rewel soal estetika wajah. Ngirit.

4. Mertua yang “Nggurui”

Nggurui artinya bisa memberi nasihat, seperti guru. Ini penting, karena hidupmu dan keluargamu itu gak akan mulus semulus wajah artis Korea.

Petuah bukan hanya dari orangtuamu, tapi juga dari mertuamu. Apapun juga pengalaman blio jauh lebih mumpuni.

Kamu bisa minta pendapatnya tentang pekerjaan, bisnis maupun cinta. Selain komunikasi mu dengan blio menjadi lancar, kadang-kadang muncul curhatan-curhatan unik dimana bapak mertua mu bisa masuk dengan bijak.

Asal pastikan, beliau bukan politikus partai.

Jika blio politikus partai nganu, misal ketika kamu suntuk dengan istri mu dan ingin menikah lagi. Beliau akan menasehati bijak dengan kata-kata:

“Sabar, kebaikan dan kemurahan hati adalah kelemahan seorang suami nak..”

Emmm…Emmm….Maksute pripun pak?”

5. Tabah dan Sabar

Ini apabila keempat syarat di atas tidak ada yang terpenuhi oleh mertua kamu. Sudah pas-pasan, nggak cantik, gak ganteng, gak punya pengaruh, hobi ngomel dan gak bisa kasih nasehat yang masuk akal pula. Yang bisa kamu lakukan cuma sabar, tabah dan tawakal.

Dan lebih menerima mertuamu apa adanya, karena sesesak-sesaknya hidupmu dengan mertua, tak ada yang melebihi sesaknya kawan kita ini.

Bayangkan jika kawan kita, seorang Rio Dewanto saat ini ada di pundakmu, habis minum kopi yang ke-12, menangis sambil berkata:

“Bro, bisa gak sih kita tukeran mertua..?”

Dan kamu cuma bisa menggosok pundaknya perlahan sambil ngasih wajah prihatin.

“Yang tabah mas bro..”

 

~mashooookk pak Echooo~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.