Sebuah Dialog: Apa itu Post-Islamisme?

Selepas Subuh disebuah Pesantren, Gudel sengaja belum kembali ke biliknya bersama kawan-kawan, selain Gudel harus setoran bacaan pagi nanti, Gudel merasa ada yang mengganjal di hatinya dan ganjalan itu hanya bisa di jawab oleh Pak Kyai.

Dengan mengendap, Gudel mendekati Ndalem pak Kyai. Sudah tradisi apabila mendekati ndalem pak Kyai setiap santri merasa segan, posisi menduduk bahkan njengking pun dilakoni.

Dan tercekat Gudel, ternyata pak Kyai sedang duduk sila di depan teras, santai, filter sudah di bakar, artinya beliau menanti kedatangan seseorang.

“Del, Gudel..kaukah itu?” Pak Kyai bersuara.

“I..iya pak Yai..”

“Sini”

Gudel pun mendekat, duduk sila di samping pak Yai. Hatinya berdegup.

“Kok keliatannya kamu resah del, sedari Ashar kemarin. Ada apa? Ayo cerita” Tanya pak Kyai, sambil menghisap filternya dengan perantara pipa gading.

Gudel sebetulnya sudah tak heran pak Kyai bisa membaca hatinya seperti ini, bukan kali ini saja, dan bukan hanya dia saja yang di tebak pak Kyai. Jika sudah begitu, bicara harus jujur apapun itu.

“Ngg..nganu pak Yai, soal Cak Qadri kemarin, nganu..kemarin kan Cak Qadri datang ke Pesantren, tiba-tiba beliau sarungan, pecian, pake mbatik lalu bagi-bagi hadiah, dan pas teman-teman kumpul, beliau bicara bahwa kita harus pilih dia nanti pas coblosan Lurah..”

“Kata Cak Qadri, meskipun beliau ndak nyantri tapi beliau adalah santri Post-Islamisme pak Yai, jadi perlu didukung, nah..nganu, maaf pak Yai, sebetulnya apa itu santri Post-Islamisme? Kami bingung..pedagang besi tiba-tiba jadi santri, saya bingung pak Yai..” Sambung Gudel.

“Hehehek..” Pak Kyai terkekeh, beliau menghembuskan filternya dan membetulkan letak peci.

“Del, coba kamu masak indomie, dua ya, yang satu rasa asli ayam pake telor, yang satu tambahi rendang, semalem kan istriku masak rendang” Ujarnya

Bingung Gudel tiba-tiba mendapat perintah seperti itu.

Melihat kebingungan Gudel, pak Kyai berkata,

“Sudah, lakukan saja, kamu butuh jawaban tho? Lagipula saya lapar, kamu juga lapar hee..”

“Baik pak Yai” Jawab Gudel. Mendapat jawaban begitu Gudel yakin dan segera beranjak dari samping pak Kyai.

Dua puluh menit kemudian, Gudel kembali dengan membawa nampan. Satu Indomie rebus rasa ayam original. Satu lagi pakai rendang, diambil dari dapur ndalem pak Kyai.

“Nah, kamu coba yang rasa asli del”

Gudel manut, dicicipi Indomie rebus telor panas itu dimulutnya.

“Apa rasanya?”

“Ya rasa Indomie pak Yai” Jawab Gudel heran

“Sekarang Indomie yang ada rendangnya, habis makan Indomie lalu kamu makan rendangnya”

Gudel manut lagi, kali ini wajahnya mengerenyit.

“Gimana rasanya, del?”

“Anu pak Yai, agak aneh. Yang satu rasa Indomie yang satu rasa rendang santen, aneh pak Yai”

“He he he..sekarang kamu buat lagi indomie, satu saja, yang rasa rendang, mbak mu punya di dapurnya, ayo sana”

Gudel pun kembali ke dapur, sambil tetap bertanya-tanya. Sepuluh menit kemudian indomie rasa rendang sudah tersedia.

“Nah, coba dicicipi..”

Gudel pun mencicipi indomie rasa rendang tersebut, matanya mendelik, ternyata enak juga. Pikir dia.

“Enak pak Yai, beda dengan jika dipisah”

“He he he, nah itulah. Anggap indomie mu ini adalah agama, dan rendang adalah demokrasi negara. Jika dipisah-pisah rasanya pasti tidak enak, namun jika digabung dengan porsi yang pas, ya enak, bentuknya tetap, indomie”

“Itulah istilahmu tadi, post-islamisme, Islam tetap menjadi dasar diri, hasil nyantri, hasil tirakat, tapi mulai menangkap era demokrasi, era modern, mulai berpolitik malah punya cicilan di bank, kompromi, tapi entitas Islamnya sudah baku, disini ramuan mu harus pas, kalo tidak kamu keblinger”

“Indomie pun begitu, mulai menangkap era rendang, era soto mie, era cakalang malah mungkin era soto babat, kalau tidak begitu, takutnya Indomie tidak bisa bersaing” Sambung pak Yai.

“Hmm..nganu pak Yai, jadi orang mesti bisa menangkap era-era itu pak Yai?” Tanya Gudel.

“Ya ndak mesti, itu pilihan, asal jangan ujug-ujug terus menganggap diri bagian dari santri hanya karena dirimu pakai sarung”

“Hehe iya pak Yai, saya Insyallah paham, lha terus pak Yai, kalo seperti cak Qadri itu lalu disebutnya apa?” Tanya Gudel.

“He he..itu disebut P O S T S E K U L E R I S M E..he he hee..HHEEEHH..MAU KEMANA KAMU DELL..?!”

“Aduhh ampun amppuunn pak Yai…ada Ningsih lewaat” Jawab Gudel sambil bangkit tergesa-gesa, sandal jepitnya nyaris putus.

“Ningsiiihhhhh…tungggguuu..”

Ningsih yang bersiap ke pasar, kaget bukan kepalang melihat Gudel mengejarnya dari pintu gerbang pesantren.

Ningsih pun lantas lari.

“Waaa…adaa Gudeeelll…tooolongg mas Kloboottt

Advertisements

One thought on “Sebuah Dialog: Apa itu Post-Islamisme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.