Ngobrol Anak Jaksel, Alami atau Gaya?

“Lo tadi beli charger harganya berapa?”

Anak Jakpus: “Lima puluh ribu”

Anak Jaktim: “Mapuluh rebu”

Anak Jakbar: “Goban”

Anak Jaksel: “Hmm..around fifty thousand gitu deh..”

Percakapan di atas sedang menjadi viral belakangan ini, bukan lagi anak Bekasi yang diledek karena letak kotanya di luar planet bumi, but anak Jakarta Selatan yang menjadi bahan bully akibat pencampuran bahasa (mixing) yang -menurut mereka- menjadi lucu.

Kenapa sih kalian? Saya sebagai ex anak Jakarta Selatan (25 tahun saya di Jaksel, tepatnya di Bintaro – but that’s not Bintaro Tangsel ya, please note) agak sedikit terusik jiwanya.

Gini ya guys, Jakarta Selatan itu sedari dulu tidak diragukan lagi merupakan tempat paling heits se-Jakarta, even di Indonesia. Coba kalian sebut tempat mana yang gak heits di Jaksel? Since di era 70an, 80an, 90an untill now?

Dari mulai Pondok Indah, yang dulu basic-nya tempat pemukiman warga Pondok Pinang, di bebaskan oleh PT Metropolitan Kentjana (Ciputra and the gank) dan fokus ke develop elite residence dari tahun 1970 sampai 1980an.

Agak melipir sedikit dari PI, kita ketemu sama daerah Bintaro. Look at there, mana ada tipe rumah RSS disitu? Apalagi sampai susah selonjor, ih gak ada story ya buat anak Jaksel.

Agak kesana lagi dari PI, kita ketemu kawasan Radio Dalam yang dulunya tempat kongkownya anak muda yang baru pulang dugem, dan literally betah nongkrong di sate padang Salero Ajo.

Lurus lagi, ketemu kawasan Gandaria yang rindang, which is banyak pohon dan sure, lebih adem. Disinilah cikal bakal Soto Kudus Blok M yang legendaris.

Mau kesana-an lagi, masuk ke kawasan Blok M, Melawai hingga Senopati. Siapa orang Indonesia yang gak tahu Blok M sih?, which is itu tempat crazy heits sampai masuk komik Lupus, dan tempat nongkrong Jeep CJ 7 di masa jayanya. Ingat lagu Denny Malik yang “Jalan-Jalan Sore”? Nah..

Apalagi Senopati, nih ya sekarang aja kalo kita mau go to Tendean di weekend, kita absolutely kena macet di Senopati. Padahal stuck karena banyaknya mobil yang parkir di kiri-kanan jalan.

Emang ada apa disitu? Duh, difficult ya kalo jelasin ke orang yang belum pernah ke Jaksel. Itu kiri kanan isinya restoran yang nyaris semua high class. Bahkan kita mandatory dress-up kalau mau makan di salah satu resto disana.

Belum lagi Kemang, daerah yang awalnya adalah daerah persawahan penghasil susu yang di make-up menjadi kawasan elite setara Kuta atau Seminyak, Bali.

Kemang, yang diambil dari nama buah seperti mangga dengan bau harum namun agak asam itu, berpredikat daerah expatriat. Banyak bule. Gak heran kalau gaya hidup dan bahasa tentunya, ter-influence dari kehidupan di Kemang ini.

Itu baru sebagian kecil dari Jaksel guys. Jadi dari segi kelas aja itu beda’. Beda’ banget. Belum lagi si Ahmad Dhani yang dulu georgeous banget soal music ini, create song Dewa 19 yang title-nya “Selatan Jakarta”. Only South Jakarta, karena Selatan Jakarta memang membekas.

Kota Selatan Jakarta yang rindang dengan udara lebih fresh. Compare deh kalau hari minggu pagi, habis dari Bekasi masuk tol Jorr, terus exit Pondok Indah menyusuri Selatan Jakarta sampai di SCBD, breakfast di Bubur Ayam Tebet depan McD. Itu kayak kamu abis keringetan di Metro Mini terus mandi air dingin.

Dari history, dulu Jaksel-lah dimana tempat kursus bahas Inggris mulai jadi favorit, dari mulai English First (EF), LB LIA, Oxford hingga Wall Street. Ketika Jakarta lain belum ada, Jaksel sudah exist duluan.

Belum lagi sekolah yang basically program learning-nya kurikulum dari luar, seperti Jakarta International School (JIS) yang mana pertama kalinya ada di Tarogong, dekat Pondok Indah situ.

So which is hal-hal diatas tadi memang membuat anak Selatan itu lebih improve di sisi bahasa dari anak Jakarta lainnya. Seriously people.

Jadi memang gak bisa disalahin ataupun diledek kalau anak Selatan itu more..gimana gitu..emang nature-nya demikian. Bahasa sangat identik dengan kondisi lingkungan.

Kalian mau ke Jakarta Barat? Silahkan berjibaku di area Daan Mogot dan sekitarnya. Paling Kembangan atau Puri Indah yang rada sedap dipandang, mall-nya Taman Anggrek it’s ok lah plus Central Park.

Jakarta Timur? Pinggiran BKT situ? Atau di Pondok Kopi side to side sama daerah pabrik -pabrik di Cakung atau ya..maaf..maaf nih, Bekasi? Ya silahkan sih.

Jakart Pusat okelah, karena dulunya juga tempat elit di Menteng. Tapi ya situ-situ aja. Untung aja Jakpus punya Monas dan dekat dengan Istana Negara, lagipula Jakpus jadi tempat paling fragile kalau ada demo atau kerusuhan.

Jakarta Utara, melipir dikit kena bau fish dan udang yang kadang segar kadang enggak. Belum lagi kondisi jalanan yang harus tabah iman karena sering main ci-luk-ba sama truk gandeng yang sebelahnya ada ojek online mau nyalip. Ya Allah, berikan hambamu panadol.

Jakarta Selatan? Hmm..that’s heaven guys. Jadi jelas ya, kalo perkara bahasa yang di mixing tadi adalah style yang alami, tidak dibuat untuk keren-kerenan. Bahasa, terkait dengan kondisi sosial dan lingkungan. Istilah baru nih: “Keminggris official”.

Menurut Muhardis (2013). Bahasa memiliki hubungan erat dengan sistem sosial masyarakat tempat bahasa tersebut dipakai. Sebagai sistem sosial, tentunya ada beberapa aspek yang melatarbelakangi seseorang dalam berbahasa. Faktor usia, tingkat pendidikan, keadaan ekonomi, serta lingkungan tempat tinggal merupakan faktor penentu seseorang berbahasa.

Jadi clear ya, kenapa di tulisan ini dibuka dengan menjelaskan kondisi Jakarta Selatan itu seperti apa. Supaya kalian gak gumunan, baru di mixing Inggris aja pada ribut.

Jadi, Jaksel itu sepert…Byuuurrr…

“Klobottt, bangunn….kerjaaa!!!” Terdengar suara keadilan seorang emak-emak yang membangunkan…

…..Dan kemudian saya terbangun, baru sadar, kretek ketengan dan kopi sachet yang di beli bersama Ningsih semalam sudah habis..pantas aku mimpi agak aneh malam ini, Duh…elite? Elite mbah mu!

*2018. Dari pinggir Banjir Kanal Timur, bukan di Selatan Jakarta.

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Humaniora
5 comments on “Ngobrol Anak Jaksel, Alami atau Gaya?
  1. Korneles Materay says:

    Ih kece banget mas tulisannya. Baru nambah pengetahuan lg ni soal Jaksel. Substansi tulisannya anak Jaksel banget jadi komplit deh. Salam kenal ya, lanjutkan…

    Like

  2. Rasti Rianti says:

    Keren mas tulisannya, sangat jaksel sekali, meskipun endingnya drop hahahaha

    Like

  3. vadin says:

    Bener bener menguras airmataku om ryo…lucu banget

    Like

  4. Faqih Mahardika says:

    jaksel :v

    Like

Leave a Reply to Faqih Mahardika Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories