Hari Gini, Uang 100 Ribu Bisa Buat Beli Apa Sih?

Uang seratus ribu hari gini bisa beli apasih?

Sejatinya, pertanyaan itu sungguh terasa menyakitkan, terutama bagi Klobot dan Ningsih, dua sejoli yang masih tahap pencarian jati diri dan nafkah diri.

Bagi dua sejoli itu, pertanyaan tersebut terasa sangat sombong, sangat tidak proletar mewakili kasta yang sedang mereka jalani ini.

Hari itu Klobot mendapat uang dari hasil ojek online. Untuk kategori motor, mendapat uang sehari seratus ribu adalah hasil yang cukup baik. Dan niat hari itu, Klobot ingin menyenangkan Ningsih, kekasihnya.

Karena Klobot juga masih menabung untuk masa depannya dengan Ningsih, akhirnya Klobot bertekad, hari itu hanya seratus ribu saja jatah nya bersama Ningsih.

Apa yang bisa dilakukan Klobot?

1. Beli pulsa

Meskipun hidup pas-pasan cenderung minus, namun baik Klobot maupun Ningsih adalah generasi milenial yang jaman now banget. So, kuota adalah harga mati.

Klobot pun mampir ke kios pulsa, membeli kartu perdana seharga sepuluh ribu dengan bonus internet 1 gb plus video gratis. saya tidak mau mencantumkan merknya karena saya memang tidak di endorse.

Sekali aktif, smartphone Klobot yang kelas rendah itupun ber-cengkling ria. Dengan tangkas Klobot pun menghubungi Ningsih via whatsapp.

“Ass ninglop, ningsih mylop, jalan-jalan yuk”

“Ih, emang kamu punya duit mas?”

“Ya punya lah, untuk kamu jangankan duit, jantung aja ku kasih..”

“Halah, gombal mukiyo”

“Tapi kamu mau kan?”

“hooh, jemput ya”

“Osiyap mylop”

2. Beli Bensin

Setelah ajakan jalan-jalan bersambut, saatnya memastikan event penjemputan jantung hati berlangsung beres, salah satunya bensin harus terisi, minimal..ya minimal tidak sampai 1:3. 1 km=3x dorong.

Untuk itu, Klobot membawa motor yang juga alat pencari rezekinya itu ke POM bensin terdekat, isi premium.

“Mas, isi sepuluh ribu ya”

“Siyap, dari nol ya mas”

“Iya, memang dari nol mas, seperti hubungan saya dan ningsih, kami memulai semua dari nol” Ujar Klobot sambil menyisir rambutnya yang basah kena sisa air wudhu.

Mas-mas pom bensin pun melongo.

3. Kuliner

Sisa uang dikantong masih ada 80 ribu. Setelah Klobot bertemu Ningsih, mereka pun lapar. Dengan uang yang ada Klobot memastikan bahwa acara lunch akan berlangsung seru.

Mereka pun masuk ke restoran ayam geprek. 15 ribu dengan nasi. Sengaja Klobot mengajak Ningsih ke resto ini, selain murah, refill nasi putih disini gratis.

“Hufft haaah…pedes ya yank..”

“iya mas..huuh haah..tapi enak ya..huu haaa..ih itu bibirmu sampe merah gitu mas..huuh..haah huuff..”

“Aah..ini tandanya aku lagi pengen yankk huuhh…haah..pengen nganuu..”

“ihh…pengen apaa??…dasar ngeress..huuh”

“lhoo..kok ngeres siih..huufftt, maksudnyaaa ku pengen es teh maniss..”

“Oalahhh..ngomong tho mas, liat ni aku bawa es teh manis buat kita berdua..haah..huuh..” Ningsih pun mengeluarkan termos kecil yang sedari tadi berada di dalam tas.

“Wah memang pacar spesialis ngirit kamu yank…pengertian, mantapp..”

“Bukan ngirit mas, tapi smart..huuff haaah..”

4. Piknik

Selanjutnya adalah piknik, menurut Klobot tampat tujuan haruslah cantik dan murah. Hasil pencarian google mengarahkan Klobot dan Ningsih ke Lapangan Banteng, kebetulan disana sedang berlangsung pameran flora dan fauna.

Berangkatlah mereka kesana, kaget karena ternyata mereka hanya bayar parkir motor. 3 jam sepuluh ribu saja.

Di sana, mereka bercengkrama, saling mengucap apa yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Suasana lapangan banteng yang tentrem, cantik dan bersih melengkapi sore mereka. Tak lupa mereka membeli es krim 5000an yang tak jauh dari sana.

Azan Magrib pun berkumandang dari Masjid Istiqlal. Klobot pun bangkit, menggandeng tangan Ningsih, mengajaknya pulang.

5. Belanja

Sebelum sampai rumah, Ningsih mengajak Klobot ke mart terdekat rumahnya. Mereka membeli bawang, tomat dan cabai, masing-masing 1/2 ons saja plus telor ayam 2 biji. Sisa kembalian masih bisa dibelikan kretek ketengan.

Sampai dirumah, dua sejoli itu mulai memasak nasi goreng, harum bau nasi goreng sederhana itu cukup membuat suasana meriah sekaligus syahdu.

Selepas makan, Ningsih mendekati Klobot, manja bersandar di bahunya, hari sudah cukup larut.

“Mas, Ningsih bahagia sekali hari ini..bisa seharian sama mas. Baidewei mas, tadi uang seharian kita habis berapa ya?” Ningsih bertanya bijak dalam posisinya sebagai calon istri yang cakap mengatur keuangan.

“Ah, murah aja yank..seratus ribu sudah sama kretek ku ini”

“Yang bener mas? Trus..kok kemarin aku denger klo ada politikus yang bilang, klo seratus ribu cuma dapet bawang dan tomat mas?”

Mendapat pertanyaan kelas berat seperti itu Klobot pun terdiam, dia tak pernah baca berita ekonomi apalagi politik. Pria jangkung dengan tangan kasar penuh urat itu lantas menghisap kreteknya dalam-dalam dan menghembuskannya dalam bingkai O. Matanya nanar menerawang ke arah rembulan malam, dan kemudian menjawab datar..

“mungkin blio kurang pacaran..”

*di posting pertama kali di KOMPASIANA

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Ekonomi
9 comments on “Hari Gini, Uang 100 Ribu Bisa Buat Beli Apa Sih?
  1. Nur Irawan says:

    Jadi kepikiran pengen buat artikel dg judul ni bang, hahaha

    Liked by 1 person

  2. Aji Dharma says:

    Tulisannya sederhana, cerdas dan mengena mas…keren, salam

    Like

  3. Hastira says:

    ternyata bisa banyak juga ya

    Like

  4. […] kemudian saya terbangun, baru sadar, kretek ketengan dan kopi sachet yang di beli bersama Ningsih semalam sudah habis..pantas aku mimpi agak aneh malam ini, Duh…elite? Elite mbah […]

    Like

  5. Blog Sabda says:

    wahhh dapat banyak ya cuma 100k, ternyata jauh berbeda yg dikatakan oleh beliau itu

    Like

  6. vadin says:

    Gila bener om Ryo….lucu ngak abis2…..bikin gemes…dari baca judul sampe diakhir hurup
    pun, linangan air mata ku tumpahkan….gile bener…itu baru 3 artikel yg ku baca….lucu lucu banget. Om Ryo Ilepyu

    Like

  7. […] andaikan Indonesia krisis seperti Venezuela, harga naik gila-gilaan, kau di PHK, lalu Ningsih minta putus, tindakanmu apa […]

    Like

  8. […] “Waaa…adaa Gudeeelll…tooolongg mas Kloboottt“ […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories