Kota Itu Bernama Surabaya

Bukan Jogja, bukan Solo, bukan Denpasar, bukan pula Jakarta, Balikpapan ataupun Bandung, tapi Surabaya yang mencuri hati saya di tahun ini. Ya Surabaya, kota yang mainstream dengan perubahan yang anti mainstream.

Sudah lama saya tidak ke Surabaya, terakhir mungkin 10 tahun yang lalu, dan mulai minggu lalu, saya resmi menjadi penduduk tak tetap Kota Pahlawan ini, untuk tepatnya 2 minggu ini.

Saya masih membayangkan, Surabaya adalah kota yang panas dan gersang, meskipun pemberitaan dan foto dimana-mana bersliweran tentang hijaunya Surabaya, tapi otak saya masih merekam suasana 10 tahun yang lalu itu.

Dan akhirnya saya terkejut, lebih tepatnya terkesima begitu keluar dari Bandara Djuanda. Surabaya betul-betul hijau. Hijau beneran, bukan hijau karena di cat, tapi ini hijau sungguhan, taman, rindang dan alami.

Di sepanjang jalan Dharmo, kami disuguhi pemandangan hijau disisi kiri, kanan dan tengah jalan. Tidak ada sudut kota yang tidak dibuat taman.

Gabungan pohon tinggi dan rendah, lalu kombinasi tanaman pembawa keberuntungan dari mulai Keladi, Sri Rejeki, Kuping Gajah, beberapa Palem, Pohon Glodokan Tiang, Bintaro, Kersen, Akasia, Bungur yang indah hingga yang paling sering terlihat; Bougenville.

Saya jadi mengira-ngira, mungkin si empunya kota ini jatuh cinta sama tumbuhan “kertas” ini, bunga yang berasal dari Amerika Latin namun diberi nama dari nama penemunya yang asal Prancis, Sir Louis Antoine de Bougainville.

Mungkin karena sinar matahari kota pinggir pelabuhan ini membuat Bougenville tumbuh subur, karena Bougenville justru tumbuh paling subur di daerah Khatulistiwa.

Selain karena perawatannya yang intensif, konon, si empunya kota ini (walikota) punya deretan monitor di ruang kerjanya khusus untuk memonitor sudut-sudut taman di Kota Surabaya. Lecet dikit, kelar hidup lo!

 

20180719_060231_resized_1
Jembatan penyebrangan yang sangat bersih

Rindangnya kota ini membuat aktifitas lari pagi saya jadi begitu indah, jarak 5 km tidak terasa karena udara segar yang berebut masuk ke paru-paru. Surabaya yang gersang berubah rindang.

Trotar dibuat lebar-lebar dengan tiang balok di setiap ujung untuk menghalau motor naik ke trotoar.

Masyarakatnya tertib, ada tombol pejalan kaki untuk menyebrang dan mobil/motor yang lewat sangat patuh mengikuti aturan.

Dan satu yang saya batin, saya gak ngeliat angkot dari tadi, tidak ada angkot sliweran dan berhenti seenaknya. Jumlahnya ada, tapi sangat sedikit.

Dan ternyata, akibat online transportasi, supir angkot banyak yang beralih profesi. Angkot berkurang, jalanan menjadi lebih tertib. Satu fakta lagi, online merubah peradaban.

Dan akhirnya beberapa hari yang lalu saya pun berkesempatan bertemu langsung dengan si empunya kota ini di sebuah acara seminar. Walikota wanita yang terkenal galak dan tentu tak punya waktu untuk berbincang dengan saya, ya iyalah.

Tapi di kesempatan sempit itu, saya sempat ‘ngobrol’ dengannnya. Naluri blogger (baca:jurnalis) saya muncul. Saya pun bertanya sejak terakhir 10 tahun yang lalu saya ke Surabaya, yang tadinya gersang, jadi rindang, basa-basi saya bertanya: Rahasianya apa?

Tak disangka, beliau kaget mendengar pertanyaan sepele saya, lalu kemudian tertawa, tawa khas Suroboyoan.

Kata beliau, rahasianya sederhana.

“Anda mau kerja apa enggak? Saya (Bu Wali) dan kawan-kawan adalah pengurus kota. Kota nya mau di urus atau enggak ya tergantung pengurusnya. Saya bukan pejabat, kami ini adalah pengurus, mbantu masyarakat. Mau bantu, mau ngurus, mau kerja apa enggak? Itu saja mas” katanya.

Efek dari kemauan mengurus itu menular ke masyarakatnya. Masyarakat Surabaya terlihat tertib, dan semua masyarakat yang saya temui mereka segan dengan ketegasan bu wali. Kalau melanggar, mereka malu.

Saya jadi ngelamun, buka dompet dan melihat KTP kota tempat tinggal saya. Ibukota Republik yang masih belum berubah, saya jadi curiga, kota saya ada pengurusnya gak ya?

Advertisements

4 thoughts on “Kota Itu Bernama Surabaya

  1. Apa memnag iya sekarang Surabaya sudah seperti itu? Indah, rindang, dan adem dilihatnya. Betul-betul pengurus yang bertanggungjawab menurut saya (pemerintah kota Surabaya). Bekerja keras untuk menormalisasi tempat-tempat publik, dan juga tentunya ruang terbuka hijau yang seharusnya memang wajib ada di setiap berapa ratus meter sekali (saya agak ngaco kali yah, haha). Yang penting pengurusnya bekerja, itu sudah cukup sih menurut saya, untuk memuaskan keinginan masyarakat pada pemda..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.