Quo Vadis, Suara Jokowi 2019

Bisa dibilang, ranah politik di Indonesia itu adalah ranah politik paling menarik dan paling seru di dunia, paling dinamis dan paling panas. Tidak ada yang pernah ketebak kemana arah politik seseorang/partai sampai hari H.

Seperti yang kita tahu, poling dimanapun juga, dari tukang kopi pinggiran hingga restoran sekelas Duck King saat ini nyaris semua mengungulkan Joko Widodo untuk melanjutkan tugasnya sebagai Presiden ke-8 pas Pemilu 2019 nanti.

Memang tidak mengherankan karena gebrakan populis nan politis Jokowi mampu menjawab keluh kesah rakyat.

Tidak ada tindakan Presiden dimanapun di dunia yang tidak politis, itu yang pertama. Yang penting, apakah tindakan itu bisa memajukan bangsa di tahun-tahun mendatang, dan apakah menjawab keinginan sebagian besar rakyat? Itu yang terpenting.

Dan kalau melihat peta suara Jokowi, Jokowi mampu dengan gigih menjawab hal-hal itu semua, meskipun tidak sempurna, dengan ‘darah’ disana-sini.

Kepopuleran Joko Widodo sayangnya tidak didukung dengan baik oleh partai pengusungnya, PDIP. PDIP terlihat terseok-seok mengikuti konstelasi Pilkada 2018 serentak. Entah kalkulasi apa yang di pakai oleh ahli strategi PDIP.

Contoh pertama di Jawa Barat. Dari poling-poling yang sudah dilakukan dari 6 bulan hingga setahun belakangan, suara Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan Sudrahat-Syaikhu selalu menempati 3 besar, dan calon dari PDIP, TB Hasanuddin-Anton Charliyan selalu nomor buncit. Disini PDIP terkesan memaksakan TB Hasanuddin-Anton Charliyan untuk tetap bertarung.

Padahal Anton Charliyan adalah orang ‘bermasalah’ ketika menjabat Polda Jabar, lagi-lagi karena kasus SARA dengan kelompok mayoritas Islam. Apakah strategi banteng hanyalah ketakutan bahwa Ridwan Kamil adalah susupan PKS? Ini yang menarik untuk dibahas nanti.

Hanya saja, Jika PDIP full suara ke Ridwan Kamil-UU dimana mayoritas pendukung pasangan ini adalah partai pendukung pemerintah, maka PDIP lebih terlihat wah, terlihat solid. Tapi tidak terjadi, ada apa ini?

Kedua, adalah blunder mencalonkan Djarot di Sumatera Utara, Djarot tidak punya suara di Sumut, setidaknya popularitasnya kecil sekali di banding Edy Rachmayadi. Djarot keok sudah diprediksi sebelumnya.

PDIP punya Maruarar Sirait yang secara kesukuan lebih diterima di Medan khususnya. Lagi-lagi PDIP bermanuver. Dan mengapa Golkar dan Nasdem ada di posisi Edy?

Ketiga, memaksakan Iriawan sebagai Pejabat Gubernur Jawa Barat. Meskipun Tjahyo Kumolo mengatakan toh Pilkada tinggal seminggu lagi, ini sama saja batal puasa menjelang lebaran, toh lebaran tinggal seminggu lagi, gitu.

Cacat, tetap saja cacat dan ini membuat kepercayaan publik kepada Tjahyo dan PDIP tergerus. Lho, apa hubungannya Menteri Dalam Negeri dengan PDIP? You know lah bos. Bahkan tim PSI yang ayu-ayu itu pun ikutan kritik, padahal biasanya mesam-mesem.

Di Jatim, mungkin di awal antara Khofifah dan Gus Ipul beda-beda tipis. Tapi berdasarkan obrolan warung kopi di Surabaya, nyaris semua warga yang saya ajak bicara mendukung Khofifah.

Sinyal kekalahan Gus Ipul yang didukung PDIP mulai terlihat. Pesona Khofifah tak tertandingi, dan lagi-lagi..Khofifah juga mendukung Jokowi. Ada apa ini?

Dari Sumut dan Pulau Jawa mulai terlihat melebarnya jarak antara Jokowi dan PDIP. Jawa adalah Koentji. Dan 2 dari 3 Provinsi, Jokowi dan PDIP nampak ‘tidak akur’. Hanya Jateng yang tetap istiqomah PDIP dan Jokowi, itupun lebih disebabkan sosok Ganjar, bukan hal lain.

Sinyal Jokowi akan ‘dilamar’ pihak lain santer jika melihat manuver koalisi pemerintah dan oposisi di Pilkada 2018 ini. PDIP seakan menjaga jarak dengan memaksakan figur-figur yang secara kekuatan sudah tampak kalah. Dan sebaliknya, pemenang-pemenang Pilkada versi quick count hampir semua terafiliasi dengan Jokowi, terutama Jawa.

Di Jawa Barat, terlalu spekulasi bahwa Ridwan Kamil adalah susupan PKS hanya dari bantuan bansos dan hibah untuk yayasan yang terafiliasi PKS, andaikan benar demikian, Ridwan Kamil pun sudah deklarasi akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Sumber. Pahit arti, PKS ada di belakang Jokowi.

Jawa Timur apalagi, Khofifah siap untuk dimajukan menjadi jubir kampanye Jokowi nanti, sumber. Jawa Tengah gak usah ditanya. Koalisi es campur ala partai-partai ini tetap menuju ke satu nama, Jokowi.

Tapi Banteng sepertinya tetap memiliki strategi sendiri. Toh meskipun di daerah kunci PDIP keok, tapi secara keseluruhan, PDIP tetap memegang 61% suara dari Gubernur hingga Bupati. Hanya saja untuk level Presiden, persentase ini mudah bergeser.

Yang kebingungan adalah PAN, manuvernya sana-sini, sampai meet & greet dengan petinggi FPI di Mekah, bergandengan mesra seakan mereka satu suara, eh pas sampai Jakarta, jubulane Amien Rais malah deklarasi mau nyapres sendiri. Lho piye sih mbah?

Tapi Amien Rais bukanlah tim kamvret kelas teri, beliau tetaplah bekas king maker yang wajib di antisipasi. Dan pencalonan beliau tentu ada tujuannya, setidaknya beliau tetap berkoar karena kalo tidak berkoar beliau stroke soal dukungan partai, ya cuma didukung PAN.

Jadi tujuannya? Pertama, memecah suara untuk yang kedua, merayu Jokowi atau Prabowo agar meliriknya menjadi setidaknya Cawapres. Si mbah sedang tebar pesona. Sayangnya arogansi si mbah yang minta Presiden bertemu di rumahnya akan menjadi titik balik berbuah ketidaksukaan masyarakat.

Untuk apa minta bertemu Presiden? Bahas keluarga gitu?

Apalagi si mbah wong Jogja, yang menurut rakyat adalah golongan orang-orang yang menjunjung tinggi sopan santun, mikul duwur, mendem jero. Bahkan Pak Harto yang hebat pun tidak pernah searogan itu jika berbicara. Jadi PAN juga sedang bingung.

So, Gerindra, PKS dan PAN butuh ladang matang untuk membuktikan kekuatan, dan Pilkada 2018 ini terlihat suara yang signifikan untuk melawan Banteng. Bahkan Jawa Tengah pun tidak mencapai bahkan 60% suara. Ganjar masih ngos-ngosan untuk melawan Sudirman Said yang biasa saja.

Disini, hanya Gerindra yang sudah menentukan posisi, dan saat ini Gerindra tengah sibuk menyiumi satu-satu jagoannya, siapa yang terindikasi ‘berkhianat’ seperti Deddy Mizwar.

Apakah Edy Rachmayadi? Bisa saja senggolan Golkar membuat Edy kalang kabut. Mari kita saksikan.

Bagaimana dengan Demokrat? Dari gerak-ucapan AHY, Demokrat tampak malu-malu mendekati Jokowi, takut diseruduk Banteng. Dan memang, Demokrat dan Banteng ini seperti mantan yang putusnya gak baik-baik, susah baikan, bahkan untuk sekedar bertegur sapa.

Demokrat ini maunya sama Jokowi, tapi gak mau sama Banteng, kira-kira begitulah.

Pun demikian dengan beberapa kawan PKS yang mulai saya temui, mereka mengakui figur Jokowi bahkan beberapa tak segan untuk memuji, hanya tinggal di ‘belakangnya’ ini siapa.

Jawa bisa dibilang sudah digenggaman, Jokowi tinggal mainkan satu set final untuk 2019, entah memainkan emosi oposisi yang kebingungan, memperkuat basis yang sudah ada, atau justru membenturkan keduanya, seperti ulasan di atas.

Yang pasti, munculnya nama Cawapres Jokowi nanti adalah tokoh yang paten, bukan hanya nebeng nama leluhur. Saya rasa itu syarat Cawapres Jokowi yang tepat. Dan pasca Pilkada, Jokowi punya bargaining posisi.

Nasdem dan Hanura pun tidak pernah mengatakan akan terus bergandengan tangan dengan PDIP, Bagi Nasdem dan Hanura yang di tunjuk adalah sosok Jokowi, bukan partainya.

Oposisi pun tinggal sekali lagi water test, siapa Capres dan Cawapres nanti? Jokowi sudah punya basis masa akar rumput yang militan. Mau dengan PDIP atau dengan oposisi plus Nasdem dan Hanura, doi terlihat woles.

Jadi kesimpulannya, apapun partainya, Presidennya tetap Jokowi.

Advertisements

Author: ryokusumo

Seorang part time blogger, part time engineer, part time runner dan full time ayah dari dua gadis yang wonderful. Salah satu penghuni pinggiran Banjir Kanal Timur, yang tertarik pada humanisme, sejarah, investasi dan politik. Anda bisa membaca blog saya yang lain khusus untuk fundamental analysis dalam strategi investasi di http://srimayainvestment.blogspot.com

2 thoughts on “Quo Vadis, Suara Jokowi 2019”

  1. Tulisan yang mantap mas, itu siapa maksudnya cawapres jokowi bukan dri golongan leluhur? Puan kah? Hahahaha sudah ketebak, jokowi ogah sama dia…

    Like

  2. Saya pun juga tetap jokowi, setidaknya jokowi masih lebih waras ketimbang tim sono, dia di caci maki oleh Amien Rais tapi tidak sekalipun membalas…dia betul2 jiwa sejati

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.