Otak Negatif

cropped-kereta3-compress.jpg

Baru saja saya mendapat fakta lama yang terbukti bahwa otak manusia jauh lebih menerima perkataan negatif daripada positif. Faktanya begini.

Lusa lalu, anak saya, Rania bersiap untuk sarapan, ibunya sendiri sudah memasakkan makaroni dengan full isi daging, sayur dkk. Intinya makanan yang baik sudah masak. Tiba ketika ibunya sedang berjalan membawa mangkok makanan ke arah anak saya, tiba-tiba ibu mertua saya berkata ke Rania.

“Rania, mau enggak makan makaroni?”

Tahu apa yang di jawab oleh anak kami?

Enggak mau..enggak mau”. Padahal tadinya baik-baik saja.

Esoknya, dengan menu yang sama istri saya berkata ke anak kami, “Rania, kita makan makaroni enak yaa..”

Makannya pun lahap.

Fakta lama yang terbukti, anak balita lebih cepat merespon kalimat negatif menjadi pernyataan. Kalimat negatif “enggak” di tambah pertanyaan, akan menjadi sesuatu keraguan yang perlu disetujui. Kira-kira otaknya berkata..”Oh..ditanya enggak toh, yaudah enggak aja”. Akhirnya kata Enggak lah yang keluar.

Dan saya berpendapat, bukan hanya anak balita, tapi juga orang dewasa, itulah mengapa konten negatif jauh lebih cepat menyebar dari pada konten positif.

Hitler digambarkan sebagai sosok antagonis yang penuh hal negatif, tanpa pernah menyinggung sama sekali fakta bahwa Hitler lah dibalik pengembangan mobil Volkswagen, atau bantuannya selama tahun 1942-1945 ketika mengirimkan senjata dan alat militer ke Indonesia sebagai bantuan perjuangan. Negative thing is always remember.

  1. Bakso kang Maman enak sekali, dagingnya empuk…dua hari kemudian..
  2. Ih, sebel!! Bakso kang Maman katanya ada cacingnya, kayaknya mahal lagi! Males saya mah beli disana!!

Mana yang akan lebih cepat menyebar di kalangan ibu-ibu komplek?

Nah, kebayang kan jika itu kampanye, mana yang lebih cepat di respon masyarakat? Segunung apapun hasil positif, akan kalah dengan satu berita negatif yang padahal belom terbukti.

Trust me, it works!

referensi tambahan

*Kang Eep Saefullah mana nih suaranya? #eeh..

Advertisements

Author: ryokusumo

Seorang part time blogger, part time engineer, part time runner dan full time ayah dari dua gadis yang wonderful. Salah satu penghuni pinggiran Banjir Kanal Timur, yang tertarik pada humanisme, sejarah, investasi dan politik. Anda bisa membaca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

3 thoughts on “Otak Negatif”

    1. Nah iya, padhal blom terbukti..hal2 dan kata2 negative akan lbih cepat merasuk, parahnya lagi, membuat kita lebih cepat bereaksi ktimbang kata2 positif. Contohnya anak saya tadi, hanya ada kata “enggak”nya bisa bikin mood beda 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.