Era Ekonomi Efisien

Hitung, berapa uang yang tercecer tanpa menghasilkan produk sama sekali?

Milyaran per hari, mylove.

Advertisements
20170627_133357.jpg
Check in counter otomatis adalah salah satu bentuk efisiensi ekonomi dari sisi waktu. Dok Pri

Silahkan anda google apa arti dari ekonomi efisien atau efficient economic, arti sederhana dari investopedia adalah sbb:

What is ‘Economic Efficiency’

Economic efficiency implies an economic state in which every resource is optimally allocated to serve each individual or entity in the best way while minimizing waste and inefficiency. In terms of production, goods are produced at their lowest possible cost, as are the variable inputs of production

Sederhananya ekonomi efisien adalah penggunaan sumber daya, baik manusia, energi, air dsb secara optimal untuk menghasilkan barang dan jasa. Kata kuncinya dua: Biaya terendah dan input produksi.

Nah, liburan ini kebetulan saya tidak mudik kemana-mana, mayoritas waktu dihabiskan dirumah untuk menjaga bayi yang belum bisa di ajak keluar rumah, tapi ternyata dari rumah saya masih bisa produktif.

Dari rumah, saya masih bisa bersilaturahmi, mengirim email, mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda akibat libur lebaran dan tentu menulis blog. Di siang hari, istri saya yang usaha online shop mulai pesan online transportasi untuk mengantar barang, transaksi semua dilakukan dirumah via online banking atau sms banking.

Kalaupun betul-betul ingin keluar, kami mencari waktu yang strategis, dimana Mall tidak terlalu penuh, lalu pesan online transportasi. Jika lapar dan malas masak, kami pun pesan online via aplikasi atau by phone.

Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Silaturahmi tetangga kami lakukan di area perumahan, jika harus mengunjungi keluarga, lagi-lagi online menjadi andalan. Kecuali memang harus menggunakan kendaraan, itupun kami minimasi untuk berhenti di Mart.

Masalahnya salah satu sumber ketidak-efisiensi ekonomi adalah beredarnya uang tanpa manfaat. Contohnya tukang parkir, kendaraan kita berhenti beli akua 5000 perak saja si tukang parkir minta 2000 perak, padahal situasi jalan pun gak ramai-ramai amat, pun jika ada kehilangan atau kerusakan (baret) di kendaraan kita, mereka pun tak akan mau bertanggung jawab.

Pada dasarnya mengeluarkan mobil dari parkiran Mart / toko ke jalan itu perkara mudah, yang anda butuhkan hanya sabar. So, uang 2000 yang anda keluarkan itu bukan uang produktif. Sama dengan anda yang di gaji di kantor tapi kerjanya cuma medsos-an bahkan ada yang facetime dengan pacarnya, ealah mak!!

Inilah kendala utama untuk negara bisa maju. Perkara parkir saja, coba anda perhatikan di negara-negara yang lebih mapan, disana tidak ada tukang parkir cabutan. Kalau anda parkir liar, otomatis anda ditilang, anda akan dikirimi surat tilang ke rumah, seperti yang saya alami di Qatar.

Bahkan di Shanghai, China pun begitu, padahal China sebagai negara padat karya (sama dengan Indonesia), tapi sistemnya telah maju. Jika di Mall atau pasar, anda tetap bayar parkir secara resmi, meskipun lokasi parkir outdoor dan no border. Semua resmi dan terdata.

Di jalanan, gak ada pak Ogah yang berlagak seperti Polantas di perempatan mengurai macet. Meskipun kita “cuma” mengeluarkan 500 perak, jika di kali sekian ratus ribu kendaraan, berapa nominal uang yang tidak produktif disana? Padahal jika Polisi bergerak maksimal, uang-uang non produktif tadi bisa di minimalkan.

Belum lagi energi (tenaga dan bahan bakar) yang terbuang percuma dalam kemacetan, lalu ketidak-lancaran supplai kebutuhan pokok dan proyek di daerah, menjadikan ketidak-meratanya pembangungan di negeri kita.

Bayangkan jika satu truk ekspedisi ingin mengirim kontainer dari Tanjung Priok ke Sumenep, untuk biaya “jasa-keamanan-lalu lintas-tembak” saja mereka mengaku bisa mengeluarkan jutaan rupiah.

Lalu berapa jumlah truk ekspedisi yang bergerak di seluruh Indonesia per hari? Ratusan bahkan ribuan. Hitung, berapa uang yang tercecer tanpa menghasilkan produk sama sekali.

Milyaran per hari, mylove.

Uang sebanyak itu menguap sebagai uang non-produktif, tidak efisien. Uang non-produktif adalah salah satu penyebab inflasi. Bicara inflasi, dimana posisi kita saat ini?

indonesia-inflation-cpi
Sumber: https://id.tradingeconomics.com/indonesia/inflation-cpi

Saat ini kita sedang bergerak side-ways periode 2016-2018 up.

Perhatikan data 10 tahunan ini, 2008-2014 adalah masa-masa ketidakstabilan inflasi, meskipun saat itu ekonomi “terlihat” stabil!

Beklah, lepaskan tahun 2008 karena di tahun itu para naga-naga ekonomi sedang berlumpur. Angka di tahun 2010 ke 2014 pun inflasi kita cenderung naik. Barulah ditahun 2014 ke 2018 kita mulai mengalami trend penurunan dan inflasi pun mendekati stabil di tahun 2016-2018.

Artinya apa? Artinya kita sedang mengalami masa ready-togrowth-economic-efficiency. Kita mulai tahap persiapan menuju kestabilan ekonomi di dukung oleh perkembangan ekonomi yang lebih efisien.

Penyumbang utamanya adalah teknologi. Dengan online industri, waktu dan biaya bisa di efisiensikan.

Sekarang banyak orang yang bekerja dengan online platform, barang-barang di toko online jauh lebih murah dari toko offline, ya tentu karena mereka tak perlu sewa toko, tak perlu bayar uang kemanan, uang sampah, bensin dll. Modal mereka minim.

They work less, but produce more. Di New Zaeland dan Eropa, mereka sudah mengembangkan Agricultural berbasis IoT (Internet of Things). Dengan sistem internet, para ahli botani dan petani-petani disana bisa memetakan kondisi cuaca yang tepat, GPS untuk menentukan ketepatan posisi tanam, kebutuhan air, cadangan air, temperatur tanah, kebutuhan pupuk yang tepat hingga mengawasi jalannya pertanian hingga panen tiba.

Dengan IoT, hasil pertanian lebih akurat di monitor tentunya dengan jumlah petani yang justru berkurang. Petani pun tak setiap saat ada di lahan, hasilnya, produksi mereka bertambah dengan kualitas ekspor yang mendunia, harga dijual dengan harga yang lebih mahal yang sekarang bisa anda temui di Ranch Market dkk.

Eropa dan Amerika bisa sukses bukan karena mereka bekerja lebih keras, tapi karena mereka bekerja lebih efisien. Itu kata Warren Buffet.

Indonesia? Infrastruktur-nya dulu di perbaiki, buruknya infrastruktur adalah musuh terbesar dalam efisiensi ekonomi, dan sekarang lagi-lagi fokusnya adalah pembangunan infrastruktur.

Infrastruktur+Teknologi??? Indonesia siap melaju.

*Eh iya, klo uang parkir tadi dibelikan rokok oleh si tukang parkir, bukannya menghidupkan Industri rokok yang ujung-ujungnya adalah ketersediaan lapangan kerja?

Iya juga sih..nurut ente gimana, gaes? open discuss ya..:)

Author: ryokusumo

Seorang part time blogger, part time engineer, part time runner dan full time ayah dari dua gadis yang wonderful. Salah satu penghuni pinggiran Banjir Kanal Timur, yang tertarik pada humanisme, sejarah, investasi dan politik. Anda bisa membaca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

14 thoughts on “Era Ekonomi Efisien”

  1. Menarik bang, disisi lain uang rokok tdi terlihat tidak berarti (useless) tpi disisi lain uang itu untuk beli rokok yg mana mnghidupkan industri rokok penyokong ekonomi kita juga, tpi klo iya uang2 itu digunakan utk rokok, klo utk yg lain? miras misal? lgian uang bli rokok sy pikir msihlah dari kantong2 uang yg produktif, gak smua dari uang non produktif

    Liked by 1 person

      1. Kalau bayar parkirnya memang dipungut dan itu masuk retribusi daerah (tandanya ada karcis parkir ada kopnya pemerintah daerah), itu bisa jadi penyumbang pendapatan daerah karena disetor ke kas pemerintah daerah, dan pendapatan daerah bisa di gunakan untuk membiayai pembangunan. Jadi uangnya tidak useles kalau parkirnya buat bayar retribusi bang.

        Like

  2. 2008-2014 adalah masa-masa ketidakstabilan inflasi…saya suka akan fakta ini, kita banyak dimanipulasi data historis shingga kita terlena dan tidak membangun apa2 kawan. Kita saat ini sedang bangkit.

    Like

  3. I’ve been read this after i thought that youre right, SBY did not do anything, data manipulated already and we are fall aslept for more than 10 years

    Like

  4. Btw ini pos yg menarik bang. Saya setuju dengan pernyataan yg ini “Uang non-produktif adalah salah satu penyebab inflasi”. Banyak yg mau saya sampaikan di pos ini, tapi Kapan kapan aja saya kesini lagi buat Komeng, berbagi dan mengais ilmu. Hehehe

    Like

  5. Ekonomi efisien, kosakata yang cukup baru menurut saya pribadi. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya bisa mengartikannya dengan efisiensi sebuah produksi barang/jasa. Istilah itu mungkin sudah eksis di kalangan praktisi dan akademiknya, tapi alangkah lebih baik lagi jika diberitahukan didepan semua orang, agar masyarakat biasa dapat mengetahuinya juga, keterbukaan informasi juga sih sepertinya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.