Bumi Manusia Dan Jempol Milenial

WhatsApp Image 2018-05-27 at 20.08.37
Foto: Pram, Tetralogi Pulau Buru. Sumber: abighifari.files.wordpress.com

Pramoedya Ananta Toer, siapa diantara gaes-gaes yang tidak mengenal beliau? Seharusnya kenal, terutama buat para gaes yang berkecimpung di dunia sastra, literasi, tulis menulis apapun itu. Pram adalah nama adidaya, nama yang pantas di depannya disematkan jenis sebutan “Sir” atau “Don” dalam dunia sastra.

Saya gunakan kalimat “seharusnya”, bukan “tentunya” untuk mengenal beliau, karena memang tidak semua orang kenal dan tahu Pram itu siapa, contohnya orang rumah saya, hanya yang suka baca buku saja yang suka Pram, sisanya pas ditanya malah nanya balik “Pramoedya? Siapa tuh?” gitu.

Jadi, gaes-gaes geek sastra ini tidak perlu es-mochi ketika ada seorang anak bujang yang nekat nulis di twitter kayak begini:

WhatsApp Image 2018-05-27 at 18.16.34

“Penulis baru terkenal” katanya? Sekilas es-mochi saya naik ke ubun-ubun, ingin muntab, meninju siapapun yang lewat di depan saya, (kecuali Maudy Ayunda).

Warbiyasak, Pramoedya dibilang baru terkenal, ini sama dengan anak bujang yang kritik foto seorang maestro Darwis Triadi tempo hari karena perkara jilbab Desy Ratnasari, padahal foto itu request dari timnya mbak Desy.

Tapi sebelum saya marah, iling lan waspodo adalah petuah ayah saya, tetap kendalikan diri meskipun es jeruk di depan mata di siang terik bulan puasa. Sabar, ini cobaan..berkali-kali kata itu terngiang di telinga, sabar karena yang nulis itu tentunya mempunyai kualitas pendidikan yang rata-rata Primata.

Buat apa saya es-mochi sama rata-rata Primata? Tak da guna uda, saya dan para geek sastra lain pun harus sadar, para anak bujang itu adalah anak bujang yang kecepatan jempolnya melebihi kecepatan suara.

Mereka mengetik secepat Superman yang kebelet pup, tanpa pernah menggunakan otaknya untuk sekedar memanfaatkan teknologi yang namanya google, untuk mencari tahu, siapa Pramoedya.

Justru dengan postingan mereka itulah kita bisa membuka mata, fakta seperti apa generasi milenial kita.

Mereka (para anak bujang) itu adalah produk milenial, mereka produk pola pendidikan semi-gagal di zaman milenial. Mereka gagap literasi. Saya tidak bilang produk pendidikan gagal semua. Anak saya pun sudah sekolah, sehingga lumayan mengikuti perkembangan pendidikan anak.

Saya akui, banyak hal-hal baik yang di ajarkan sejak metode parenting diajarkan, tapi ya itu tadi, para orang tua kembali sibuk ke kehidupan maya-nya ketika anak sudah SD. Kesibukan orang tua saat ini bertambah, bukan cuma dunia kerja atau bisnis tapi juga dunia sosial media.

Pun orang tua senior yang terbawa arus milenial, boro-boro bawa anaknya ke perpustakaan atau sekedar ke toko buku, parents now lebih suka bawa anak ke kafe kece, atau tempat hiburan keluarga yang hits demiĀ feed instagram.

Dan, sekolah bagus itu MAHAL, seriyes ini gaes. Sekolah bagus itu MAHAL. Sekolah bagus dengan perpustakaan lengkap, rapi, bersih dengan sistem dan metode literasi yang bagus itu MUAHAL.

Saya gak mau sebut angka, karena beberapa sekolah yang kami survey, harganya bikin jantung syok. Yah, sekedar DP 10% Avanza Veloz mah dapet deh.

Gak usahlah yang bagus punya, dulu zaman saya SD, perpustakaan sekolah jelek, kumuh, tapi buku-bukunya lengkap terawat. Saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk pertama kali ya disitu. Suatu ketika sekolah kebanjiran, saya ingat guru saya berenang menerjang banjir untuk menyelematkan satu hal: Buku-buku.

Semua bisa diperjuangkan, tapi beberapa saya lihat guru SD pun sibuk dengan gadgetnya. KZL gaes!. Guru milenial ternyata gak ada bedanya sama anak murid.

Toko buku semakin langka, Gramedia di Mall Ambassador sudah tutup, mungkin akan meyusul tempat-tempat lain. E-Book tidak bisa di andalkan karena bernaung di dalam gadget.

Parents now lebih ringan mengeluarkan uang 1.5 juta untuk gadget ketimbang buku seharga 70-100 ribu. Anggaplah sebulan satu buku, maka dalam setahun punya 12 buku = 12 x 100 ribu = 1.2 juta, masih lebih murah ketimbang gadget. Gadget dalam setahun anak bujang minta ganti baru, keluar lagi duit 2.5 juta, 2.5+1.5, setahun keluar 4 juta untuk gadget.

Indonesia harus menunggu event Big Bad Wolf (gelaran buku terbesar) di adakan dengan diskon gede-gedean dulu, itupun 60%-nya supaya eksis di sosmed. Iya tho? kwkwkwk..

Ya, gimana pendidikan literasi sastra ini mau dinikmati merata oleh para anak bujang? Belum mereka mengenal siapa Pramoedya, siapa Goenawan Mohammad, siapa Ahmad Tohari, bahkan siapa Dewi Lestari, mereka sudah mengenal Harley-nya Mobile Legends. Duh biyung.

Bahkan ada yang tidak mengenal siapa Mohammad Hatta sodara-sodara, BUNG HATTA!!. Pengen gigit drakula gak sih?

Tapi sekali lagi, mereka tidak salah.

Saya gak terlalu peduli bahwa novel Pram akan dibuat film, itu sah-sah saja terserah kang Hanung, fokus saya disini, soal tingkah polah anak bujang yang kebelet eksis.

Sikap mereka yang ceplas-ceplos cepat, secepat jempol mereka di gadget laknat, tidak didukung cepatnya pendidikan yang mereka terima, jadilah mereka rata-rata Primata, bertindak berdasarkan naluri, minim pengetahuan, minim otak.

So, jangan es-mochi dulu gaes, mereka adalah fakta belum siapnya sistem pendidikan kita menyaingi cepatnya arus milenial. Sistem pendidikan harus di kaji, harus berubah, termasuk soal biaya pendidikan dengan kategori bagus.

Kita gak mau cuma segelintir anak Indonesia yang pintar, kita mau semua anak Indonesia itu merata, pendidikan yang sama, setara. Gak ada yang lain.

Btw, udah ngopi?

Advertisements

7 thoughts on “Bumi Manusia Dan Jempol Milenial

  1. Saya mah kepikiran, apa karena pernah dilarang. Jadi kaum sekarang (milenial) tidak tahu siapa beliau. Padahal mah yaaa… da walau dilarang juga kita teh malah penasaran.
    Kedua, mungkin referensi bacaannya baru sebatas wattpad. Sehingga berkomentar demikian.

    Liked by 1 person

    1. masa ketika novel Pram dilarang dan kelahiran gen milenial itu jauh, gen milenial mulai SD kelas 5/SMP mulai tahun 2000an, disitu masa2 kebebasan literasi terjalin, masa saya SD pun novel Pram sudah ada, itu tahun 1996, bapak nyari di kwitang. Novel Pram betul2 dilarang di era 1981-1994.

      Like

  2. Waduh aku ngakak miris pas lihat tulisan di foto twitter itu.. Anak zaman now itu ya.., “nyinyir dulu, tanya om Google belakangan..”
    Meski bukan penikmat karya Pramoedya, sebagai mantan anak sastra, aku sebel juga lihat pernyataan tersebut..

    Liked by 1 person

  3. Hmm, ini jadi kayak pukulan telak buat emak2 kayak saya. Duh, nanti anakku kalau sudah bisa twiteran bakal ngetwit apa ya? Entah di zaman anakku remaja nanti teknologi sudah berganti kayak apa. Makin yakin kalau yang kudu dikedepankan adalah mental, moral, akhlaq, attitude, termasuk budaya membaca, supaya anak2 kelak tetap “waras” meski zaman berkembang sangat cepat. Ternyata bisa baca tulis hitung di usia dini aja ga cukup, kalau asal njeplak:(

    Liked by 1 person

  4. saya ga tau tentang buku yang mau di filmkan ini, tapi beberapa hari ini memang cukup viral tentang buku ini, setelah aktornya akan dibintangi oleh Iqbal. Netizen rata-rata remaja kekinian yang komentar negatif

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.