12 Mei 1998, Dimanakah Saya?

salah-satu-keluarga-korban-tragedi-mei-tahun-1998-ruyati-_140512155659-428
Sumber: http://republika.co.id

12 Mei 1998

Ketika itu saya masih SMP kelas 2, pagi hari seperti biasa saya bersiap untuk sekolah, karena hari itu ujian sekolah sehingga sekolah tidak libur meskipun suasana sudah mencekam sejak hari-hari sebelumnya.

Ayah seperti tergopoh-gopoh hendak ke kantor, wajahnya seperti orang yang cemas tidak tenang. Saya tetap berusaha santai meskipun ibu dirumah sudah mewanti-wanti untuk tidak usah berangkat ke sekolah. Tv dirumah tak pernah berhenti menyiarkan acara demo-demo mahasiswa, live.

Tapi dasar rasa penasaran saya yang tinggi, saya memutuskan untuk ke sekolah karena toh sekolah tidak diliburkan. Kami pun berangkat dengan hati yang tidak tenang, menaiki mobil Kijang ayah sambil menyetel lagu Oasis kesukaan saya.

Sampai di Tanah Kusir, suasana sudah agak horor, terlihat beberapa orang kulit hitam, menggunakan masker sambil membawa senjata tajam, bendera Merah Putih, terlihat samurai dan gear (roda gigi mesin) yang dikaitkan dengan rantai. Mereka meneriakkan kata-kata reformasi sambil berjalan dari arah Kebayoran menuju Bintaro.

Sampai di pertigaan Bendi Raya, hampir melewati rel kereta, ayah segera putar balik memutuskan untuk membawa saya ke kantornya, di Jl Pattimura Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pertimbangan keamanan supaya tidak repot jika terjadi sesuatu nanti. Keputusan yang saya syukuri belakangan.

Selama perjalanan ada yang cukup aneh ketika itu, jalanan lenggang, setidaknya dari Bendi Raya hingga Kebayoran Lama, padahal biasanya macet parah, mungkin sudah banyak yang ngeri untuk berpergian.

Disepanjang jalan terlihat beberapa spanduk menyatakan Pemerintah yang gagal, Turunkan Soeharto, KKN, Pemerintah Korup dsb, terutama di perempatan CSW. Terlihat mobil Baracuda di depan Mabes Polri Trunojoyo dengan beberapa personil polisi lengkap dengan tameng dan seragam hitam, posisi siap tempur.

Jam 9 pagi, tanpa ada kesulitan berarti kami sampai di kantor bapak. Suasana sudah tidak kondusif, kami masuk ke kantor dan sepi. Ternyata semua orang sedang intens di depan televisi menyaksikan perkembangan berita terkini. Jam 10 tepat saya ingat, terjadi bunyi ledakan sepanjang Jl Sudirman, pos polisi ternyata telah di bakar, teriakan-teriakan orang-orang yang kalap terdengar sayup-sayup meneriakkan bakar..bakar..

Pos polisi di depan CSW mulai diserang masa, kepanikan melanda seisi kantor bapak, apalagi kantor bapak adalah kantor pemerintah. Kami terus memantau situasi via televisi. Harap-harap cemas, beberapa kawan bapak menelpon keluarga, memohon doa dan memastikan kondisi keluarga baik-baik saja.

Hari semakin siang, pukul 11.00 perut saya mulai keroncongan, namun apa daya, office boy yang ditugaskan membeli makan hanya kembali dengan tangan kosong, tidak ada penjual yang jualan, bahkan RM Padang sekalipun.

Tapi perut saya mendadak berhenti berkoar ketika televisi menayangkan aksi mahasiswa Trisakti sedang melakukan aksi damai di kampusnya. Kampus yang akhirnya menjadi labuhan saya sebagai civitas akademika.

Beratus-ratus mahasiwa turun ke jalan, mahasiswa yang menamakan dirinya Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) berorasi hal yang saya tidak mengerti dulu, yang saya tahu bahwa mahasiswa meminta turunnya Presiden Soeharto sekarang juga, itu tok.

Sambil memakan roti pemberian ibu Rasti kawan bapak, saya mengamati dengan rasa ngeri saat beberapa mahasiswa mulai terdesak dan dipukuli. Dipukuli tidak terlihat di televisi tetapi saya bisa menebak kemana arahnya.

Tepat pukul 14.00, telpon kantor bapak berdering, ibu menelpon, menanyakan kabar kami dan memberi informasi bahwa Hero Supermarket di dekat rumah kami telah di jarah oleh segerombolan orang, salah satunya membawa bendera kemerdekaan provinsi di Sumatera. Mereka membawa parang dan tombak, ada beberapa membawa pistol tak jelas jenis apa apa, dan kaleng Kratingdaeng berisi sumbu siap di bakar.

Pejarahan terus berlangsung sepanjang sore, kami terus memantau perkembangan via telepon. Pukul 15.30, selepas Ashar, telpon kantor terputus. Di tahun itu, tidak banyak karyawan kantor yang memiliki handphone, dan bapak termasuk yang punya. Saat itu HP Nokia 5110 tengah populer.

Telpon bapak dipakai rebutan oleh para karyawan untuk menghubungi keluarganya, raut muka cemas menggenangi wajah mereka. Saya mengamati mimik wajah-wajah ketakutan itu, dan tak akan pernah saya lupa.

Pukul 16.30, HP bapak mati, entah pulsa atau baterenya, saya kurang paham. Yang pasti tidak ada jaringan telekomunikasi apapun saat itu. Tidak ada makanan, hanya bergantung pada roti-roti,cemilan dan dapur kantor yang isinya mie instant dan telur (bagi saya itu cukup sih..).

Sekitar 10 menit kemudian, datang satpam kantor membagi-bagikan sajadah kepada kami, katanya, sajadah itu dia ambil dari Masjid Al-Azhar yang berada di tak jauh dari kantor bapak, sudah izin pengurus masjid, bahkan di sarankan.

Katanya sajadah itu untuk digantung di mobil, di motor, sebagai identitas muslim. Masalahnya, jumlah sajadah tidak sebanding dengan jumlah karyawan di kantor.

Pukul 17.10, terdengar teriakan-teriakan dari luar kantor, tepatnya di area Roti Bakar Eddy Al Azhar. Masa berteriak-teriak bakar..bakar..bakar, dari jendela saya bisa melihat buasnya masa dalam jumlah banyak berjalan dari arah Mabes Polri ke arah Masjid Al Azhar, sambil membawa ban yang siap untuk di bakar.

Tak berapa lama, terdengar ledakan dari botol Kratingdaeng yang mereka sulut, targetnya adalah Polisi bertameng yang berjaga-jaga di ujung Jl Raden Patah. Beberapa polisi terluka, hiruk pikuk masa terus terjadi. Bapak menarik kerah baju saya menjauh dari jendela dan saya di paksa masuk ke ruangan meeting yang cukup besar, saya disana bersama beberapa orang karyawan wanita, dan saya baru tahu bahwa salah satunya sedang hamil.

Prang!, jendela kaca tempat saya mengintip tadi pecah, dilempar batu oleh masa yang beringas sambil berteriak “Bakar!! Antek Soeharto..!! Antek-anteknya pantas di bakar!!”. Kejadian tersebut persis tepat ketika saya masuk ke ruang meeting tadi.

Di dalam ruang meeting, pintu dikunci dan saya tidak bisa melihat lagi kondisi aktual di luar kantor bapak, hanya terdengar bapak berteriak-teriak “kami muslim…kami muslim…kami muslim..Allahu Akbar!”

Bertepatan dengan itu, televisi yang ada di ruang meeting tadi menyiarkan breaking news, Mahasiswa Trisakti tertembak peluru! Belum tahu siapa dan bagaimana bisa tertembak. Bagai petir di siang bolong, berita itu tentu saja semakin membuat heboh suasana kantor. Tak lama kemudian, suara-suara riuh di luar kantor semakin gencar bergema, dan..prang! lagi-lagi terdengar bunyi kaca pecah. Terus terang saya khawatir nasib bapak.

Berita di televisi semakin mengerikan, situasi semakin tak tentu. Berbanding lurus dengan perut saya yang semakin keroncongan. Memasuki Adzan Magrib, situasi diluar tampak mereda, suara-sara gaduh dan gahar mulai berangsur tenang.

Namun tak berapa lama, bapak tiba-tiba masuk ke ruang meeting dan menarik tangan saya untuk segera keluar dari ruangan. Perasaan antara panik dan bingung langsung membayang.

“Pak, kenapa kok kita keluar?”

“Adek mu masih di sekolah, gak bisa pulang, tadi bapak baru telpon ibu”

Saya dan adik terpaut 5 tahun, artinya adik masih kelas 3 SD, kebayang bagaimana paniknya bapak mendapati anaknya yang kelas 3 SD masih di sekolah hingga magrib, bahkan mungkin hingga larut malam. Jakarta sudah di berlakukan jam sore, artinya semenjak sore sebelum Magrib, warga tidak boleh ada yang keluar rumah, termasuk ibu. Terbayang wajah panik ibu jika adik masih di sekolah.

Pukul 18.30 lebih, saya dan bapak masuk mobil yang diparkir di teras kantor, hal yang saya lihat pertama adalah kaca samping mobil bolong, bekas dilempar batu, dan spion yang bengkok, juga akibat lemparan batu. Tak beda jauh dengan mobil bapak, mobil-mobil yang lain pun bernasib sama.

Suasana demikian suramnya, asap dimana-mana, saya bengong mendapati kota tempat saya lahir dan bersekolah seperti area perang. Dipintu keluar bapak dihadang satpam, “Pak, tolong jangan kemana-mana dulu, mending di kantor pak” Ujar Satpam. “Gak bisa mas, anak saya satunya masih disekolah, kalo ada apa-apa gimana?”. “Yasudah pak, hati-hati, jangan lupa sajadahnya di pasang di kaca”.

Mobil pun di stater, sajadah di selempangkan di kaca, kaca ditutup sebatas sajadah tadi. Mobil pun berjalan ke arah Masjid Al Azhar dan memutar balik ke arah Blok M.

Sesampainya di ujung jalan Raden Patah, jalanan ditutup, tampak puluhan polisi tengah makan nasi bungkus, bapak mematikan lampu mobil dan beberapa polisi mendatangi kami, menanyakan siapa bapak dan tujuan hendak kemana.

Setelah bernegosiasi, mobil kami pun diizinkan masuk melewati CSW, lurus ke arah RS Pertamina. Tak hanya diizinkan, kami pun ternyata mendapat tawaran pengawalan dengan motor polisi, tapi tawaran tersebut ditolak bapak. Tolakan yang saya amini kemudian.

Sampai di CSW, ternyata mobil kembali di hadang oleh segerombolan orang, pos polisi disitu sudah rusak terbakar. Kembali bapak di interograsi dan kembali lolos, namun tidak bisa lurus ke arah RS Pertamina karena sedang ada bakar-bakar, melainkan harus belok kiri ke arah Blok M Plaza dan ambil kanan ke arah Barito.

Melewati Blok M Plaza, situasi bertambah kacau, beberapa masa mengamuk menghancurkan parkiran Blok M Plaza dan Blok M Mall, asap membumbung dimana-mana, untung kami jalan disisi kiri.

Bapak pun kembali di hadang, kali ini menunjukkan KTP untuk membuktikan kami ini WNI dan muslim, dari jauh seorang berteriak “Biarin jalan, orang kita itu! Bukan Polisi juga, Goblok amat sih lo!”

Saya amini kami tidak jadi di kawal Polisi tadi. Karena perhitungan bapak, di kawal Polisi sama saja cari musuh, info bapak, Mahasiswa Trisakti mati karena peluru Polisi, mending berbaur dengan warga kebanyakan.

Lampu merah Blok M Plaza mati, pilihannya dua: Jalan lurus ke arah Fatmawati atau ke arah Barito. Bapak mengambil inisiatif lurus, masuk Fatmawati, lalu perempatan pertama belok kanan ke arah Kebayoran Baru. Ternyata benar, jalur Barito sepanjang Optik Melawai hingga Gandaria adalah jalur neraka, banyak masa yang berkerumun disana, dari kejauhan tampak tubuh-tubuh bergelimpangan di jalan dengan pakaian compang-camping. Suasana malam menjadi terang dengan adanya tong sampah yang dibakar masa.

Persis ketika bapak melintas hendak belok kanan ke arah Kebayoran Baru, terdengar teriakan “Heii..Cina itu…Cinaa…Stop mobilnya!!” Kaget bapak mendengar suara itu, dan refleks langsung tancap gas. Baru diketahui ternyata mobil belakang bapaklah yang diteriaki, mobil tersebut di stop dan pengemudinya di tarik keluar, entah bagaimana nasibnya.

Saya hanya menyaksikan adegan-adegan itu dari mobil bapak yang bergerak cepat, leher saya tak henti menoleh kebelakang, rasa antara takut, takjub, penasaran dan mendebarkan, bagi anak kelas 2 SMP, ini seperti petualangan yang tak terlupakan.

Sampai di ujung Gandaria RM Sederhana, bapak belok ke kiri dan ambil jalur kanan masuk ke jalan pintas kecil, lagi-lagi pilihan tepat, karena di dalam situ adalah area perumahan menengah ke bawah yang secara psikologis lebih aman.

Sepanjang jalan kecil itu, kami berkali-kali menemui jalan ditutup oleh warga, ada 3x bapak di interview, perlihatkan KTP hingga diperiksa isi mobilnya. Dan semuanya bapak lolos. Bahkan saya ingat, bapak diminta untuk lafalkan tiga surat Al Qur’an di salah satu pos. Semuanya lolos tanpa ada halangan.

Jalanan tembus ke arteri Pondok Indah, ternyata disana jalanan relatif aman, meskipun dimana-mana tampak Baracuda dan Polisi dengan gas air mata. Ada beberapa masa yang masih berjalan bergerombol di malam itu, oya saat itu sekitar pukul 20.10 WIB.

Kami kembali melewati Tanah Kusir dengan kondisi jalan yang sepi, sangat sepi, seperti kota yang habis diserang Zombie. Beberapa warga siaga satu, berdiri di bawah gapura perumahannya. Dimana-mana tampak sajadah saling bersambut. POM Bensin depan Bendi Raya nyaris dibakar masa, terlihat dari sisa api di depan POM nya.

Kami terus melewati makam dan terus ke arah Bintaro, hingga kami melewati Hero Supermarket yang habis tak bersisa, beberapa orang bergerombol membawa barang-barang jarahan, ada bahan makanan, roti, hingga televisi dan kulkas, beberapa masih di letakkan di pinggir jalan, entah menunggu siapa.

Sampai di belokan IKPN Bintaro, kejadian pun tejadi, seorang wanita berlari-lari mengejar mobil bapak, wanita tersebut berbaju lusuh, rambut morat-marit, cantik, tinggi dan keturunan Tionghoa. Bapak hendak tancap gas ketika wanita tersebut tiba-tiba berteriak minta tolong sambil menangis.

Bapak terlihat melirik kanan-kiri dan memastikan kondisi, bapak pun menghentikan mobil dan menyuruh wanita tersebut masuk. Tak berapa lama, mobil bapak pun di hadang oleh segerombolan orang yang menanyakan alasan bapak menyelamatkan wanita tersebut.

Bapak turun dari mobil, perasaan was-was berkecamuk di dalam diri saya, tampak bapak berbincang dengan segerombolan orang tadi, dan dari kejauhan tampak segerombolan lagi mendatangi bapak. Ternyata segerombolan yang barusan datang adalah warga sekitar, yang tentu saja mengenal bapak. Mereka pun berbincang dan warga sekitar justru mengusir gerombolan orang yang entah datang darimana itu.

Mobil masuk terus ke arah IKPN, melewati Universitas Trisakti Pariwisata yang penuh oleh para Mahasiswa, spanduk-spanduk demonstrasi menghiasai isi kampus. Para Mahasiswa berdiri standby dan beberapa bernyanyi gugur bunga, lilin-lilin bertebaran membawa rasa prihatin atas kematian sahabat-sahabatnya di kampus Grogol.

Wanita keturunan Tionghoa tersebut menangis terus di dalam mobil, ditanya oleh bapak dimana keluarganya, jawabannya selalu satu kata “mati pak…mati..mati..”

Kami pun menuju sekolah adik, dan bertemu adik di rumah salah satu teman kami. Sampai dirumah, ibu sudah menunggu dengan was-was, wajahnya tampak menahan tangis karena kami seharian ada diluar menghadang bahaya.

Esoknya, wanita yang terus menangis tersebut kami antar ke RS tempat paman saya praktek dan info selanjutnya wanita tersebut di antar ke kantor polisi untuk lebih di amankan.

Sampai saat ini, wanita tersebut sukses usaha alat-alat make-up di counter Mall Ambassador, dan kerap datang ke rumah kami membawa alat make-up untuk istri saya, dan tentu saja makanan dan minuman.

13 Mei 1998

Di rumah, saya sibuk menyimak berita, menonton televisi dan membaca artikel dari George Aditjondro.

21 Mei 1998

Soeharto mengundurkan diri.

Kemarin 12 Mei 2018, 20 tahun yang lalu, kejadian yang tak akan pernah saya lupakan. Dan hari ini 21 Mei 2018, 20 tahun reformasi, apa yang sudah kita perbuat? Apakah pergolakan Mahasiswa dan perjuangan mereka sudah sampai titik? Turunnya Soeharto tanpa makna dan masa depan apapun?

Tidak, perjuangan masih koma, dan akan terus koma..Kita bekerja untuk isi koma tersebut, agar tidak hanya menjadi koma tanpa isi.

Advertisements

10 thoughts on “12 Mei 1998, Dimanakah Saya?

  1. Wih saya sampai bergidik membacanya, merasakan ketegangan dan kengerian suasana kala itu. Suami saya juga sempat merasakannya karena dia tinggal di Jakarta sebelum menikah dengan saya.

    Liked by 1 person

  2. Saya bacanya seperti membaca kisah saya sendiri.. Ikut deg-degan.. Jadi ingat saya pun punya draft tulisan mengenai momen 20 tahun lalu ini.. Waktu itu saya baru lulus kuliah, kayaknya saya lumayan ngerti dgn apa yg sedang terjadi.. Yang jelas, tiba-tiba masa depan terasa begitu suram.. Makasih udah berbagi kisah yg luar biasa ini, Ryo.. (Dan makasih juga udah kasih inspirasi buat beresin draft kisah yg sama)..

    Liked by 1 person

  3. Merinding mas baca tulisanmu yg ini, betul2 kyak lgi baca novel thriller kisah nyata..serem ya thun2 itu, pas thun itu saya ada di Sukabumi, kondisinya pun menegangkan , bahkan ada motor2 yg mau di bakar massa, untung massa disini bisa diredam sama warga yg cinta damai

    Like

  4. Saya kelahiran 97, tapi saat baca ini Serem banget, seperti bisa ngebayangin. Kasian banget mbak mbak nya, gak bisa dibayangin nasibnya kalau bapaknya mas nggak ngasih tumpangan. Tapi syukur Alhamdulillah, bapak ngasih tumpangan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.