Masih Layakkah Premium Dipertahankan?

Beberapa waktu lalu saya kedatangan seorang kawan lama di Doha dulu, yang sedang berlibur ke Indonesia atas hasutan saya dengan memastikan kondisi Indonesia 100% aman untuk dikunjungi. Satu orang berkebangsaan Oman dan satunya lagi berkebangsaan Inggris.

Mereka berdua adalah kali pertama datang ke Indonesia, banyak yang menarik dari mereka (saya ceritakan lain kali), tapi yang paling menggelitik bagi saya adalah kekagetan mereka ketika saya ajak isi bensin. Di POM bensin kita tertulis empat pilihan: Pertamax Plus, Pertamax, Pertalite dan Premium. Mereka pun bertanya arti ketiganya, saya jelaskan bahwa ketiganya dibedakan berdasarkan tingkat oktannya.

Mereka tidak kaget ketika saya jelaskan Pertamax Plus dan Pertamax, tapi wajah mereka berkerut heran ketika saya jelaskan oktan Pertalite yang tergolong RON (Researh Octane Number) 90. Padahal belum saya jelaskan tentang fenomena emak-emak naik motor matik lho.

What? Kalian jual RON 90?”

“Iya, RON 90 masih okelah”

“Oke apanya dude, disini (Jakarta.red) banyak sliweran mobil mewah, gak kehitung deh tadi gue liat berapa jumlah Fortuner, Camry, Mercedes bahkan Wrangler, dan kalian masih jual RON 90, sampah banget”

“Lha terus yang Premium itu jenis apa? Pertamax Turbo?” si English nyambung.

“Enggak, Premium itu RON 88”

Sumpah, wajah mereka pun pucat. Bukan apa-apa, kami di Qatar bekerja di pengolahan minyak, bahkan si Oman bekerja sebagai operator pengolahan kilang, jadi dia sangat tahu proses dari mulai distilasi hingga blending. So, ada alasan kuat kenapa dahi mereka berkerut heran. Heran karena pemerintah masih juga menjual bensin RON 88 yang memiliki banyak sekali kekurangan berbanding banyaknya mobil dan motor keluaran tahun 2005 keatas yang bersliweran.

“Kalian ini kayak negara miskin aja”

“Ya memang masih banyak rakyat miskin, bos”

“Ya tapi gak juga lah, gue pernah tugas ke Zimbabwe, Namibia hingga Togo, bahkan di sanapun sudah pakai RON 92, istilahnya bensin super. Lha ini, Indonesia, BMW sama Mercy dimana-mana, bus aja pake Toyota, karoseri lokal bisa dihitung jari, eh pakainya malah 88, gak sayang mesin bos?” Ujar si Inggris yang masih saja bermimik heran.

Yup, saya pun hanya bisa mesem, tersenyum kecut, bukan karena saya tak berkompeten menjawab, tapi saya memang tak bisa menjawab. Faktanya RON 88 memang jauh kualitas dengan RON 92 atau bahkan RON 90, itu fakta. Rakyat masih memakai Premium karena gap harga antara Pertamax dengan Premium yang disubsidi Pemerintah itu jauh, bukan karena memang mereka ingin memakai Premium, bukan itu.

Dan persis dua minggu lalu, saya baru saja meng-update status di sosial media tentang penggunaan Pertalite yang menggembirakan, dan eh ternyata saya mendapati komentar seperti ini:

“Penghapusan Premium secara diam-diam itu adalah bentuk kezhaliman Pemerintah, bentuk kesewenangan Pertamina sebagai pemegang amanah kedaulatan rakyat, seperti pasal..dst…dst..”

Saya paham, zhalim lagi nge-hitz, bahkan kucing kawin pun dibilang zhalim. Tapi duh, miris rasanya. Saya coba menarik nafas dalam dan kemudian seruput kopi.

Gini gaes, saya coba melakukan beberapa wawancara dengan beberapa anak muda geng motor, kenapa geng motor? Karena geng seperti ini biasanya sangat peduli dengan oktan meskipun tak peduli dengan nyawa, tapi toh apa peduli saya.

Mereka semua kompak lebih memilih Pertalite dengan RON 90 ketimbang Premium, bahkan tak jarang mengisi bensin dengan Pertamax meskipun makan mereka harus ngirit. Kenapa? Pertama, performance motor terasa lebih yahud, motor yang tadinya sering knocking (menggelitik) jadi jarang knocking dan kedua, nyatanya memang lebih irit. Untuk urusan irit, ini fakta gaes, coba lihat ini:

Sumber: Pertamina

Pemakaian Pertalite rata-rata bisa menghasilkan pengiritan 1 km per liter, dan memang sudah dirasakan sendiri, untuk mobil yang biasanya isi bensin 3 hari sekali, sekarang menjadi 4 hari sekali. 1 hari itu kerasa lho kalau kalian bawa kendaraan setiap hari.

Jadi, berkurangnya produk Premium di kancah persilatan BBM Indonesia bukan karena Pemerintah dan Pertamina yang zhalim, tapi karena hadirnya Pertalite sudah menjadi obat kerinduan masyarakat terhadap oktan yang lebih tinggi tapi dengan harga yang terjangkau.

Ini seharusnya di apresiasi, Pemerintah dan Pertamina sudah membangun “jembatan” untuk bensin yang baik bagi kendaraan tapi juga ramah di kantong, dan memotong subsidi Premium untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya.

Jadi, kalau Premium berkurang di pasaran, ya memang karena pengguna BBM sudah banyak beralih ke Pertalite, ini fakta lho, gaya hidup sudah berubah, masyarakat sudah paham mana oktan yang lebih baik dan tentunya ramah lingkungan. Jika dunia sudah tidak lagi menjual Premium, lalu Indonesia masih, mau dikata apa? Ini lagi-lagi fakta.

Sumber: Pertamina

Simple saja, Premium sudah mulai ditinggalkan, lalu untuk apa Pertamina masih memproduksi Premium seperti biasanya? Apapun itu, Pertamina adalah sebuah korporasi yang bergantung hidupnya dari bisnis. Demand berkurang, ya supply pun dikurangi, untuk apa membuang duit di produksi yang permintaannya berkurang?

Ya, gaya hidup sudah berubah, orang sudah tidak lagi menganggap yang murah itu adalah selalu baik, edukasi ilmiah terutama soal pemakaian energi sedikit banyak sudah terserap masyarakat, karena apa? Karena merasakan sendiri bedanya. Dan sekarang bagi anda, masih zalimkan Pemerintah? Pasti anda belum ngopi.

Lalu selanjutnya apa?

Simpel saja, menjamin. Menjamin ketahanan energi, sumber daya dan tentunya menjamin kebutuhan BBM satu harga di Nusantara. Ini sulit? Ya jelas, kalau gampang ya Pemerintah enggak bakal dihujat.

Ketahanan energi sudah enggak bisa lagi berbicara soal migas, apalagi mengandalkan energi fosil konvensional seperti minyak bumi. Dunia sudah bergerak kearah energi baru terbarukan.

Pembangkit Listrik sudah mengembangkan teknologi ke arah Bioethanol yang bahan utamanya dari sorgum, ubi atau jagung, bahkan dulu para Mahasiswa pernah mengembangkan Biodiesel berbahan dasar minyak atsiri, sayang sekali dulu Pemerintah tidak terlalu agresif menyambut.

Dan yang hits saat ini adalah Solar Cell (Energi Tenaga Surya), eh tapi itu butuh elaborasi lebih lanjut, lain waktu akan saya tulis, sementara ini saya mau ngejemur baju dulu ya, mumpung energi tenaga surya sedang melimpah.

Di publish pertama kali di KOMPASIANA

Advertisements

2 thoughts on “Masih Layakkah Premium Dipertahankan?

  1. insight yg menarik sekali. saya kira memang sengaja mematikan demand dengan cara mematikan supply. ternyata memang demand mati dengan sendirinya ya.

    ini juga jadi ke-kepo-an saya sejak lama. tingkat oktan mempengaruhi kualitas bensin kah? dulu curious banget tentang itu. berarti yg oktan lebih tinggi (dan lebih mahal) pasti lebih bagus daripada yg oktan rendah ya? katakanlah untuk kasus pertamax plus vs pertalite.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s