Review Borobudur Marathon 2017 (2): Siap Gak Siap, Harus Siap!

2017_1119_11285500

“Menjadi seorang finisher itu tidak mudah, itu sama saja seorang atlet yang ingin jadi juara” – unknown-

Saya mendapat quote itu entah kapan, tapi bagi saya, quote itu juara banget. Yup, meskipun “hanya” menjadi seorang finisher, tapi usaha yang dibutuhkan sama dengan seorang atlet yang ingin jadi juara. Perlu latihan yang sama keras, sama-sama butuh perjuangan.

Persiapan saya menghadapi Borobudur Marathon 2017 ini cukup sedang, persiapan sejak Juni 2017, atau lima bulan menjelang race. Di artikel review Borobudur Marathon 2017 pertama, saya sudah tulis bahwa Borobudur Marathon 2017 ini adalah milestone puncak perjuangan saya selama menekuni olahraga lari, setelah sebelumnya khatam di race 10K dan 21K. Borobudur Marathon 2017 adalah milestone virgin marathon saya.

Menu latihan saya untuk persiapan ini sangat sederhana, saya tidak ikut klub lari apapun, hanya ikut kumpulan kawan alumni kuliah yang akhirnya melahirkan IERC, itupun tidak sengaja. Ditambah kepercayaan diri karena sudah menaklukkan Bogor Half Marathon dengan medan yang naik turun.

Latihan standart saya ikuti, modal training plan download dari template di google. Setiap minggu saya usahakan selalu berlari minimal 30K, maksimal bisa sampai 45K. Contoh: Di hari Senin saya berlari 5K, lalu Selasa 5K, Rabu rest, Kamis 5K, Jumat rest, Sabtu long run 7-8K dan Minggu kembali long run 12-17K, sehingga total 35-40K. Begitu terus diulangi dan di modifikasi dengan fartlek, tempo ataupun interval run.

Plan di atas berlanjut hingga minggu ke-15, dimana jarak mulai ditambah terutama di hari Minggu, long run naik menjadi 17-25K, lalu puncaknya di minggu ke-18 dimana jarak 30K saya lalui, itulah jarak terjauh saya dalam satu kali berlari. Ini berguna untuk membiasakan kaki berlari diluar jarak yang biasa

Minggu ke-19 jarak mulai diturunkan, istilahnya tappering run, dalam seminggu saya hanya berlari 20K saja. Lalu di minggu terakhir, saya berlari di hari Senin 5K, Selasa 3K, Jumat 5K dan hari Minggu sebagai race day.

Jujur dengan mode latihan ini, saya masih merasa sangat kurang, rasa belum siap menghantui, karena kaki masih belum terbiasa untuk menekan aspal lebih dari 30 K, apalagi sejauh 42,195K. Apalagi di minggu ke-15 lutut sisi kanan luar terasa nyeri setelah long run 25K, dan memaksakan tetap long run di minggu ke-18, lutut masih terasa nyeri padahal sudah memakai knee support.

Tapi untuk seorang virgin marathoner, latihan diatas tadi sudah cukup sebetulnya, karena jika harus dipaksakan per minggu untuk jarak diatas 40K, resiko cedera justru menghantui, karena kaki kita belum terbiasa. So, siap gak siap, ya harus siap, race day di depan mata!

Percayalah, setelah melewati fase full marathon, kaki, tubuh dan tentunya mental lebih siap menghadapi apapun, termasuk meningkatkan latihan menuju race marathon selanjutnya. Tunggu ulasan race saya di Borobdur Marathon 2017 selanjutnya.

 

 

Advertisements

One thought on “Review Borobudur Marathon 2017 (2): Siap Gak Siap, Harus Siap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s