Catatan Kaum Sapi Untuk FOURTWNTY, Sebuah Pledoi

sapi_lucu_by_esctatica

Sumber: https://esctatica.deviantart.com/art/sapi-lucu-30817457

Duhai para punggawa Fourtwnty yang di rahmati Tuhan pemilik bumi bulat dan bumi datar, semoga selalu dalam lindunganNya.

Begini mas-mas, mungkin semua netijen di republik ini sudah cukup familiar dengan musik Indie yang mas-mas bawakan, bukan saja lagu yang berjudul “Zona Nyaman” itu jadi soundtrack film “Filosofi Kopi 2”, tapi juga menjadi inspirasi para abege labil yang sedang mencari jati diri untuk tidak menjadi sapi. Lho? Ada apa dengan sapi? Apa sapi ini ada hubungan dengan politik? Oh tentu saja bukan, kita tidak sedang bicara politik disini.

Jika merunut pada lirik lagu mas-mas yang heits itu, sapi disini didefinisikan sebagai lambang manusia yang terkurung dalam rutinitas, terkungkung dalam ritme kerja yang teratur, gila materi, patuh terhadap tuannya dan akan kerja jika di cambuk, kira-kira begitulah sapi itu, bukan? Manusia sapi adalah manusia tidak bekerja bersama hati. Walau tetap punya hati.

Jadi gini, apakah setiap manusia yang menjadi “sapi” itu adalah manusia yang tidak bekerja bersama hati? Jika ya, maka terus terang para sapi tersinggung, termasuk susu sapi.

Bayangkan jika semua manusia didunia ini menjadi satu definisi seperti yang anda maksud, tidak akan ada para petugas sampah yang setiap hari membersihkan sampah, mengumpulkan dan kemudian mendaur-ulang hingga menjadi barang konsumsi lagi, sehingga kalian para non-sapi tidak perlu susah payah buang sampah ke TPA atau kebauan karena sampah tiga hari tidak diambil.

Tidak ada mas-mbak para petugas Indoma*t atau Alfama*t yang tetap ramah dengan senyumnya melayani kita semua, termasuk kaum non-sapi yang betah berlama-lama nongkrong, padahal cuma beli kopi sachetan.

Tidak ada lagi petugas e-KTP di kelurahan yang tetap tabah walaupun nyaris dibunuh ibu-ibu motor matic karena lamanya sistem online. Tidak ada lagi petugas perpanjang passport yang melayani mas-mbak untuk holidei ke luar negeri. Tidak ada lagi para pak Polisi yang sigap mengatur lalu-lintas, terutama arus mudik, yang kerja atas perintah atasan dan juga hati nurani.

Tidak ada para petugas pajak, petugas bank yang bekerja siang-malam untuk menstabilkan ekonomi, tidak ada data statistik resmi yang akan keluar karena semua pekerjanya sibuk menjadi penjaja kebab Turki atau jualan kopi jaman now.

Tidak ada pembangunan jalan layang Becakayu karena para insyurnya resign demi tidak mau dibilang sapi. Mereka yang bekerja sesuai jam kerjanya, mereka yang bekerja sesuai rutinitas, mereka yang dibilang gila materi, berdasi dan tentu, tidak bekerja bersama hati, alias sapi.

Kebayang gak sih, disaat mas-mas yang idealis ini membuat lagu, ada satu orang perempuan penjaga pintu tol yang baru pulang selepas jam 12 malam karena shift? Atau seorang pria lusuh yang berdiri berhimpit di Kereta Api selepas dirinya berhasil memperbaiki aliran listrik yang mati?

Bayangkan jika mereka tidak ada, kehidupan ini akan kacau-balau, majunya sebuah peradaban membutuhkan orang-orang yang komitmen menjaga kestabilannya, mereka menjaga agar dunia ini tetap seimbang, tetap berjalan bagaimana mestinya.

Keuangan negara tidak carut-marut, tidak dirampok, ekonomi tetap berjalan, pembangunan tetap bekerja, listrik tetap menyala, energi tetap bisa mensupply kebutuhan dasar kita. Lha kalau semua dianggap sapi, terus maunya apa?

Kita baru saja excited terhadap Mark Zuck, Jobs yang bisa kaya raya dari gudang, tempat tidur, garasi atau apalah. Mereka inspirasi mati kita saat ini, mereka stereotip orang orang yang bekerja dengan hati, dan dengan hati itu adalah bekerja tidak terkungkung, bebas, dan itu bukan menjadi karyawan. Lha kan asu.

Padahal bekerja dengan hati adalah bekerja dengan passion, dengan hasrat. Kalian yang suka matematika dan membangun, maka bekerja di konstruksi, kalian yang hobi kimia, bekerjalah di apotek, kalian yang hobi mengajar, ya jadilah guru, kalian yang hobi utak-atik angka, jadilah akuntan, dsb. Gak cuma dagang kopi atau buka warung ayam gepuk, cuk! Dunia gak segampang lirik lagu.

Kalian yang tidak punya hobi apa-apa, tetaplah bekerja, karena dunia tetap berjalan, perutmu butuh diisi, lambe mu butuh asupan gizi. Apalagi anakmu sudah ngerengek minta susu, gak mampu? ya cari tambahan, pulang tengah malam, lembur, cari sampingan dsb..

Hidup gak cuma soal passion atau hasrat, tapi juga nekat, maling belum tentu hasratnya maling, awalnya jual kebab, bangkrut, anak mau bayar sekolah, maling, ketauan, digebuki warga, mati, anaknya putus sekolah, anaknya jadi rampok, pas ngerampok malah ketauan polisi golongan sapi tadi, masuk penjara, ngenes.

Dilain pihak ada seorang wakil pimpinan daerah di ibukota negeri liyeur, asal mulanya seorang non-sapi, pengusaha, muda dan sukses tiba-tiba rela menjadi sapi yang dibayar oleh pajak masyarakat. Dan sampai sekarang malah belum menunjukkan kualitasnya sebagai sapi yang qualified. Jadi kesimpulannya, jadi sapi itu susah bung!

Hidup gak semudah cocot lirik lagu mu mas-mas, dunia butuh keseimbangan, dan antara sapi dan non-sapi bolehlah saling menyusui, karena bayarnya sama.

Salam kopi.

Advertisements

One thought on “Catatan Kaum Sapi Untuk FOURTWNTY, Sebuah Pledoi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s