Memang Ilmu Agama Kalian Setinggi Apa Sih?

149724812463162

“Belajar agama lagi sana”, hayo siapa di antara klean yang pernah digituin di medsos sama temannya? Ngaku saja..tenang, disini klean aman, tidak ada celah untuk di dholimi atau di persekusi, nah banyak kan yang tunjuk tangan..ckck..

Gini gaes, dahulu kala di awal abad ke 12, dua pemikir (filsuf) Islam yang paling top, Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd pernah berdebat tentang dua hal yang sangat esensial dan berpengaruh kepada pemikiran Islam kedepan. Pertama yaitu tentang pengetahuan Tuhan dan kedua tentang permulaan (keazalian) alam.

Kita bahas yang pertama saja, karena kita akan langsung laper kalau bahas dua-duanya.

Dalam point pertama, seorang  Ibnu Rusyd yang mendukung Aristoteles membantah pemikiran Imam Al Ghazali di dalam bukunya Tahafut At-Tahafut, bahwa Tuhan tidaklah mengetahui persoalan juziyat atau hal-hal partikular yang rinci.

Menurut pendapat Ibnu Rusyd, Tuhan adalah Zat yang Maha Tinggi, otomatis Tuhan adalah setinggi-tingginya ilmu dan akal, sehingga Tuhan memiliki pengetahuan yang tanpa cela. Jadi, Tuhan sudah mengetahui yang awal dan yang akhir dengan segala perincian. Bingung?

Misalnya, kamu sedang makan nasi gudeg Pawon di Janturan, Jogja. Karena ngantuk, tanpa sengaja si mbok menyendok dua telur pindang ke piringmu, padahal jatahmu ya cuma satu, tapi kamu cuek, tetap menyantap nikmat. Nah, kasus ini menurut Ibnu Rusyd sudah bukan urusan Tuhan, karena ini ranah partikular, sudah ada malaikat Raqib dan Atid yang mencatat amalan kita, dan akan dibuka nanti.

Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu, sehingga jika Tuhan mengetahui hal-hal yang partikular justru mengurangi Maha Kesempurnaan-Nya karena hal-hal partikular adalah suatu proses dari “tidak tahu menjadi tahu”, ini ranahnya remah-remah manusia, bukan ranah Tuhan.

Sedangkan menurut Imam Al Ghazali, Tuhan adalah Zat Yang Maha Tahu sehingga tidak ada satu bendapun, satu gerakan pun dan satu sifatpun yang luput dari ke-MahaTahuannya termasuk hal-hal partikular (detail), dan berpedoman pada ayat Al Quran: “Tiada yang luput bagi pengetahuan Ilahi”. Tuhan mengurusi urusan telor pindang sampai lidah kamu ngomong janc*k.

Yang menarik, awalnya Al Ghazali dalam bukunya Al Maqasid Al filasifah yang disusul dengan buku keduanya Tahafutul Falasifa, menyebut hal-hal yang tidak sesuai (subsersiv) dengan iman Islam disebutnya sebagai kufarat (kufur-kafir), tetapi kemudian diralatnya sebagai bid’ah dan tidak sesuai, bukan lagi kafir. Nanti kita bahas yang ini.

Dari diskusi di atas, setidaknya ada dua point. Pertama, kita bisa bayangkan sebuah perang wacana yang dikemukakan dua filsuf Islam dengan kadar keilmuan yang sangat tinggi hingga membawa pemikiran tersebut kedalam peradaban, diskusi yang berbobot dan sangat jauh dari diskusi “Apakah perginya RS ke Saudi itu sama dengan Hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah”?

Disini saya ingin ngakak..

Perang wacana antara dua filsuf besar tidak diakhiri dengan kalimat “pembunuhan karakter” antar keduanya. Bayangkan jika dalam keadaan terpojok, lalu Ibnu Rusyd berkata “Duh le.. hambok ya kamu belajar agama lagi sana…”. Dipastikan detik itu juga para filsuf pendukung Imam Al Ghazali (karena Imam Al Ghazali sendiri sudah meninggal) akan lepas celana dan pulang kampung saking malunya, malu sama Ibnu Rusyd yang jauh dari sifat intelektual yang terbuka. Tapi Alhamdulillah, mereka memang kalangan intelektual agama yang tulen.

Dalam sebuah perbedaan wacana, adalah sebuah keniscayaan jika saling beradu argumen, beradu tulisan, bolak balik ide dan menggodok pemikiran, dalam diskusi ataupun debat, tidak dicari sebuah pembenaran dari kalah atau menang. Toh dua pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd keduanya tetap dipakai oleh filsuf Islam masa kini.

Contoh lain, coba bayangkan jika Bung Karno tidak sering berdebat panjang dengan Kartosuwiryo atau Semaun di hostel kos-kosan HOS Tjokroaminoto, mungkin Bung Karno tidak akan pernah menemukan esensi Pancasila yang berbasis pada keragaman.

Jika pada debat itu lantas Kartosuwiryo berkata “No, Karno..kamu belajar lagi sana”, bisa dipastikan pula Bung Karno malas melayani diskusi lebih lanjut, lebih baik ngopi atau cabut pacaran.

Lalu apa pointnya? Kerendahan hati adalah KOENTJI. Tidak ada satu pihak pun yang merasa lebih benar dari yang lain. Apalagi berani mengkafirkan. Nah ini..belum selesai disitu, ada point kedua yang diambil dari debat antara Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd, yaitu kehati-hatian. Al Ghazali merubah istilah kufarat yang dipakai sebelumnya menjadi bid’ah atau tidak sesuai.

Al Ghazali, dengan ilmunya yang mumpuni, memilih dengan hati-hati pemakaian kalimat didalam buku dan literaturnya, karena kufarat mengandung arti kafir atau keluar dari Islam, itu berat. Dan apabila itu ditujukan kepada para filsuf yang juga pemikir Islam malah akan menjadi masalah panjang, dianggap tuduhan.

Dan disaat ini, mungkin apa yang dipelajari para jamaah reliji itu benar, namun mungkin (mungkin lho yaa..) karena demo nomor cantik yang sukses besar, menjadikan mereka merasa ilmu agamanya sudah setinggi menara Burj Khalifa, mereka jadi ahli agama dadakan, dan “Belajar agama lagi sana” menjadi kalimat hits yang siap menerkam saudaranya dengan arti yang kira-kira…yaah….”Kamu goblok banget sih”.

Jogja, di sepertiga lintingan rokok.

 

*Artikel dimuat di Ngawursiana.com

Advertisements

One thought on “Memang Ilmu Agama Kalian Setinggi Apa Sih?

  1. Keren banget ya perdebatan filsuf dulu sudah membahas esensi Tuhan tetapi tetap santun dengan keilmuannya, walau pun berbeda pendapat lambat laun waktulah yang akan membuka kebenarannnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s