Perang Gettysburg dan Seberapa Penting Menahan Diri?

Perang Saudara Gettysburg, yang terjadi pada bulan Juli 1863 di Amerika Serikat menyisakan sebuah cerita tentang pentingnya menahan diri, utamanya soal nulis status. Mari saya ceritakan.

Tersebutlah Jenderal Robert E. Lee, Jenderal dari kalangan Federasi yang memberontak dari Pemerintah Amerika Serikat, yang saat itu dipimpin oleh Presiden kharismatik, Abraham Lincoln dengan tentaranya, Union Army.

Pada saat itu perang Gettysburg hampir mencapai titik akhir. Tanggal 5 Juli 1863, Jenderal Robert E. Lee dan pasukannya yang sudah kalah mulai terdesak mundur ke selatan, mundur terus hingga sampai di Potomac, mereka pun terjebak di sebuah sungai yang airnya sedang pasang, hingga tak bisa dilalui. Sedangkan di belakangnya tentara Union Army terus merengsek maju, siap menghantam.

Lee terjebak, dan dengan keyakinan penuh, Lincoln pun memerintahkan Jenderal Union Army saat itu, Jenderal George Meade untuk langsung segera menyerang Lee tanpa melalui Dewan Perang. Tapi bukannya menuruti Lincoln, Meade malah menghubungi Dewan Perang, Henry Wager Halleck untuk meminta pertimbangan, yang kemudian mulai berdiskusi, curhat dan menghasilkan keragu-raguan dalam mengambil tindakan.

Akhirnya, air sungai pun surut dan Jenderal Robert E. Lee beserta pasukannya berhasil menyeberangi sungai dan melarikan diri.  Betapa marahnya Lincoln mendengar berita tersebut dan saat itu ia langsung membuat surat kemarahan yang ditujukan kepada Jenderal George Meade. Suratnya bisa dilihat DISINI.

Surat yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan, “Your golden opportunity is gone, and I am distressed immeasurably because of it”

Surat yang sangat pantas untuk dikirimkan kepada Meade, tetapi Lincoln tak pernah mengirimkan suratnya. Lincoln berpikir, jika surat itu dikirimkan, dirinya memang merasa puas, dan menjadi pembelajaran bagi Meade, tetapi itu akan menimbulkan perasaan benci dari Meade (dan pasukannya) terhadap dirinya kedepan.

Bagaimanapun Meade bukan Jenderal kemarin sore, pasti begitu banyak pertimbangan seorang Jenderal di lapangan mengenai keamanan pasukannya. Perang bukan hanya soal menyerang musuh, tetapi juga bagaimana melindungi pasukan seaman mungkin.

Lincoln pasti akan menang dalam perang kata-kata, tetapi dia akan kalah dalam perang pengaruh. Meade dan pasukannya akan membenci dia, dan itu akan buruk untuk Pemerintah kedepannya, terutama untuk Philadelphia. Lincoln paham, tidak seorangpun yang suka menjadi objek yang di cela. Semua orang ingin dihormati. Lincoln pada akhirnya tetap mengkritik Meade, tetapi dalam level yang terhormat, dan tanpa emosi.

Itulah Lincoln, seorang yang bisa dipelajari kapan harus diam, kapan harus menulis status dan kapan menyampaikan kritik. Di situasi perang zaman dahulu, menulis surat dengan emosi sama mudahnya dengan menulis status kritik dan kebencian di zaman ini.

Hanya saat ini jauh lebih sadis karena jauh lebih cepat dan mudah viral, tanpa melihat isi dari status atau berita tersebut.

Banyak sekali sudah oknum yang tercyduk oleh aparat karena hinaan terhadap Presiden, belum lagi yang malu ketika berdebat karena salah berstatement atau pejabat yang mengeluarkan statement dan ide bodoh dan direvisi kemudian, belum lagi ratusan orang yang akhirnya dibully oleh masyarakat luas baik dunia maya maupun nyata.

So, tahan 1 menit untuk statement dan komentarmu di medsos, 1 menit saja. Tarik nafas, dan pikirkan apabila komentarmu di posting, apa reaksi kawanmu? Apakah kamu siap jika di kritik balik? Bahkan yang mungkin akan menghancurkan reputasimu?

Sudah siapkah kamu untuk kembali di cela?

Teknologi bisa membuat reputasi hancur dengan lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan sebelumnya – Guy Kawasaki

 

 

 

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Humaniora
2 comments on “Perang Gettysburg dan Seberapa Penting Menahan Diri?
  1. Anonymous says:

    bahkan doa pun dibuat jadi tidak sakral krn bertujuan untuk membully orang. kalau komunikasi dengan Tuhan saja dibuat unk lucu2an dan menebar benci, apalah arti sebuah media sosial yg hanya membutuhkan gerakan jari dalam sekejap menghancurkan peradaban

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories