Alasan Mengapa Kita Sebaiknya Berterima Kasih Pada Lion Air

E34362E0-2577-45EC-A698-CB0D50D3F1D2

Sekitar tiga bulan lalu, saya pernah melakukan sesuatu yang buruk, yaitu memaki. Mungkin bagi warga Surabaya mengatakan janc*k adalah hal yang biasa bahkan khusyuk, tapi tidak bagi orang Solo, sehingga saya kaget sendiri ketika mulut ini dengan entengnya berkata janc*k.

Perkaranya sebetulnya simple, yaitu penerbangan saya dari Jakarta ke daerah Kalimantan delay hingga hampir tiga jam, otomatis pekerjaan saya menjadi terganggu, belum lagi penjelasan yang berbelit-belit dan tidak adanya snack membuat darah ini naik hingga ujung rambut.

Teriakan calon penumpang dan gebrakan tangan di atas meja customer service menjadi pemandangan yang biasa, bukan cuma saya, tapi juga bapak-bapak dan tak lupa ibu-ibu penguasa remote tv dirumah, Lion Air terpojok.

Tapi itu dulu, ketika negeri api masih diserang..

Saat ini? Oh tidak lagi. Semenjak saya menjadi warganet yang kaffah lahir batin, saya menjadi banyak berpikir positif, bagi saya segala kekisruhan kehidupan kita masih belum apa-apa dibanding kisruh perdebatan fanboy maha benar Jonru dengan segala lawannya.

Dan terutama persoalan emosi yang melanda ketika maskapai dengan pesawat terbanyak di Indonesia itu berlaku “yang tampaknya” semena-mena terhadap konsumen itu.

Benarkah Lion Air semena-mena?

Dengan hati yang sejuk, saya berani mengatakan bahwa tidak. Lion Air tidak pernah semena-mena dengan konsumennya, jika banyak kesulitan itu kamunya saja yang kebanyakan kalori dan darah tinggi. Nih ya tolong di baca:

Menyelesaikan Tulisan

Delay adalah hal yang mengasyikkan bagi penulis jika kamu tahu. Di sela-sela waktu delay para penulis punya waktu tambahan untuk bisa menulis blog, seperti juga tulisan ini.

Jiwa menulis kamu akan muncul jika punya waktu yang cukup luang namun terbatas, suasana yang menyenangkan, apalagi ditambah kopi kafe yang nikmat, dan sebelumnya kamu dikenyangkan oleh soto ayam atau nasi goreng telur ceplok.

Ini bisa kamu temui di bandara jika pesawat kamu delay, dan ini paling sering akan kamu temui jika hanya kamu terbang bersama Lion Air.

Nah, kalau kamu berjiwa time is writing, maka seharusnya kamu berterima kasih dengan Lion Air, coba hitung, berapa tulisan kamu yang akan menjadi headline, viral dan dibaca ribuan orang..

We Makes People Fly

Slogan yang sungguh inspiratif, We Makes People Fly. Jelas komitmennya adalah menerbangkan setiap orang hingga ke tujuan. Semua orang bisa terbang, itulah mengapa harga tiket Lion Air memang nyaris selalu di bawah maskapai lain, meskipun lebih sering gak juga.

Kamu bisa menemukan berbagai kelas masyarakat di pesawat Lion Air, dari mulai yang berwajah priyai, ustad, pendeta, biksu, preman bertato, tukang bakso, gadis panti pijat hingga buruh bangunan. Dari mulai pengusaha hingga kelas kuli.

Tak dipungkiri, Lion Air adalah simbol utama kebhinekaan, sebuah ikon Pancasilais sejati kategori penerbangan. Kapan lagi kamu bisa melihat para pekerja bangunan main gaple bertiga di atas awan dengan meja makan lipat sebagai alas? Alasannya, daripada ntu meja gak kepakai. Begitu komunal, begitu guyub, begitu ngindonesia.

Nah, yang seperti itu hanya ada di Lion Air.

Lion Air juga adalah maskapai paling toleran dan agamis. Mengadopsi konsep dimana segala jenis manusia sama di mata Tuhannya, yang membedakan hanyalah tingkat amalnya. Sedangkan di Lion, segala rupa manusia pun sama dimata Lion Air, yang membedakan adalah tingkat kesabarannya.

Sekali lagi We Makes People Fly. Terima kasih Lion Air.

We Makes People No Jomblo

Ini salah satu hal dimana kamu, terutama para jomblo harus berbanyak-banyak terima kasih dengan Lion Air. Seperti paklik saya yang seorang jomblo menahun, jomblo karatan yang hingga mbah dukun pun menyerah pasrah.

Siapa yang sangka di umur yang kepala nyaris 50, dia bertemu jodonya, enam bulan lalu, di sebuah bandara, di sebuah waiting room ketika mereka berdua sama-sama kepergok membawa korek (ini salah satu keajaiban rokok gaes, masih gak percaya??).

Karena korek mereka sama-sama diambil, mereka pun bisa berbasa-basi. Dan ketika kemudian para penumpang ngamuk luar biasa akibat Lion Air delay hingga 4 jam, mereka justru dalam hati bersyukur, kalau bisa malah minta delay 7 jam plus nginep.

Ketika para penumpang menunjukkan wajah marah emosi yang tinggi, wajah mereka justru sumringah, mereka cekikikan layaknya remaja malu-malu.

Ketika tangan para penumpang yang emosi mulai menggebrak meja, justru jari-jari tangan mereka sedang mengintip nakal kesempatan untuk saling menghimpit. Ah indahnya.

Tidak ada snack? Justru bagus bagi paklik saya, setidaknya ada alasan untuk mengajak si cewek untuk sekedar makan bakso, perkara harga yang naudzubillah mahal di bandara, itu lain soal. Cinta memang mahal bukan?

Dan pada akhirnya mereka pun menikah, tak tanggung-tanggung sebuah spanduk membentang dengan tulisan. “Terima kasih Lion Air, Delay mu, Jodoh ku”. Dan hingga saat ini, mereka tetap setia dengan Lion Air. Indah banget gak sih?

Jadi perkara emosi itu cuma bagaimana kamu bisa memanfaatkan situasi atau cuma ngikutin hawa nafsu setan. Kalau cuma yang kedua, wah kamu jelas ndeso.

Yuk, say thanks to Lion…

***

Diposting juga di http://ngawursiana.com

 

 

Advertisements

One thought on “Alasan Mengapa Kita Sebaiknya Berterima Kasih Pada Lion Air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s