Dialog Bersama Bapak

030132400_1446811214-Hiroshi_Nohara__3_

Pagi itu di hari minggu, saya menguping pembicaraan antara ayah dan adik. Bukan kebiasaan untuk menguping pembicaraan orang lain, tapi karena tidak disengaja kok ya kuping ini nempel saja gitu lho di pinggir pintu, yasudah, diteruskan saja ngupingnya, gak bayar ini..

Bapak saya itu pendiam, tapi kok di pembicaraan ini beliau tampak agresif dengan adik saya, pembicaraannya menyangkut aspirasi politik di negeri ini yang enggak pernah selesai.

Bapak saya yang gak seberapa terkenal itu mendadak jadi demikian bijak menyikapi adik saya, yang nyata-nyata seorang anti-pemerintah, tepatnya anti-jokowi, dan bapak saya -yang ketika pemilu kemarin juga tidak memilih Jokowi-.

Bapak (+): “Bapak dengar kamu mulai dapat masalah ya dengan teman kantor mu dan atasan karena sering posting menghina pemerintah?”

Adik (-): “Ya, tapi ya sah-sah saja lah kalau aku kontra pemerintah pak, toh pemerintah gak becus kok, semua jadi sulit”

+ : “Semua jadi sulit yang mana maksudmu? Yang menghina kan kamu”

– : “Lho, mosok bapak gak ngeh sih, rakyat itu sekarang sulit”

+ :”Memang dari dulu gak sulit?”

– :”Ya, sulit juga”

+ :”Lha terus bedanya apa? rakyat kecil dari zaman Majapahit ya hidup sulit, hidup sederhana, apalagi taun 98 keatas, lha kamunya sendiri sulit ndak sekarang?”

– :”Ya, tapi sekarang lebih sulit”

+ :”Bapak ulangi, kamunya hidup sulit ndak? Masih minta bensin bapak ibu ndak? Istri anakmu busung lapar ndak?”

– :”Ya kalau itu enggak pak, maksud saya rakyat ini lho”

+ :”Bapak nanya kamu, kamu bilang kamu baik-baik saja tho?”

– : “Iya pak”

+ :”Lha yasudah, artinya kamu tidak berhak untuk menghina pemerintah apapun itu, sejelek apapun dan seperti apa kinerjanya, silahkan mengkritik, tapi kalau sampai menghina kepala negara di sosial media, itu kamu sendiri yang hina nak!”

– :”Maksud bapak gimana?”

+ :”Gini, kepala negara itu adalah simbol negara, dia adalah ulil amri di negara ini, berdaulat, resmi, sah. Lagipula bapak tidak melihat apapun yang ingin menghancurkan negara ini, mudik kemarin pun kita sudah nikmati tol baru-nya, meskipun kritik kamu itu boleh karena ndak ada yang sempurna, tapi kalau sampai menghina, kamu enggak ada bedanya sama serigala. Sudah nikmati daging, tapi masih gigit juga”

+ :”Makanya bapak nanya sama kamu, apa kamu dan keluargamu dirugikan sama pemerintah? ndak toh..apa ada hartamu yang disita, digusur, hak mu di ambil lalu kamu jadi pengangguran? Nggak juga toh. Gajimu itu buesar lho le, untuk seumuran kamu, itu sudah lebih dari cukup, bisa nyicil mobil, rumah, anak mu sekolah tentrem, dan yang pasti sholat subuh kita dalam keadaan tenang”

– :”Hmm..tapi pak..”

+ :”Hussh..jangan tapi-tapi, aku ini bapakmu. Dulu eyangmu itu kurang sakit hati apa sama orde baru, apa beliau lantas menghina pak Harto? Tidak le! Tidak! Bahkan ketika 98 pun beliau cuma ngomong, yo iku wis wayahe (ya itu sudah saatnya). Tapi harga diri beliau sebagai orang yang terpelajar tetap dijunjung. Pun demikian dengan ibu bapakmu”

– :”Hmm..iya pak”

+ :”Mengkritiklah, tapi tidak dengan menghina, apapun kekurangan pemimpinmu, dia tetaplah pemimpinmu, foto kodok yang apa tuh…eeeh…dikasih tulisan-tulisan hinaan ke Presiden ya kau pasang itu, asal kau tahu, itu melukai bapak. Bapak menyekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan untuk pasang foto kodok, bukan untuk menghina, apalagi ini negaramu sendiri”

+ :”Soal rakyat, jadikan dan berdoa saja dirimu nanti yang memakmurkan mereka, tapi catatan yo le, tidak ada pemimpin dan orang sukses yang lahir dari mulut yang kotor, pikiran yang kotor dan dari media yang kotor. Semua lahir dari wibawa yang utuh”

Saya pun beringsut kembali ke kamar, menuntaskan hajat buang kopi yang sedari tadi belum selesai, sambil sayup-sayup terdengar kata-kata:

“Maaf yo pak”

Advertisements

3 thoughts on “Dialog Bersama Bapak

  1. Sedih dengan beberapa dari rakyat kita yg nggaj paham dengan yg namanya simbol negara. Saya memang pendukung JOKOWI. tapi tidak pernah menghina Prabowo dkk. Saya dulu pendukung Mega tapi tidak pernah menghina SBY. saya Pendukung BUNG KARNO tapi tak pernah menghina Suharto!
    Dalam adagium sejarah: setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya.

    Liked by 1 person

    • Betul sekali mas, sedih melihat ada kebencian yg gak ada dasarnya, lha wong naik mobil aja masih wira wiri naik motor masih grang greng grang greng..ga ada alasan lain selain keberpihakan sesaat..sayang banget

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s