Hisana Dan Sabana, Pahlawannya Kaum Proletar

ayamscrible

Jika ada hal di bumi ini yang bisa memecah belah bangsa Indonesia, bisa dipastikan ayam goreng Hisana dan Sabana ada diperingkat keempat. Siapa tempat pertama? Tentu saja perpecahan tergoblok antara pendukung Jokowi dan Prabowo, kedua adalah pendukung Ahok dan Anies, ketiga adalah HTI+Mars Perindo vs non keduanya, dan yang keempat adalah dua pilihan ayam goreng, Hisana atau Sabana.

Hisana dan Sabana, dua saudara kembar lain ayah lain ibu, sekilas, mereka tampak sangat mirip, hanya ibu-ibu naik motor matik yang mampu melihat dengan indera keenam, ini Hisana atau itu Sabana. Mereka kembar tapi tak sama.

Hisana dan Sabana, lahir dari kultur budaya post-modernime yang hits. Menurut Foucault, post-modernisme adalah bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya bunuh diri. Siapa itu simbol kemodernan di pusat khazanah ayam goreng? Tak lain tak bukan, ialah Kaefsi yang agung, simbol modernitas kaum urban, yang berhasil menaikan martabat ayam setara Honda Civic. So, gaes..mari beri hormat bagi Kolonel Sanders.

Kaefsi, dari sebuah kedai kecil di Kentucky dan hasil eksperimen berulang-ulang kolonel Sanders yang dihiperbolis oleh media, telah menjelma menjadi simbol modernisasi, dalam waktu singkat, Kaefsi berhasil menarik minta para kaum urban kota bukan saja suka, tapi juga ketagihan.

Kaefsi masuk ke Indonesia pada tahun 1979 di jl Melawai, dan semenjak itu Kaefsi seakan jadi gaya hidup urban. Bumbu ayam khas yang menyerap sampai di tulang ditambah krius ayamnya adalah candu bagi warga Indonesia yang gumunan, suka heran dan latah jika ada yang baru, apalagi dari aseng.

Tahun 2017 ini, nyaris tak ada mall bahkan plaza kecil yang berdiri tanpa Kaefsi di Jakarta dan jika tak ada Kaefsi, hampir dipastikan mall tersebut tak berumur panjang.

Tapi apakah Kaefsi menjangkau semua kalangan? Ternyata tidak juga, Kaefsi memposisikan diri tetap menjadi waralaba “kelas menengah atas”, harga satu ayam goreng dibanderol tak kurang dari 20-30 ribu, per paket dengan nasi dan minum dibaderol 40-50 ribu, mahal.

Coba hitung, andikan gaji UMR anda 3 juta perbulan, setelah dipotong ini itu maka sisa uang yang anda pegang tinggal 500 ribu, apakah anda tega sisa uang itu untuk membeli sepaket Kaefsi? Bagi mereka, harga paket Kaefsi adalah suatu bentuk bedebah pasca reformasi yang nyata. Untuk itu muncul kreatifitas anak negeri yang menjawab kegelisahan para bangsa sudra ini.

Dimulai dari munculnya resep ayam Kaefsi rumahan, dengan segala modifikasi bumbu basah dan bumbu kering ditambah merica ataupun cabe rawit, bahkan ada pula yang bereksperimen dengan plastik khas tukang gorengan. Tapi dari semua resep yang muncul, tak ada yang benar-benar mirip dengan Kaefsi, ibu saya sendiri pernah bikin, rasanya mirip tapi agak mblenyek, kurang garing.

Diakui, sulit menemukan resep yang sempurna, sampai akhirnya thn 2006 lalu, dilatarbelakangi tipisnya dompet akhir bulan mahasiswa, saya pun terdampar di kedai ayam kriuk dibilangan Ciputat persis samping tukang jamu, rasanya?..mirip! tapi yang pasti kriusnya, pas!..Eureka!

Kedai itu bernama Hisana, dengan kedai sangat sederhana, bahkan dipandang sebelah mata. Tentu saja, karena harga ayam goreng Hisana yang murah, hanya 8 ribuan untuk sayap dan 10 ribuan untuk sekelas dada. Bagaimana tidak mencurigakan? Istri saya saja sempat suudzon bahwa daging ayam Hisana adalah daging tikus, masyaallah, mana ada daging tikus yang bentuknya sama kayak stick paha ayam?

Jika BPS merilis angka patokan masyarakat hidup layak, maka dipastikan pelanggan Hisana adalah masyarakat yang berada di bawah angka patokan BPS. Ini bukan hinaan, ini adalah lecutan semangat. Hisana bisa berkembang dengan mempertahankan pasar utamanya, kaum proletar. Harganya selalu bersahabat dimanapun berada.

Sesuai hukum rimba bisnis, tukang cilok laris melahirkan tukang cilok baru, begitupula dengan Hisana, munculah beragam merek ayam goreng ala Kaefsi, ala Hisana, ayam goreng dengan tepung kriuk yang sporadis, tak hanya lima, sepuluh, tapi mungkin hingga ratusan.

Dan setelah terjadi persaingan sistem gugur, munculah Sabana sebagai pesaing abadi Hisana. Apa bedanya? Hisana, terus terang saja, dikaruniai rasa yang lebih rempah dan lebih pedas, rasanya cocok untuk semua lidah dan jika diukur ukuran ayamnya lebih besar dari Sabana.

Sedangkan Sabana, rasanya bagi saya lebih gurih dan lebih tasty, hanya saos sambalnya yang perlu dipermak dikit. Susah mana yang harus dieliminasi, bahkan oleh Chef Juna sekalipun.

Sama seperti Kaefsi versus Teksas di divisi utama, begitupun di divisi satu antara Hisana dan Sabana. Meskipun Kaefsi masih unggul dan tak terkalahkan secara bisnis, tapi setidaknya hadirnya Hisana dan Sabana telah menjadi obat bagi banyak kaum proletar di negeri ini, kaum yang masih berhak untuk sekedar mencicipi renyahnya ayam goreng restoran.

Kamu suka yang mana?

Note: Oya kang, lalu apa peringkat kelima pemecah belah bangsa Indonesia tadi? Yaelah…apalagi sih kalau bukan Indomart vs Alfamart? Gitu kok nanyak.

Advertisements

2 thoughts on “Hisana Dan Sabana, Pahlawannya Kaum Proletar

  1. Saya penggemar Hisana, dan gak gitu suka KFC di Indonesia.. Menurut saya, KFC di Australia lebih enak.. Di kampung saya di Cianjur, ada 2 kios Hisana dekat rumah, tapi gak ada KFC. Dan saya pun sudah “meracuni” suami sehingga dia juga lebih doyan Hisana daripada KFC Indonesia..😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s