[Cerita Qatar #1] Masjid, Oase Di Tengah Terik

Dua tahun yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan untuk mencicipi tinggal di salah satu negeri padang pasir, Qatar. Selama setahun kami tinggal disana karena kebetulan saya mendapatkan pekerjaan yang menantang, menjadi planning engineer di salah satu perusahaan minyak dan gas di negeri tersebut. Ya, Qatar merupakan penghasil gas alam nomor 8 dunia dengan 23,9 miliar barel cadangan minyak dan 885,1 trilyun kaki kubik cadangan gas. Untuk pekerjaan ini akan saya share di lain waktu.

Kebetulan pada saat itu, saya datang 4 bulan lebih dulu dari anak dan istri, status jadi “jomblo” di negera lain membuat saya berkesempatan untuk explore lebih dalam tentang kehidupan di negeri Monarki kaya para Emir tersebut.

Qatar adalah negera kecil di semenanjung teluk Persia, berbatasan dengan teluk Persia di sebelah utara dan Arab Saudi di sebelah selatan, sehingga Umrah pun bisa dilakukan via jalur darat asalkan kuat berbagi mobil dengan warga pekerja kasar yang mayoritas berbangsa India dan Bangladesh.

Negara Qatar berada di timur tengah, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa Qatar menganut sistem hukum Islam dan Qatar sendiri adalah negara Islam Sunni, meskipun tidak 100%, dikarenakan sebagian besar masyarakat di Qatar ini adalah expatriat. Penduduk asli negara Qatar (disebut Qatari) hanya sekitar 200 ribu saja dan sisanya dari negara lain, dimana mayoritas adalah India.

Meskipun expatriat adalah mayoritas disana tetapi hukum yang ditetapkan negara Qatar sangat tegas dan disiplin, sehingga expatriat disana hanya berpikir soal kerja, tidak sempat berpikir soal ekonomi apalagi politik, termasuk India.

Saya datang sekitar bulan Agustus, atau disaat Qatar masih panas-panasnya, itu saya rasakan ketika turun dari taksi dan masuk ke apartemen, suhu pengap menyapa dan saya cek di accu weather, suhu kota Doha (ibukota Qatar) adalah sekitar 31º C, tidak masalah jika itu siang, tapi ini malam, sekitar jam 1 dini hari. Wow..bagaimana siang besok hahaha… Maklum dari pintu pesawat (saya memakai Qatar Airways) hingga naik taksi penjemput, kita kita sudah disuguhi suhu ac yang dingin, termasuk di garbantara.

Hal kedua yang saya pikirkan ketika menginjak negara timur tengah (setelah provider handphone tentunya) adalah masjidnya, bukan apa-apa, tapi saya jadi membandingkan Masjid di Indonesia yang bisa ditemui di sepanjang jalan dan sudut kota, juga Masjidil Haram di Mekkah yang luar biasa nikmat. Apakah di Doha, Qatar ini juga sedemikian mudah dan nikmat?

Ternyata hampir seperti di Indonesia, Masjid di Qatar bisa di temui di setiap sudut negara ini, bahkan jauh lebih mudah. Mungkin setiap 50 meter kita bisa menemukan Masjid. Saya pertama kali merasakan Masjid di lingkungan Apartemen di daerah Mushereib, daerah pemukiman kaum expat asia timur alias India, Bangladesh, Filipina, Malaysia dan sebagian Indonesia, tapi teteup, mayoritas ya Indiahe.

Subuh, saya turun dari Apartemen, keluar dari lift langsung disambut angin panas bersuhu 33º C, Masyallah, di Indonesia, jam segini (4.30) suhu udara sedang sejuk-sejuknya, disini..huff..panas bro. Saya menemukan masjid berbentuk mungil yang jika di Indonesia disebutnya Musholla atau kalau di desa disebut Langgar, di Qatar sebutannya sama saja, Masjid.

Jamaahnya sudah terkumpul lumayan banyak, tapi yang paling nikmat adalah, hawa sejuk ketika masuk pintu masjid..rasanya nyussss. Ya, “Musholla” ini pun ber-AC, 2 AC split kapasitas 2 pk tergantung di dinding. Dinginnya makyus..sejuk. Terasa sangat sejuk karena kontradiktif dengan udara luarnya yang panas.

“Musholla” tersebut juga dilengkapi dengan mesin penghisap debu, tentu ini karena Qatar adalah negara padang pasir sehingga debu setiap saat menerjang, tak heran jika di dinding Apartemen pun yang terlihat adalah warna hijau kumpulan debu tebal. Di ujung belakang pun tersedia galon air mineral yang bebas diminum siapa saja, belum lagi Al Qur’an yang ada disetiap sisi masjid, pokoknya terawat dan sangat nyaman.

Masjid terbesar di Qatar adalah masjid Imam Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, masjid yang terletak di daerah Jubailat, Doha menghadap ke Qatar Sports Club ini diresmikan pada 16 Desember 2011. Masjid dinamakan sesuai dengan nama reformis Islam yang hidup pada tahun 1700an di daerah Saudi, dari sini kita bisa menebak, kemana pandangan politik dan agama dari Qatar. Saya sendiri pun masuk kesana di waktu-waktu akhir sebelum pulang ke Indonesia.

Masjid yang paling nyaman menurut saya adalah masjid tempat saya biasa Sholat Jumat, yaitu Masjid Bin Mahmoud di daerah Ibn Mahmoud. Masjid itu besar, luas, dan kedap suara. Terbagi dua lantai, lantai pertama terbagi dua bagian, bagian yang lebih kecil untuk suhu yang tak terlalu dingin, dan bagian utamanya bersuhu sangat sejuk cenderung dingin, mungkin sekitar 20-22ºC, ber-AC split dengan lampu kristal menggantung.

masjid4

Masjid Bin Mahmoud di foto dari bagian yang lebih kecil, karpetnya itu lhoo..hmm..

Masjid ini istimewa bagi saya, karena setiap waktu sholat Jumat, saya harus jalan kaki sekitar 500 meter dari Apartemen ke Masjid ini. Bukan masalah jika berjalannya di Jakarta, apalagi di Bandung, lha ini..di Qatar, 500 meter di siang hari di bawah suhu 40-45ºC (maklum tidak ada mobil). Kepala terasa pening karena belum terbiasa. Tapi begitu kita masuk Masjid Bin Mahmoud ini, Subhanallah..nikmat sekali rasanya. Maknyus.

masjid3

Tempat wudhunya luas dan banyak, ciri khas tempat wudhu di Qatar adalah selalu tersedia sabun cuci tangan dan juga tissue gulung, orang arab biasa mengeringkan tubuhnya setelah berwudhu, tidak seperti bangsa kita yang kotos-kotos basah dari tempat wudhu terus langsung Sholat. Di Qatar, mereka biasa “berdandan” sebelum masuk Masjid, entah mengeringkan air wudhu, bersabun, bersiwak atau memakai minyak wangi.

Disetiap sudut Masjid terdapat berkardus-kardus air mineral botol hasil sumbangan para warga disekitar Masjid, kita bebas mau ambil berapapun, tapi yang paling nikmat adalah karpetnya, sungguh empuk dan tidak bikin jidat perih karena bahannya halus seperti beludru. Dan karena hari Jumat adalah hari libur, maka saya terbiasa masuk Masjid 45 menit sebelum adzan, tentunya untuk menikmati suasana Masjid yang menyenangkan, termasuk mengaji.

Nikmatnya Masjid membuat orang betah berlama-lama di dalamnya, termasuk setelah Jumatan, banyak warga yang membentuk kumpulan kecil-kecil, biasanya mereka saling menguji hapalan Qur’annya, atau masyarakat India dan Bangladesh yang membentuk koloni sendiri untuk mendengarkan “ceramah” lanjutan, belakangan saya tahu ternyata itu bukan ceramah, tapi terjemahan atau translate dari ceramah pak ustad yang di mimbar Jumatan tadi.

masjid 1

Nuansa nikmat Masjid Bin Mahmoud, the comfort Mosque when I was here..

Ya karena ceramah pak ustad memang memakai bahasa arab, saya sendiri pun gak ngerti (baru ngerti setelah akhir-akhir saya belajar bahasa arab), ada memang yang memakai bahasa inggris di daerah Villagio, tapi ya mau bagaimana lagi, ini Masjid besar yang terdekat dan ternyaman di daerah saya.

Disini saya melihat banyak etnis berkumpul membentuk koloni mereka sendiri, ada Mesir, dengan hapalannya yang cepat, ada Afrika yang lebih banyak mengkaji hadist ketimbang baca Qur’an, ada Bahrain, Oman ataupun muslim barat yang didominasi oleh Inggris dan mereka pun betah berlama-lama membaca Al Qur’an, ada pula golongan pojokan yang didominasi oleh Malaysia, Indonesia dan muslim Filipina yang lebih banyak ngobrol dan haha hihi, hehehe..ini fakta.

Disinilah saya melihat toleransi beragama yang kuat, jika di cermati ada pelbagai aliran Islam yang ada di Masjid ini, tentu saja minus Syiah yang punya Masjid sendiri. Gerakan mereka banyak yang berbeda meskipun major gerakan Sholatnya sama, terutama yang dari Afrika dan Eropa Timur. Tapi belum pernah saya dengar ada perselisihan tentang hal ini. Ketika Sholat Subuh di Masjid pun kadangkala imam memakai doa qunut, kadang tidak, tapi tak pernah menjadi soal.

Satu hal lagi, tidak pernah ada ceramah Masjid menggunakan loud speaker hingga radius 100 meter keluar Masjid, speaker di desain apik sehingga jelas terdengar di dalam Masjid namun tak berisik hingga keluar. Itulah mengapa Masjid didesain kedap suara, sehingga ceramah pun terdengar nikmat, desain akustiknya diperhitungkan.

Selama di Qatar saya pun banyak berbincang dengan warga non muslim soal hal toleransi, dan mereka pun menyatakan salut, tidak pernah mereka “keberisikan” karena aktifitas Masjid, padahal aktifitas Masjid seperti Masjid Bin Mahmoud ini tergolong tinggi, tapi semua di desain santun.

Baju gamis putih panjang bagi non Qatari adalah pakaian untuk Sholat saja, bukan pakaian ketika beli makanan di warung atau unjuk kekuatan, sampai dirumah pun mereka berganti kaus biasa dan bergaul seperti layaknya warga biasa. Ketika di kantor pun mereka memakai kemeja atau jas.

Bagi Qatari pakaian gamis merupakan baju nasional disebut Thoub atau Thobe untuk pria dan Abaya untuk wanita, dan mereka diwajibkan memakai ini dimanapun mereka sepanjang keluar rumah. Tapi untuk non-Qatari, ya bebas-bebas saja. Pemuka agama pun jika bukan Qatari ya bebas-bebas saja memakai baju apapun selama itu sopan.

Pemerintah Qatar pun menerapkan hukum yang tegas baik soal ibadah maupun soal sosial, sehingga tidak pernah ada keluhan berarti dari non muslim maupun muslim sendiri. Inilah wujud Islam yang mengayomi semua pihak, Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

masjid2

Sudah hampir dua jam dari habis Jumatan, tapi masih betah juga. Oya, sinyal di Masjid ini kuat.

Advertisements

10 thoughts on “[Cerita Qatar #1] Masjid, Oase Di Tengah Terik

  1. Saya suka sekali membaca tulisan kamu tentang Qatar secara umum dan bagaimana orang muslim di negara mayoritas muslim lainnya. Setelah membaca post ini, saya jadi bertanya-tanya, kenapa kehidupan beragama di Indonesia tidak seperti di Qatar ya..

    Liked by 1 person

    • hehe terima kasih mbak, klo gak sama dgn di Qatar mungkin salah satunya krn indonesia ini negara padat manusia dan demokrasi, padat manusia shingga berjuta pikiran ada di kita,sulit mengontrol, tdk seprti di Qatar yg karena warga aslinya sdikit shingga bisa di kontrol oleh kemonarkian negaranya, kita tidak. Yg kedua, mgkin krn Indonesia pnya budaya islam sndiri, yg dibawa dr zaman sunan dahulu, yg populer dgn islam nusantara, shgga terdapat perbedaan dgn islam arab, org2 yg mengaku islam arab saat ini mrasa diri lbih benar dn superior (krn mrasa ngarab) dibanding islam nusantara yg sdh lama ada..sdgkan di Qatar ya sdh arab dari dulu, jdi tak perlu ada perdebatan..

      Liked by 1 person

  2. Pingback: [Cerita Qatar #2] Qatar, Negeri Yang Bedebah | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s