HTI, PKI dan Upil

Tersebutlah seorang kawan saya, tinggal saat ini di daerah pingiran Jakarta (ehm..Bekasi), sebetulnya tidak bisa dibilang kawan karena umur bliau jauh di atas umur saya, tapi kalau soal bercanda, kami seperti listrik. Bliau asli Lamongan, Jawa Timur, logatnya pun cespleng tak tis tak pandang bulu, menandakan dia origin Jawa Timuran, jadi layak saya sematkan gelar Cak, so, ladies..sebut saja dia dengan Cak Kismin.

Satu dari banyak kelebihannya, dia dikaruniai otak yang cerdas, salah satu lulusan terbaik pondok pesantren Tebuireng, Jombang, dan juga pernah mondok di Ponpes Langitan, Tuban. Seorang Hafidz Al Qur’an yang mendapat beasiswa fakultas perminyakan, sempat bekerja di perusahaan minyak timur tengah tapi sekarang lebih senang jadi guru ngaji, angon wedus, koleksi burung kenari dan berdebat apa esensi dari sinteron anak jalanan.

Siang hari sebelum puasa di hari minggu saya sengaja silaturahmi ke kediamannya, cuma untuk ngecek, bliau masih waras atau tidak. Sampai dirumahnya seperti biasa pembicaraan selalu menghangat, sehangat kopi dan teh panas yang disajikan. Dan pada akhirnya pembicaraan kami pun menyerempet hal yang futuristik. Pembubaran HTI.

“Cak, kok ada yang menyamakan antara HTI sekarang dengan isu komunis itu sendiri, piye jal?”

“Hehe, HTI, DI/TII dan komunis tahun 1940 hingga kehancurannya adalah sama, sama-sama ingin mendirikan negara atau ideologi diluar dari tubuh negara itu sendiri”

“Mereka bertiga itu sama saja dengan upil” Tegasnya.

“Lho, kok upil cak, apa ndak ada umpama yang lebih manusiawi?”

“Ya, tidak ada..” Sembari tangannya mulai mengorek lubang hidung yang tak seberapa besar.

“Nih..” Katanya sambil menunjukan hasil galian. “Ngupil itu enak, padahal kita tahu bahwa upil itu adalah jenis kotoran yang selalu hinggap di dalam hidungmu selama kamu bernafas”

“Begitu juga negara, selama negara ini bergerak, yang namanya “upil-upil” ini ya akan selalu muncul, tubuh kita ibarat negara itu sendiri, bagaimana tubuh kita diciptakan itulah ideologi bangsa, sedangkan upil adalah hal asing yang mengganggu isi hidung kita, hidung ku jadi gatal, ada benda diluar horizon tubuh yang masuk”

“Bayangkan jika upil tidak kita korek, mau kamu seluruh hidung kamu akan penuh upil lalu kamu tidak bisa nafas dan akhirnya ditemukan tewas mengenaskan dengan upil memenuhi hidung, masuk koran lampu merah?”

Saya pun terkekeh..

“Tapi anehnya, ngupil itu rasanya enak je, jadi saya penasaran tho, apa memang mengorek “upil-upil” penganggu ini juga rasanya enak ya?” Sambungnya.

“Atau jangan-jangan..memang sengaja ada upilnya ya, biar negara punya kenikmatan tersendiri, kenikmatan mengorek seperti saya lantas TNI punya kesibukan…ah, mbok ya kita ngopi dulu sebelum ngupil..”

“ssrrruuupppuutt…ahh…”

Dan, kopi ku pun seakan menguning..

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Politik
One comment on “HTI, PKI dan Upil
  1. Sri Kandha says:

    jadi pengen kenalan sama cak kismin mas..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories