Surat Untuk Mbak Dian

Dear Mbak Dian

Mungkin surat berupa surat pembaca ini agak sedikit terlambat di keluarkannya, tetapi apa boleh buat, bukan karena terlambat tidak ada waktu akibat super sibuk seperti para artess, tapi surat ini menunggu moment yang tepat, setepat moment mbak Cinta ketika ujug-ujug ke Jogja dan ketemu mas Rangga.

Gini mbak, belum ada satu bulan waktu yang berlalu ketika mbak Dian secara ‘tidak sengaja’ menghempas tangan seorang fans dan kemudian bergidik menahan jijik persis gaya anak perempuan saya ketika bertemu dengan kecoa. Tapi saya yakin mbak Dian begitu sadar sepenuhnya kalau fans tersebut 100% manusia, dan bukan kecoa, apalagi cicak yang berlumur kopi, ih kalau itu saya pun akan muntah.

Hakul yakin mbak, sesuai konferensi mbak Dian, apa yang mbak Dian peragakan itu adalah murni alami, alias memang betul-betul refleks. Artinya memang mbak Dian ngerasa jijik ketika tangan mbak yang mulus yang bahkan nyamuk pun kepleset ketika mampir di tangan mbak, seketika itu di sentuh oleh tangan yang entah siapa. Ada dua hal hasil analisa empiris Departemen Gosip Indonesia alias @lambe_somplak, pertama adalah mbak Dian punya trauma masa lalu yang pekat, mungkin pernah di culik, dipecat atau sejenisnya, dan yang kedua mbak Dian habis lulur mutiara impor Maldives, kalau ada yang ketiga, monggo ditambah..

Ya, mungkin apa yang dilakukan mbak Dian bukan separah tindakan rasis Luis Suarez terhadap Patrick Evra, ataupun perang ideologi antara Habib Mamat dan Wak Doyok menjelang Pilkada DKI, tetapi gesture mbak Dian sepertinya mensiratkan hal itu, jelas biaya lulur mbak sangat mahal, wajar sih ya, saya aja yang sirik..huh.

Mbak Dian, mbak adalah artis kharismatik yang langka. Mbak tidak perlu jualan konsep oca-oce atau bahkan DP nol persen untuk rumah napak tanah seharga 350 juta di Jakarta. Mbak juga tidak perlu capek-capek menggalang massa untuk aksi demo nomor cantik untuk menang Panasonic Award, atau bangun minimarket untuk sekedar mencari followers hingga jutaan.

Mbak terlihat cukup bekerja nyata saja, bermain film yang apik, heroik dan tentunya all out di dalam akting. Tapi tahu kan mbak, sekarang kerja saja tidak cukup. Masak iya? Betul mbak, tidak cukup. Apalagi untuk seorang mbak Dian yang public figure banget. Public figure tidak cukup hanya kerja baik saja mbak. Public figure butuh konsep.

Mungkin mbak berpikir, saya lagi ngomong apa sih, tapi percayalah mbak ini akan berguna untuk mbak pada khususnya dan khalayak penghuni bumi datar dan bumi bulat pada umumnya. Konsep yang saya maksud disini adalah konsep Eep. Konsep kang Eep Saefulah Fatah.

Jelas sekali banyak orang terinspirasi dari konsep ini, yaitu apa yang dinamakan primordial marketing (ini sih versi saya saja ya). Sederhananya, ini adalah teknik pemasaran untuk menaikkan popularitas tokoh baik perseorangan ataupun golongan dengan membawa sentimen agama, adat dan budaya. Eits, jangan salah sangka bahwa saya akan menyarankan mbak Dian untuk berhijab demi sekedar menaikkan citra, walaupun efek dari hijab itu sendiri sangat bombastis. Inget Maesaroh? Ah pasti mbak Dian lupa kan, lha wong saya juga gak tau siapa dia.

Primordial bukan cuma berarti selalu terkait dengan agama, tapi juga tradisi, adat dan juga kearifan lokal. Lihat saja siapa pemenang pilkada DKI Jakarta 2017 ini, dan apa strateginya, bahkan menggandeng preman daerah pun dianggap sebagai strategi kearifan lokal mengalahkan sistem canggih yang anti korupsi. Disini, mbak Dian perlu mencontoh, mencontoh karena apa? Karena strategi tersebut memang terbukti berhasil.

Contoh bukan membawa sisi agama, tapi sisi kebiasaan dan adat. Apalagi mbak Dian yang “kartini banget” seharusnya paham bahwa mencium tangan adalah tradisi dan budaya, bersalaman adalah adat istiadat kita ketika bertemu orang yang kita tuakan, kita anggap lebih hebat dan tentunya kepada orang yang kita kagumi.

Termasuk saya kepada mbak Dian, menyentuh kulit mbak Dian pun masih merupakan mimpi masa kecil saya semenjak adegan melengos Cinta ketika berantem dengan Rangga di toko buku. Duh, saya masih baper sampe sekarang lho..susah mup on.

Ya, Indonesia memang punya rasa primordial yang berkarak mbak, mudah sensi apalagi kalau kurang piknik, waduh…dijamin kodok dilihat dari atas saja akan dibilang mirip salib dan dibilang haram jadah. Apalagi soal mbak Dian yang bergidik geli karena tangannya di sentuh fans, saya jamin hingga tahun ketiga cap mbak Dian sebagai jijikers akan tetap melekat. Jadi baiknya, mungkin dalam waktu dekat ini mbak Dian lebih bijak jika bersedia mengikuti program kami, yaitu program bedah rasa.

Rasa apa saja bisa mbak, bisa rasa malu, rasa ingin berkuasa, rasa jijik dan juga rasa mantan. Sudah banyak yang berkonsultasi kepada kami bagaimana cara membedah rasa malu sehingga rasa malu itu bisa hilang.

Serius ini, mau contoh? Nih, rasa malu korupsi tapi masih jadi anggota dewan, rasa malu kalah dalam konsep tapi asal menang dalam pencoblosan, rasa malu seorang artis “cerdas” tapi salah ngetwit mulu sampai anaknya ikut bela papanya yang rocker, dan juga rasa malu-maluin yang lain.

Bisa juga untuk rasa jijik mbak Dian yang membuat mbak di bully, kami bisa hilangkan, sehingga mbak Dian bisa melenggang bebas di dunia ini tanpa harus takut tertular penyakit kulit menular, caranya gimana? Untuk tahu caranya, ya minimal DP dulu, kami bukan tim utopia tanpa DP.

Karena kalau itu sampai terjadi, yakin saya dan kawan-kawan yang akan pertama membela mbak Dian, kami akan membawa ribuan bunga sebagai tanda cinta, karena kami tidak mau lagi ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya, itu jahat, hiks.

Sudah ya mbak Dian, saya akhiri dulu tulisan saya dengan hati yang bersih. Jika masih ada haters yang membully mbak, mohon bersabar, ini ujian.

Advertisements

One thought on “Surat Untuk Mbak Dian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s